DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Dokumen Rahasia [Do Not Open] - Lelaki Angkasa Bermata Cemerlang 2

Lelaki Angkasa Bermata Cemerlang
- doc 2 -
by MarioBastian



Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, berusaha menemukan si bocah aneh. Faisal pun menjauh, menerima telepon. Dalam waktu dua menit, dia kembali untuk mengabarkan perpisahan. “Saya mesti pulang kayaknya. Ada temen yang masuk rumah sakit.”
“Oh, oke.”
“Saya bawa aja ini jurnalnya.”
“Nggak apa-apa, gitu?”
Faisal mengangkat bahu. “Nggak apa-apa, mungkin? Kecuali kamu bilang-bilang.”

Kami berdua tertawa.
Jujur saja, aku tidak peduli pada jurnal rahasia itu. Silakan saja kalau mau dibawa. Rasa penasaranku sudah hilang. Aku lebih tertarik pada lelaki yang bikin heboh tadi.

“Nanti kalau saya udah kebaca semua tulisannya, saya kasih tahu kamu, lah,” kata Faisal sambil membereskan semua peralatan kameranya. “Nanti saya SMS.”
“Ah, santai aja. Cepet sembuh buat temennya, ya!”

Bertepatan dengan Faisal pergi, Sissy akhirnya muncul. “Kamu denger ribut-ribut tadi, Niko? Oh, oh, aku lagi di WC, coba! Aku nggak ngelihat! Katanya ada cucunya, ya? Katanya marah-marah, ya? Aku denger dari orang yang lagi ngantri di WC!”
“Kamu lama amat sih di WC-nya.”
“Sebab di WC-nya pun ada sejarah kuntilanaknya. Jadi aku baca-baca dulu. Sekarang ke mana si cucunya?”

Aku menunjuk bagian dalam rumah dengan dagu. Tanpa banyak bicara, Sissy menarikku ke dalam.

Di depan kamar tidur si nenek dukun, banyak orang berkumpul untuk menguping. Sayup-sayup, dapat terdengar pembicaraan penuh emosi antara lelaki itu bersama penyelenggara pameran. Sissy tampak antusias, tentunya. Bahkan, Sissy berusaha menerobos menuju kerumunan paling depan.

“Aku tunggu di depan aja, deh,” kataku.
“Jangan pulang duluan, ya!”
Nggak mungkin aku pulang duluan, Sis. Aku justru lagi nggak mau pulang.

Ruang tamu yang tadi ramai, kini kosong melompong. Semua orang ada di ruang tengah. Berbisik-bisik. Mengada-ada. Berhipotesa. Tidak ada yang tertarik pada brosur. Tidak ada yang tertarik pada Manusia Genderuwo lagi.

Aku tak akan berbohong bahwa aku juga kepikiran lelaki berjas pilot tadi. Tidak dalam artian hasrat, seperti saat aku melihat Lelaki Berefek Toko Roti. Hanya kagum dengan energinya. Hanya kagum dengan kehadirannya. Dengan emblem-emblem sayap di sana-sini, aku mengasosiasikannya sebagai penakluk angkasa. Dia dapat terbang ke mana saja. Dia dapat melakukan apa saja.

Kalau kamu tanya apa aku ingin mengenalnya lebih jauh? Aku ingin.

“Tuh, kan! Kayaknya dia cucunya!” Mendadak Sissy muncul di antara kerumunan. “Dia pengin nge-close down pameran ini.”
Bagus dong. Namun aku tidak mengatakan itu di depan Sissy. “Apa katanya?” tanyaku.
Sissy menggeleng. “Aku nggak denger jelas, sih. Sebab cuma bisik-bisik aja kedengarannya. Eh, orangnya kayak gimana emangnya?”
“Apanya?”
“Mukanya. Apa ganteng? Apa seksi?”

Aku memutar otak. “Dua-duanya boleh. Laki banget,lah.”
“Owwwhhh...” Sissy sampai menggigit jari. Berlagak genit. “Bisa dong?”
“Udah punya istri.”
“Oh.” Jarinya nggak jadi digigit.

“Sissy, kamu nemu anak kecil yang tadi nggak di kerumunan sana?” tanyaku. Aku masih penasaran sampai sekarang. Mengapa tidak ada jejaknya? Maksudku, semua orang jelas sedang berkumpul di ruang tengah. Berusaha mencuri dengar. Seharusnya bocah itu ada di sekitar sini juga. Seharusnya dia sama penasarannya, seperti Sissy.
“Anak kecil apa, Nikooo...?”
“Yang tadi bareng aku seharian.”

Sissy mengerutkan alis. “Kamu ngomong apa, sih? Coba, mending kamu cerita, si cucu secara spesifik kayak gimana? Kulitnya putih? Tinggi?”
“Anak kecil yang aku tuntun, Siiis... Kamu kan udah ketemu.”
“Yang di mana?” Sissy memutar otak. Dan, dia tampak serius. “Kamu sendirian dari tadi, kan?”

Sendirian?

“Jadi... umur si cucu kira-kira berapa tahun? Masih muda? Tiga puluhan ada?”

Orang yang Sissy tanyakan justru muncul setelah pertanyaan diajukan. Kerumunan di ruang tengah bergerak heboh. Seseorang berjalan cepat keluar dari antaranya. Terburu-buru. Bisu. Namun sanggup membuat semua orang gelisah.

Dalam ketergesaannya, lelaki itu justru berhenti di ruang tamu. Ya. Lelaki itu berhenti. Tepat di hadapan aku dan Sissy. Selama lima detik lamanya, lelaki itu menatap ke arahku. Mata lelaki itu memandang tepat ke mataku. Aku sempat tersihir. Karena aku berubah beku. Mata lelaki itu jernih. Cemerlang seperti mata air. Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat...

