DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Dokumen Rahasia [Do Not Open] - Lelaki Berefek Toko Roti

Lelaki Berefek Toko Roti
by MarioBastian


Siapa di dunia ini yang tak punya rahasia?

Ibuku punya. Ayahku juga. Kalau boleh aku tambahkan, kucingku punya rahasia. Namun aku sudah tahu rahasianya apa. Setiap pukul satu siang dia akan menyelinap ke luar rumah. Dia akan mencari jejak dan menandainya. Satu hari bertambah sepuluh meter. Di hari ke lima puluh, dia sudah mencapai perempatan depan komplek.

Siapa lagi yang tak punya rahasia?

Kamu pasti punya.
Sepertiku.
Mungkin “persis” sepertiku.
Rahasia yang tak pernah bisa kamu bagi. Atau mungkin telah kamu bagi ke sahabat terdekatmu, tetapi ada rahasia kecil lain yang tetap kamu sisakan. Atau mungkin kamu bagi secara gamblang ke seluruh dunia. Persis Ricky Martin. Atau inginnya sih seperti Ricky Martin, tetapi kamu sadar... itu tak mungkin.

Aku setuju.
Aku juga punya rahasia itu.
Dan, karena itu rahasia, aku tidak akan membaginya secara gamblang kepadamu. Aku bukan Ricky Martin. Aku jenis-jenis yang punya dua akun facebook, lalu memisah teman-teman normalku dari teman-teman dunia persilatanku. Maksudku, bukan aku ikut karate atau apa. Maksudku... dunia yang lain.
Kamu pasti mengerti itu.

Tenang saja. Aku tidak akan menutupi kepada siapa aku jatuh hati hari ini. Kamu akan tahu. Bahkan, kamu punya 90% kemungkinan mengenal orang ini, jauh sebelum aku bertemu dengannya. Dia lelaki yang tampan. Jenis ketampanan yang tidak mengenal kata relatif. Seolah Tuhan dengan sengaja memahat dia lebih sempurna. Atau mungkin tak sempurna, tetapi feromon yang ditanamkan di sosoknya menguar lebih kental. Ketika aku masuk ke ruangan, dan dia ada di sana, dia bagaikan toko roti. Kamu mengerti maksudku? Wangi gula dan gandum seolah mencubit hidungmu untuk menoleh.

Hanya menoleh ke arahnya.

Aku pun begitu.
Padahal, ini bukan toko roti. Ini kereta api. Ini Argo Parahyangan Tambahan. Nomor kereta 7004. Berangkat dari Gambir, menuju Bandung. Tepat pukul 13.15. Situs tepatnya ada di gerbong ketiga. Dengan kursi nomor 8B dan orang-orang berdesakan meletakkan koper. Aku baru saja masuk ketika sihir toko roti itu mengepit hidungku. Seolah ada yang membelokkan kepalaku, karena mataku langsung menatap ke sana.

Ke arah lelaki dengan tudung jaket mengerudungi kepalanya.

Lelaki itu mengunyah permen karet. Pandangannya ke luar jendela. Mungkin ke arah kesibukan stasiun Gambir yang membosankan. Ketika aku berjalan ke tengah gerbong, aku berharap penuh bisa duduk di sebelahnya. Hanya harapan konyol, tentu saja. Karena itu tak mungkin. Karena aku bukan manusia pilihan Tuhan yang akan dipasangkan dengan lelaki tampan di transportasi umum. Aku duduk di 8B. Dia mungkin duduk di... 2 juta F, atau 3 juta Z, jauh dari radarku.

Seperti yang biasanya terjadi.

Namun ketika aku mencocokkan di mana 8B itu bersarang...
...
Tadaaa!
Tepat di samping lelaki itu.

Aku membeku sekitar tiga kabinet pembangunan. Aku berdiri saja di sana. Memandang stiker 8AB yang ditempel tepat di atas lelaki itu. Aku kucek-kucek mata pun, stiker itu masih ada di sana. Aku kerjapkan mataku ke arah tiket, mengira harusnya aku di gerbong 8B kursi nomor 3, tetapi tidak. Aku di gerbong 3, kursi 8B.

