DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Akhir Cerita It's Always About You

It's Always About You

Admin :

Haloooo semuanya...
Maaf kalo ada yang tertipu, maaf kalo isi tidak sesuai dengan judul pagenya... hehehe...
Sebenarnya sudah lama mo posting pemberitahuan ini, tapi rasanya kok berat banget, masih berharap Oswald berubah pikiran.... hiks hiks...
Satu cerita yang memberikan inspirasi untuk Admin sehingga terciptanya blog ini harus kandas ditengah jalan, menggantung, tergeletak hanya untuk sepenggal kenangan ( hueeeeee.....!!!!)
Teganya..................

Yah bagaimanapun bagi Admin, tanpa mengesampingkan cerita-cerita lain yang ditulis oleh penulis-penulis yang berbakat, cerita ini yang paling disukai.
Buat Oswald, terima kasih telah memberikan cerita yang indah ini, semoga dilain kesempatan bisa berubah pikiran n ngelanjutin cerita ini (ngarep.com) hahahaha......

Fakta tak dapat dipungkiri, untuk lebih jelasnya silahkan baca postingan Oswald di bawah ini yang diambil dari GIF.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Oswald :

WOOOOOAAAAHHHHH....!!!!!

Gilaaa!!! Gilaaa!! Gillaaaa!!! Gillaaaaaaa!!!

Enggak nyangka banget, ini page masih ada, dan masih dikomentarin lagiiii....!!!

Tadi waktu gw dari pulang kerja, abis mandi, gw langsung rebahan di atas ranjang, sambil seperti biasa, memeluk labtop gw. Entah kerasukan apa, gw membuka sebuah folder yang bertuliskan Soundtrack It's Always About You....

Gw menggubek-gubek Index Gay Story, mencari page thread ini dari halaman terbelakang Index Gay Story. Secara gw memang sudah lama meninggalkan page ini, jadi yah gw pikir page ini akan ada di belakang-belakang halaman Index Gay Story. Dan tidak gw temukan.... Krik.. Krik.. Krik....
Ummmm.... Eerrrr.... Huufffttt.....

Penasaran, gw mencari lagi, kali ini dari halaman depan-depan Index Gay Story. Dan alangkah kagetnya gw, ternyata page ini masih tergeletak dengan manisnya di halaman 3. Wooowww...!!! I tot it would be on page 20 or somethin'..... It's been long long time agoooo.... Hahahahaahaha!!!

Dan... Waktu gw buka page thread ini, gw kaget bangeeettt.... Kaget dan terharu... Super terharu.... Hehehehe.... Ternyata page thread ini masih banyak dilihat dan dikomentari oleh-teman-teman.... Banyak comment2 yang bikin gw tersenyum.... Banyak comment2 yang membuat gw mengerutkan kening... Berpikir, bahwa... Sebegitunyakah?

Well, then I should say, “Helloooo Guuyyyssss....!!!”

Long time no see.... Khakhakha!!!

Gw benar-benar ingin mengucapkan terima kasih untuk semua kawan-kawan yang sudah mampir di page thread Commercial Trailer ini. Terima kasih buat teman2 yang sudah menaruh comment2, dan terima kasih untuk teman2 yang begitu menaruh harapan untuk cerita It's Always About You diupdate lagi.

Namun, gw juga harus meminta maaf sebesar-besarnya, bahwa gw telah lama meninggalkan page thread ini, sudah lama tidak mampir ke GIF, dan tidak pernah mengupdate cerita ini lagi. Yes, dikarenakan satu dan lain hal, gw harus menghentikan mengupdate cerita ini. Percayalah, gw sangat ingin meneruskan cerita It's Always About You, tapi gw tidak lagi diperkenankan menshare cerita ini lagi di GIF. So, mohon maaf cerita ini harus berakhir menggantung, dan gw juga ingin meminta maaf untuk janji gw yang dulu bahwa gw tidak akan menggantung cerita, akhirnya tidak dapat gw tepati.

Rajam gw, timpuki gw dengan batu, caci maki gw, hina gw, marahi, sakiti gw, tapi maafkanlah gw.... *serasa lagi acting di Tersanjung 20

Anyway, speaking about Soundtrack, gw memang mengkoleksi lagu2 dari tahun jebot, 90's, hingga lagu jaman sekarang, yang memiliki nilai kenangan atau yang kembali membangkitkan kenangan ketika hidup gw sedang full of drama bersama manusia yang paling gw cintai sejagad raya, pria yang paling gw kagumi melebihi universe, cinta matinya gw, the one and only, yaitu..... Yeap! Anda bettuuuullll...!! Siapa???? Sebut lagi, siapaaaa??? Benar sekaliiii.... Ia adalah..... Siapaaaa??? PLAKKK!!!

Hoahahahahahahah!!!

Yes, ia adalah Ardo.

Di suatu malam yang dingin, ketika gw sedang duduk di dekat jendela sebuah cafe tua.... Gw memandang ke luar, lampu-lampu berkedip di sana. Badan dingin banget euuuyyyy...!!!
Hujan masih rintik membuat kaca jendela berembun, memantulkan cahaya-cahaya indah dari luar....
Ketika gw menghirup kopi panas, gw mendengar sayup-sayup nada sebuah lagu yang melantun manis....

Gw tidak dapat mendengar jelas lirik lagu tersebut, karena radio sebagai sumber bunyi lagu itu terletak jauh di dalam dapur, mungkin sang chef sedang mendengarkan lagu itu. Tapi yang pasti, nada lagu itu tersimpan dalam benak gw, tidak dapat gw lontarkan dalam bentuk senandung dari mulut, tapi gw tahu nada lagu itu terus berdengung di kepala ini.

Tapi di suatu hari lain, pada sore hari, ketika gw sedang menyetir kendaraan, dengan latar belakang matahari terbenam, lagu ini kembali diputar di stasiun radio terkemuka di Jakarta. Kali ini gw dapat mendengarkan dengan jelas lirik lagu tersebut.

Rangkaian kata-kata yang kembali mengingatkan gw pada moment di musim dingin bulan November....

“Senyumanmu masih belum terkenang
Hadir selalu seakan tak mau hilang dariku dariku
Takkan mudah ku bisa melupakan
Segalanya yang telah terjadi
Di antara kau dan aku, di antara kita berdua

Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
Takkan mudah ku bisa melupakan
Segalanya yang telah terjadi
Di antara kau dan aku, di antara kita berdua
Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam
Api cintaku padamu wooo ooo yeah
Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam”

Gw terpukau mendengar lirik lagu ini. Lagu ini.... Gw bangeeeeetttt...!!!! Lagu ini mengekspresikan perasaan gw, ketika sebuah kejadian paling parah terjadi dalam hidup gw... Ketika seluruh nadi ini berdenyut sangat pelan, hampir berhenti, karena kehilangan sumber kehidupan gw... Ketika hari-hari gw dipenuhi dengan air mata, dan gw lupa bagaimana cara menyunggingkan senyuman. Ketika tidak ada dia dalam kehidupan gw.... Ketika segalanya terasa hancur, dan gw tidak lagi mengingini diri ini lagi.....
Kali ini, gw tetap tidak mengetahui info dari lagu ini, karena sang penyiar tidak menyebutkan siapa penyanyi dan judul lagu ini. Tapi lagu ini kembali menemui gw, ketika gw sedang berada di pasar swalayan. Di hari yang lain, lagu ini menemani gw menyetir di sepanjang tol yang gelap. Dan di hari lain lagi, lagu ini kembali menghampiri ketika gw sedang bersama dengannya.

Sampai akhirnya, gw mengetahui penyanyi dan judul lagu ini. Sandy Sandoro dengan Tak Pernah Padam pun melengkapi koleksi Soundtrack It's Always About You...

Tapi kini semua kejadian yang cocok dengan lagu itu hanyalah menjadi kenangan yang kami tertawakan... Sebuah kenangan yang jarang kami ingat lagi.... Sebuah kenangan, yang membuat kami belajar tentang arti kepercayaan dan komitmen dalam hidup..... Tentang saling membutuhkan, menghargai dan mencintai.... Bahwa kata cinta tidak hanya sepenggal kata.....

“Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam”

Ardo yang mengetahui bahwa gw sangat suka akan lagu ini, karena gw memutarnya setiap hari setiap waktu, ia memainkan cover lagu ini. Dengan suara serak khasnya, dan gitar accoustic bermotif floral, suara Ardo bergetar memenuhi ruang tamu, beresonansi indah, dan menembus jantung.

Gw pun meleleh.....

Cinta tidak selalu memiliki, dan cinta tidak egois....
Cinta selalu mengharapkan orang yang dicintai berbahagia....
Cinta itu menghargai, merelakan, dan kembali membalas cinta, barulah bisa saling mencinta....
Cinta tanpa kasih, bukanlah cinta....
Cinta, tidak akan pernah berakhir, tidak akan pernah padam....
Cinta yang tidak pernah padam, melahirkan kebahagiaan....
Kebahagiaan mencintai, memberikan kehidupan....


Gw mendoakan buat teman2 di sini semuanya, supaya sehat-sehat selalu, bahagia selalu, terus sukses untuk pelajaran dan pekerjaannya...
Semoga mendapatkan pria idaman yang mencintai teman2 seumur hidup....
*langsung deh cepet-cepet nyahut Amiiiinnnn.... Khakhakha!!!

See u all arround and God bless youuuu!!!!

PS: banyak cerita2 yg bagus yah sekarang... pengen ngintip2 aahhh.... hehehehe...
 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Thx a lot 2 Oswald
 

Oswald's Commercial Trailer

"........."



Sewaktu gw melewati sekolah itu lagi, bangunan tua kelabu yang sudah terlihat lebih tua, pikiran ini benar-benar tidak bisa lari dari sesosok manusia maha sempurna itu.

Yes, gw lebay, kalo gak lebay gak asik cuy... Wohohoho!!!

Desir angin berhembus.

Gw memejamkan mata, menikmati udara sejuk setelah hujan hari itu. Kini matahari telah kembali pada peraduannya, bersinar terang, meski masih terkadang tertutup awan kelabu nan mendung.
Genangan-genangan air gw lewati tanpa memperdulikan cipratannya. Mata ini sibuk menatap bangunan tua itu, tempat di mana gw menghabiskan setahun setengah masa remaja gw paling indah.

Di pikiran ini langsung terselibat akan kenangan masa lalu. Teringat akan keramaian pada pada jam istirahat sekolah. Suara teriakan-teriakan seru, dan tawa melengking. Hentakan sepatu anak-anak yang berlari-lari. Wajah-wajah ceria dan konyol. Semuanya begitu membuat gw rindu akan masa-masa indah itu.

Sumpah deeehhh!!! Gw rela memberikan apapun demi kembali ke masa-masa paling menyenangkan itu. Dahulu begitu indah. Begitu muda, dan begitu bersemangat. Memang benar kata lagu Sheila On 7. Pada masa persahabatan dulu, kita tidak pernah memikirkan apapun. Tidak memikirkan kasta dan kelas. Tidak memikirkan warna kulit dan latar belakang. Semua ajah berbagi.

“Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu...”

"Tuk perlihatkan, semua hartaku..."

"Kita selalu berpendapat, kita ini yang terhebat..."

"Kesombongan di masa muda yang indah..."

“Aku raja, kau pun raja...”

"Aku hitam, kaupun hitam..."

“Arti teman lebih dari sekedar materi...”

My gosh... Betapa gw rindu akan perasaan itu. Rasa di mana semuanya begitu bebas. Serasa tiap hari adalah liburan musim panas, yang padat akan aktifitas yang tak terhentikan.

Tanding basket, ngeband, surfing, main ke base camp di rumah Joe, di komplex ruko IDT bergenting biru tua.

Damn! I miss all these....

Pikiran gw jadi melayang ke personil VIP pada masa dulu. Gw mengenang wajah-wajah teman-teman binal gw itu. Wajah-wajah yang selalu akan gw ingat sepanjang hidup ini. Semuanya, hingga akhirnya gw mengingat teman-teman band gw, teman-teman basket, teman-teman surfing, dan ada satu wajah yang menghiasi semua kenangan akan gank kelompok bermain gw. Lebih tepatnya, wajahnya hadir di setiap grup dalam pertemanan gw. No, no, no.... Lebih tepatnya lagi, wajahnya selalu tampil dalam hidup gw semasa menetap di Denpasar dulu.

My gosh!

How could I forget?

That beautiful face...

Angin kembali berdesir...

Dingin menggigil.

Gw langsung berhenti melangkah, menengadah menatap bangunan SMA itu. Kemudian terbersit pikiran untuk berlari ke lapangan basket. Entah dapat pikiran dari mana, tapi yang jelas, gw harus ke sana.

Jadilah detik berikutnya, gw berlari ke arah lapangan basket. Semoga pagarnya masih terbuka, meski sudah sepi begini. Mata gw menatap tembok abu yang memisahkan jalanan luar dengan lapangan yang gw tuju. Genangan demi genangan air gw lompati, dan gw tidak perduli akan cipratannya yang kotor itu. Gw sesekali melompat-lompat, berharap bisa segera melihat sisi lain di balik tembok itu, untuk melihat lapangan basket di baliknya.

Dan...

GROSEEEEEEEETTTTT!!!!

Yeap! Gw kepeleset...

“Ngen*****************************************ttt...!!!!” teriak gw sangking kagetnya terpeleset genangan comberan.

Lutut gw terbaret trotoar, dan siku gw terhantam batu karena berusaha menahan tubuh.

Jadilah rasa perih merayapi lutut dan siku kanan gw. Darah segar mengalir. Wew...

Gosh! Perih bangeeettt... Dan yang bikin gw tambah kesal adalah, gw adalah manusia dodol yang sewaktu SMA sering jatuh. Entah itu terpeleset, entah itu terdorong, entah itu terjungkir, pokoknya seribu cara gw jatuh, seribu pula gaya gw mendarat di atas tanah. Dan kali ini, sekarang ini, ketika gw sudah tidak lagi SMA, masih ajah gw jatuh, mendarat dengan gaya super keren ala skater, dengan lutut dan siku menghantam permukaan trotoar.

Manis sekali...

Gw masih berjalan mengumpat-ngumpat, tetap ngotot ingin melihat lapangan basket. Dan, gerbang lapangan itu masih terbuka lebar.

Begitu melihat lapangan itu, mata gw mendelik. Waaaahhh... Kangennyaaaaaa.... Permukaan semen yang sudah bocel-bocel. Ring basket yang sudah karatan, walau terlihat sudah pernah diganti baru. Tiang bendera itu. Jendela-jendela hall pertemuan yang telah diperbaharui. Gerbang yang sudah berganti warna. Gooossshhh.... Ini adalah lapangan tempat gw biasa menghabiskan berjam-jam lamanya demi mencetak satu hingga tiga poin pada pertandingan basket. Lapangan ini adalah tempat di mana gw berlatih gymnastic pada pelajaran olahraga, yang gw anggap sebagai siksaan dari neraka. Lapangan ini tempat di mana gw biasa menjahili teman-teman gw yang sedang berbaris sewaktu upacara bendera. Lapangan ini.... Adalah tempat di mana gw bertemu dengannya pertama kali, ketika ospek penerimaan murid SMA baru.

Lapangan ini, adalah tempat kenangan, di mana gw pertama kali meneriakkan namanya. Dan melihat wajahnya.

Lapangan ini, adalah tempat di mana gw jatuh cinta pada pandangan pertama.

Jatuh cinta, pada dirinya.

Gw melangkah pelan ke lapangan itu. Berjalan dalam sunyi, melewati genangan air yang menjadi hiasan di atas permukaan semen kelabu. Pikiran gw terus teringat akan kenangan dan kejadian demi kejadian di lapangan ini. Canda dan tawa, kebahagiaan, dan kenangan tentang dirinya.

Tanpa sadar, gw telah berdiri di tengah lapangan, dan gw berputar perlahan, memperhatikan detil pada sekitar lapangan itu.