...

... tunggu sebentar.
Di mana aku sempat melihat mata itu...

...

... tunggu.
Aku yakin pernah melihatnya...

...

...

Namun lelaki itu keburu pergi. Dia memang hanya bertahan lima detik. Secara harfiah. Sosoknya langsung berlalu ke luar. Tampak tergesa. Diikuti istri sosialitanya yang kebingungan. Aku dapat mencium aroma maskulin menguar ketika lelaki itu lewat. Rasanya seperti melindungi. Rasanya seperti aku bisa direngkuh olehnya dan selalu merasa aman.

“Yang itu?!” bisik Sissy terkejut. Mulut Sissy terbuka lebar. Bisa dimasukkan semua kelamin satu tim sepak bola saking lebarnya. “Kamu nggak bilang kalo dia ganteng!”

...
Di mana ya aku pernah melihat mata itu...

“Ayo kita ke luar! Kita buntutin!” Sissy menarikku bangkit. Melewati pintu depan bersama rombongan pengunjung yang penasaran. Namun otakku masih berkutat di mata jernih lelaki itu.

Lelaki angkasa bermata cemerlang.

Ketika aku menatap lelaki itu menghilang ke dalam sedan mewah hitam di depan rumah, pandanganku jatuh pada pohon belimbing di halaman depan.
Dan, aku teringat sesuatu.
Aku ingat siapa yang punya mata persis seperti itu.

Si bocah misterius.

-XxX-

Sebenarnya, kalau mau dibandingkan, ada yang sanggup menyimpan rahasia lebih lama dariku. Ialah Tuhan. Rahasianya kekal sampai selamanya. Enam miliar manusia tidak ada yang tahu satu pun rahasia yang Ia simpan.

Salah satu yang paling jelas adalah rahasia “Mengapa Mudah Sekali Bertemu Lelaki Berefek Toko Roti”.

Ya, benar. Masih di hari yang sama aku terbebas dari Derry, aku bertemu Cazzo. Masih di hari yang sama aku dibuat penasaran oleh lelaki angkasa bermata cemerlang, aku bertemu Cazzo. Persis kebetulan-kebetulan berlebihan yang pernah kubaca di novel, aku bertemu Cazzo. Lokasinya di Kambing Soon. Di halaman depan Puri Tomat, Dago.

Sepulang dari Pameran Tumaninah, Sissy mengajakku ke sini. Makan kambing. Katanya, Sissy mau “ewita” malam ini. Bersama Ali. Jadi, tenaganya harus jos. Kami menghabiskan sepetangan menyantap kambing bakar sambil membahas betapa gagahnya Lelaki Angkasa Bermata Cemerlang tadi. Tentu saja, Sissy lebih tahu semua sejarah tentang keluarga nenek dukun itu. Jadi, dia yang bicara lebih banyak. Aku hanya mendengarkan.

Sekitar pukul tujuh malam, Sissy dijemput Ali. Motornya keren. Tipe-tipe yang mengharuskan pengemudinya membungkuk. Namun karena helm-nya tidak dilepas, aku tidak bisa melihat wajahnya. Ali terburu-buru. Jadi, Sissy hanya menitipkan uang saja padaku, membiarkan aku membayar tagihan kami.

Aku, tentu saja, tidak ada rencana lain selain pulang dan bertemu Derry lagi. Membayangkan malam penuh nafsu. Dengan kasur tipis bau maksiat. Dan meja penuh puntung dan sampah. Aku pernah memaksa untuk menginap semalam saja di rumahku sendiri. Namun Derry mengancamku. Dia akan menghancurkan warung lotek Ibuku. Paling lucu adalah ketika dia mengancam akan mengirimkan kuntilanak bernama Aminah untuk menghantuiku. Saat lucu itulah yang akhirnya meluluhkanku. Maksudku, sweet banget nggak, sih, ada cowok yang setengah mati ingin aku menginap terus di kosan rahasianya, sampai-sampai menggunakan Aminah The Kunti sebagai ultimatum.

Tentu saja aku tidak percaya dia punya kuntilanak bernama Aminah. Ada-ada saja.

Nah, ketika dihantam kenyataan itu, aku memutuskan untuk duduk lebih lama di Kambing Soon. Mungkin sepuluh atau dua puluh menit. Mungkin jalan-jalan dulu ke BIP, melihat-lihat. Mungkin pergi ke bioskop, nonton yang midnight. Pokoknya selama mungkin berpisah dari Derry. Sampai akhirnya...

... Cazzo muncul di pintu depan.
Dia mengenakan celana jins dan kemeja kasual warna biru. Tubuhnya pun dibalut jaket kulit tebal. Ketika dia datang, tangan kirinya menenteng helm full-face yang berkilau. Dia tampak kelelahan. Tampak sedang frustrasi, malah. Langkahnya menuju konter pemesanan, sebenarnya, sampai akhirnya dia menemukanku sedang duduk beberapa meja dari posisinya.

“Adek?” sapanya.
Dan, lagi-lagi jantungku meleleh. Entah mengapa kalau Cazzo memanggilku seperti itu, selangkanganku jadi hampa. Bahkan, aku merinding karena kegirangan. Kenapa nggak panggil Niko aja, sih? Memanggil nama bakalan lebih ramah lingkungan terhadap kondisi feromonku.