Apa Tuhan pada akhirnya kasihan?
Apa komputer yang Tuhan gunakan sedang kena virus?
Ini sejarah pertama dalam hidupku. Orang yang duduk di sebelahku di kereta adalah orang yang punya sihir toko roti.

-XxX-

Tentu saja kami tidak bicara selama setengah jam pertama. Kami tidak sedang menjaga rahasia masing-masing. Kami hanya sedang berlaku seperti masyarakat sosial yang membosankan. Duduk di transportasi umum dan menghormati zona pribadi masing-masing.

Lelaki itu wangi. Sungguh. Bukan wangi roti. Dia mengenakan parfum berbau manis. Ada aroma segar dan ceria dari kuarannya. Ketika dia bergerak sedikit membetulkan jaketnya, aku seperti ada di ujung pelangi.

Lelaki itu berkulit mulus. Lengan jaketnya ditarik hingga siku. Tentu bukan untuk memamerkan hastanya. Dia mengenakan jaket berukuran longgar. Jaket yang tampak hangat dilihat dari menara mana pun. Sepatunya sneakers berwarna senada. Dengan tali sepatu bagian kiri terurai. Meresahkan OCD abal-abalku, ingin rasanya menyimpul tali sepatu itu.

Atau ingin rasanya berkenalan.

“Permisi, Bapak. Makan siangnya barangkali?” Dua orang petugas kereta mengunjungi kami dan menyodorkan buku menu. Satu petugas berdiri bisu, sibuk menampan nasi goreng yang bisa jadi kami ambil atau abaikan. “Kami punya nasi goreng, mi rebus, zuppa zuppa.”

Aku menggeleng dan tersenyum. Bukan waktu makan siang, batinku.

“Ada chicken teriyaki?”
Tau-tau lelaki di sampingku bertanya seperti itu. Spontan aku menoleh. Tersihir oleh suaranya. Tersihir oleh wajahnya dari dekat. Aku bisa menatap profil kepalanya dari samping, semancung apa hidungnya, selentik apa bulu matanya, selembut apa bibirnya. Dia tampak lebih mengagumkan dibanding efek toko roti setengah jam yang lalu.

“Chicken teriyakinya satu?” petugas kereta itu mencatat.
“Ada jus wortel?” tanyanya lagi.
“Kebetulan jus wortelnya sedang kosong, Pak. Paling kami punyanya jus jambu.”

Lelaki itu memutar otak. “Kalo buah naga?”
“Cuma ada jus jambu, Pak.”
“Oh.” Dia membuka tudung jaketnya, lalu menggaruk kepala. “Ya udah. Jus jambu.”

Kemudian, dia kembali menatap ke luar jendela. Memandangi setiap rumah pinggiran dan pepohonan yang kami lewati.

Kali ini, aku tahu kenapa dia tahan menatap ke luar setengah jam. Dia sedang mendengarkan musik. Dua earphone mahal berwarna perak menggantung anggun di telinganya. Satu telunjuknya yang terkulai di pinggiran jendela rupanya asyik mengetuk-ngetuk.

Namun bukan itu yang menjadi perhatianku. Kini, aku tahu rambutnya seperti apa. Dipotong pendek bagian belakang dan pinggirnya. Membuatnya tampak seperti bintang film. Dengan leher berkulit mulus, tubuh cukup besar, mata yang tampak jernih... aku nyaris mengira aku sedang menonton TV.

Mungkin sebenarnya dia artis FTV. Mungkin sebenarnya dia model catwalk. Mungkin saja dia sudah bosan mengendarai mobil mewah dari Jakarta ke Bandung, sehingga dia memilih Argo Parahyangan kelas eksekutif. Mungkin dia anak orang kaya yang kebetulan ganteng. Atau mungkin dia "hanya" kebetulan ganteng. Dan kebetulan beruntung, karena kulitnya bisa semulus itu.