Dan seketika itu....

“Os?”

Sebuah suara dari belakang membuat gw terhentak. Suara hangat yang khas dari masa lalu. Gw pun menoleh ke arah asal suara itu. Dan.... Segera menahan napas.

Gw enggak percaya dengan apa yang gw lihat.

Ternyata memang DIA.

Mata gw tidak sanggup berkedip. Tubuh ini seolah membeku.
Apakah benar penglihatan gw? Apakah retina mata gw juga mulai menggila, sehingga bukan otak gw saja yang berkhayal, tapi mata gw juga ikut melihat halusinasi?

Sebaliknya, sosoknya berjalan mendekat. Dan ia menggerakkan tangan tanda menyapa. Senyumnya mengembang manis sekali. Lesung pipit itu. Deretan gigi putih mutiara itu. Rahang tegas itu. Mata tajam dan sayu itu.

Oh, Tuhan...

“Os!” serunya lagi, sambil tertawa kecil. Ekspresinya bercampur antara terkejut dan begitu senang.

Karena seruannya, akhirnya gw menghela napas. Yeap! Gw begitu tertegun oleh sosoknya sampai lupa bernapas.

Ia pun telah berdiri di hadapan gw, masih tersenyum.

Mata gw menatapnya nanar, masih belum dapat bergerak.

“Os...” katanya pelan, hampir berbisik.

Wangi khas parfumenya merambat indra penciuman gw, mengkonfirmasikan bahwa gw tidak bermimpi, bukan juga berkhayal.

Gw masih tidak mengatakan apa-apa. Begitu banyak kata yang hendak membeludak keluar dari bibir ini, sehingga membuat gw membisu. Perasaan di hati ini bercampur aduk, sudah tidak jelas lagi apa yang gw rasakan. Bibir gw bergetar, hampir mengeluarkan kata-kata, tapi akhirnya tetap saja, tidak sepatah kata pun terlontar.

Hujan rintik kembali turun. Tetesan air segar kembali menerpa kulit gw, dan menyegarkan otak gw yang sedang penuh.

Rintik hujan ini juga menerpa dirinya. Tetesan air berlinang di sekitar wajahnya yang tetap memandang ke arah gw.

Yang gw lakukan hanyalah terus menatapnya nanar. Kemudian gw mengangkat tangan kanan gw, mengusap pipi kirinya dengan punggung jari telunjuk gw. Kulit jemari gw menyentuh celung lesung pipitnya.

“Kamu....” Hanya itu kata yang mampu keluar dari bibir ini.

Senyum manisnya lebih mengembang lagi.

Tetesan air melewati mata gw, membuat gw seolah berair mata.

Dan akhirnya, gw tidak kuasa menahan...

Gw menempelkan wajah ini pada lehernya, tenggelam dalam pelukannya, yang menyambut gw dengan hangat. Tidak lagi memperdulikan perasaan di hati. Tidak lagi ada topeng. Tidak lagi ada gengsi dan jarak. Semuanya melebur menjadi satu. Semua rasa di hati ini, tidak terkatakan, hanya tenggelam dalam pelukan, dan memancar menjadi luapan emosi yang kian tertahan selama ini. Tubuh gw bergetar. Bukan, gw bukanlah menangis. Hanya saja, ini lebih dari tangisan.

Tidak ada kata yang dapat menggambarkan perasaan gw saat ini.

Tapi yang jelas, ketika gw memeluknya dengan tangan ini, dan merasakan hangat kulitnya, deru napasnya, degup jantungnya, dan jiwa di balik raga tubuh indahnya, gw serasa telah kembali dari perjalanan jauh yang melelahkan. Gw seakan tidak pernah merasa lebih nyaman dari sekarang ini sebelumnya.



And now, I'm home....

Oswald

One of the wonderful story.
Speechless sama cerita satu ini. Sayangnya masih belum ada update dari pemilik cerita. Thanks bwt Oswald @ GIF.

It's Always About You
~ extra twink romance ~








It's Always About You - Chapter 8

Chapter 8, Question & Answer
by Oswald


Gw selalu menjadi anak yang ceria. Dan akan selalu begitulah gw. Gw termasuk cowok yang cuek, tapi perhatian sama teman.
Dan gw enggak pernah menyia-nyiakan hubungan pertemanan gw. Setiap kali teman gw ada masalah, gw selalu repot-repot untuk membantu, mendengarkan keluh kesah mereka, dan bahkan rela melakukan hampir apa pun untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.

Lama kelamaan, karakter gw yang asli mulai timbul ke permukaan. Gw semakin tidak malu-malu dan tidak menahan-nahan lagi. Gw sudah menjadi diri gw sendiri. Sekarang teman-teman sudah sangat akrab dengan gw. Jadi enggak perlu lagi gw pakai topeng ini-itu.
Gw jadi blak-blakan kalau ngomong. Dan udah bebas bercanda sebagaimana pun.

Gw makin akrab dalam VIP. Bahkan kami bergabung dalam club anime sketch, dan mengikuti perlombaan membuat komik, karakter anime, hingga poster-poster anime.

Gw juga udah akrab dengan Makhluk Tuhan Yang Paling Sexy itu. Hampir setiap hari gw bermain dengan Ardo dan Donny. Gw selingin ajah, gantian hari, misalnya hari ini main sama teman VIP, hari besok gw latihan band, lusa gw main basket sama Ardo, atau hanya sekedar nongkrong di Kuta.

Karena sifat gw yang ceria dan cukup memaksa mengambil perhatian orang, ada beberapa teman perempuan yang naksir gw. Mereka dari kelas yang berbeda. Gw sih enggak masalah dengan sikap mereka yang, oh me gad, kentara banget mencari perhatian gw.

Ada yang ngasih gw surat cinta di kolong meja lah, ada yang tiap hari bawain gw kue lah, ada yang kasih gw contekan ulangan, malah ada yang enggak ada angin enggak ada ujan, kasih gw hadiah gelang kulit-silver. Yah, sini mah seneng-seneng ajah kalo dikasih.

Tapi yang enggak enaknya adalah kalau gw harus bicara terus terang bahwa gw enggak tertarik pada mereka. Suka enggak enak sendiri melihat ekspresi sedih mereka itu. Andai gw bisa membalas perasaan mereka. Tapi kan tau sendiri, gw hanya menyimpan hati gw untuk satu orang.

Sampai suatu hari gw juga pernah digosipin sebagai playboy kelas 1. Waaahhh... maaaaakkk... Beritanya sampai kedengaran kakak-kakak kelas lagi.
Menurut kabar burungnya, burung siapa? Hehehe...
Menurut kabar burungnya, gw dinilai suka mengajak teman cewek ngedate dan dicampakan begitu saja.
Sial!! Emang secakep apa gw bisa melakukan hal nista seperti itu?

Padahal, sebenarnya, gw memang suka hang out berdua sama teman perempuan gw, entah dari kelas yang sama atau kelas yang berbeda, tapi itu karena gw mau mendengarkan curhatan mereka.
Sering gw mengajak teman perempuan gw ke Warung Italy di Legian cuma untuk mendengarkan curhatan dan tangisan mereka.
Kenapa di Warung Italy? Soalnya murah! Hohohoho!!!
Tempatnya lumayan enak, banyak bulenya, dan makanannya juga enak.
Sangking seringnya, gw sampai kenal sama para pelayannya dan kokinya. Kalau gw datang, mereka langsung menyuguhkan gw chips kesukaan gw tanpa gw minta. And it's FREE!! Hehehe...
Mereka juga bingung kali yak, koc gw setiap ke sana bawa cewek yang berbeda terus.
Jangan-jangan antara pelayan Warung Italy, gw juga digosipin playboy lagi. Wew!
Sumpeh deh! Gw sama sekali enggak suka di cap playboy! I realy don't meant to be...

Pernah ada 2 orang kakak kelas perempuan yang sampai ngedatengin gw, cuman buat liat muka gw.

Di sore hari yang cerah, gw lagi jalan di depan lapangan basket bersama Donny.

Tiba-tiba 2 orang kakak kelas perempuan ngedatengin gw. Teruuss...

Kakak kelas 1: “Oh ini toh yang namanya Oswald?

Gw freeze. Bingung.

Kakak kelas 2: “Eh? Bener nih yang ini?”

Kakak kelas 1: “Bener, koc!”

Kakak kelas 2: “Oooh, ini toh..”

Lalu mereka berbisik-bisik di depan gw, melirik-lirik gw.
Mereka berbisik di hadapan gw, melirik-lirik gw!
Berbisik-bisik lagi di depan gw, melirik-lirik lagi ke gw!
Sumpaaaahhhh!! Bikin emosi!

Terus mereka balik badan dan pergi gituh ajah.

Pengen rasanya gw sambit pake kambing.

Gw mah enggak playboy kalleee... Banyak yg lebih gokil dari gw dalam hal berpacaran.
Kayak temen kelas gw contohnya, si Sisco. Pacarnyaaaa... wwuuiiihhh.... dari Sabang sampai Merauke... Setiap pulau di Indonesia.... Sumpah banyak bangettt... Sumpah Lebay bangettt...

Tapi prinsip gw satu, yang enggak akan pernah gw ubah. Jadilah orang yang baik.
Itu selalu yang gw pegang, baik gw lagi di atas angin, atau di bawah kemalangan.
Karena dengan menjadi orang baik, gw merasa masih memiliki harga diri.

Gw demennya mencurahkan hati gw buat ke panti asuhan, memberikan sumbangan ke pendidikan anak-anak jalanan, dan gw suka berkecimpung di lembaga sosial sekolah. Daripada sibuk berpacaran yang enggak jelas gituh.
Gw sering bikin mading dan baliho tentang kegiatan sosial.
Pernah juga tentang Go Green! Seru deh...

Nilai-nilai gw di sekolah pun enggak ada yang merah. Dan selalu gw ranking di kelas.
Gw semakin unjuk gigi. Semakin memperlihatkan berlian dalam diri gw. Entah kenapa, sejak pindah ke Bali, gw semakin ambisius memperlihatkan kelebihan gw. Bukan maksud hati gw memperlihatkan ke orang lain bahwa gw hebat, sama sekali enggak. Tapi hal apapun yang gw lakukan, kegiatan apapun yang gw ambil, gw berusaha semaksimal mungkin sampai berhasil dan sukses.


Pernah juga gw sampai demo ke ruang kepala sekolah karena kegiatan sosial yang menurut gw sangat bagus, dan udah gw jalankan berbulan-bulan, mendadak dicegal oleh pihak sekolah dengan alasan sekolah tidak sanggup membiayai kegiatan tersebut. Padahal dari awal pihak sekolah telah berjanji di dalam surat bahwa sepenuhnya mendukung kegiatan sosial kemanusiaan yang sedang gw kerjakan tersebut. Langsunglah gw maju ke Kepala Sekolah. Sempat juga waktu mau maju langsung ke Kepala Sekolah, guru BP gw menghadang. Dia bilang, bahwa masalah ini tidak usah diperpanjang dan tidak perlu menyusahkan diri sampai ke kepala sekolah segala, karena keputusan telah dibuat dan tidak dapat diubah.
Enggak pakai ba-bi-bu, gw tetap memasuki ruang Kepala Sekolah.
Setelah gw masuk, ternyata kata sekretaris sekolah, Bapak Kepala sSkolah sedang ada tamu.
Gw menunggu di sofa kantor tersebut.

Tidak lama kemudian, Bapak Dongker, Kepala sSkolah gw, beserta tamunya keluar dari ruang kantornya. Mereka berjabat tangan dan mengucapkan selamat tinggal.

Kemudian, dengan masih tersenyum, Bapak Dongker menyuruh gw masuk.
Dengan patuh gw memasuki ruang kantornya.

“Silakan duduk, nak.” Suaranya balam dan tenang. Gw duduk di hadapannya.
“Ada apa ini?”

“Maaf Pak, saya mengganggu waktu Bapak. Begini....” Gw menjelaskan duduk perkara dan persoalan yang terjadi. Pak Dongker dengan bijaksana mendengarkan gw.
Pak Dongker termasuk guru favorit gw. Dia sebenarnya adalah Kepala Sekolah yang baik. Dia mau mendengarkan keluh kesah siswa dan orangnya cukup bijaksana. Itu menurut pandangan sepintas dari luarnya yah.

Setelah mendengarkan cuap-cuapnya gw, akhirnya beliau angkat bicara, “Begini, nak. Sekolah sudah tidak mampu membiayai program sosial itu. Biaya yang dikeluarkan termasuk besar. Dan pihak sekolah sedang memfokuskan biaya untuk memlengkapi fasilitas sekolah. Sehingga pihak sekolah menutup program itu pada tahun ini.”

“Tapi program ini sudah bertahun-tahun berjalan, Pak. Dari jaman kakak kelas saya, program ini sudah ada. Semenjak beberapa bulan terakhir ini saya membuat sistem yang akan mempermudah kelancaran dan prosedur yang dijalankan dalam program ini. Dan member anggota pekerjanya semakin banyak. Sumbangan dari teman-teman pun terus bertambah. Sayang sekali kalau program ini ditutup. Mengingat, kita dapat membiayai ratusan anak putus sekolah di Bali, bahkan Lombok.” Gw berbicara cepat dan meluap-luap. “Menurut saya fasilitas sekolah sudah semakin baik. Dan saya nyaman sekolah di sini. Tapi untuk apa sekolah ini mempercantik diri, sedangkan di luar sana jutaan anak putus sekolah tidak dapat mengenyam pendidikan.”

Pembicaraan itu berlangsung lebih dari satu jam. Kepala gw sampai pusing.

“Maaf, nak. Keputusan telah ditetapkan. Sekolah tidak dapat membiayai program itu.” tegas Pak Dongker. “Dan coba kamu tanya ke teman-teman kamu, memangnya mereka tidak mau sekolahnya bagus?”

“Berarti, kalau saya bisa mendapatkan donatur di luar sekolah, program ini bisa terus dijalankan?” tanya gw.

“Yah, kalau memang kamu bisa mendapatkan penyumbang, yah, boleh-boleh saja.” jawab Pak Dongker sambil angkat bahu.

“Dan kalau saya bisa mendapatkan suara sebanyak mungkin, program ini terus dijalankan?” tanya gw.

“Tentu. Tapi itu bukan hal yang mudah.” jawab Pak Dongker.

“Baik. Terima kasih, Pak. Mohon maaf untuk waktu yang terbuang karena saya.” Segera gw bangkit berdiri dan beranjak keluar kantor.

“Nak, perjuangan kamu itu akan memakan waktu yang panjang. Jangan menyusahkan diri.” kata Pak Dongker. “Lebih baik kamu berfokus pada ujian yang sbentar lagi akan tiba.”
Gw tetap melengos pergi.

Anjjjjjiiiiinnngggg!!!! Nyolot banget!!! Liat luh ntar!! Bakal kaget luh!!!

Segera gw sampaikan kepada teman-teman anggota organisasi. Dan mereka langsung bete gituh.
Usaha yang kita lakukan selama berbulan-bulan ini sia-sia sudah.

“Jangan takut!” kata gw. “Kita akan mendapatkan donatur dari luar. Kita kumpulkan semampu kita. Setelah terkumpul, pasti pihak sekolah akan malu, dan mau tidak mau mereka akan mengeluarkan dana untuk program ini. Pihak sekolah juga pasti akan berusaha saving their ass. Karena mereka pasti tidak mau ketiban malu, ketika pihak masyarakat mengetahui bahwa program ini milik sekolah tapi dananya tidak sepeser pun bukan dikeluarkan dari sekolah.” Gw menjelaskan. “Dan yang penting sekarang, kita kumpulkan suara sebanyak-banyaknya!” seru gw.

Teman-teman gw ikutan berseru.

Kami segera membuat campaigne mengenai organisasi sosial pendidikan yang ditutup itu. Kami membuat poster, mading, dan kami mengumpulkan sumbangan suara dari setiap kelas.
Tidak sulit bagi kami untuk mengumpulkan suara dengan dalam bentuk tandatangan.