“Heeey... Kakak!”
Dan, tepat saat itu juga, aku teringat Derry. Ini adalah rahasia Tuhan lainnya yang aku pertanyakan. Satu detik lalu aku dipertemukan dengan Cazzo secara misterius. Satu detik berikutnya aku teringat Derry. Aku teringat ancamannya untuk tidak mendekati Cazzo maupun Ayysell.

Ayysell sih aku bisa tangani. Maksudku, enam milyar orang di dunia pasti sanggup untuk tidak dekat-dekat Ayysell. Kalau Cazzo kan lain kasus.


Adek ke mana sih kemaren? Kok langsung pergi gitu aja?” katanya. “Gimana kucingnya? Sehat?”
“Kucing?”
“Esel bilang kucing lo masuk ke sumur, dan dia cuma mau naik kalau ada lo di situ. Emang sampe segitunya, ya?”
“Oh...” Kucing. “Iya. Kucing aku emang suka begitu.”

Dugong bernama Ayysell itu seriusan ingin menjauhkan aku dari Cazzo. Sama seriusnya dengan Derry.

“Kakak sendirian?” tanyaku. Memastikan memang tidak ada dugong membuntutinya dari belakang. Nanti dikiranya aku janjian, lagi. Nanti dikiranya aku sedang berusaha merebutnya. Aku sih nggak akan nolak buat merebut Cazzo dari tangannya. Tapi kalau merebut saja belum aku sudah dituduh begitu, jadi kesel juga, kan?

Cazzo mengangguk dengan muka sedih. “Harusnya sih sama Esel.” Dia lalu duduk dengan lesu di mejaku. Selama sepuluh detik pertama bibirnya manyun, bikin gemes. Dan jemarinya memainkan kunci motor. “Tapi Esel nggak bisa. Dia ada acara ama temen-temennya. Dugem di SE, katanya.” Cazzo menunduk.

Astaga, kurang ajar juga banci itu. Nggak bersyukur, hah, dia udah dikasih malaikat kayak begini? Aku sih kalau ada di posisinya, rela ninggalin dugem di mana pun demi Cazzo. (Emang pada dasarnya aku nggak suka dugem juga. Tapi bukan itu poinnya.) Bisa kupastikan dia memenangkan Grammy Award, Banci Paling Tidak Bersyukur.

Ya Tuhan, padahal aku baru bertemu orangnya dua kali. Kenapa bisa semengesalkan ini, sih?

“Emang kalian mau ke mana awalnya?”
“Vila,” jawab Cazzo. “Bokap punya vila di dago. Biasanya kalo gue ke Bandung, gue ma Esel nginep di sana semalem. Honeymoon lah ceritanya. Rencananya malam ini mau nginep. Gue nggak tahu kalau Esel udah ada jadwal dugem malam ini. Dia sampe marah-marah, coba. Padahal kalau mau di-cancel juga nggak apa-apa, sih.”
“Kalian... marahan?”
Cazzo mengangguk.

Oh, oke. Cukup sulap saja yang membuatku terheran-heran karena tampak mustahil. Bertengkarnya Cazzo dengan AyySell, apalagi Ayysell yang marah dan Cazzo yang sedih, jauh lebih mustahil dari sulap apa pun. Antara Cazzo berada di bawah guna-guna. Atau aku sedang bermimpi buruk sekarang.

“Jadi, sekarang... batal ke vila, dong?” tanyaku.
Cazzo mengangkat bahu. “Lo mau ikut, Dek?”
“Apa?”
“Gantiin Esel?” Mata Cazzo mengintip wajahku. Dia kelihatan malu-malu menanyakan itu padaku. Membuatku juga jadi malu-malu. “Maksud gue, bukan jadi pacar gue gantiin Esel. Hehe... Sorry, sorry, bukan maksud gue bikin lo canggung. Ma-maksud gue...” Cazzo nyengir, masih malu-malu. “Temenin gue, gitu?”

Kali ini, jantungku copot sampai ke atas lantai.
Aku...
Dapat...
Ajakan...
Menginap...
Di Vila?

Bersama Cazzo?

Ini jelas-jelas rahasia Tuhan berikutnya yang tak akan pernah bisa dipecahkan semua orang.
Dalam otakku langsung terbayang adegan-adegan vila mewah di Dago. Ada aku dan Cazzo di sana. Berduaan. Mungkin honeymoon.
Mungkin mustahil honeymoon. Namun, kami benar-benar berdua di sana.

“Mau nggak?” tanya Cazzo lagi. “Biasanya gue ma Esel ada tradisi beli nasi goreng kambing di sini, terus dibawa ke vila. Kalau mau, gue sekalian beli nasi gorengnya dua. Gimana?”

Aku, seriusan, membeku. Aku tidak bisa menjawab. Satu-satunya gerakan yang berhasil kubuat adalah jemariku bergetar.

Namun akhirnya, aku bisa menguasai diri. “Oke. Aku juga lagi nggak ada acara, kok.”
Aku teringat Derry. Aku teringat tiga malam terakhir. Aku teringat kasur tipis, Derry yang ngorok, dan badannya yang bau. Dibandingkan dengan... tadaaa! Vila! Cazzo! Dan... Cazzo!
Pokoknya Cazzo!
Lelaki tampan yang kutemui di gerbong 3, kursi 8A, Argo Parahyangan Tambahan!