Mungkin dia sudah punya pacar.
Atau mungkin dia jomblo karena dia playboy.
Mungkin dia keturunan bule.
Yah, bisa jadi.
Mungkin dia half-blood prince dari kerajaan Irlandia.

Aku berkutat selama dua puluh menit memikirkan berbagai kemungkinan. Seperti yang kubilang, aku bukan manusia pilihan Tuhan yang akan dipasangkan dengan manusia berefek toko roti di transportasi umum. Probabilitasnya seperti kecelakaan pesawat: satu berbanding empat juta penerbangan. Sehingga tak heran, aku masih menganggap ada kesalahan dalam sistem penjodohan kursi di transportasi umum yang diciptakan Tuhan.

Namun, dari berbagai kemungkinan yang kuciptakan, ada satu kemungkinan yang aku tahu pasti jawabannya.
Dia tidak mungkin gay.

“Chicken teriyaki?” Petugas kereta itu datang beberapa saat kemudian. Lelaki di sampingku bangkit dari posisi nyamannya, menerima sepiring makan siang berbalut plastik ketat. Dia kini sibuk membuka sandaran lengannya, tempat yang biasanya menyembunyikan meja nampan.

“Nggak ada?” gumamnya.
Aku menoleh untuk melihat lubang di balik sandaran lengannya tak menyembunyikan meja nampan apa pun.
“Mbak?” panggilnya pada petugas kereta yang masih ada di row di depan kami. “Mejanya nggak ada?”

Petugas kereta itu meneliti isu yang diangkat. Dalam dua detik, dia baru teringat. “Oh, yang itu memang lagi rusak, Pak. Sedang kami betulkan. Tapi yang di sini bisa, kok.” Petugas itu menunjuk ke sandaran lenganku.

Si lelaki menoleh. Bisa kukatakan, penuh harap. Karena ingin bersikap sopan, aku membuka sandaran lenganku dan mengeluarkan meja nampan. Meja itu tampak sempurna. Bersih, tak seperti biasanya. Dengan engsel yang kuat, tak seperti bulan lalu di mana meja nampanku nyaris rontok. Untuk menambah keyakinanku, petugas kereta itu juga bilang, “Yang ini kebetulan banget baru beres diperbaiki tadi pagi. Jadi masih bagus.”

Kami lalu terdiam dalam kecanggungan. Lelaki itu kini melihat ke arahku. Tepat ke wajahku. Mungkin sekarang dia melihat rona merah di pipiku? Aku paling tak bisa menyembunyikan rasa dari lelaki tampan yang menatap ke wajahku.

“Kak? Mau tukeran sebentar aja?” tawarnya. “Sebentar aja.”
Dia panggil aku kakak? Setua itukah aku kelihatannya? Aku dan dia mungkin berumur sama. Awal dua puluhan!
“Oh, oke.”
Lelaki itu meletakkan chicken teriyakinya di meja nampanku. Lalu kami bertukar tempat duduk.

Ya Tuhan ...
Rasanya ...
Enak sekali.
Rasanya nyaman sekali. Kursi bekas duduk lelaki itu.
Hangat dan wanginya masih menguar di kursi ini. Ketika aku menghempaskan diri di 8A, rasanya seperti aku tahu senyaman apa lelaki itu sedari tadi di sini. Aku bisa melihat sudut pandang yang tak kutemukan di kursiku. Aku bisa merasakan sempitnya dinding jendela. Aku bisa melihat pemandangan lebih luas. Terlebih lagi... aku bisa merasakan dirinya.


Mungkin terdengar gila. Namun, ya. Aku seolah sedang dipeluk lelaki itu.

...

Apa dia merasa begitu di kursiku?
Ah, tidak. Dia sedang menyantap chicken teriyakinya dengan lahap. Seolah besok kiamat saja. Sikunya sesekali menggelitiki pahaku. Tangannya tak mau diam menyuap nasi ke mulutnya. Dan, dia fokus. Dia tidak melirik pemandangan di luar jendela. Dia tidak menonton TV di ujung gerbong. Dia mungkin tidak merasakan menjadi aku di bekas dudukku barusan.
Dia sedang makan siang.

