DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Dokumen Rahasia [Do Not Open] - Lelaki Angkasa Bermata Cemerlang

Lelaki Angkasa Bermata Cemerlang
- doc 1 -
by MarioBastian



Selama apa kamu bisa menyimpan rahasiamu?

Ibuku bukan tipe yang menjaga rahasia lebih lama dari delapan jam. Kecuali, itu rahasianya sendiri. Setiap makan malam, aku bisa disuguhi banyak hidangan. Mulai dari sayur lodeh, lalu mengapa Pak RT cerai bulan kemarin, lalu ikan asin, lalu dari mana Ceu Koko mendapat barang dagangannya, lalu tumis tempe, hingga hidangan tentang anak Bu Soleh yang kena kudis. Aku bisa mendapat World Wide Today hanya dari ibuku semata. Kecuali rahasia dirinya sendiri soal ribut dengan Ayah, atau kol lotek yang ada belatungnya, atau Teh Botol yang Ibu isi ulang sendiri.

Ayah bisa menyimpan rahasia lebih lama. Mungkin dua bulan. Atau tiga bulan. Atau mungkin selamanya. Mengingat rahasia yang Ayah simpan biasanya tidak begitu penting. Tentang mengintip Neng Surti mandi, tentang mengintip Neng Surti pipis, dan tentang mengintip Neng Surti cuci baju di dekat sumur.

Aku bisa menyimpan lebih lama dari mereka. Tentang uang SPP yang kulebihkan beberapa ratus ribu, kusimpan tiga tahun terakhir. Mungkin tidak akan terkuak sampai selamanya. Tentang Riki yang menghamili Dini, kusimpan selama lima tahun terakhir. Kejadiannya saat SMP. Paling lama adalah tentang aku yang gay. Kusimpan seumur hidupku. Setidaknya di hadapan orangtuaku, dan orang-orang yang membenci kaumku.

Derry bukan tipe yang bisa menyimpan rahasia lebih lama. Untungnya, dia tidak suka rahasia. Untungnya, tidak ada yang mau membagi rahasia kepadanya. Namun satu rahasia yang bisa dia pegang selama empat tahun, adalah tentang kisah cintanya sendiri. Aku tidak tahu apa. Namun aku tahu ada rahasia di sana.

“Aku mau datang ke Pameran Tumaninah. Sama Sissy. Kamu mau ikut?”
“Anjing! Tai! Ngapain aing datang ke sana, hah?”
“Ya kali aja mau nganterin. Katanya pacaran. Huh. Ya udah, aku pulang malem, ya.”
“Sia mau sekalian ngublag, hah? Pulang mah Maghrib we. Aing di sini ama siapa?!”

Aku mendengus kesal. “Anterin kalo gitu?”
“Kampret! Sia pikir aing sopir, hah?”
“Kan kita pacaran. Sekali-kali nganterin, dong.”
“Sudi!” Derry meludah.

“Ya udah, kita putus. Kamunya nggak mau nganterin!”
“Eh, si Goblog!” Derry melompat dari pagar. Badannya sudah ancang-ancang mau menghajar. Namun dia hanya mengepalkan tangan. Tak berani. Dari napasnya yang memburu, aku tahu dia kesal. Dan, aku tahu dia tidak mau aku meninggalkannya. Maka dari itu, dia meludah lagi. Lalu dengan kasarnya menarikku. “Hayuk!”

Sehingga pada akhirnya, aku berhasil duduk di jok belakang Motor Fast Furious-nya. Diantar ke tempat tujuan.
Berhasil, batinku. Aku tidak perlu keluar uang enam ribu untuk dua kali naik angkot ke Setiabudi. Lumayan, bisa aku simpan untuk tiket masuk festival.

Kenalkan Derry. Ceritanya, pacarku. Aku menjadi kekasihnya atas dasar sayang nyawa sendiri. Lelaki ini tidak jelek, kok. Sungguh. Ketika dia mengerut kesal, dia malah tampak seksi. Ketika dia beraroma garang, dia justru tampak menarik.

Tapi aku tidak cinta dia. Sungguh. Aku hanya tidak akan berbohong kepadamu, bahwa Derry selalu sanggup membuatku membara. Namun kalau urusannya romansa... aduh... aku bahkan ragu Derry tahu apa itu romansa.

Ini hari ketiga kami jadian. Sejauh ini, kami seperti preman dan korbannya. Aku, tentu saja, korbannya. Kami tidak berciuman. Padahal, sejauh ini aku sudah membobol gawangnya lebih dari enam kali. Kami juga tidak berpelukan. Padahal, kami berkutat di kamar kosan butut ini nyaris seharian. Mungkin Derry memang tak punya pengalaman dalam berpacaran. Mungkin Derry justru tidak mencintaiku. Mungkin hubungan kami hanya suatu kondisi terpaksa semata.