“Bagus!” Cazzo berubah ceria. “Gue pesen dulu nasgornya.”
Aku sebenarnya ingin mengatakan kalau aku sudah makan nasi goreng tadi. Namun aku tidak mau merusak suasana. Jadi kubiarkan saja dia pergi ke konter, memesan yang ingin dia pesan. Lagi pula, aku sedang bergetar keriangan di kursiku sini. Aku meng-sms Ayah dan Ibu, menyatakan kalau aku tidak akan pulang lagi—bedanya kali ini aku senang sekali. Aku juga meng-sms Derry kalau aku menginap di Sissy. Dan tentu saja, aku meng-sms Sissy supaya mau diajak bekerja sama.

Derry tentu saja membalas sms-ku dengan segera.


Balik, jing! Sia di mana?

Aku balas:

Nggak bisa. Malem ini aja, yaaaaaa... pliiissss...

Di mana!!! Aing susul!!!

Jangan ih! Malem ini aja, kok! Yah yah yah?!

Terus, aing sendiri aja, gituh!!??

Ya kan sebelum2nya juga sndiri. Plis, yaaaa... aku pgn nginep ama Sissy. Udah lama nih.

Besok pagi2 aing jemput!!? Di mana rumah si susi!!??

Sissy, bukan Susi. Ga usah dijemput. Aku naik angkot aja. Krn pasti bangun siang. Oke yaaa...

Di mana rumah Susi!!?

Aku ga akan ngasih tahu! Mau kita putus atau aku dibolehin nginep?

Goblog, siah!


Ketika Derry membalas yang terakhir itu, nasi goreng Cazzo sudah selesai. Seorang pelayan mengantarkannya ke meja kami, dan aku membuntuti lelaki itu menuju motornya. Motor yang sama kerennya dengan motor Ali. Yang mengharuskan penumpang di belakang membungkuk juga, telungkup di atas punggung si pengemudi. Kamu tahu kan, yang seperti itu?

Sepanjang perjalanan menuju vila, aku duduk dengan dada berdebar. Dalam hati, kupanjatkan doa-doa dan mantra-mantra. Jangan sampai Derry datang. Jangan sampai Ayysell datang. Jangan sampai siapa pun datang. Aku mematikan ponsel, menganggapnya low battery saja. Tidak ada bedanya, kan? Kuhirup wangi Cazzo yang menguar karena terbawa angin. Sambil duduk di belakang, sambil aku membetulkan celana berkali-kali. Maksudku, sulit juga mengenakan celana jins dengan alat kelamin yang mengeras dan berdenyut-denyut.

Hey, aku kan nggak bisa mengontrol itu.

Sesampainya di vila itu, aku terpukau. Ini vila mewah. Sempurna. Seperti yang aku bayangkan. Bahkan, untuk membuatnya semakin sempurna, hanya ada kami berdua di sini.
“Biasanya ada Mang Toto, jagain vila. Tapi gue udah bilang kalo gue mau ke sini. Jadi dia udah hengkang dari siang tadi,” kata Cazzo. “So... sorry, ya. Kalau cuma kita berdua di sini.”

Sorry?
Ya ampun. Itulah yang kuharapkan sedari tadi!

Memang seperti itu adanya. Hanya kami berdua di sini. Aku menemani Cazzo menyalakan semua lampu temaram mewah di vila ini. Aku membantunya menyiapkan nasgor, merapikan sofa, dan memilih CD untuk kami tonton. Semua tampak sempurna. Sungguh. Kamu harus ada di sini untuk merasakannya. Aku bertaruh semua uangku di tabungan, kamu akan setuju denganku.

Hanya saja, ketika aku berjalan-jalan ke balkon depan, menatap jalanan dan vila-vila di sebelah... aku menemukan sebuah sosok di dekat pohon. Tidak jauh dari vila ini. Awalnya kukira itu satpam yang sedang pipis atau apa, gitu. Namun ketika sosok itu mendekat...

...
Jantungku copot lagi.
...

Kali ini untuk alasan yang menyeramkan.
...

Karena sosok di bawah bayang-bayang gelap itu adalah...
...
Bocah misterius di pameran tadi.
Bocah yang memiliki mata mirip lelaki pilot itu.

-XxX-

Mari kugambarkan penampang umum vila romantis ini. Pintu masuknya dimulai dari tangga batu granit yang ditata rata dan rapi. Ada teras beralaskan kayu berpelitur sebelum masuk ke ruang utama, dipenuhi bebatuan kali dan tempat menyimpan sandal yang cantik. Lalu, pintu masuknya berupa pintu koboi yang didesain menggunakan kayu jati. Ada kolam renang kecil, lengkap dengan balkon tempat berjemur di bawah atap kaca. Lalu dapur dan meja makan berada di garda depan. Diikuti ruang tengah tempat TV menggantung dengan megahnya.

Ada sofa putih yang empuk di sana. Lengkap dengan bantal-bantal selembut boneka Teletubbies. Sekalinya kita rebahan di atas sofa, kita mungkin tak mau turun lagi. Padahal, kamar utama tak kalah menariknya. Berada tepat di pinggir kolam renang mungil itu. Dengan balkon kecil yang nyaman. Hanya perlu membuka jendela, menyibak tirai, kita bisa lihat pasangan kita sedang berenang, sementara kita tidur-tiduran di atas ranjang.

Vila ini mungil, sebenarnya. Namun kemewahan dan romansanya tampak sangat membahana. Aku menghabiskan waktu berjalan-jalan di atas karpet berbulu yang empuk. Pura-pura berjalan seperti model. Ingin sekali tampak seperti sosialita. Cazzo, di lain sisi, menganggap ini rumahnya sendiri. Yah, secara teknis, ini memang miliknya. Cazzo membuka kulkas dan meletakkan piring-piring seenaknya, bahkan menggigit roti sambil membetulkan dispenser. Tampak santai sekali.

Dan imut.