Karena itu, karena kupikir dia sudah melunak, aku memberanikan diri untuk menyapa. Hanya menegaskan saja. Karena aku benci dianggap tua. “Eh, by the way, saya masih kuliah. Hehe. Nggak usah panggil ‘Kak’.”
Dia menoleh. “Oh, sorry.” Dia mengunyah lalu menelan yang sedang ada di mulutnya. Dan dia tampak manis, omong-omong. Tampak lugu. “Tadinya mau panggil bapak. Tapi kayaknya lebih ngaco, ya?” Diakhiri dengan cengiran bercanda.

Oke, aku jatuh hati.
Hanya dari senyum simpul jail dari lelaki asing ini.

“Ngaco banget,” jawabku. “Pengennya sih dipanggil Adek aja.”
“Oke, Adek!” potongnya. “Kakak ikut makan dulu ya di sini.”
Aku tergelak. Dan jantungan sesaat.
“Jadi kamu mau dipanggil kakak?”
Dia menggeleng. “Nggak mau. Tapi lo pengin dipanggil adek, jadi gue apa daya dipanggil kakak.”

“Nggak usah gitu juga. Saya kan cuma bercanda.”
“Gue juga.” Dia nyengir lagi.

Selama dua menit berikutnya, tidak ada percakapan. Yang ada hanyalah kunyahan chicken teriyaki. Dan satu orang di dekat jendela yang kebingungan. Tepatnya canggung. Orang itu aku, tentu. Bingung harus melanjutkan obrolan seperti apa.

Boleh dibilang, aku menikmati dua menit sesi bisu itu. Aku mencuri pandang ke arahnya beberapa kali. Melihat alisnya mengkerut saat menyobek sachet saos dengan giginya. Atau ketika sendok berlumur saus teriyaki jatuh ke atas pangkuannya, dan dia meringis. Atau ketika bibirnya itu mengatup imut, menantangku untuk membelainya.

Andai saja aku boleh mengelap minyak di sudut bibirnya itu...

....

Oh, tak perlu. Dia sudah mengelapnya sendiri.

Untuk memecahkan keheningan, aku melontarkan pertanyaan tertolol seumur hidup. “Mau ke Bandung, Kak?”
Dia menoleh. Mencerna pertanyaanku. Dengan alis mengerut. Dalam hati, aku menepuk jidatku sejuta kali. Bodoh, bodoh, bodoh....
“Kayaknya, sih,” jawabnya. Dia merogoh saku celana, lalu mengeluarkan tiket yang sudah dibolongi masinis. “Iya. Ini kereta ke Bandung.”

“Eh, sorry. Maksudnya... mau main atau apa gitu ke Bandung?”
“Mau pulang.” Dia menyuap lagi nasinya. “Adek juga mau pulang?”
Oh... Tuhan... kenapa setiap dia memanggilku adek, aku jadi deg-degan?
Nikmat, sih.
Lelaki tampan berefek toko roti mendadak tak mempermasalahkan memanggilmu adik. Maksudku, aku bertaruh 101%, kamu juga mau menjadi adik dari lelaki ini.

“Iya, aku juga pulang.”
“Rumah di mana?” tanyanya ramah. Mungkin penuh sayang.
Atau aku ibaratkan saja penuh sayang.
“Daerah Pasteur,” jawabku. “Kakak?”
“Padalarang. Adek udah ada yang jemput?”

Aku tergelak kecil. “Nggak, lah. Orang deket kok dari stasiun. Tinggal naik angkot aja. Kakak udah ada yang jemput?”
“Ada dong!” Dia menyelesaikan suapan terakhir chicken teriyakinya.
“Keluarga?” tanyaku.
Dia menggeleng. “Someone.”

Lalu selesailah makan siangnya. Dia letakkan piring kotor dan segelas jus jambu di bawah kursi depan kami. “Adek mau bareng? Kan nanti gue lewat Pasteur, Dek. Ada mobil.”
“Ah, nggak usahlah.” Aku balas juga dengan cengiran.