Gw sempat mengadakan meeting dengan para guru yang menyukai gw bersama anggota OSIS mengenai campaigne yang kita lakukan. Ardo turut serta dalam meeting itu.
Ya, iyalaahhh!! Secara dia Ketua OSIS.

“Saya sangat membutuhkan suara dukungan Anda semua yang ada di sini.” akhir kata gw setelah menjelaskan tujuan, program kerja dan aplikasi kegiatan organisasi yang sedang gw perjuangkan.
Setiap guru di dalam meeting itu akhirnya memberikan sumbangsih suara dengan menandatangani selembar besar poster organisasi. Setiap suara guru yang disumbangkan, akan mendapatkan voucher yang dapat ditukarkan dengan pijat pundak gratis selama 15 menit.

“Waahhh... voucher apa ini?” tanya Ibu Tika.

“Itu voucher pijat, Bu.” kata gw sambil tersenyum.

“Voucher pijat apa toh, nak?” tanya Pak Muana.

“Voucher ini bisa ibu tukarkan dengan gratis pijat pundak selama 15 menit di stand kami yang didirikan di lapangan belakang, Pak. Jadi kalau Bapak dan Ibu sedang kelelahan, silakan datang ke stand organisasi kami, dan bisa menukarkan voucher gratis pijat ini. Teman-teman kami siap memberikan pijatan relaksasi untuk Bapak dan Ibu. Dapat minum jus jeruk pula, Bu. Voucher ini hanya berlaku untuk jam istirahat sekolah dan sepulang sekolah.” jelas gw.
Guru-guru semuanya tertawa. Ardo yang duduk sebagai ketua OSIS ikutan terperangah sama ide voucher lucu itu.

“Waahh... ada-ada saja kamu ini. Boleh ini sering-sering diadakan campaigne, biar dapat voucher pijat gratis lagi.” kata Pak Sintar sambil tertawa.

Tinggal beberapa guru yang menjadi pendukung Pak Dongker yang belum memberikan sumbangan suara. Secara mereka tidak mau datang meeting.
Tapi Pak Arya, guru matematika gw, juga tidak ikut meeting. Beliau terlalu netral, tidak ingin terlibat dalam konflik sekolah. Padahal gw termasuk murid kesayangan Pak Arya. Tapi, mungkin beliau menjaga aman saja. Gw harus mendapatkan tanda tangan suara Pak Arya.
Campaigne yang gw rencanakan pun berjalan. Gw sudah mengumpulkan banyak sekali tanda-tangan siswa. Hampir semua siswa mau menandatangani poster organisasi pendidikan tersebut.
Kebanyakan dari mereka karena sudah mengenal gw dengan baik. Sebagian cuma ikut-ikutan, sebagian ikut menandatangani tapi tidak tahu apa isi poster itu, sebagian karena ingin terlihat eksis di sekolah.
Gw pun masih berburu tanda tangan Pak Arya. Cuma tanda tangan bapak itu yang gw masih belum dapat. Akhirnya setelah banyak berspekulasi, gw mendapatkan juga tanda tangan guru sejarah yang tadinya ikut setuju dengan pendapat Pak Dongker. Dan gw mendapatkan tambahan tanda tangan dari guru seni yang tadinya tidak memihak siapa pun juga.
Gw masih bersikeras mendapatkan sumbangan suara berupa tanda tangan dari Pak Arya.

Di hari sekolah, pagi-pagi, semasih jam pelajaran kakak kelas, gw memasuki ruang kelas gw, yang juga ruang kelas Ardo. Gw sudah mendapatkan tanda tangan dari semua kakak kelas dan teman-teman. Gw memasuki ruangan kelas itu karena pagi itu jadwalnya pak Arya mengajar di kelas itu.

Tok.. Tok.. Tok..

“Ya, silakan masuk.” Terdengar suara Pak Arya dari dalam kelas.

Gw membuka pintu dan mengintip ke dalam. Beliau sedang menulis di papan tulis. Kakak-kakak kelas menoleh ke arah gw. Ardo yang tadinya sedang menulis, langsung mengangkat kepala untuk melihat gw.

“Oh, kamu lagi.” kata Pak Arya.

“Permisi, Pak, maaf mengganggu.” Gw memasuki kelas itu.

“Mau apa lagi kamu?” tanya Pak Arya gusar.

“Saya mau minta sumbangan suara dari Bapak berupa tanda tangan. Sebentar saja, Pak.” Gw menyodorkan poster besar yang telah penuh berisi tanda tangan para siswa dan guru sekolah.
Poster itu di terimanya. Dilihat sebentar.

“Hm..” Pak Arya menyengir.
“Ini lihat, anak yang keras kepala.” kata Pak Arya dengan suara keras. Ia berbalik badan, menghadap ke arah murid-muridnya, berbicara kepada semua murid kelas itu.
“Setiap hari kerjaannya mendatangi saya. Ya di sekolah, ya waktu jam istirahat. Ndak dapat lagi, dia malah ke rumah saya, nungguin sampai malam.” Pak Arya kemudian menoleh memandang gw. Sejenak, kemudian menoleh pada murid-muridnya lagi.
“Sampai ketika saya sedang makan malam bersama istri saya di restaurant, bertemu ini anak, langsung saya disodorkan beginian.” Pak Arya berbicara dengan tangan mengarah ke gw. Wajahnya setengah tersenyum. Kacamatanya melorot sampai ke hidung. “Sekarang, ketika saya sedang mengajar, sampai detik ini, saya masih dikejar-kejar sama ini poster.” Pak Arya menggeleng-gelengkan kepala.
“Semangat apa yang kamu miliki, nak?” tanya Pak Arya, menoleh pada gw, bertolak pinggang.

Kakak-kakak kelas di kelas itu semuanya terdiam. Semua mata tertuju memandang lekat pada gw.
Gw hanya berdiri di depan kelas sambil salting. Gw melirik ke arah Ardo, ia menatap gw.

“Eh?” Err..” Gw kebingungan mau menjawab apa. Memang sih, gw agak keterlaluan. Gw mengejar Pak Arya terus-terusan demi mendapatkan tanda tangannya.
Gw tidak menceritakan ke teman-teman, bahwa gw sampai rela jauh-jauh mendatangi rumah Pak Arya, dan menunggui dia sampai malam, agar mendapat persetujuan suaranya dalam bentuk tanda tangannya.

“Kamu mengumpulkan tanda tangan sebanyak ini, apakah mengerti esensial tujuan sebenarnya apa?” tanya Pak Arya lagi.

“Err.. Seperti yang pernah saya jelaskan sebelumnya, Pak, saya hanya ingin membantu pendidikan anak-anak jalanan dan yang putus sekolah, Pak.” jawab gw singkat. Gw menggigit bibir bawah gw.

“Kasih saya satu alasan, mengapa saya harus menandatangani poster ini?” Pak Arya mengangkat poster itu dengan tangan kanannya.

Semua kakak kelas menatap gw, menunggu gw berbicara.

“Dengan hormat, Pak. Sebelumnya, berikan saya satu alasan, mengapa Bapak tidak mau membantu anak jalanan untuk dapat bersekolah kembali?” tanya gw berbalik kepada Pak Arya.
Mata gw menatapnya tajam.

“Hm..” Pak Arya menyunggingkan senyuman.
Kemudian, tanpa disangka-sangka, ia lalu mengambil pulpen di saku blazer safarinya, kemudian dengan cepat ia menandatangani poster itu, dan memberikan poster itu kepada gw.

Gw dengan bengong menerima poster itu.

“Te.. Terima kasih, Pak.” jawab gw terbata-bata, masih dengan ekpresi terperangah.

Seorang kakak kelas bertepuk tangan sambil berdiri. Diikuti kakak kelas yang lain ikut berdiri dan bertepuk tangan. Diikuti kakak kelas lain lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Sampai semuanya berdiri sambil bertepuk tangan. Semua mulai bersorak sorai. Ada yang meneriakkan, “Yeah!”
Ada yang bersiul kencang. Semuanya bersorak dan tertawa keras.

Pak Arya tersenyum pada gw, mengedipkan mata kanannya, mengangguk ke gw, dan mengacungkan jempol kanannya ke gw.

Gw tersenyum lebar. Hati gw lega banget. Gw melirik ke Ardo, dia sedang tersenyum menatap gw, sambil masih bertepuk tangan.

Terkadang pertanyaan tidak harus disusul dengan jawaban. Dan terkadang, pertanyaan dapat menjadi jawaban yang paling tepat.

-----------------------------------------------------------------------------

Chapter 1 - It's Hard to Say GOODBYE

It's Always About You - Chapter 7

Chapter 7, Only For One Love
by Oswald


Sekolah gw adalah sekolah yang heboh dan aktif akan kegiatan-kegiatan siswa.
Yang gw demen dari sekolah gw yaitu, tidak menahan daya kreatif siswa.
Bahkan di sekolah gw ada banyak divisi organisasi kesiswaan yang dapat memajukan eksistensi sekolah. Ada divisi promosi dan marketing, ada divisi public relation, ada divisi kesenian, ada divisi olahraga, musik, keamanan, dan banyak lainnya.

Kali ini sekolah gw mengadakan pentas seni umtuk dipamerkan ke sekolah-sekolah lain.
Kegiatannya yaitu ada lomba band, lomba modern dance, galery lukisan, lomba mading, lomba berkreasi baliho, hingga lomba seni ukir.

Gw telah membentuk grup band sendiri, yang berisikan anak-anak kelas 1 SMA.
Nama bandnya adalah The Soul. Aliran musik kami adalah rock alternative.
Personil gw ada lima orang, yaitu Derryl, teman kelas lain, sebagai gitaris dan backing vocal; Hadi anak kelas 2 SMA, sebagai basis dan backing vocal; Saron sebagai drummer; Garda, temannya Hadi, sebagai keyboardis; dan gw sebagai main vocal sekaligus back up gitaris.
Dan kami akan tampil untuk bersaing dengan band-band lainnya.
Buat gw, kalah atau menang enggak jadi persoalan. Yang penting gw enjoy ngeband dan bisa bersenang-senang sama anggota band gw dan penonton.
Band kami terbentuk sejak 3 bulan lalu. Dan kami cukup kompak karena setiap personil telah menduduki posisi yang tepat dan visi-misi kami telah bersatu. Sangking kompaknya, kami selalu rajin latihan dan saling mendukung apabila ada salah satu personil yang drop karena sedang menghadapi masalah atau karena lagi bad mood.

Gw ingat pertama kali gw diajarkan bermain gitar oleh Donny.
Well, sekali lagi, dia yang berjasa membukakan kesempatan lain dalam diri gw untuk mengembangkan kemampuan diri.
Donny yang membuat gw jadi tergila-gila sama musik, terutama gitar.
Sebenarnya di Jakarta, gw juga udah pernah les gitar, tapi gw enggak jago-jago banget. Malah les gitar gw putus di tengah jalan karena gw bosen.
Jadi, waktu itu di Bali sedang ngetrend-ngetrendnya album lagu Dewa Bintang Lima.
Yang Separuh Nafas lah, yang Dua Sedjoli lah, Ingin Ku Bunuh Pacarmu lah... semuanya gw suka.
Nah waktu itu gw minta diajarin Donny bermain gitar. Si Donny sudah jago bermain gitar sejak kecil. Dia juga sudah sempat performance di gereja, dan tergabung dalam anggota bandnya Ardo. Donny juga multi tasker, bisa apa ajah.
Sebenarnya, alasan yang paling dalam, kenapa gw pengen banget bisa main gitar, karena gw pengen buatin lagu untuk Ardo. Mau sok romantis gituh ceritanya. Hehehe...norak banget kalau dipikir-pikir!

Pada masa-masa gw belajar gitar, Donny hampir setiap hari menginap di rumah gw. Setiap hari sepulang sekolah dia mengajarkan gw cara bermain gitar yang baik. Dari nada dasar, belajar feeling nada lagu, belajar kunci-kunci gitar, sampai membuat lagu.
Ternyata, tanpa disangka-sangka, gw mempunyai bakat bermain musik. Ini tidak gw sadari sebelumnya. Dan ternyata gw suka banget main gitar. Mungkin ini juga karena cara mengajar Donny yang menyenangkan. Dalam waktu singkat, hanya sekitar 2 bulan gw sudah bisa bermain dengan lumayan lancar, dan sudah belajar menciptakan lagu sendiri, walau masih basic banget.
Jari-jari tangan gw sampai melepuh semua dan kulitnya terkelupas-kelupas. Tapi itu semua tidak menghalangi kegetolan gw bermain gitar.
Setiap malam gw mendengarkan musik apa saja, dan mengikuti petikan gitar dalam musik tersebut.

Sempat pula gw datang ke studio tempat Donny biasa bermain gitar bersama teman-teman lainnya, dan mengalami masa yang cukup indah.
Entah mengapa hari itu gw masuk ke ruang auditorium di studio itu, tidak ada orang sama sekali tapi ada sebuah gitar akustik klasik bermotif floral, yang berdiri di stand di atas panggung.
Gw yang sudah lumayan lancar bermain gitar, mencoba memainkan beberapa nada dasar yang gw pelajari dari guru gw, si Donny. Tanpa sadar gw sudah bersenandung dan bernyanyi dengan suara kecil diiringi oleh petikan gitar gw sendiri.
Suara gw dan petikan gitar bergema di ruang auditorium yang kosong.
Sedang asik-asiknya gw menikmati permainan gitar sendiri, tiba-tiba ada seseorang memanggil nama gw.

“Os?” Ternyata yang memanggil adalah DIA.
Ardo sedang berdiri di depan gw, berjarak 3 meter dari panggung tempat gw duduk bermain gitar. Dia mengenakan kaos lengan panjang dengan kerah oval, berwarna abu gelap, dan celana jeans biru gelap yang sudah belel. Sneakers hitam-putih membuatnya tambah terlihat keren. Wajahnya cerah, rambutnya yang pendek bergaya acak alami, senyumnya mengembang, dan lesung pipitnya membuat gw lemas. Ardo terlihat sangat tampan hari itu.

Gw langsung panik dan menghentikan permainan gitar gw.
Kapan Ardo masuk ke ruang ini yah? Pikir gw.
Gw segera berdiri dan hendak menaruh gitar yang gw mainin ke atas standnya.

“Eh, Ardo.” kata gw terkejut, dengan suara kecil. Gw ngerasa kayak ke gap abis memerkosa anak tetangga. Pipi gw merah merona, panik dan salting.

“Kamu bisa main gitar juga, Os?” senyum Ardo menghiasi sore kelabu gw.

“Umm.. enggak. Cuma main-main standard ajah. Baru belajar koc.” jawab gw, sebisa mungkin terlihat santai.

“Main lagu apa?” tanya Ardo, yang sekarang berjalan menaiki panggung.

“Oh, bukan lagu apa-apa. Cuma asal-asalan ajah mainnya.” jawab gw sambil memperhatikan Ardo mendekat.

Dia duduk di kursi depan gw, berhadapan dengan gw.
Kami lalu mengobrol-ngobrol tentang aliran musik, berbagai nada-nada unik, dan Ardo memainkan beberapa bagian lagu yang memiliki perpindahan kunci yang cukup sulit.
Wuuiihh!!! Jago banget loh Ardo main gitarnya. Makin cinta gw sama dia... *Blushing...

Gw tertarik dengan satu bait lagu yang ia nyanyikan, karena nada petikan gitarnya terdengar enak sekali, namun sulit dipelajari.