Aku tak akan menceritakan cengkrama kami selama tiga jam pertama. Menonton serial How I Met Your Mother dari CD, membahas beragam hal soal Bandung, hingga menghabiskan keripik pisang yang Cazzo temukan di salah satu credenza. Semuanya mengalir mulus. Aku menikmati setiap detiknya, tak perlu repot-repot merekamnya, karena itu terjadi begitu saja. Bahkan, aku melupakan adegan misterius yang terjadi di balkon depan tadi. Bocah itu hanya muncul beberapa detik, sih. Namun aku sempat melihat wajahnya. Dan matanya yang cemerlang. Hanya selibat saja. Setelah itu hilang. Setelah itu Cazzo menarikku masuk, dan aku lupa kejadian itu.


Cazzo tampak mengagumkan dalam situasi seperti ini. Aku selalu memperhatikan bagaimana cara dia bicara (bibir tipisnya kadang berkedut-kedut kalau bahasannya dia sukai), lalu antusiasme matanya (melotot lebar saat membahas MotoGP), hingga betapa mulus kulitnya... seperti kulit roti. Berkilau kecokelatan. Mungkin tinggal dibaluri mentega dan kita gigit saat masih hangat.

Tidak ada dugong berkalung manik-manik. Tidak ada preman tukang nungging dan meludah.
Hanya kami berdua. Aku dan Cazzo.
...
Sebagai teman baru, tentunya. Aku akan berpikir realistis untuk tidak berharap lebih. Aku masih waras, kok. Sekonyol apa pun Tuhan menuliskan kebetulan-kebetulan, aku percaya aku bukan jodohnya Cazzo. Aku tidak akan sanggup menyamai kekayaan Ayysell. Mengenakan baju nyentrik yang bikin radius 1 km menoleh saking mengganggunya. Atau belanja di PVJ tanpa perlu memikirkan harga bajunya berapa.

Untuk naik angkot saja aku menghitung cara termurah. Misal aku bisa membayar lebih sedikit tapi angkotnya mutar-mutar (plus aku harus jalan sedikit ke tempat tujuan), aku akan mengambil angkot itu.

Dan aku tak mungkin membawa Cazzo ke gang rumahku. Menemukan bahwa di teras depan rumahku, tidak ada bebatuan kali plus tempat menyimpan sandal yang cantik... tetapi warung lotek yang sering ditongkrongi ibu-ibu sambil membahas Tukang Bubur Naik Haji. Bisa jadi Cazzo ilfeel duluan. Bisa jadi dia fobia pada gang sempit dan tukang lotek, persis fobianya pada kegelapan.

“Udah jam dua belas. Nggak akan tidur?” tanya Cazzo.
Obrolan terakhir kami adalah tentang Mochilok. Bahasannya sudah melantur ke sana kemari, lalu Cazzo melirik jam dinding, dan kami tak menyangka jarum pendeknya sudah ada di angka terbesar.

“Oh, ayo. Tidur.”
Ada tiga kamar tidur di sini. Dua kamar di lantai atas, satu kamar di lantai bawah, dekat kolam renang. Aku membayangkan Cazzo akan mengambil kamar utama di bawah. Lalu aku, sebagai tamu yang numpang, akan tidur di kamar kosong di atas. Kamar yang sama cantiknya, persis hotel bintang lima. Hanya demi kesopanan saja. Maksudku, nggak mungkin juga kan aku sekamar dengan Cazzo? Nggak sopan, nantinya. Lagi pula Cazzo sudah ada yang punya.

(Yah, secara teknis, aku juga.)

Namun ketika aku meregangkan badan, menguap, berjalan menuju tangga... Cazzo meneriakiku. “Dek, ke mana?” Alisnya mengerut. Dia tampak marah.
“Ke... atas?” kataku. Yang terdengar seperti bertanya.
“Ngapain?”
“Ngng... tidur? Kan kamarnya ada di—“
“Tidur di bawah aja, kali. Ama gue di sini. Adek pikir gue ngajak nginep supaya tidurnya misah, hah?”
Iya, jawabku dalam hati.
Cazzo menghampiriku. Menarik tanganku. Bukan, dia membetotku. Seolah ketakutan berada jauh dariku. Auranya persis seperti waktu kami melewati terowongan Sasaksaat tempo hari.

Ya ampun. Aku dibawa ke kamar utama.
“Udah, lah... tidur ama gue aja, Dek!” Cazzo tampak kesal. “Jangan jauh-jauh. Apalagi pisah lantai. Di sini tuh sepi, tau!”
“Iya... iya...”
“Gimana kalau mati lampu, coba?”

Kamar utama itu aromanya hangat. Seperti kamar raja. Kilau kolam renang, dengan lampu neon yang dipasang di dalam, tepercik ke kamar... menciptakan siluet-siluet cantik layaknya batu koral. Ada pengatur suhu yang didesain menghangatkan ruangan, selain mendinginkan. Kalau saja ini honeymoon, ini bakal jadi bulan madu paling sempurna untuk siapa pun.

Oh, Tuhan. Aku kan nggak bawa baju ganti. Apa aku pinjam baju Cazzo saja gitu? Barangkali dia bawa lebih. Pake yang sedang dia pake sekarang pun nggak apa-apa. Kebesaran pun nggak masalah. (Sejauh itu punya dia, dan wanginya wangi dia.)
(Hahaha.)

“Aku nggak bawa baju ganti, Kak,” kataku.
“Gue juga.” Cazzo menoleh sambil nyengir. “Besok pake baju ini lagi aja.”
“Iya, besok pake baju ini lagi. Maksud aku—“

Oh, my...
Oh, no...
Cazzo membuka bajunya!
Dan celananya!