Oke. Someone.
Dia sudah ada yang punya ternyata.
Sesuatu yang wajar dan dimaklumi.
Mungkin cewek high-fashion dengan kaca mata hitam dan kelakuan paling annoying sedunia. Mungkin cewek baik-baik, yang saking baiknya kamu rela memberikan cinta sejatimu padanya. Mungkin cewek jelek. Bisa jadi. Mungkin cewek jelek dengan duit banyak.
Atau mungkin cewek cantik. Mantan Mojang Kota Bandung. Mantan Puteri Indonesia, bisa jadi.

Yang pasti kaya raya. Karena dia akan dijemput dengan mobil.
Suatu fakta di mana aku tak perlu berfantasi lebih soal lelaki ini. Tak perlu pula numpang pulang, berharap menjalin silaturahmi lebih jauh.
Haha.
Kamu bercanda, Nico. Kamu laki-laki kurus bertubuh mungil. Kamu tak mungkin punya hubungan lebih jauh dari Gambir-Bandung dengan lelaki setampan ini. Nasib baikmu hanya sampai stasiun Bandung. (Kalau sesampainya di sana dia masih di sampingku.)

Mungkin Tuhan sedang menepuk jidatnya di surga sana. Berpikir, “Kenapa si Nico bisa saya pasangkan dengan lelaki itu, ya? Oke, ini nggak akan kejadian lagi.”

“Adek, mau tuker lagi?” tanyanya.
“Oh, iya.”
Kami bertukar lagi tempat duduk. Kali ini kursi 8AB lebih hidup dibandingkan dua puluh menit lalu. Lelaki itu mulai bercerita tentang apa yang dilakukannya di Jakarta (kuliah), berapa lama dia liburan semester di Bandung (dua minggu), ke mana saja dia akan pergi nanti (Ciater dan Ciwalk. Malam ini juga dia mau nonton bareng someone-nya), hingga detail tak penting soal restoran favoritnya (Gigglebox).

Namun obrolan berhenti satu jam kemudian. Ketika kami kehabisan topik. Ketika dia kelelahan berbicara. Dia mulai mengenakan lagi earphone-nya di antara dua menit keheningan dialog kami. Aku menyimpulkan, ini akhir dari hubunganku dengan lelaki berefek toko roti ini. Mungkin sudah cukup Tuhan mempermainkan perasaanku. Saatnya aku dihantam kenyataan. Saatnya aku berhenti bermimpi terlalu jauh.

Dalam beberapa kasus, mimpi ada batasnya.
Misalnya kejadian ini.

Semua tampak tak ada harapan selama bermenit-menit kemudian. Aku menemukan diriku menyibukkan diri dalam lamunan. Ya, aku melamunkan lelaki di sampingku. Mungkin lamunan sesaat. Mungkin lamunan konyol, pula. Tentang aku yang berjalan bersamanya di pesisir Legian di Bali, menikmati sunset dewata yang selalu surut di pukul tujuh petang. Tentang kami yang berpegangan tangan. Merasakan hangat pantai. Merasakan angin yang menggelitik. Mungkin dia akan menarikku ke dalam rangkulannya. Mungkin dia akan mulai bicara tentang chicken teriyaki dan Gigglebox.

Mungkin dia akan mengecup keningku sambil membisikkan...
... bahwa dia selalu merindukanku.

Haha.
Aku selalu hebat dalam berfantasi. Mungkin aku bisa jadi penulis novel romance. Setiap aku bertemu lelaki tampan di transportasi umum, aku bisa merangkai cerita hidupku bersamanya. Mulai dari romantisnya pre-wedding kami, manisnya malam pertama kami, hingga indahnya rumah tangga kami di Swiss. (Aku selalu ingin ke sana. Entah mengapa.)

Sesekali, aku membayangkan hubungan seks dengan lelaki tampan di transportasi umum. Khususnya, lelaki seksi. Lelaki yang memancarkan aura ranjang dan kondom. Lelaki yang mengacaukan fantasiku dengan adegan-adegan telanjang. Bukan lelaki di kursi 8A ini. Dia sih lelaki yang memproyeksikan kehidupan paling romantis, seperti di film-film.