Berkali-kali Ardo mempraktekannya dan menjelaskan tentang perpindahan nada yang secepat kilat itu. Gw kesulitan mengikutinya. Jemari tangan gw belum seahli jemarinya. Kami bergantian saling mengoper gitar klasik tersebut.
Ardo menunjukkan cara bermainnya, gw berusaha mempraktekan ajarannya. Gw terus mencoba namun masih saja gagal. Gw pikir, ilmu bermain gitar gw udah lumayan, tapi ternyata setelah melihat Ardo bermain gitar, hueh, gw sama sekali kayak anak bayi baru belajar merangkak.
Kemudian karena gw enggak bisa-bisa, maka Ardo pun berdiri dan berjalan menuju belakang punggung gw.
Kini posisi Ardo di belakang gw, sambil berdiri, dan gw duduk di depannya.

“Ini jari telunjuknya di senar ke dua, lalu jari tengahnya di senar ke tiga.” Ardo menyentuh jemari gw, dan membetulkan posisinya ke senar yang benar.
Suaranya yang serak lembut terdengar dekat sekali di telinga kiri gw. Gw bisa merasakan nafasnya yang hangat di sekitar telinga kiri gw.
Duuuhhhh.... Gw jadi grogi berat niiihhh.... Malah enggak konsentrasi jadinyaaaa.... Jari-jari tangan gw malah jadi dingin dan kaku... keringetan pula.... uuuggghh...Ardo, kamu twwuuuhhh....gemesiiinnnn!!!

“Nah, jari tangan kanannya harus memetik senar dari bawah, baru bisa menghasilkan suara kayak aku tadi.” lanjutnya. Kini tangan kanannya merangkul melewati pundak gw dan mendarat di jemari tangan kanan gw. Dadanya, menempel di leher belakang gw.

Huuuaaa!!! Tolooongg... Tolooonnggg!!!

“Su..susah yah..” kata gw ragu. Maksud gw sebenarnya susah menahan grogi berdekatan dengan Ardo seperti ini.

“Enggak susah koc, kalau kamu latihan terus.” kata Ardo tersenyum ke gw.

Wew! Wajahnya dekat banget dengan wajah gw. Hiiyyaaaaahhh!!!! Mamaaaa....!!!

“Nih, kita coba lagi deh.” kata Ardo sambil menarik kursi stool dan memposisikan kursi itu di belakang kursi gw. Kemudian dia duduk di kursinya, di belakang gw.
Ardo berdeham sekali, dan sekali lagi merangkulkan tangannya dari belakang, melewati pundak gw, dan jemari tangan kanannya menyentuh jemari tangan kanan gw.
Dadanya menyentuh erat pada punggung gw. Gw bisa merasakan gerak nafas teratur pada dadanya itu.
Jemari tangan kirinya menyentuh jemari tangan kiri gw, membetulkan setiap jemari gw yang salah posisi.
Dagunya sesekali menyentuh area leher kanan gw.
Harum parfumnya tercium kentara di hidung gw. Wangi sweet sekaligus maskulin.
Anjrit!

Waaddduuuuhhhh!!!! Gw meleleeeeehhhh!!!!
Jantung gw dag-dig-dug, luar biasa enggak bisa diam.
Jemari tangan gw agak gemetaran, meski gw berusaha mati-matian untuk menahan gemetarnya.
Yang pasti jemari gw basah.

“Coba petik lagi.” kata Ardo di dekat telinga kanan gw. Nafas hangatnya kembali menghembus telinga kanan gw. Wangi mint tercium.

Huuwwaaaaahhh!!!! Aku... Aku... Akuuu.... Aku tak tahaaaannn....

Gw berusaha menguasai diri. Gw petik senar-senar gitar dan hasilnya ternyata enggak jelek-jelek banget. Gw teruskan petikan gitar gw, walau agak tertahan-tahan karena gw salah-salah terus menekan kunci-kunci gitar. Gw mengulang-ulang terus kunci-kunci gitar yang diajarkan Ardo itu.
Lama kelamaan gw jadi enjoy juga. Dan mulai lumayan lancar.
Ardo masih dengan sabar mengajarkan gw. Masih dengan posisi yang sama, ia seolah memeluk gw.

Setelah melihat permainan gitar gw yang sudah mulai lancar, Ardo bersenandung. Dia menciptakan vocal dari iringan petikan gitar gw. Suaranya serak dan lembut, beresonansi indah.
Suaranya melekat di telinga kanan gw.

“And I'd give up forever to touch you.
Cause I know that you feel me somehow.
You're the closest to heaven that I'll ever be..
And I don't want to go home right now.” Suara Ardo menggema ringan di ruang auditorium itu.
Desahan nafasnya membuat gw merinding gila!!

“And all I can taste is this moment.
And all I can breathe is your life.
Cause sooner or later it's over..
I just don't want to miss you tonight.” suara Ardo setengah berbisik. Kata-kata dari lagu itu terngiang di kepala gw. Dan gw memutuskan, untuk tidak akan pernah berhenti untuk tergila-gila pada Ardo.




“And I don't want the world to see me!!” teriak nyanyian gw di atas panggung. Para penonton lomba band sekolah langsung bersorak menggila. Terutama teman-teman VIP gw, mereka ikut bernyanyi dengan suara kencang.
Gw sedang tampil di atas panggung dengan membawakan lagu yang waktu itu pernah diajarkan Ardo di ruang auditorium studio rekaman.
Tangan gw dengan seru terus memainkan gitar sambil bernyanyi.

“Cause I don't think that they'd understand!
When everything's made to be broken..
I just want you to know who I am!” Mata gw terpejam saat menyanyikan lagu super duper mega power romantis itu. Lagu kenangan gw dan Ardo.

“And you can't fight the tears that ain't coming.
Or the moment of truth in your lies.
When everything seems like the movies.. Yeah you bleed just to know your alive.” suara gw serak lirih. Jiwa gw seakan mendalam berputar dalam kata-kata lagu itu.

“And I don't want the world to see me!
Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken..
I just want you to know who I am!”
Selagi gw bernyanyi, Derryl memainkan melodi kelitan yang super keren pada gitarnya.
Saron makin seru memukul-mukul drumnya. Hadi dan Garda enggak kalah seru memainkan alat musik mereka masing-masing.

“I just want you to know who I am!” teriak gw mengakhiri lirik terakhir lagu itu.

Sontak penonton langsung berteriak-teriak gila.

“Oswaaaalldd!!” teriak Vita dan Joe yang sedang menonton penampilan band gw.
Henny, Dian dan Ely ikut melompat-lompat dan berteriak-teriak.

Gw mengangkat kepalan tangan gw ke udara.

Penonton kembali bersorak riuh.



Setelah selang beberapa band yang tampil, tiba giliran bandnya Ardo yang tampil.
Gila! Parah! Gokil!
Penampilan band Ardo sumpah, enggak ada yang bisa nandingin.
Nama bandnya adalah Thee Light. Keren kan!
Personilnya ada Donny sebagai main gitarist, Moses sebagai keyboardist, Vicky sebagai drummer, Raoul sebagai basis, dan pastinya, si pujaan hati gw, si manusia sempurna, kekasih hati gw, hidup dan darah gw, Ardo, menjadi main vocal sekaligus backup gitarist.

Mereka memainkan lagu slow alternatif dan beberapa lagu ciptaan mereka sendiri.
Asli, penampilan mereka lebih bagus jauh dari band-band lain. Setiap personil bandnya berkarakter kuat dan memang asli jago banget.
Gw terenyuh gituh mendengar suara Ardo, petikan gitarnya, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Gw serasa mau pingsan!

Itu belum seberapa. Di satu moment, mereka memainkan lagu bertempo cepat, lagu ciptaan mereka sendiri. Dengan teknik permainan yang, asli, sulit banget, gw ajah liatnya sampe pusing.
Donny ngeli-ngelit gitarnya dengan nada tinggi yang memekakkan telinga. Moses menggunakan sound effect yang gokil banget. Sound effect itu buatan dia sendiri, sehingga tidak mungkin bisa ditemukan di mana pun.
Vicky napsu banget menggebuk-gebuk drumnya, sesekali dia mencampur dengan pukulan perkusi.

Dan di klimaks lagu itu, tau enggak mereka ngapain? Mereka telanjang bareng-bareng, sambil joged-joged.
Enggak deeehhh.... hoahahahaha!!! Ngarep!!

Dan di klimaks lagu itu, mereka memberikan surprise yang di luar akal manusia!!

Ardo yang tadinya berada di posisi depan sebagai main vocal, langsung beringsut menggantikan posisi Donny sebagai gitarist, kemudian Donny beringsut menggantikan Raoul sebagai bassist, Raoul beringsut menggantikan Vicky sebagai drummer, dan menghentakkan perkusinya juga. Vicky beringsut menggantikan Moses sebagai keybordist. Kemudian Moses beringsut menggantikan posisi Ardo sebagai main vocal dengan menyanyikan lagu ciptaan mereka dalam versi dangdut, dengan cengok-cengok suara yang mendalam. Lucu abiiisss!!!!
Mereka melakukan itu secara serentak bersamaan. Lucu banget deh! Penonton yang mendengarkan perubahan genre musik mereka dari alternative ke dangdut langsung pada teriak-teriak menggila.
Jempol-jempol langsung teracung dan bergerak-gerak asik.

Penonton yang melihat atraksi mereka itu kontan langsung bersorak-sorai menggila!

“Waaaooohh!!” teriak gw, enggak percaya sama mata gw sendiri.

Kemudian satu di ketukan yang pas, Ardo beringsut berpindah menggantikan Donny yang tadi membetot bassnya, menjadi bassist sementara. Donny menggantikan posisi Raoul yang tadi hentakan drum. Kini Donny memukul drum dan menciptakan ritme mars prajurit dengan tempo super cepat. Raoul beringsut menggantikan Vicky yang sementara tadi menjadi Keyboardist, menciptakan iringan piano yang bertempo cepat. Lalu Moses beringsut menjadi gitarist, Giliran Vicky yang menjadi main vocal. Ia meneriakkan seruan-seruan rap nigger. Dan mereka memanikan gaya music Hip-Hop. Keren banget!! Dengan gayanya yang sok ngerap, Vicky terlihat tampan juga. Cocok lah!
Penonton langsung bersorak dan bertepuk tangan, tanda salut.
Mereka terus melakukan manuver-manuver itu sampai setiap personil memainkan semua peralatan musik yang berbeda, hingga akhirnya kembali ke posisi semula, memainkan alat musik masing-masing. OMG!!! Keren bangeeeetttt!!!
Ini membuktikan bahwa setiap personil mereka menguasai dengan baik semua alat musik yang mereka pakai. Ardo, Donny, Vicky, Moses dan Raoul, masing-masing bisa memainkan alat musik gitar, drum, keyboard, gitar bass, dan bisa bernyanyi dengan baik.

Setiap pergantian vocal, genre lagu yang dibawakan juga berbeda-beda.
Sewaktu Raoul menjadi vocal, ia meneriakkan nada-nada tinggi metalica.
Sewaktu Moses bernyanyi, mereka membawakan irama dangdut yang, asli, lucu banget!
Sewaktu Vicky menjadi vocal, ia meneriakkan seruan-seruan rap nigger! Kereeenn abiiiisss!!
Di sini penonton bersorak kenceng banget.
Sewaktu Donny giliran yang menjadi vocal, ia meneriakan nada-nada jazz yang, asli, gw sendiri enggak nyangka ternyata suara Donny sebagus itu!!

Sampai akhirnya Ardo pun kembali menjadi main vocal. Ia menyanyikan kelanjutan lagu yang mereka mainkan itu. Dengan suara khasnya yang serak-serak lembut itu.

Setelah lagu yang panjang dan menghebohkan itu selesai, sorak sorai penonton membahana.
Bali gempa!

Lebay!

Hari sudah gelap, sudah lewat pukul enam sore.
Masih ada 1 lagu yang akan Thee Light bawakan. Kemudian mereka memasuki nada slow lagu ciptaan Ardo.

Ardo mulai menyanyikan lagu tersebut. Suaranya tenang dan bagus sekali. Senyumnya mengembang manis. Lesung pipitnya kembali menyapa gw.
Gw ajah sih yang berasanya di sapa terus. GR!

Teman-teman di sekitar gw mengeluarkan hp, menyalakan lampunya dan beramai-ramai mengangkat hp mereka. Serentak, langsung seluruh lapangan di hiasi oleh lampu kerlap-kerlip dari hp para penonton. Agak norak sih kalau dipikir-pikir sekarang, tapi saat itu, menurut gw indah banget.

“....as long as you are mine, when You are there.. and I am here... we are still one....” Ardo menyanyikan setiap lirik lagu itu dengan wajah yang agak sendu.
Dan, apa ini perasaan gw, ataukah memang benar? Ardo menyanyikan lagu itu dengan menatap gw, yang memang posisi gw di tengah-tengah lapangan.

“.... for better or worse....I will run after You... and I don't care....”

Muka gw memerah.

“.... even it will takes whole my life....”

Jantung gw berdegup kencang sekali.

“....and when You are doubt....”

Nafas gw sesak.

“....and Your faith starts fading....”

Kepala gw mulai pening.

“.... I will standing still....”

Pandangan gw mulai kabur.

“....here.... Just for You....”

Badan gw langsung lemas. Seketika, dengan slow motion, gw mulai ambruk ke lantai.

Teman-teman disekeliling gw belum sadar.

Saat itu juga Ardo menghentikan nyanyiannya, kemudian ia langsung melompat turun dari atas panggung.
Donny dan teman-teman lainnya melongo kebingungan. Walau mereka masih memainkan musik.

Ardo berlari dari area panggung ke arah penonton, ke arah gw.

Penonton kebingungan melihat Ardo.
Lalu Vita yang berdiri di sebelah gw sadar ketika gw mulai tergeletak di lantai lapangan, karena gw tanpa sengaja menabrak Surya yang sedang berdiri di belakang gw.
Vita dan Joe langsung berjongkok di sebelah gw, berusaha membangunkan gw.

Gw merasa sangat aneh. Pusing dan pandangan gw agak kabur. Suara jantung gw yang berdegup cepat sampai terdengar di telinga gw. Gw menutup mata dan membukanya lagi. Terakhir yang gw lihat adalah samar-samar wajah Ardo yang mengerutkan keningnya. Memandang lekat pada gw. Mulutnya terbuka.

“Os!” gw mendengarnya berteriak. Tapi suaranya hanya seperti dengungan tidak jelas.
Detik berikutnya, yang gw lihat hanyalah gelap total.
Gw enggak sadarkan diri.



Entah gw sedang berada di mana. Semuanya serba putih. Air mata gw menetes. Pandangan gw masih buram. Gw dapat mendengar bunyi nafas gw yang berat.
Gw berusaha menggerakan tangan, tapi tidak mampu.

Gw memejamkan mata lagi.

Kemudian gw tersadar. Gw membuka mata. Pandangan gw masih kabur. Tapi gw sudah bisa melihat bayangan-bayangan gambar buram.
Telinga gw mulai bisa menangkap suara-suara. Suara sesuatu yang berdetik.
Nit..Nit.. Nit..
Suara mesin.

Gw menggerakkan jemari gw. Berusaha keras menoleh. Gw tahu bahwa gw sedang terbaring terlentang.
Pandangan gw mulai menjelas. Gw dapat melihat langit-langit putih.
Gw mengeluarkan suara erangan. Mata gw berat.
Bingung, di mana gw.

Kemudian gw melihat DIA.
Wajah Ardo memenuhi penglihatan gw.
Gw berkedip, wajahnya masih di sana.

“Hey..” suara Ardo terdengar pelan, serak dan parau.

“Mm..” gw berusaha bersuara tapi enggak bisa. Tenggorokan gw kering banget.

Ardo menggenggam jemari tangan kiri gw.

“Os?” Ardo memanggil gw pelan.

Gw cuma mengedip. Gw merasa dipakaikan masker oksigen.

Gw berusaha bergerak tapi masih susah.

“Jangan bergerak dulu. Easy..” Ardo mengusap dada gw. Tangan kanannya masih menggenggam jemari tangan kiri gw.

Sekitar satu menit berlalu, gw sudah sepenuhnya sadar. Gw mencoba mengangkat kepala gw.

“Mm..” erang gw pelan.