Dia telanjang!

Nggak bulat sih. Ada celana dalam segi empat ketat yang dia kenakan. Yang tentu nggak akan dia lepaskan. Tapi maksudku bukan itu! Maksudku... dia melakukannya di depanku! Ketika aku ada di ruangan!

“Maksud Adek, kenapa?” tanya Cazzo. Berbalik menghadapku.
Oh... no...
Sekarang aku bisa melihat tubuhnya yang sempurna. Perut rata, lekukan dada, lekukan tubuh yang dipahat tak bercacat... dipadu dengan wajah setampan itu. Dan kaki-kaki yang tampak kokoh...
Aku tak kuat melihat keindahannya...
Aku langsung menoleh, pura-pura melihat ke arah lain. Padahal jantungku berdebar seperti gujes-gujes kereta api. Padahal kelaminku tegang... serasa mau meledak.

Dan Cazzo melompat ke atas tempat tidur. Dia mengacak selimut. Menyusupkan kaki ke dalamnya. Menepuk-nepuk bantal. Lalu bersandar dengan santai. Senyumnya lebar. Menungguku melompat juga. “Ayo, Dek! Mau bobo nggak?”
“Oh...”
Aku tampak seperti idiot. Berdiri di dekat pintu dengan badan gemetaran. Bingung antara kegirangan atau sedang orgasme.
Lihat itu di atas ranjang. Ada lelaki tampan di sana. Hanya dibalut celana dalam saja. Semua kulitnya yang mulus terpapar di sana. Membayangkan kemungkinan kulitku bersentuhan dengan kulitnya tampak sangat gila.
Oh... mungkin inilah alasan Tuhan mengapa Ayysell lebih tepat dijodohkan dengan Cazzo dibandingkan denganku. Karena aku tak akan sanggup menghadapi semalam menginap dengan Cazzo dalam status teman dan teman.

Ya ampun, Niko.
Kamu payah sekali!

“Adek lagi nungguin apa?”
“Aku... aku lagi... lagi nyari hape.” Dengan salah tingkah aku keluar untuk mencari ponsel.
Cazzo berteriak dari dalam. “Sip! Pokoknya lampu jangan dimatiin, ya. Perjanjian kita tadi begitu. Gue bobo duluan, Dek.”

Ya ampun, aku harus bagaimana?
Rasanya mendebarkan sekali.
Rasanya seperti pertama kali melihat lelaki dewasa telanjang, lalu menatap kelaminnya yang mempesona. Di sumur yang sama, tempat Neng Surti biasa mandi, aku pernah mengintip Kang Somad, tukang bakso sekitar, mandi di sana. Kang Somad-nya sih ganteng. Badannya agak berisi, tapi oke lah. Dan meski umurku baru sembilan tahun, aku sempat mengintip seluruh proses Kang Somad mandi. Dan jantungku berdebar.
Berdebar senang. Berdebar girang.

Seperti itulah yang kurasakan sekarang.

Begitu aku menemukan ponselku, aku kembali ke kamar utama sambil berjalan perlahan-lahan. Aku pura-pura sibuk menyalakan ponsel, belum berani melihat apa yang sedang dilakukan Cazzo di atas ranjang.

Ya ampun, Niko. Tentu saja Cazzo sedang tidur.
Dan imut sekali tampaknya. Cazzo sudah memejamkan mata, terlelap dan beristirahat. Kedua tangannya disimpan di balik kepala, membuatku dapat melihat rambut halus di ketiaknya atau lengannya yang kokoh. Wangi badannya yang khas menguar hangat ketika aku menghampiri tempat tidur.

Sungguh...
Aku tidak sanggup seranjang dengan malaikat seperti ini.

Trrrt...
Trrrt...
Trrrt...
Ponselku bergetar berkali-kali, menandakan banyak sms masuk. Namun aku belum fokus ke sana. Aku sedang berusaha mengontrol diriku. Meski ada harta karun di atas ranjang sana, bukan berarti aku kurang ajar semalaman. Aku membuat janji pada diriku sendiri, untuk tidak memainkan kelamin Cazzo. (Seperti yang pernah kulakukan, waktu aku menginap bersama salah satu sepupuku yang ganteng.) Aku juga berjanji untuk tidak membelai-belai kulitnya yang mulus. (Apalagi menyentuh perut ratanya itu, meski aku ingin sekali.) Aku tidak akan mencium bibir Cazzo saat dia terlelap. Aku tidak akan mengecup seluruh bagian tubuhnya, seperti yang nyaris kurencanakan lima detik lalu. Dan aku tak akan memeluknya.

Kamu harus tahu diri, Niko. Ini soal menjaga hubungan baik. Semua ini hanya teman dan teman.

Aku melucutkan semua pakaianku. Otomatis aku minder, karena tubuhku seperti monster. Nggak ada indah-indahnya. Celana dalamku juga murahan. Belinya di pasar Sederhana, sepuluh ribu dapat tiga. Warnanya kuning pula. Apa aku tetap memakai celana jins-ku saja?
Ah, tidak. Konyol sekali tidur mengenakan celana jins di atas kasur mahal dan kamar mewah ini. Aku bakal tampak lebih kampungan kalau seperti itu.

Aku akhirnya menyusup masuk ke balik selimut. Agak buru-buru supaya Cazzo tidak melihatku mengenakan celana dalam kuning murahan. Meski sebenarnya Cazzo sedang tidur, sih. Dia jelas tidak bisa melihatku. Ketika aku naik, ranjang agak bergoyang... membuat Cazzo bergerak dalam tidurnya, memutar badan, hingga akhirnya memunggungiku.