Grap!
Tiba-tiba lamunanku buyar!
Tiba-tiba...
...
Lelaki itu mencengkram tanganku. Meremasnya dengan kuat.
Menggenggamnya seolah... “Jangan jauh dari aku.”

-XxX-

Satu hal kusadari tiga detik kemudian, sejak lelaki itu memegang tanganku tiba-tiba, adalah kereta kami memasuki terowongan.

Tentu saja aku menoleh kaget. Lelaki itu sedang menempelkan keningnya di jendela. Namun, matanya terpejam. Sangat kuat. Kerutan-kerutan di sekitar matanya seolah menunjukkan ketakutan yang luar biasa. Seolah ada sejarah yang tak pernah terpeta. Seolah ada penderitaan di sana.

Aku meneliti wajahnya lebih dekat. Lelaki berefek toko roti itu sedang komat-kamit. Aku tak dapat mendengar apa jampi-jampi yang dia lontarkan. Dia hanya sedang ketakutan. Sederhana, dia seperti melihat setan.

“Plis... plis...” desahnya.
Kali ini bisa kudengar cukup jelas, karena genggaman tangannya makin erat.
“Jangan lepas... jangan lepas...” Dia seperti berbisik padaku.

Gerbong tiga itu terang, sebenarnya. Hanya pemandangan di luar jendela saja yang mendadak gelap. Aku tahu ini di mana. Ini Terowongan Sasaksaat. Panjangnya nyaris satu kilometer. Pasti akan aku lewati setiap aku menumpangi Argo Parahyangan. Jarak tempuhnya tidak lama, kok. Mungkin hanya semenit.

“Plis...” bisik lelaki itu lagi. “Jangan lepas...”

Faktanya, kami sudah melewati terowongan. Cahaya matahari yang kebetulan ada di sisi kami, langsung menerangi kaca jendela. Cahaya tersebut cukup memberi tanda pada lelaki itu, kalau kami sudah melewati kegelapan.
Dan dia lebih tenang. Genggaman tangannya lepas.

Aku masih memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Napasnya memburu, seperti habis dikejar anjing. Pelipis dan lehernya basah. Dia berkeringat dingin sekarang. Dia bahkan tampak ketakutan.

“Kakak phobia terowongan?” tanyaku.
Dia tidak menjawab. Dia masih menatap ke depan, mencoba menenangkan dirinya.
“Kakak takut terowongan?” tanyaku lagi.
“Kenapa kita lewat terowongan, sih?”
“Memang kalo naik kereta api pasti lewat terowongan.”

Lelaki itu menarik napasnya lebih dalam. Agak panik. Agak waspada, barangkali akan ada terowongan lagi di depan sana. Satu kesimpulan yang bisa kuambil, dia jarang naik Argo Parahyangan. Atau dia selalu tidur setiap perjalanan.


“Gue nggak suka terowongan,” tegasnya. Di pelipisnya ada urat yang muncul, yang membuatnya tampak marah besar. “Gue nggak suka.”
Aku tak bisa merespon apa-apa selain melirik-lirik dengan canggung.

“Apa masih ada terowongan di depan?” tanyanya. Dia menoleh ke arahku. Kali ini tatapannya sangat tajam. Nyaris seperti marah.
“Ngng... kayaknya sih udah nggak ada.”
“Yakin?
Aku manggut-manggut meyakinkan.

“Gue nggak percaya,” tegasnya. Dan dengan deklarasi tersebut, dia pun meraih lagi tanganku... lalu menggenggamnya.

Kali ini sampai stasiun Bandung.

-XxX-

Lain kali aku ketemu lelaki sejenis toko roti, aku akan mengenakan pampers untuk orang tua. Aku perlu pipis. Karena kalau kejadiannya sudah begini, aku nggak bisa pipis. Bukan karena dia terlalu tampan jadi aku tak mau meninggalkannya. Secara harfiah... dia memang tak mau melepaskanku.