“Hey, hey.. Easy boy.” Ardo menahan dada gw.

Gw membandel, masih tetap berusaha mengangkat tubuh gw yang tidur terlentang.
Gw mengerutkan kening. Asli, pusing banget kepala gw.
Tapi gw memaksa untuk duduk. Gw melepaskan masker oksigen yang tadinya terpasang menutupi hidung dan mulut gw.

“Os, jangan dipaksa.” Ardo berkata lembut.

Woy! Mana bisa gw tiduran dengan manisnya gini di depan elo Doooooo!!!
Malu lah gw!!

“Sini, aku bantu.” Ardo melepaskan jemari tangan gw, dan menapakkan telapak kanannya untuk membantu gw duduk tegak. Ia lalu menarik sebuah tuas di sisi ranjang, kemudian secara otomatis, bagian kepala ranjang itu naik. Kemudian Ardo menaruh dan menegakkan bantal supaya gw dapat duduk di atas ranjang sambil bersandar.

“Mm.. Thank.. you..” gw bersuara parau, sambil bersandar pada bantal.

Asli gw malu nih berdekatan dengan Ardo dalam kondisi kacau seperti ini. Tapi Ardo sweet banget. Dia sampai menservice gw kayak gini. Sumpah gw enggak enak banget.

“Gimana rasanya?” Ardo menaruh bantal di belakang gw, kemudian duduk kembali di kursinya yang tepat di sebelah ranjang.

“Mm.. Pusing..” jawab gw pelan.

“Tadi kamu pingsan. Lalu kita langsung bawa kamu ke sini.” Ardo menjelaskan.

“Hm...? Ini di mana...? Kita..?” tanya gw pelan. Kepala gw masih rada pusing.

“Ini di rumah sakit. Tadi teman-teman kamu yang membawa kamu ke sini.” jelas Ardo.

Gw tersenyum kepada Ardo.

Ardo membalas senyuman gw. Lesung pipitnya seakan mengatakan, “Hi, it's me again!”

Pingsan lagi aaahhh....

“Adek! Adek udah sadar?” nyokap menjerti dari pintu, lalu segera jalan menghampiri gw.
“Ya ampun bikin mami takut ajah!” nyokap langsung menggenggam tangan kanan gw.
Ardo berdiri, bergeser ke samping.

“Mam.. jangan teriak.. pusing..” gumam gw sambil mengernyitkan kening.
Duuhh... nyokap heboh banget.

“Kamu sih bikin mami takut.”
Masih ajah loh nyokap heboh. Pusing deh gw.
“Do. Tolong mami yah panggilin dokternya.” nyokap meminta Ardo.
Dengan patuh Ardo segera keluar kamar, memanggil dokter.

“Gimana rasanya, sayang?” nyokap memegang kening gw dengan telapak kanannya

“Enggak papa, mam. Cuma pusing.” jawab gw tersenyum. Biar nyokap enggak panik.

Enggak lama, dokter pun datang.

“Nah, nak Waldo, gimana rasanya?” dokter berwajah ramah memegang kening gw.

Kenapa semua orang memegang kening gw. Emang ada apa sama kening gw?

“Cuma pusing, dok.” jawab gw lemes.

“Di cek sebentar yah.” kata dokter sambil mengukur tekanan darah gw, memeriksa dada gw dengan stetoskop. “Kapan terakhir kamu makan hari ini?”

“Mm..” Gw lupa. Sumpah! Gw lupa kapan gw makan.

“Nah kan, kamu belum makan ya? Makan pagi sudah belum?” tanya dokter lagi. Sekarang dia sedang mengukur nadi gw. Lalu memeriksa infus gw.

Infus? Gw baru nyadar ternyata gw di infus.

“Makan pagi.. Udah, dok.” akhirnya gw ingat tadi pagi makan lontong doank sebungkus.

“Kamu terkena serangan darah rendah, nak. Kadar glukosa kamu turun drastis. Sehingge tensi darah kamu drop, dan kamu langsung kehilangan kesadaran. Kalau dibiarkan begini terus bisa bahaya lho.” jelas sang dokter. Gw cuma manggut-manggut ajah. “Kalau darah rendah itu, harus makan tepat waktu. Pasti kamu belum makan dari siang. Makanya tensi kamu rendah gini.” kata dokter dengan senyum ramah.

“Iya, tadi pagi... saya cuma makan lontong sebungkus..” jelas gw.

“Hah?! Terus kamu enggak makan lagi sampai sekarang?” tanya nyokap heboh.
Gw menggelengkan kepala.

“Pantas saja.” kata dokter. “Sudah tidak makan, terus tadi kata teman-teman kamu pentas musik ya?” tanya dokter.

Gw mengangguk pasrah.

“Lha iya. Pentas musik kan menghabiskan banyak energi. Ndak boleh diulangi lagi ya. Makan harus teratur.” Dokter telah selesai memeriksa kondisi gw.
“Malam ini menginap dulu ya, besok pagi sudah boleh pulang. Sebentar suster akan membawakan makan malam dan obat penambah darah.” lanjutnya sambil menulis note yang dibawanya.
Nyokap mengucapkan terima kasih. Kemudian dokter meninggalkan ruangan.

“Dengar kata dokter ya, dek.” tambah nyokap gw.

Pintu kamar terbuka, Donny beserta teman-teman VIP, dan teman-teman band muncul.

“Gimana, Os?” tanya Donny mendekati gw.

Gw cuma tersenyum sambil mengangkat bahu. Senang rasanya melihat teman-teman gw begitu memperhatikan gw.

“Udah enakan, Os?” tanya Joe.

Gw mengangguk, “Yah, mendingan lah.”

“Bandel dia, belum makan udah sok-sokan ngeband.” Nyokap gw sok ngomel. “Don, tante titip Waldo dulu yah. Tante mau cek obatnya.” Nyokap lalu berjalan ke pintu.
Seperti yang udah gw jelasin sebelumnya, gw kadang dipanggil Os, tapi juga dipanggil Waldo.

“Iya, tante.” jawab Donny.

“Aku sampe kuaget loh tadi waktu liat kamu ambruk.” cerocos Vita seru.

“Iya. Ke nabrak aku. Aku kaget banget ci.” Surya enggak kalah seru.

“Aku ndak liat ke rubuh nok.” jelas Hadi. Teman-teman band gw berdiri di samping kanan gw.

“Aku lagi beli minum ci, jadi ndak tau ke pingsan. Tadi Garda sing teriak-teriak ke pingsan.” jelas Derryl.

“Tak kira kamu kenapa gitu.” Dian ikut-ikutan.

“Aku enggak apa koc.” jawab gw tersenyum. Mata gw masih sayu. “Cuma lemes.”

“Lagian ke nekat kali nok. Ndak makan wes malah mainan band.” sergah Vita.

“Tak kira ke udah makan barengan. Ndak makan tadi itu tah?” tanya Henny.

Duuhhh... kan gw cuma lupa makan doank.... koc pada heboh gini sih...

“Koc aku isa sampe sini? Gimana tah?” tanya gw pakai aksen jawa.

“Tadi waktu Ardo lagi nyanyi, elo pingsan. Enggak ada yang sadar elo udah ambruk ke tanah. Cuma Ardo sadar. Dia lalu lari dari atas panggung, dan nyamperin elo.” jelas Donny.

“Nah, di situ baru aku nyadar ke udah nggeletak di tanah.” sambung Vita.

“Ardo yang ngangkat lo dan bawa lo ke rumah sakit ini.” jelas Donny. Ekspresinya datar.

“Sampe panik tadi dia.” Vita tersenyum.

“Wuih, heboh kali ci. Kaget aku sampe ada ambulan dateng!” jelas Surya.

“Waldo bikin geger!” seru Derryl. Semua tertawa.

“Ardo yang nungguin ke dari tadi. Kita di larang dokter masuk ke kamar sebelum ke sadar. Ardo yang gantiin jaga kamu selagi ibu mu ngurus dokumen rumah sakit.” jelas Henny.

“Dia yang nungguin ke terus nok.” Hadi menambahkan. “Kelihatannya orangnya cuek-cuek gitu ya, ternyata perhatian juga sama teman nok!”

Gw terdiam. Wah.. Ardo yang berinisiatif membawa gw ke rumah sakit. Dan dia nungguin gw. Terus terang, gw jadi tersanjung banget. Tapi gw juga enggak enak udah ngerepotin dia. Emang dia siapanya gw. Sumpah gw jadi enggak enak.

“Pikachu...” Ely mendecit. Itu cara dia menghibur gw. Dengan suara imutnya, mengatakan 'Pikachu'.
Joe merangkul Ely sambil tersenyum.

Gw tersenyum ke Ely.

“Mana Ardo?” tanya gw.

“Oh, dia di depan. Lagi beli minum.” jawab Donny, masih dengan ekspresi datar.

“Oh.” gw cuma mengangguk.

“Mau dipanggilin?” tanya Donny.

“Mm..” gw ragu. Sebenernya gw masih pengen ngobrol sama teman-teman, tapi gw juga pengen bilang makasih sama Ardo.

“Tak panggilin ya..?” Tanpa ba-bi-bu, Vita langsung berjalan keluar. Dan di luar, dia memanggil Ardo dengan suara cemprengnya. Kami yang di dalam kamar sampai menahan tawa.

Duuhh... Vit, jangan teriak-teriak napa... Batin gw.

Enggak lama kemudian, “Os?” Ardo muncul dari balik pintu, tangannya menggenggam minuman kaleng bersoda.
Gw baru sadar, dia cuman mengenakan kaos vintage abu-abu, lengan pendek, tipis, dan sambil menenteng jaket kulit hitamnya. Tampangnya kelihatan lelah. Rambutnya acak-acakan. Kelihatan lusuh dan kumal. Tapi teteup, buat gw dia yang paling ganteng sejagad raya.

“Do..” jawab gw.

“Os, aku pamit dulu yah.. Udah kemaleman nih. Udah jam sembilan. Ndak enak sama ortuku” Henny segera berpamitan.

“Aku juga ya.” Joe ikut-ikutan.

“Kita juga pamit yah, Os. Do, jalan yah.” Hadi berpamitan.

Teman-teman gw semuanya bubar jalan dan pulang ke rumah masing-masing. Gw berterima kasih pada mereka karena sudah mau repot-repot demi gw.

“Take care, Os...” kata mereka.

Tinggal Donny dan Ardo yang tetap tinggal.

“Udah enakan, Os?” tanya Ardo. Wajahnya tersenyum, walau tampak kelelahan. Ia berjalan mendekati gw, dan duduk di kursi di sebelah ranjang.

“Udah, Do. Makasih ya, udah repot-repot nungguin aku.” Gw berkata sesungkan mungkin. Beneran, gw enggak enak banget sama dia.

“It's ok. Yang penting kamu enggak kenapa-kenapa.” jawab Ardo pelan. Senyumnya menyegarkan batin gw.

“Lho, teman-teman mu udah pulang semua, dek?” Nyokap sudah kembali ke kamar.

“Iya, mam. Udah kemaleman mereka.” jawab gw pelan.

“Wah, nak Ardo, masih setia menunggu. Makasih yah, Do. Donny juga baik sekali. Makasih yah” Nyokap gw cengar cengir sambil membereskan baju gw yang sudah disiapkan. Ternyata nyokap sudah menyuruh sopir gw untuk mengambil baju ganti gw dari rumah.

“Sama-sama, tante. Ini saya mau pulang juga. Gw pamit yah, Os.” kata Donny. “Do, gw balik yah.”

“Oh, iya, Don. Ati-ati.” Ardo mengangkat tangannya.

“Thank you, Don.” jawab gw, tersenyum.

“Ati-ati yah, Donny.” Nyokap membelai bahu Donny. Donny mengangguk dan tersenyum sama nyokap gw.

“Dee...!” Donny pun hilang di balik pintu.

Suster masuk ke kamar sambil membawakan gw makan malam beserta obat-obatan.

“Hayo, dimakan yaaaa...” kata suster dengan ramah, tersenyum.

“Terima kasih, susteeerr.” kata nyokap, enggak kalah ramah. “Yuk, dimakan, dek. Habis itu minum obat.”

Dengan sigap Ardo mengambil piring yang berisi nasi tim ayam, dan dia kembali mendekati gw, duduk di samping gw lagi. Lalu tangannya mulai menyendok nasi.

“Ayo makan, Os.” kata Ardo, mendekatkan sendok ke mulut gw.

Heeeee...????!!!! Di suapin??!! Ardo mau nyuapin guuueee?!?! Yang bener niiihhh....??!!

Gw masih diem bengong. Mulai grogi.

“Buka donk mulutnya.” Ardo berkata pelan. Sendok suapannya masih menanti di depan mulut gw.

“Aku makan sendiri ajah deh, Do.” kata gw cepat-cepat. Gw berusaha duduk tegak. Muka gw memanas.

“Kamu enggak usah banyak gerak dulu, Os.” sergah Ardo.

Iiiiiihhhh... Ardo galaaaakkk.... Aku atut ah... atuuuttt....

“Ayo cepat dimakan.” Ardo menggoyangkan sendok yang menanti di depan mulut gw.

Akhirnya gw membuka mulut dan aaammm.... Suapannya itu gw terima dengan ikhlas...

Gw terbatuk-batuk kecil.

“Oh, seret yah?” Ardo langsung mengambilkan minum, dan meminumkan gw dengan sedotan.

Weeeeewwww..... gw diurusin Ardo?! Mimpi apa gw semaleeemmm????

“Waahh! Ardo udah kayak abangnya Waldo ajah. Abang Waldo di rumah ajah belum tentu mau nyuapin gitu.” Nyokap heboh sendiri. “Emang anak mami yang ganteng ini paling baik bangeettt...”

“Ah enggak koc, tante.” jawab Ardo tersenyum salting.

“Tante?!” suara nyokap gw melengking.

“Eh, mami.” Ardo langsung mengkoreksi kata-katanya.

Huff...!

“Habis Waldo selesai makan, nak Ardo bisa pulang. Biar tante jagain Waldo.” Nyokap gw berceloteh sambil merapikan selimut gw.

“Enggak papa tante, eh, mami, Ardo ajah yang jagain Waldo.” Ardo menjawab. Suapan berikutnya sudah gw habiskan.

“Hah? Yakin kamu enggak apa? Kamu capek enggak?” Nyokap mengerutkan keningnya.

“Yakin, mam. Ardo enggak capek.” jawab Ardo sambil tersenyum, masih menyuapin gw, si bayi manja.

“Kamu enggak dicariin mama?” Nyokap gw meyakinkan.

“Enggak, tadi Ardo sudah telepon mama. Ardo bilang hari ini mau jagain Waldo di rumah sakit. Mama udah ngerti koc.” jelasnya.

“Oh. Kalau begitu ya sudah. Kamu yang jaga Waldo deh ya.” Nyokap gw tersenyum lembut.

“Iya, mam.” Ardo mengangguk, tersenyum manis banget. Lesung pipitnya ikutan mengangguk.

“Jadi, mami boleh pulang nih?” tanya nyokap gw dengan senyum menggoda.

“Hehe.. Mami pulang ajah, istirahat. Biar Ardo yang jaga Waldo.” Ardo kembali tersenyum. Nasi-nasi di piring gw ikutan tersenyum melihat senyuman manis Ardo.

“Ok. Makasih, sayang.” Nyokap gw mengusap kepala Ardo dan menciumnya.
Lalu nyokap beralih ke gw dan mencium kening gw, menyeka poni gw, tanda kasih sayang. “Kamu istirahat juga yah, dek.” Nyokap tersenyum.

Gw cuma mengangguk dan balas tersenyum.

“Daahhh..! Jangan lupa minum obatnya, yah!” Nyokap melambai, berjalan ke pintu sambil menenteng tasnya, kemudian hilang di balik pintu.

Gw menganga melihat kepergian nyokap. Bengong. Biasanya kalau gw sakit, selalu nyokap yang nungguin gw. Kali ini dia pergi, pulang ke rumah, dan gw dititipin sama... ehm... pacar gw.... huueehhh.....ngareepp!!!