Oh, Tuhan... terima kasih!
Cazzo memunggungiku sangat-sangat lebih baik dibandingkan dia tidur dengan pose sensual seperti tadi. Setidaknya aku bisa tenang.

Aku menghembuskan napas lega. Mulai menyamankan diriku dengan bantal-bantal putih itu. Meraih ponsel dan bisa fokus ke sesuatu yang nggak perlu mengganggu situasi syahwatku.

Ada puluhan sms yang masuk. Satu dari Ibu, memarahiku karena menginap lagi. Satu dari Faisal... Oh, aku tidak menyangka dia bakal benar-benar meng-sms-ku. Lalu... tidak ada balasan dari Sissy. Mungkin dia sedang nungging di depan Ali. Dan... ada 27 sms dari Derry.


Bales, jing! Sia di mana!!??

Isinya kira-kira seperti itu. Diulangi terus dengan cara yang sama. Aku disebut anjing, lah. Aku disebut goblog, lah. Derry tidak bisa meneleponku karena dia sayang pulsanya. Sms-sms itu pun berasal dari gratisan sms providernya. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat caranya memperlakukanku. Setelah dengan terpaksa aku menjadi pacarnya, dia tetap menganggapku korban premanismenya? Maksudku, tidak bisakah aku naik satu level dibandingkan korban-korban yang lain?
Hape lowbat. Baru dicas. Kmu tuh knp, sih? Aku capek kalo gini trus. Bunuh aku aja deh. Mendingan aku mati drpd pacaran tp kyak gitu.

Tak perlu menunggu berlarut-larut. Dalam sekejap mata, Derry sudah membalas.

Sbg pacar aing, sia mestinya nurut!!

Kamu bahkan ga sayang aku, Deri. Knp sih msh maksain terus?

Aing syg sia, ANJING!!! Buat apa aing begadang nungguin sia balik!!??

Sayang aku atau sayang anjing?


Ada jeda cukup lama dari balasanku barusan. Entah Derry sedang termenung dengan kata-kataku, entah dia mabok-mabokan dulu, supaya timeline hari ini tetap efisien diisi bir oplosan. Aku mulai beralih ke sms Faisal. Yang tampaknya lebih beradab dan ramah penglihatan.

Hei, ini sy yg tadi. Faisal. Ganggu ga nih?

Sori bru bales. Hehe. Tadi lowbat. Gapapa, kok. Ada apa?

Walah, blm tidur? Ah, bukan apa2. Ini nih, sy td udh brhsl baca jurnal yg kita temuin td. At least judulnya udh ketahuan, lah.


Oh. Ternyata itu.
Faisal ini lama-lama jadi kayak Sissy, ya. Terobsesi pada keluarga nenek dukun di Hegarmanah itu. Untung dia lumayan cakep buat diingat-ingat. Jadi aku tetap melayaninya.


Oya? Judulnya apa?

Aku menunggu sekitar lima menit. Karena tidak ada balasan apa pun di ponselku. Sempat aku menoleh ke arah Cazzo, menatap punggungnya yang kokoh. Selimutnya agak tersingkap ke bawah, memperlihatkan lekukan pinggangnya. Sesungguhnya, aku menghabiskan lima menit tersebut penuh kebimbangan... antara menaikkan selimut itu agar menutup tubuh Cazzo... atau justru menariknya turun agar pantatnya—Oh, ada balasan sms.

Dari Derry.


Niko... oke. Aing minta maap.

Apa? Seorang Derry minta maaf?
Aku melongo selama sekitar sepuluh menit, tak percaya dengan sms yang kuterima. Apa mungkin ini rahasia Tuhan berikutnya?


Niko... oke. Gw minta maap.

Derry meralat sms-nya. Kali ini dengan perubahan yang signifikan.

Gw cm pengen lo ada di sini, Niko. Gw akuin gw rapuh. Ga sekuat yg lo bayangin. Gw butuh se2org yg mw ada d smpg gw. Buat gw lampiasin emosi gw. Iyah, gw yg salah lampiasin ke elo. Tapi plis, pulang. Gw butuh lo.

Lalu kemudian, Faisal membalas juga. Nggak begitu penting, sih. Aku nggak tertarik.

Judul jurnalnya Friday Night. Kyaknya ini diary cowok yg namanya Dicky. Sy bru brhsl catat ulang smpe hlmn 4. Ntar klo udh bres, sy tunjukin sama kmu. Sip?

Nggak sip, batinku. Aku nggak butuh jurnal itu. Ada yang lebih penting. Ada yang lebih krusial dan signifikan. Ini tentang Derry. Seserius apa dia mengatakannya barusan.

Aku sengaja tidak membalas sms Faisal, karena itu bukan konsentrasi utamaku. Aku bimbang bagaimana membalas sms Derry. Entah mengapa ada satu bagian diriku yang luluh dengan kata-kata Derry. Seperti yang kupercayai tempo malam, aku tahu Derry punya sisi lembut. Aku tahu Derry punya perasaan. Dia hanya tak mampu mengontrol semua itu dan memilih meledak-ledak di depan semua orang. Aku tahu... ada rahasia yang akhirnya tidak bisa Derry simpan lama-lama.

Ada jeda sekitar dua menit. Aku nyaris membalas sms Faisal, sambil mereka-reka sms untuk Derry. Namun ponselku keburu bergetar lagi. Derry meng-sms lagi. Kata-kata yang entah kenapa terasa dalam di batinku. Sesuatu yang tak kupercaya bisa keluar dari ketika jari Derry.