Baru sekarang aku ketemu lelaki dengan tingkat insekuritas setinggi ini. Dia tidak percaya padaku. Dia menggenggam terus tanganku, seolah aku ini si someone. Dari Sasaksaat, hingga stasiun Bandung. Bayangkan... sudah berapa jam aku deg-degan gembira karena ada lelaki tampan menggenggam tanganku dengan erat.

Apa dia menikmatinya? Tidak. Dia hanya merasa tidak aman. Mungkin dia memang phobia berlebihan pada terowongan. Mungkin menggenggam tangan orang asing di sampingnya bisa mempermudah keadaan.

Lelaki itu mengenakan lagi earphone-nya di telinga. Mengenakan lagi tudung jaketnya. Tenggelam lagi dalam keasyikannya tiga jam lalu di Gambir. Bedanya, kali ini tanganku digenggamnya. Aku sih, yah... seperti yang kubilang, menikmatinya. Hingga akhirnya dia menerima SMS di ponselnya. Dia keluarkan ponsel itu, masih menggenggam tanganku, lalu membacanya. Saking dekatnya, aku bisa membaca isinya.


My PuH-RriiNz3! uD4H nyAmVvE maNnnAh!!?

Apa itu? Password Badan Intelijen Amerika? Kenapa sulit dibaca?
Satu-satunya yang bisa kubaca adalah nama pengirimnya.
Ayy-Sell.
Mungkin maksudnya, Ayank Seluler. Banyak temanku yang pacaran dan menyebut pacar mereka “ayy”. Seolah “ayy” adalah kata wajib dalam pacaran.


Bentar lagi nyampe, Bebz. Tadi serem. Ada terowongan.

Balas lelaki itu.

yYaa uDdaaaH, L4h yAaaK! Vv0qoknYaaH, Q03 tUnn99oE qMyuu dEE zTaaZ1uN! mmU4cHH!

Balas si someone.

Oke.

Dan dia belum melepaskan tanganku.
Tepat ketika kereta berhenti di Stasiun Bandung, lelaki itu menghembuskan napas lega. Dengan santai, dia melepaskan tangannya. Seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kita berdua. Seolah dia tidak sadar, tanganku keringat dingin saking gembiranya.

“Sorry, gue udah ngerepotin lo, Dek,” katanya sambil mengambil ransel di atas kami, lalu membantuku menurunkan ranselku.
Waaah... dia menurunkan ranselku! Tuhan benar-benar error! Masa iya ada lelaki tampan diutus untuk menurunkan ranselku? Tuhan? Tolong konfirmasi! Ini beneran, kan?

“Glad to help,” kataku. Namun, dengan volume sekecil semut. Mungkin dia tak mendengarnya sedikit pun.

Lelaki itu tahu-tahu menduluiku turun dari kereta. Dan, aku mengejarnya. Entah untuk apa aku mengejarnya. Mungkin menikmati sisa-sisa terakhir sebelum kami berpisah dan tak pernah bertemu lagi hingga tahun 2200.

“Yakin, adek nggak mau ikut mobil gue?” tanyanya sekali lagi. Dia menjajari langkahku, kini.
Kami berjalan cukup cepat menuju pintu keluar utara. Tembus di indomaret dan ATM BCA.
“Nggak, ah. Nggak usah. Naik angkot aja. Entar ganggu yang lagi pacaran,” jawabku.
“Yeee... apaan, sih!” Dia tertawa sambil meninju lenganku perlahan. (Mungkin, sekali lagi, penuh sayang.) “Nggak apa-apa, kok. Mungkin sejalur. Kan gue keluarnya di tol Pasteur, Dek.”

“Udah, nggak usah.”

Kami berdua berjalan menuju parkiran mobil. Kami halau semua sopir taksi yang menawarkan jasanya. Cukup jelas lelaki ini akan naik mobil, cukup jelas pula aku hanya perlu naik angkot satu kali. “Oh iya, gue belum tahu nama lo, Dek. Nama lo apa?”
“Nico.”
“Nico!” serunya, seolah gembira sekali mendengar namaku. “Bagus, namanya! Sama kayak gue, Dek. Ada huruf O di belakangnya.”
“Oh, iya?”