“Oy! Dikunyah kaliii..” Ardo menggamit dagu gw yang menganga.

Asli gw malu banget digituin. Berasa kayak anak kecil banget.

Akhirnya, setelah menghabiskan ribuan tahun, makan malam pun selesai. Alhamdulillaaahhhh...

Terus Ardo menyuruh gw minum obat. Gw patuh kayak anak kecil yang diperintah bapaknya.

“Do, kamu tidur di mana ntar?” tanya gw, kuatir sama ketidak nyamanan Ardo.

“Ah, gampang.” jawabnya singkat. Dia lalu menonton HBO di sofa.

Gw merasa aneh deh. Dijagain Ardo, disuapin Ardo, di perhatiin Ardo. Ya Tuhan, aku terima rahmatMu yang melimpah ruah dalam hidupku... Tangkyu God!!!

“Do.” panggil gw.

“Hm?” gumamnya sambil nonton HBO.

“Sorry yah, aku udah mengacaukan performance panggung kamu.”

“Ah, enggak apa kali. Aku ajah enggak ambil pusing.”

“Tapi aku enggak enak, Do. Dan kamu udah baik banget nungguin aku gituh. Udah makan belum?”

“Udah.”

“......”

“......”

“Do...”

“Hm...?”

“Sini...”

“Apa?”

“Sini...”

Ardo berjalan dari sofa mendekati gw. “Apa?”

Ketika dia udah berada di depan gw, langsung gw rangkul lehernya dengan kedua tangan gw.

Ardo sempat diam. Membungkuk di dalam rangkulan gw.

Gw tetap merangkulnya.

Kemudian Ardo balas memeluk gw.

Badan gw langsung berasa hangat sekali. Wangi parfum Ardo tercium.

Gw bertanya di dalam hati, koc ada yah orang sesweet dia? Dan man, gw ini siapa, sampe dia mau melakukan ini semua buat gw?

Sejak itu gw tetapkan hati gw, bahwa gw hanya akan mencintai satu orang dalam hidup gw

-----------------------------------------------------------------------------

Chapter 1 - It's Hard to Say GOODBYE

It's Always About You - Chapter 6

Chapter 6, Amazed
by Oswald

Mungkin gw sudah pernah cerita mengenai kelebihan-kelebihan yang Ardo punyai.
But believe me, itu cuma segelintir saja.
Dan di chapter ini, gw akan menceritakan moment-moment di mana gw terperangah sama kehebatan dan nilai-nilai plus yang dipunyai Manusia Sempurna itu.

Sumpah! Kalau gw berdiri disebelah Ardo gw enggak pede abiiss... Secara orang pasti bakal mikir: Wah itu monyet sama orang berdiri bersebelahan...
Hehehe... Maksudnya gw monyetnya dan Ardo orangnya...



Suatu hari gw ke gereja, dan ini adalah kali pertama gw ke gereja di Bali. Dan kejadian ini setelah gw melewati orientasi sekolah.

Pertama-tama waktu memasuki lobby gereja, gw bingung banget. Soalnya gerejanya sangat besar dan gw sedikit kesulitan menemukan aula ibadah yang dikhususkan untuk anak remaja.
Gw celinga-celinguk, dan berjalan mencari-cari aula ibadah remaja.
Akhirnya, gw ketemu seorang cowok yang baik, dia menunjukkan ke gw letak aula ibadah khusus untuk remaja. Dia lebih muda dari gw.
Gw berkenalan dengan dia. Namanya Didi.

“Baru ya kak?” tanyanya sambil tersenyum.

“Iya nih.” jawab gw tersenyum sambil mengusap-ngusap belakang kepala gw.

“Sendirian saja?” tanyanya lagi.

“Iya. Ortu ku lagi ikut ibadah dewasa.”

“Oh, ok. Saya temani yah, kak. Pasti enggak enak ibadah di gereja baru sendirian.” kata Didi sambil tersenyum lebar.

“Iya, terima kasih.” Gw manggut-manggut aja.
Wah baik banget, pikir gw.


Ketika gw memasuki aula tersebut, gw menemukan suasana remang-remang di dalam. Gelas-gelas lilin di letakkan di beberapa area. Para jemaat yang sedang beribadah semuanya duduk di lantai yang dialasi karpet tebal. Gw mengambil area agak di tengah-belakang. Didi duduk di sebelah gw.

Ternyata sedang ada perayaan dengan tema White Love.
Di area depan terdapat panggung rendah yang dihias dengan dekorasi yang super duper mega power romantis. Semuanya serba putih dan lilin-lilin berpendar indah di tengah keremangan.

Dan di situlah, di tengah-tengah pemain akustik, gw melihat DIA...

Ardo sedang menyandang gitar akustik bermotif floral, dengan mic berdiri di depannya. Ia duduk di atas panggung rendah itu, menggunakan kemeja putih yang lengannya digulung dan celana cargo warna khaky. Rambutnya berpotongan semi spikey seperti gw, ada sejumput rambut turun melintang di dahinya. Pipinya semburat kemerahan.

Sumpaaaahhhh!!!! Gw langsung lemes dan langsung terduduk. Ganteeeeennnnggg bangeeeetttt!!!!!

Itu belum, belum seberapa...

Ternyata Ardo sedang mengisi acara, dan tau enggak dia ngapain? Dia terus melorotin celananya dan kasih liat pantatnya!

Hehehe... enggak deeehhh.... ngarep!!

Ternyata Ardo sedang mengisi acara di atas panggung. Satu lampu spot light remang menyorot ke arahnya, membuat suasana di sekitarnya semakin dramatis, rahangnya tampak lebih tegas. Dengan wajah yang tenang, dan senyum tipis yang menghias, dia memetik senar gitar, mengawali intronya, dan akhirnya dia kemudian menyanyikan lirik pertama dari lagunya, suaranya mendawai indah...

“Deepest in my heart, I know....”

Gw langsuuunggg............. pingsan di tempat.......

Lebay!
Enggak, gw enggak pingsan... Ya iyalaaahh!!!!

Gw langsung enggak bisa bergerak, beneran, gw terbius sama suaranya. Jantung gw berdegup kencang. Wajah gw memerah. Gw tau wajah gw memerah, karena wajah gw mulai memanas.
Sumpah bagus banget suaranya. Serak-serak keren gitu. Suaranya lembut tapi serak cowok gituhhh!! Duuhh... susah dijelasiiinn... pokoknya mantep daaahh!!!
Dia menyanyikan lagu slow yang judulnya It's Me to Loving You.
Lagu itu adalah lagu ciptaannya sendiri, ekspresi dari kasih sayangnya untuk Tuhan Yang Maha Esa.

Gw bener-bener enggak rela kehilangan fokus darinya. Gw bener-bener suka banget sama suaranya.
Bukan karena dia Ardo, tapi suaranya memang asli bagus banget. Enggak norak cengeng gituh.
Casual tapi keren banget.

Ardo bernyanyi sambil memejamkan matanya. Ekspresi wajahnya tulus banget. Serius tapi tenang, senyum tipisnya mengiringi setiap kata indah yang keluar dari bibirnya.

“....and You will always waiting me there....”

Gw tau lagu itu ditujukan kepada Tuhan. Tapi entah mengapa gw merasanya lagu itu seakan ditujukan untuk gw. Sangking konsentrasinya, gw sampai merasa di dalam ruangan aula itu cuma ada gw yang duduk di sini, dan Ardo yang bernyanyi di bawah sorotan lampu, di atas panggung sana.

Petikan gitarnya membuat gw merinding. Jemarinya begitu pintar memainkan senar yang berdenting indah. Asli jago banget dia main gitarnya. Nada-nada yang keluar terdengar manis sekali di telinga gw. Suara seraknya bergetar dan beresonansi pada bagian-bagian yang tepat. Terkadang dia mengeluarkan suara ringan dan santai, pada bagian lain dia memberi tekanan mendalam. Khas aksennya terdengar menghiasi nada-nada indah yang keluar.

Gw sampai merenggut baju gw di bagian dada.

Kemudian setelah beberapa bait yang menyayat hati gw, dan beberapa kali mengulang Reffnya, Ardo mencapai titik klimaks dalam lagu itu. Nada lagu itu naik, dan suaranya juga naik satu oktaf. Dia memejamkan mata, menengadah dan mengeluarkan suara serak yang tinggi dan panjang.

“....and I need You, forever....!!”

Gw terperangah. Jantung gw berdegup lebih kencang.

Kemudian Ardo meneriakkan bagian akhir Reff dari lagu itu. Lebih tinggi suaranya, lebih bertenaga, dan sambil berdiri, tangan kanannya terangkat ke atas. Matanya masih terpejam rapat.

Nafas gw tertahan. Lebih tepatnya, gw sampai lupa bernafas.

Ekspresinya yang serius membuatnya beratus-ratus kali lebih keren. Suara seraknya bergetar.

Gw masih menatapnya dengan tatapan terkagum.

Kemudian Ardo mendesah. Desahannya begitu berat.... dan sexy...
Mendengar desahannya, gw jadi teringat untuk kembali bernafas.

Kemudian dia menyanyikan pelan kalimat terakhir lagu tersebut. Suaranya serak dan lirih bergetar.

“....and I wish, I could lost in Your never ending Love.”

Air mata gw menetes.

Sempat hening sesaat, namun detik berikutnya, kontan tepuk tangan membahana.
Di sekeliling gw semua orang sampai standing applause.

Gw sendiri yang masih terduduk. Napas gw sedikit ngos-ngosan. Wajah gw panas banget. Mata gw masih tertuju kepada Ardo, menatapnya dari sela-sela orang yang berdiri di depan-depan gw.

Ardo menunduk dan mengucapkan terima kasih kepada penonton.

“Bagus yah..” Didi berkata kepada gw sambil tersenyum lebar dan masih bertepuk tangan. Dia tetap duduk di sebelah gw.

Gw menoleh ke arahnya. Kebingungan melihatnya. Gw lupa ada Didi yang duduk di sebelah gw.

“Lho, kenapa kak? Kok nangis?” tanya Didi ketika melihat pipi gw basah oleh air mata, sambil masih tersenyum.

“Eh?” gw cepet-cepet mengusap air mata dari pipi dan dari ujung-ujung mata gw.

“Terharu yah kak? Yang nyanyi tadi itu nama Ardo, kak.” Didi melanjutkan.

“Oh. Wow.” gw cuma bergumam. Wajah gw masih merah. Jantung gw masih deg-degan.


Selesai ibadah gw berjalan menuju toilet. Gw langsung membasuh muka gw yang panas dengan air dingin.
Koc gw bisa cengeng gituh sih? Pikir gw.
Masa cuma melihat orang nyanyi ajah gw jadi nangis gituh. Payah!
Gw melihat pantulan dari cermin, kemeja gw yang di area dada lecek banget.
Bekas tangan gw yang tadi merenggut.
Kebayang lagi ketika Ardo meneriakkan lirik dari lagu tadi.

“....and I need You, forever....!!”

Muka gw langsung merah padam lagi. Wew!
Gw basuh lagi muka gw dengan air dingin.

Sekeluarnya dari toilet, gw langsung nyamperin bonyok gw. Suasana lobby gereja ramai sekali, karena ibadah sudah selesai. Dan para jemaat masih mengobrol dan saling memberikan salam.

“Mau makan siang di mana? Di kantin gereja saja ya?” tanya nyokap kepada gw.

“Terserah aja, mam.” jawab gw sambil menaikkan bahu.

Ketika gw negok, gw melihat Ardo sedang bersandar di pojok lobby, dekat pintu masuk aula utama.
Gw mau menyapanya tapi gw malu.
Duuhh... Enggak biasanya deh begini. Gw yang dulu selalu ceria dan berani menyapa orang lain, tanpa malu-malu. Sejak kapan sih gw jadi sok mellow najong gini!!

Gw melihat ke arah Ardo lagi, wajahnya tertunduk menatap lantai. Pandangannya terkesan bengong. Dia seperti sedang bosan menunggu dan menjauh dari keramaian.

Akhirnya gw beranikan diri mendekatinya.

“Do...” panggil gw, dengan suara yang serak.

“Eh, Os. “ Ardo menoleh ke gw dan tersenyum.

“Tadi.. bagus.. nyanyinya..” gw berusaha memuji. Sebisa mungkin gw bertingkah biasa. Tapi muka gw udah memanas lagi.

“Oh, thank you. Biasa ajahlah.” Ardo tersenyum sambil menyipitkan matanya. Berusaha serendah hati mungkin. “Semuanya buat Tuhan.” sambil mengedikkan kepalanya ke atas. “Kamu sama siapa Os?”

“Eh, aku sama bonyok. Tuh, di sana.” gw menunjukan jempol gw ke arah bonyok yang sedang asik mengobrol sama orang lain.

“Oh, ok. Kamu baru pertama datang ke sini ya? Aku belum pernah liat kamu di sini sebelumnya” tanya Ardo.

“Iyah, aku baru pertama kali ke sini.” jawabku sambil memasukkan kedua tanganku ke kantong celana.

“Welcome yah.” Ardo tersenyum lebar. Lesung pipitnya seolah ikut tersenyum ke gw.

“Thank you. Err.. aku baru pertama kali liat kamu main gitar. Bagus banget.” puji gw.
Nih congor bisa ajah kalo muji-muji gebetan.

“Ah, enggak Os. Tadi banyak salah-salahnya.” katanya merendah.

“Bagus koc. Beneran. Enggak kentara sama sekali koc salahnya. Malahan aku enggak sadar kalau ternyata ada kesalahan.” gw terus memuji Ardo.

“Hehe.. thank you.” Ardo terlihat mulai salting.

“Dan.. aku enggak tau, ternyata kamu pintar nyanyi. Suara kamu bagus banget.” lanjut gw.
Congor oh congooorr...

“Ah, enggak koc. Beneran. Aku baru belajar nyanyi. Itu ajah aku enggak pede sebenernya. Aku nyanyi di acara tadi karena dipaksa sama teman-temanku.” Pipi Ardo mulai memerah.

“Bagus banget, Do. Yah temen-temen mu pasti udah tau suara mu bagus, makanya mereka maksa kamu untuk nyanyi.” Gw kesenengan Ardo mukanya merah gitu.

“Ah, enggak koc, Os.” Ardo tersenyum ke gw, menunduk menatap lantai, kemudian tersenyum lagi ke gw.
Iiihh lucu banget sih nih orang kalau lagi salting... Cute bangettt!! Pikir gw.

“Dan lagu ciptaan kamu itu, asli bagus banget.” gw membombardir Ardo dengan pujian terus.
Nih congor bener-bener deh, bisa-aaann ajah!

“Lha, koc kamu tau itu lagu ciptaanku?” tanya Ardo sambil mengangkat alisnya.

“Lha, kan tadi MC nya yang bilang, itu lagu ciptaan kamu.” jawab gw, ikutan mengangkat alis.

“Ooh.. Masa?” Ardo cengengesan, malu-malu.

“Hehe.. iya, Dooo... Asli, bagus!” gw menepuk pundaknya.

“Ah, Os. Itu aku juga enggak sengaja nulis lagu itu. Tiba-tiba dapat inspirasi ajah buat nulis lagu.”
Ardo mulai megusap-ngusap telinganya yang merah.

“Asli, bagus banget.” ulang gw, menatap Ardo sambil menyipitkan mata dan mengangguk-angguk.

“Masa sih? Bener bagus, Os?” tanyanya sambil tersipu. Ia menatap mata gw sambil tersenyum malu.

“Bener, Do.” Gw meyakinkannya, dengan senyum serius, tulus, setulus-tulusnya.

Entah karena saltingnya Ardo memuncak atau entah karena apa, dia mengusap kepala gw dan iseng megacak-ngacak rambut gw.
Cute banget nih orang kalau lagi salting. Pikir gw.