Gue kangen lo, Niko. Plis... pulang.

Dan, di saat yang sama, Cazzo bergerak dalam tidurnya. Dia memutar balik. Kali ini... tepat menghadapku. Tepat berjarak lima senti dariku. Lalu tangannya... melayang ke atas.
Memelukku.
Menarikku ke dalam rangkulannya, seolah memeluk guling yang empuk. Aku bisa merasakan kakinya menindih pahaku.

Yang paling membuatku deg-degan adalah...
... hidung Cazzo kini berada tepat di telingaku. Menghembuskan napas hangat ke leher dan rahangku. Dan yang paling membuatku gugup adalah...

... jarak bibirku dan bibirnya tidak lebih dari lima jari.
Aku hanya perlu menoleh untuk akhirnya bisa... mengecup bibirnya.

Perlukah kukecup bibirnya?



THE END
 
 


19 comments:

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

oke dazz. tq udah posting nih crita...btw, dapatnih crita darimana ya????

Mario Bastian said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Ini sampe di-split dua begini? huahahaha...

Dimas Gz said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

oh, mario here...dtunggu kelanjutannya ya? cupidnya juga, syng kalo "ngambang" hehehe

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

akir nya makasih dazz di tunggu kelanjutan nya se engga nya misteri soal kenapa cazzo jadi begitu udah jelas

Dazz said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

@Anonymous

Dari yang ada dibawahmu tuh
hehehe

Dazz said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

@Mario Bastian

Ahaaa ada Mario
Biar ga jauh2 scrollnya brow hehehe
Jadinya displit aja

Dazz said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

@Anonymous

Hmmm
Kalo soal Cazzo...
itu sih ulahnya MarioBastian yang melakukan perjanjian darah dengan AyySell ... agar Mario bisa lepas dari jeratan cinta setan AyySell...

(Maap... jawaban ngawur... jangan digubris ya hehehe.. ^^)

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

@ka dazz
hahaha iia ngawur tapi mirip kok sama yang gw pikirin se engga nya jelas kalo cazzo itu suka nya sama "essel" yang di bayangan dia bukan essel yang asli

@ka mario
hey ho hahaha di tunggu kelanjutan nya cerita nya ka bbener bener ending yang kaya puzzle

dimas said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

oke,,ditunggu lanjutnya, cepet jg boleh. hehe

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Sepertinya penulis pengen membuat pembaca jadi dilema dengan memunculkan sisi kemanusiaan Dery,,

Disatu sisi, jadi simpati ke Dery, jdi berpikir mungkin dengan Niko, dia bisa jadi lebih baik,,

Tapi di sisi lain, jika yg di atas terjadi, lalu siapa yg akan membebaskan Cazzo dari jerat si witchy bitchy 'who should not be named' ?

But, decision has to be made,

"I wish Niko will chose to save Cazzo from the witchy bitchy 'who should not be named'..."
(shouting.out.loud.as.it.is.his.right)

I'm sorry Dery, but all I can do for you is wish that Mario have someway to save you,,and give you happiness...
--
Bwt bang iDazz n Mario, such a magnificent story,,keep going
And d tgu lanjutannya,,lebih cepat dari biasanya jga gk msalah ^^

--
The Baron

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Love all stories in this blog!!!! Specially KCTT and this one! Blog ini saya temui 1 thn lalu and still love it, namun lanjutannya jarang banget ya...Kaya KCTT tuh masih ngambang....moga2 yg ini ga ngambang....alias sampai Finish hehehe
BTW, love to all writers and their brilliant stories..........

Ardhan Vatra

baang said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

keren....KCTT dari sisi lain.....ini kayanya Maju ya ke beberapa tahun ke depan hihi

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Semakin cepat semakin baik ya bang mario.. tolong diupdate secepatnya, nanggunggg!!!

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Penasaran.. Ali itu kayak gimana sih mukanya? Xixi

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Derry itu kayaknya memang baik, buktinya mau beliin Niko bubur ayam (yah walaupun di maki2 dulu -_-) Derry marah2 eh Nikonya malah ngelawak(?) "Jemput berarti?"|"Sudi". Hahahah Lucu jg baayanginnya.

Sy sih tetap maunya Cazzo tetap sama Agas. Btw, Agasnya udh mati? Tolong cepat diupdate yah

danu kusuma said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

wahhhh ni cerita makin asik aja ......

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Habis ni
Lanjutan nyaa mana yaak ??

Chibonew said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Aku penasaran
Agas kemana?dicky kemana?
Kenapa kenangan yang diceritain cazzo itu kenangan tentang agas,tapi sosoknya diganti engsel??
Kenapa dennis sering nyuruh cazzo buat ngelupain agas?apa esel yang minta ke dennis supaya cazzo ngelupain agas??
Apa gara-gara itu cazzo lupa ama agas???atuhlah kalo emang cazzo mau dibuat ngelupain agas,,kenapa ga sekalian ama perasaan dia ke agas jg diilangin?ini malh nyasar ke esel.
Itu hantu bocah siapa?

tiara olifia said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

ga tau kenapa baca Derry-Niko malah keinget Cazzo - Agas ...
Derry yg suka meledak(?) n Niko yg sabar...
Cazzo yg maunya diturutin n Agas yg nerima gitu aja....
mirip lah hub mereka.11-12
tuhkaaaaan......jadi kangen Agas lagi u,u
bang Mar saingan ama setan2 nih,hobi ngumpetin orang.balikin Agas gih,pleaseeee.....*ditimpuk*

Post a Comment