Lelaki itu berhenti di sebuah mobil sedan hitam. Yang di dalamnya ada banci sedang bersarang. Seriusan. Ada cowok centil, dengan tanktop ketat dan kalung bertumpuk-tumpuk. Banci itu sedang sibuk membetulkan riasannya di depan kaca bedak mungil warna pink kejut. Mungkin merapikan bulu mata. Atau maskara. Mungkin saking menjijikkannya, lelaki berefek toko roti sampai rela berhenti depan mobil si banci, dan menatapnya.

Tetot, kata Tuhan kemudian.
Karena lelaki itu justru akan mengenalkannya.
“Iya, nama gue Cazzo,” katanya. “Terus itu someone gue. Namanya Esel.”


The End.



16 comments:

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

You will be punish for making caZzo with that bitch,,
Moga2 otak cazzo cman error sesaat krna pengaruh di tgkap iblis,,en suatu saat dia bakalan tersadar dan lepas dari the bitch,,, I mean
Hehehehe ^^

-
GAHCWTb - Gerakan Anti Hubungan Cazzo With The Bitch
-
The Baron

ss said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Iya nih... knp sih cazzo hrs sma essel... hehehe

w mw deh jd anggota GAHCWTb... :p

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Siippooo..
Sampean lgsung ta jadiin Kepala Divisi Militer deh..
Yuk sama-sama kita kepung rumahnya admin sma bang mario...
Minta agar mereka meninjau kembali kasus BLBI
#gubrak
Mksudnya minta mereka kembaliin Cazzo ke jalan yg benar...amiiiiin
^^

Dazz said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Amiiiinnn

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Lainalilahi.. cazzo sadarlah engkau..

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

apaan cazzo jadian ma esel....
esel tuch kelaut aja...

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Siapapun tolong jauhkan cazzo dari si bedebah essel, please

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

For godssake gue kira itu flashback masa lalu dicky dan neneknya agas, karena setau gue yang takut gelap itu dicky dan ahli kata sandi itu neneknya agas, and ternyata cazzo dan essel maigawd!!!
Gilaaaaa kita dilempar jauh ke masa depan kawan. Tolong akuh:" wkwkwk rasanya mau teriakkkkkk. Gue yakin cazzo lebih cocok sama gue kok;(
Aku padamu mario;;3

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Tidakkkk... kenapa cazzoku (?) harus sama wewe gombel kayak dia... ini pasti mimpi, pasti mimpi.. tolong deh cupid yang baru tembakin panah asmara supaya cazzo sama orang lain bukan sama esel!!

Ela Pitriani said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

iiihhh.. nyinyirr.. sumpeh deh pengen banget geplak kepala Cazzo biar sadar
kalau itu tuh yang dia taksir wewe gombel bukan Agas
iiihhh... asleee .. keseeeelllll
duh bang Mario sini aku gebukin yg namanya Esel
ampun deh amit"... gemesss..
tapi sedikit demi sedikit misteri terkuak
semoga CAzzo cepet sadar karena ga kuat liat dia bareng si Wewe terus

Chibonew said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Kok bisa-bisanya sih esel bebas dari perangkap iblis malah masuk jebakan batman,,,
Ada yang aneh kayanya,,,waktu dicky bebasin cazzo,dennis mau bilang apa sih?cazzo mau dituker ama sapa???

Chibonew said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Maksudnya cazzo kluar dari perangkap iblis masuk ke pelukan bencong nyiyiirrrr alias engsel pintu

kia sayang said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates
This comment has been removed by the author.
kia sayang said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates
This comment has been removed by the author.
tiara olifia said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

habis dnger omongan terakhir Cazzo trus si Nico jantungan*plakk!*

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Ini Cazzo jiwanya masih jiwa Dennis kan?
Sebenernya waktu di penjara, Dennis mau nuker jiwa mereka? Cazzo jadi kesemsem sama Esel soalnya dia yang pertama kali Dennis liat pas sayapnya dipotong?

ESEL MENANG BANYAK ANJAY BENCI

Post a Comment