Bonyok gw memanggil gw, mengajak gw untuk makan siang di kantin gereja yang letaknya di lantai bawah. Gw mengajak Ardo, dia pun ikut serta.
Ardo menyapa bonyok gw.
Bonyok gw dengan cerianya balas menyapa Ardo. Terutama nyokap gw yang kesenengan melihat Ardo.

“Eh, Ardo, si ganteng!” seru nyokap gw ceria, sambil merangkul bahu Ardo. Ardo cuma senyam senyum manis ajah.

Plis deh, mam. Pikir gw.

“Ini dia anak tante yang paling ganteng. Duuhh... makin ganteng ajah kamu, Do. Makin tinggi juga yah?” nyokap gw berceloteh, khasnya emak-emak deh.

“Eh, iya, tante.” Ardo manggut-manggut sungkan dan senyam senyum manis. Pipinya bersemburat merah.

“Mulai sekarang kamu manggil tante mami ajah yah...” nyokap gw melanjutkan.

Duh maaaammmm!!! Gw jadi enggak enak sama si Ardo. SKSD banget sih nyokap guueeeee!!!

Tapi yah mau gimana lagi, Ardo cuma menjawab, “ Iya, Mam...” Sambil senyam senyum manis, dan melirik gw.
Lirikannya seperti berbicara: Nyokap lo enggak ada matinyeee!!!

“Mana mama?” tanya nyokap gw lagi ke Ardo.

“Mama udah ke bawah duluan tadi sama papa, tante.” jawab Ardo.

“Eit! Inget, ini mami yaahhh...” nyokap gw menepuk-nepuk dadanya sendiri.

“Eh, iya, mami.” Ardo tersenyum melihat nyokap gw. Pipinya tambah merah.

Well, welcome to our family, browthur... *Sigh

Setelah bertemu dengan bonyoknya Ardo, kami pun makan siang bersama.

Para bonyok asik mengobrol, gw dan Ardo pun juga ngobrol tentang banyak hal.
Ardo menceritakan hobi musiknya. Dia belajar gitar dan piano dari kecil. Kemudian dia belajar bass dan organ setelah menginjak masa remaja. Dan dia sedang menekuni drum dan saxophone.

Wooowww... berat banget nih orang.

Dia juga bercerita tentang hobi fotografinya. Dia selalu membawa-bawa digicam ke mana-mana.

“Suatu hari nanti, aku mau beli kamera SLR besar. Dengan kombinasi lensa yang bisa diganti-ganti. Tapi nanti kalau uangku udah terkumpul semua.” katanya menggebu-gebu.

Wah! Ardo ternyata orangnya kalau sudah mau pasti bertekad untuk mewujudkan kemauannya itu. Orangnya cukup keras setelah diperhatikan. Dan dia menabung dari uangnya sendiri untuk membeli kamera idamannya itu. Benar-benar berusaha mandiri dia.
Heran banget gw, padahal bonyoknya itu orang kaya.
Makin kagum gw sama Ardo.

“Nanti kalau aku udah beli kameranya, aku ajak kamu foto-foto yah, Os.” ajaknya sambil menepuk pundak gw.

“Iyah! Pasti seru!” gw bersemangat.


Saat itu gw enggak tau, bahwa setelah Ardo bisa membeli kamera idamannya, saat itu gw udah enggak ada di sisinya lagi.

* Sigh!



Di hari lain, hari di mana perebutan Sanjose Cup. Masa-masa pertandingan olahraga pun telah berlangsung.
Sekolah gw menjadi tuan rumah musim pertandingan kali ini dan mengundang sekolah-sekolah lain untuk mengikuti Sanjose Cup.
Beberapa hari lalu, tim Sanjose (tim sekolah kami) telah memenangkan beberapa pertandingan, baik itu pertandingan Futsal, Basket, Badminton, Volley, hingga Modern Dance.

Gw tergabung dalam tim Basket. Nama tim basket kita adalah Bernacles.
Sejak pindah ke Bali, gw jadi rajin latihan basket. Ini berkat Donny, temen baik gw di sekolah. Dia yang selalu ngepush gw untuk latihan basket.
Tadinya gw enggak gitu tertarik main basket, maksudnya biasa ajah, secara gw di Jakarta biasanya main Soccer.
Tapi lama kelamaan basket seru juga. Jadinya setiap pulang sekolah, gw selalu main basket bareng si Donny dkk. Hingga tengah malam pun, gw suka main basket sendiri di lapangan dekat rumah.
Basket jadi salah satu hobi gw yang baru setelah snorkling.

Break Time Sanjose Cup hampir usai. Sebentar lagi tim basket kami akan bertanding melawan tim dari sekolah SMA Sanur Beach.
Gw lagi konsentrasi memakai sepatu ketika Donny datang dan menepuk pundak gw.

“Os, ada berita baik.” katanya dengan ekspresi datar seperti biasa.
Donny adalah salah satu teman baik gw yang unik. Ekspresinya selalu datar. Mau sedih, seneng, kaget, marah, boker, orgasme, semua ekspresinya sama, datar.

“Oh, kabar baik apa, Don?” tanya gw, sambil masih mengikat tali sepatu gw.

“Coach bilang, untuk pertandingan yang sekarang ini, tim kita digabungin sama tim kakak kelas.” Donny menjawab. Masih dengan ekspresi yang sama.

“He? Digabung sama timnya siapa? Males gw kalo digabungin sama timnya si Otong.” keluh gw.
Btw gw kalau ngomong sama si Donny menggunakan Gw-Elo, soalnya Donny pernah tinggal di Jakarta, jadinya dia udah terbiasa dengan bahasa Jakarta.
Dan Otong adalah kakak kelas yang namanya Ida Bagus Warsarya. Gw bete banget sama tuh kakak kelas. Udah mainnya buodooohhh di lapangan, tapi lagaknya tengil kayak upil. Beneran kayak upil, soalnya orangnya item, bau, idup lagi. Hehehehe...
Sebenernya gw enggak masalahin fisiknya yang memang menyerupai iblis di panggang, tapi karena sifatnya yang sumpah, selalu bikin gw naik darah. Egois dan sombong banget. Tukang teler dan pemabok. Asli sifatnya jahat banget. Gw rasa kalau udah gede dia jadi preman pasar. Namanya ajah Ida Bagus, gak cocok banget. Ada juga harusnya Ida Monyong!
Hoahahaha!! Jahat yah gw...
Tapi enggak mungkin kan gw panggil dia Ida Monyong, nah, makanya gw kasih nama dia si Otong.
Biar kalau gw lagi ngegosipin tentang dia sama teman-teman gw, orang lain enggak tau.

“Enggak, Os. Kita gabung sama tim yang lain” Donny baru akan melanjutkan pembicaraannya, ketika serombongan kakak kelas berjalan mendekati kami.

Dan gw melihat DIA...

“Oy!” sapa Ardo. Dia membawa botol minum warna hitam dan handuk kecil. Ia memakai seragam basket timnya, Victrous, yang berwarna hitam, atasan lengan buntung dan celana basket sedengkul.
Oh mai gad.... Otot lengannyaaa....

“Halo, Do.” sapa gw sambil senyum kesenengan.

“Hai, Do.” sapa Donny.

“Kita gabung nih ya?” Rando, temannya Ardo bertanya.

“Iya, tadi coach bilangnya sih gituh.” jawab Donny polos. Dengan eskpresi yang sama.

“Siapa ajah?” tanya Ardo, melirik ke gw.

“Belum tau. Tadi baru dapat kabar dari Hadi.” jawab Donny.
Hadi salah satu tim Bernacles, teman sekelasnya Donny.

“Mendadak banget sih ngomongnya. Hampir aku mau cabut.” gerutu Agung, teman satu tim Ardo.

“Iya, aku juga baru tahu, Gung.” Donny angkat bahu. Dengan ekspresi yang sama.

Teman-teman tim Bernacles yang duduk-duduk di dekat gw juga jadi ikutan mendekat.

Tidak lama kemudian, coach datang dan menjelaskan tentang penggabungan pemain antara tim Bernacles dan tim Victrous.

“Nama-nama yang saya sebutkan berarti ikut bertanding sebentar lagi.” Kemudian coach menyebutkan beberapa nama dari kami.
Ardo, Agung dan Rando sengaja di panggil oleh coach untuk bergabung dengan tim Bernacles.
Nama gw dan Donny dipanggil, dan menjadi tim inti bersama kakak kelas. Sedangkan nama teman-teman Bernacles lainnya di panggil untuk menjadi cadangan.
Coach membawakan seragam resmi tim basket Sanjose. Kami dimanta berganti seragam basket.
Kemudian coach menjelaskan taktik pertandingan yang dia rencanakan. Kami mendengarkan dengan seksama.

Dalam hati gw agak grogi. Gw bakal main satu tim sama Ardo. Damn!
Gw sih pernah main-main basket bareng Ardo dan Donny setelah pulang sekolah di lapangan sekolah. Tapi belum pernah berada dalam satu tim denganya seperti sekarang ini.

Gw inget banget pertama kali gw melihat permainan basket Ardo.
Suatu hari gw pulang dari sekolah, dan ketika sedang melintasi pinggir lapangan basket, Donny memanggil gw.

“Os!” Donny berteriak dari tengah lapangan basket.

“Oy?” gw balas berteriak.

“Sini ikut main!” serunya lagi.
“Gw mau pulang!” jawab gw, berseru juga.

“Ayolah, main basket, 'bentar ajah!” Donny mengayuh tangannya, mengajak gw ke tengah lapangan.

Gw jadi penasaran juga. Akhirnya gw menghampiri Donny ketengah lapangan.

“Gw enggak jago main basket.” kata gw setelah berada di sebelah Donny.

“Ah, udah, cuek ajah. Main-main doank.” Donny berkata santai.

Gw melirik dan ternyata, tim yang bermain dengan Donny adalah teman-teman kakak kelas. Dan di antara mereka ada DIA...
JENG! JENG! JENG!

Ardo sedang mengobrol sambil mendribble-dribble bola dengan teman-temannya.


“Eh, Don, gw enggak dulu deh.” kata gw dengan nada depresi ke Donny.

“Lho?” Donny kebingungan.

Ya, iyalaahhh!!! Gak mungkin gw main basket di depan Ardo. Bisa guobolk banget gw mainnya. Secara gw emang enggak bisa main basket banget-banget. Yah, bisa sedikit tapi enggak jago lah.
Apalagi ada Ardo di sini, bisa-bisa, bukannya gw shooting bola ke ring basket tapi malah nelen tuh bola basket, sangking groginya.

Tapi kemudian... “Oy, Os!” sapa Ardo dari tempatnya berdiri. Bola basket di jepit di antara tangan dan pinggulnya. Ardo tersenyum manis. Maniiisss sekali. Dia pakai baju basket tim Victrous yang berwarna abu-sylver, atasan tanpa lengan, dan celana sedengkul warna senada. Pipinya bersemburat kemerahan karena seharian terkena terik matahari. Rambutnya di wet look gaya mohawk. Bibirnya merah alami.
“Mau ikut main enggak?” tanyanya dengan senyum super duper mega power manisnya itu. Lesung pipitnya berkata “Hallo!” ke gw.

“Err..” gw ragu.

“Come on.” Ardo mengedikkan kepalanya ke samping, tanda mengajak gw bermain basket bersama.

Gw enggak bisa menolaknya. Gw terbius sama lesung pipitnya. Dan dengan langkah gontai, gw menaruh tas ransel gw di pinggir lapangan. Kemudian gw kembali berjalan dengan lemas ke tengah lapangan.

“Yuk.” kata gw sambil menaikan bahu.

“Yess!” Donny berseru.

Kami memulai bermain basket. Kami hanya menggunakan setengah lapangan. Gw satu tim dengan Donny dan, waktu itu gw baru berkenalan, cowok bernama Rando.
Sedangkan Ardo satu tim dengan Agung dan Dirga.
Kami bermain 3 on 3, mengincar satu ring basket yang sama, hanya bermain skor pendek.

Baru pertengahan permainan gw udah ngos-ngosan. Paru-paru gw seakan mau meledak. Padahal kami hanya menggunakan setengah lapangan. Tapi gw kayak udah mau mati gini. Payah deh!
Dan, Ardo main basketnya suppperrr jaaagggooo!!!
Gila tuh anak! Ternyata atlit sekolah juga nih... Asli! Jago banget main basketnya.
Tangannya kokoh mendribble bola. Kakinya cepat sekali. Lompatannya tinggi. Tubuhnya lentur. Dan gerak koordinasi antara tangan, kaki dan tubuhnya sempurna banget. Koc bisa yah ada orang muter-muter, dan berzig-zag menggocek lawan sambil mendribble bola.
Dan sekalinya shooting, masuk terus lagi.
Woooww!! Parah!

Gw mah mainnya enggak ada seujung kelingkingnya. Gw di buli terus. Dikerjain dan di gocek-gocek terus sama dribblenya. Terus pas gw dapat giliran shooting, gw melompat. Ceritanya mau jump shoot gituh. Eh malah sepatu gw copot dan mental entah ke mana. Ditambah hasil shoot gw melenceng jauh banget dari ring basket. Sontak gw diketawain sama yang lainnya. Tawanya mereka jahat banget lagih, kenceng banget, sampai terbungkuk-bungkuk segala.
Biasa ajah donk! Pikir gw.
Ardo malah ketawa sambil megangin pinggangnya.
Donny lagih, lebay banget, sampe berlutut ke lantai lapangan basket, dengan kedua sikunya bertumpu di lantai.
Gw yah cuma bisa cengar cengir dengan muka merah banget yang super duper mega power bodoh enggak ketolongan.

Sejak itu, gw enggak mau kalah. Tiap hari gw malah ngajakin Donny untuk latihan basket. Donny yang melatih gw. Dia jadi pelatih enggak resminya gw. Dia mengajarkan gw bermacam-macam teknik basket yang keren. Di Jakarta, gw juga suka bermain basket bersama teman-teman sekolah. Tapi enggak sesering bermain soccer. Jadi yah kemampuan basket gw enggak bertambah jago. Biasa-biasa ajah.
Sejak sore itu, di mana gw bermain basket dengan penampilan bagai topeng monyet di depan Ardo, gw jadi keranjingan main basket. Gw sampai beli bola basket baru dari uang jajan sendiri, setelah bola basket Spalding yang dihadiahkan teman-teman sekolah di Jakarta sewaktu perpisahan dulu telah rusak, karena setiap hari dipakai untuk berlatih.
Kalau kata Donny, “ Wah, ketagihan nih anak.”
Kalau kata Ricky, “Wah, kesurupan nih anak.”
Kalau kata Warteg Boyz, " Okelah kalo begitu."

Kembali ke raga gw yang sedang akan menghadapi pertandingan memperebutkan Sanjose Cup, berbulan-bulan setelah insiden topeng monyet di lapangan basket sore itu, gw sekarang yang udah lebih bisa bermain basket, enggak terlalu pede juga setelah mengetahui Ardo akan bergabung di pertandingan yang sebentar lagi akan dimulai.
Gw takut permainan gw ternyata jelek, dan jadinya ngeblock performance Ardo dkk.
Takut deh kalau gw ternyata tetep gembel mainnya.
Tapi sekarang yah mau enggak mau, pertandingan akan di mulai satu menit lagi.
There is no way to go back.
The game must go on, right?

Dan akhirnya pertandingan pun di mulai.

Ardo menjadi forward di tengah depan, sedangkan gw menjadi defender di belakang. Donny berjaga di sayap kanan, di depan gw.

Ardo memulai pertandingan dengan bermain cepat, dia mendribble bola ke area lawan dan mengopernya ke Agung yang telah mengambil posisi. Agung menangkap operan Ardo dengan cekatan kemudian dia memainkan bolanya di antara kaki nya untuk mengelabui musuhnya, dan dengan kecepatan penuh di berbalik dan mengoper bola ke Rando. Dengan cepat Rando menangkap bola tersebut, dan dia melompat ke depan ring basket, tangannya terulur seolah akan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan, tapi ternyata gerakan itu hanya untuk mengelabui lawan saja. Ketika tim lawan ikut melompat dan berusaha menghadang bola agar tidak masuk ke keranjang mereka, tangan Rando yang sebelah mengulurkan bola basket dengan lembut kepada Ardo. Dan dengan lincah pun Ardo memasukkan bola itu ke keranjang lawan. Satu angka tercetak untuk tim Sanjose.
Penonton bersorak riuh rendah.

Tim supporter Sanjose meneriakkan nama sekolah kami dan memukul-mukulkan botol air mineral.
Teman-teman VIP berteriak paling kencang dan paling rusuh.

Kami terus berjuang menjebol keranjang lawan.

Ada satu waktu di mana lawan sedang menggiring bola, gw gemes ngeliatnya, langsung gw maju dan merebut bola basket yang sedang didribblenya. Kemudian gw lari ke area lawan, yang kebetulan masih kosong, langsung ajah gw airwalk, dan satu poin lagi tercetak untuk Sanjose.

Sorak supporter Sanjose membahana.

“Nice!” seru Ardo, selagi berlari, sambil mengacungkan jempolnya ke gw, dan mengedipkan mata kanannya.

Gw yang melihat itu, langsung TEEEENNNNGGG...... Ge-er abbiiissss...!!!
Muka gw merah dan memanas.

Mood main gw lagi bagus nih. Belakangan ini lagi semangat-semangatnya main basket. Sangking semangatnya, kemarin gw beli sepatu Reebok baru, pakai uang jajan sendiri yang gw tabung, ngikutin kebiasaan Ardo.
Stamina gw juga lagi wokeh banget neiy... dan sekarang ada Ardo di dalam tim gw.
Tambah semangaattt!!! Wuuuyyeeaaahh!!!

Pertandingan berlangsung dengan cepat. Sebentar-sebentar pihak tim gw atau pihak lawan saling membalas memasukkan bola ke keranjang masing-masing lawan.

Gw sempet kesel banget tuh disikut sama pemain lawan yang badannya buset, gede pisan euy!
Dada gw sampe nyesek kena sikut die.
Hampir gw gebok tuh! Tapi si Donny menarik gw, memaksa gw untuk sabar.

Di satu moment, gw kesempatan mendapatkan bola. Langsung ajah gw tangkap dan karena di depan gw ada si babon berbadan gede yang tadi menyikut gw (mulai sekarang kita panggil dia si babon yah), langsung bolanya gw oper lewat kolong selangkangannya ke arah Ardo. Si babon gede itu sempat terperangah bengong.
Gw langsung ajah lari ke belakang dia, menuju area lawan.
Ardo kemudian mengoper bola ke Rando, tapi ditepis oleh pemain lawan, alhasil bolanya jatuh ke pemain lawan yang lain.
Dengan gagahnya Agung merebut bola tersebut dari belakang lawan, langsung di dribblenya dan Agung berusaha memasukkan bola ke keranjang lawan.
Namun bola itu tidak masuk ke dalam keranjang lawan, tapi malah memantul dan mental ke sembarang arah.
Si babon kembali melompat dan berusaha menangkap bola.
Sumpah gw enggak terima. Refleks gw tonjok tuh bola dari bawah, sebelum si babon menangkapnya dan sebelum kaki si babon menginjak ke tanah kembali. Bola mental dan langsung gw tangkap lagi. Segera gw mendribble bola ke tengah, ke depan ring basket lawan. Kemudian gw berlagak airwalk seolah hendak memasukkan bola ke keranjang lawan. Kontan semua lawan gw pada ikut melompat, serusaha menangkis shoot gw. Tapi tiba-tiba gw dengan secepat kilat, gw mengoper bola tersebut dari arah samping bawah ke arah Donny.
Donny pun dengan sigap menangkap bola operan gw, dan BLOSH!
Bola masuk ke keranjang lawan.

Supporter Sanjose menggila!! Berteriak-teriak menyemangati kami.

Gw dan Donny berhigh five.
Sumpeh deh... berasa atlit keren banget gw...
Para pemain lawan kami cuma bisa bengong.
Haha! Muka si babon jelek bangeettt.... Kesel sekaligus mupeng gituh.

Berikutnya Rando yang sedang mendribble bola, dan mengoper ke Ardo.
Ardo dengan gesit dan lincah menggecok lawan, mendribble bola dengan pola zig-zag. Kemudian dia melempar bola ke belakang pemain lawan yang sedang menjaganya, tubuhnya berputar ke belakang lawan dan dengan cepat menangkap bola yang tadi dilemparnya.
Asli keren banget!!

Lalu gw dengan mupengnya berlari mensejajari Ardo dari seberang lapangan. Ardo melihat usaha gw yang mupeng untuk mendapatkan operan dari dia.
“Not save!” serunya ke gw. Bener saja. Gw kira gw kosong, ternyata si babon dari neraka sedang menghadang di belakang gw. Sialan tuh orang! Demen amat ngintilin gw. Masih dendam tuh kayaknya sama gw.

Lalu Ardo menahan bolanya, dia terus mendribble dan menggocek lawan di depannya. Gw berusaha keluar dari jerat hadangan si babon. Ardo tidak dapat menahan lebih lama, dia langsung mengoper ke Agung.

“Os! Back! Back!” Donny teriak-teriak di belakang, mengingatkan gw untuk kembali ke belakang. Karena memang harusnya gw menjaga di area tim gw, harusnya gw menjadi defender. Tapi gw malah maju-maju melulu. Abis gimana, jiwa gw center sih...

Gw mengacuhkan Donny, karena gw lihat Donny masih di back up oleh Rando di belakang. Yah jadinya gw, Ardo dan Agung yang maju. Hehehe... Emang nih, kalau lagi tanding gini gw suka keras kepala.

Agung mengoper kembali ke Ardo, dan Ardo langsung melompati lawan yang sedang menunduk, yang sedang berusaha merebut bolanya. Damn! Melompati pemain lawan! Buset tuh orang! Koc bisa sih? Emang boleh yah? Gw baru liat tuh ada permainan basket kayak gitu. Tapi wasit tidak membunyikan peluit. Mungkin itu tidak ada dalam aturan basket, tapi juga tidak melanggar peraturan.
Mungkin kalau bisa disamakan, melompati pemain lawan sama seperti membunyikan klakson mobil dengan panjang, atau menyalakan lampu jarak jauh mobil sampai lama sekali. Sesuatu yang tidak wajar, tapi juga tidak melanggar peraturan.

Kemudian Rando mendekati gw. Gw tahu maksud Rando, gw langsung lari ke dekat Ardo dengan cepat. Babon yang melihat gw kabur dari pengawasannya sontak langsung berusaha mengejar gw. Tapi Rando sudah menjaga si babon. Rando membebaskan gw dari si babon, dan menggantikan gw menjadi tawanan si babon. Baik banget dia.

Ardo segera mengoper bola ke gw, setelah melihat gw bebas dan kosong. Gw langsung berlari, berusaha menangkap bola operan dari Ardo. Setelah jemari gw menyentuh tuh bola, tiba-tiba seorang pemain lawan meneplak bola itu, dan akhirnya bola itu terpental kembali ke Ardo.
Melihat penjagaan yang ketat, Ardo segera mendribble bola dan melakukan jump shoot. Tapi kembali digagalkan oleh pemain lawan. Bola itu sekarang berada di tangan lawan, yang segera berlari ke arah ring basket tim kami. Agung langsung menahannya. Pemain lawan itu sempat terhenti dan mendribble bola di tempat. Pemain lawan itu mendrible bola dari antara selangkangannya.

Gw enggak menyia-nyiakan kesempatan itu. Langsung gw rebut bola itu dari bawah selangkangannya. Berhasil! Bola berhasil gw rebut. Untungnya enggak kena tangan dia.
Kenapa yah koc dari tadi gw mainnya di area-area selangkangan melulu. Sumpah deh! Enggak maksud loh! Mungkin karena badan gw enggak setinggi pemain-pemain lawan, jadinya gw mengincar area bawah terus.

Setelah bola gw rebut, gw langsung mendribble bola menuju ring basket lawan.

Supporter Sanjose kembali berteriak menyemangati kami. Suasana ramai mengiringi gw yang sedang berlari mendribble bola.

Gw langsung berlagak airwalk, seolah mencoba memasukkan bola ke keranjang lawan. Pemain lawan melompat, berusaha menggagalkan usaha gw. Tapi lagi-lagi gw menipu mereka. Ardo sudah mengira maksud hati gw. Dia sudah berlari di dekat gw dan melompat dekat sekali dengan gw. Dengan ringannya, bola langsung gw oper ke Ardo, sebelum kaki gw sendiri menapak kembali ke tanah. Kejadian itu hanya dalam hitungan detik saja. Dan BLOSH! Bola masuk ke keranjang lawan dengan Ardo bergaya nombok!
Ardo dan gw sama-sama kehilangan keseimbangan, dan kami pun terjatuh bersama. Gw menapak tanah lebih dulu, tapi gw langsung terjatuh terlentang ke tanah, dengan punggung menyentuh lantai lapangan basket. Ardo yang tadi sempat bertumpu ke gw juga ikutan jatuh, dan dia jatuh menimpa gw, secara tengkurap.
Tubuh Ardo yang tengkurap menimpa badan gw yang terlentang. Wajah kami berdekatan sekali.

“Agh!” desahnya.
Gw dapat merasakan nafas Ardo yang hangat.

Selama beberapa detik itu, gw terkaget, dan waktu seolah berhenti.
Dada Ardo menyentuh erat pada dada gw. Perut Ardo menyentuh erat pada perut gw. Pinggang Ardo, menyentuh erat pada pinggang gw. Paha dan lutut kami saling berpaut. Paha kanan gw menekuk, dan berada di tengah selangkangannya.
Gw merasakan basah keringat dari baju dan celananya, basah keringat dari otot lengannya.
Harum parfumnya tercium, bercampur wangi khas tubuh pria dan wangi vanilla, manis dan sexy sekali.

Bel akhir pertandingan pas sekali berbunyi. Pertandingan telah usai. Penonton bersorak riuh rendah.
Kemudian Ardo menahan sikunya di lantai, menciptakan jarak antara dada gw dan dadanya.
Dan Ardo pun tersenyum.

“Kita menang.” katanya sambil masih terengah-engah dan tersenyum kesenangan. Senyumnya manis banget. Bahagia banget. Dan lesung pipitnya, si teman baik gw beberapa bulan belakangan ini, kembali menyapa gw.

Gw lalu spontan memeluk Ardo, merangkul lehernya dengan kedua tangan gw. Ardo pun kembali mendekatkan seluruh badannya ke badan gw.
Gw tertawa kencang banget! Gw bahagia banget. Ardo juga tertawa puas, di telinga gw.

Kemudian coach mendekati kami yang masih dalam posisi yang sama, dan berteriak kesenangan. Gw masih belum melepas rangkulan gw pada leher Ardo. Juru foto sekolah langsung menghampiri kami. Dan mengambil foto kami yang masih berpelukan di lantai lapangan sekolah. Wajah kami berdua berseri, senyum lebar kami menghiasi moment itu. Kemudian Donny, Agung, dan Rando segera menghampiri kami. Agung ikutan menimpa Ardo dan gw. Disusul Rando ikutan menimpa di atas kami bertiga, dan terakhir Donny menimpa dengan semena-mena.
Gw yang berada di paling bawah sampai mau mejret!. Tapi tawa gw beneran enggak bisa berhenti.
Teman-teman satu tim kami yang lain, dan beberapa supporter terdekat, seperti teman-teman VIP ikutan menghampiri kami. Beberapa ikut menimpa-nimpa kami. Susana rusuh sekali, rusuh dan membahagiakan.
Juru foto sekolah mengabadikan moment bahagia itu.
Sampai sekarang, gw masih ingat rasanya kebahagian sore hari itu, di bawah timpaan berat badan teman-teman satu tim. Di bawah timpaan tubuh Ardo.


Setelah kerusuhan di lapangan basket yang membahagiakan, gw pun berpamitan pada teman-teman tim Victrous dan coach.
Gw dan teman-teman tim Bernacles berjalan pulang, menuju rumah Joe, bersama beberapa teman VIP.
Lagi asik-asiknya bercanda bareng teman-teman gw, tiba-tiba ada yang memanggil-manggil gw.
Pas gw nengok ke belakang, ternyata Ardo dan Agung sedang berlari menyusul gw.

“Oy! Os!” serunya. Ia berlari sambil dengan tas ransel di punggungnya, botol minum hitam dan handuk putih pendek di lengan kanannya. Otot lengannya berkilauan di bawah matahari sore.

“Oy, Do?” gw menghentikan langkah. Teman-teman yang lain tetap berjalan di depan.

Ardo akhirnya berhasil menyusul gw, berjalan di sebelah gw. Kita jadinya berjalan bertiga di belakang yang lain.
“Udah mau pulang?” tanyanya sambil tersenyum manis, seperti biasa.
Agung ikut berjalan di sebelahnya.

“Iya, Do. Kamu?” gw membalas senyumannya.

“Iya nih. Nyokap lagi nunggu di kantin Tengah.” jawabnya sambil menunjuk ke arah depan.
Kantin Tengah adalah kantin area makan seperti food court untuk umum yang berada di belakang sekolah kami.

“Oh, ok. Salam buat tante yah.” kata gw lagi.

“Iya. Umm.. Os..” kata Ardo menatap mata gw dengan lekat.

“Hm?” gw menolah, membalas tatapannya.

“Tadi kamu mainnya bagus banget. Keren.. keren..” Ardo menyenggol lengan gw dengan sikutnya.

“Eh? Enggak koc..” gw berusaha sebiasa mungkin, mengusap-usap belakang kepala gw, cengar-cengir enggak jelas. Kelihatan banget gw salting di puji Ardo.

“Beneran.. Keren, Os.” Ardo senyum lagih. Lesung pipitnya ikut tersenyum kepada gw.
“ Beda banget sama waktu dulu itu.” lanjut Ardo.

Gw langsung mengerti maksudnya. Permainan gw meningkat jauh dari waktu insiden topeng monyet di lapangan basket berbulan-bulan lalu itu.

“Ciee..” Agung menggoda gw dengan suara ngebas dalamnya.

Kontan muka gw langsung panas, sepanas-panasnya.

Kemudian Ardo merangkul pundak gw. “Bangga aku punya browthur hebat kayak kamu. Enggak mudah menyerah.” lanjut Ardo.

Gw cuma bisa mesem-mesem najong, wajah gw menunduk ke bawah menatap tanah. Sambil berjalan, Ardo merangkul gw, sampai kita bertiga, gw-Ardo-Agung, berhasil menyusul teman-teman yang berjalan di depan.
Beberapa teman VIP gw yang melihat gw dirangkul Ardo, berdeham-deham penuh makna.
Ardo enggak sadar. Tapi gw berasa pengen nimpukin teman-teman VIP gw dengan duren.
Asli gw salting bangeeettt...

Benar-benar sore yang membahagiakan.

Sesampainya diujung jalan, Ardo dan Agung berpisah dengan rombongan teman-teman gw. Mereka berpamitan, dan berbelok ke kiri mengarah ke kantin Tengah. Sedangkan gw dan teman-teman berbelok ke kanan.

Henny melirik ke arah gw, sambil senyum-senyum penuh arti.
Melihat reaksi Henny, gw cuma bisa tersenyum kecil. Menghela nafas bahagia.

Gw nengok ke belakang, Ardo sedang tetap berjalan ke arah sebalik gw, sedang mengobrol dengan Agung. Yang gw lihat hanya punggungnya. Gw berbalik badan lagi, menatap jalan di depan gw.
Tanpa gw sadari, saat itu Ardo membalikkan badannya, menatap punggung gw...

-----------------------------------------------------------------------------

Chapter 1 - It's Hard to Say GOODBYE