Hanya saja, lucu rasanya pacaran dengan Derry.
Hari pertama, aku mengajarinya untuk mengganti aing sia dengan sesuatu yang lebih ramah lingkungan. Berhasil? Tetot. Itu adalah usaha yang sia-sia. Padahal, dalam sejarah hidupnya, dia pernah mengalami fase gue-elo. Aku tidak mengerti, kenapa fase itu bisa hilang. Kan, keren. Aku saja tidak sanggup membiasakan diri menyebut gue-elo.

Hari berikutnya, aku meminta dia melakukan sesuatu yang berguna. Bekerja, misalnya. Membantu orangtua, misalnya. Ikut gotong royong, misalnya. Nihil. Derry malah menghardikku. Katanya, jangan banyak bicara. Terserah dia.
Jadi, dia akan kembali nongkrong di depan gang. Kembali mengganggu orang yang lalu lalang. Merokok dan mabuk-mabukan. Kalau sempat, mencuri dompet di Pasar Sederhana.

Aku sudah menyerah di hari ketiga. Aku hanya jadi pelayannya saja.
Nafsu, sudah pasti.
Diperintah membeli ini itu ke warung, jadi makanan sehari-hari.
Dipaksa mencuri mentimun di warungnya Mang Ade, mulai kulakukan di bawah ancaman Derry.

Dia tetap lelaki sebengis bara api. Berpacaran dengannya seperti menulis kontrak mati.
Akan terasa ajaib kalau suatu hari dia bersikap lembut padaku.
Jangan padaku, deh.
Pada diri sendirinya dulu.
Tiga hari terakhir, kalau kamu mau tahu, Derry belum mandi. Akulah yang mengelap tubuhnya pagi ini. Itu pun tak semua.

Jadi ceritanya, aku mengeluh karena dia makin bau. Setelah aku menyodominya pukul sembilan pagi, dia terkulai lemas di atas ranjang. Seluruh tubuhnya berkeringat. Kelaminnya tegang berdenyut-denyut. Ceceran pejuhnya sendiri sudah berubah transparan, mengering di atas perutnya. Lalu, aku berinisiatif mengambil baskom di bawah. Aku gayung air dari sumur, kubawa ke atas dan kulapkan di tubuh telanjangnya. Sepuluh menit pertama, dia tampak teler. Tidak sadar aku sedang mengelapnya. Kemudian, dia bangun. Dan dia memarahiku.

Pada akhirnya, dia bau lagi.

Tapi sudahlah. Aku hanya bisa berharap hubungan ini berhenti dengan segera. Gara-gara Derry jadi pacarku, aku jadi jarang pulang ke rumah. Ibu menanyaiku, kenapa aku menginap terus di Derry? Kenapa kamu pulang cuma waktu pagi? Mau ke mana kamu sekarang? Jangan dulu pergi, ini cepat rebus kol-kol Ibu!

Namun Derry sebenarnya baik, kok. Atau setidaknya, ada satu sisi yang aku tak pernah tahu.

Pertama, dia tidak akan membiarkanku tidur di atas lantai. Kasur tipis belelnya adalah hakku, katanya. Dialah yang akan tidur di lantai. Tepat di sampingku. Kalau aku minta tukar, dia marah.

Kedua, dia tidak memukul siapa pun lagi tiga hari terakhir. Setidaknya, tidak di depanku. Aku tahu dia ingin sekali mencabik-cabik si Hari, anak kecil bandel yang tinggal di sebelah. Namun karena ada aku di situ, Derry cuma mengumpat sebal—tidak menjitak anak itu seperti biasanya.

Ketiga, pada dasarnya, ketika aku meminta sesuatu, Derry akan melaksanakannya. Meski harus meludahiku dulu, atau menghardikku dan mengatakan aku banci. Sebelum aku minta diantar ini, aku tak sengaja bilang aku ingin bubur ayam. Derry ngomel-ngomel soal betapa manjanya aku jam segini ingin bubur, soal nggak punya selera bagus karena memilih bubur, dan soal menjijikkannya bubur karena Derry bilang: bubur mirip tahi.
Namun sepuluh menit kemudian, dia menghilang entah ke mana. Begitu kembali... ada semangkuk bubur untukku.

“Makasih udah nganterin!”
Kami sudah tiba di tempat aku janjian bersama Sissy. Derry hanya mendengungkan, “Hmmm...” Sambil merebut helmku dan menggantungnya di lengan. Motor Fast Furious-nya tampak dekil sekali. Satu-satunya benda yang tak mau dijual Derry meski ekonomi keluarganya jatuh. Aku sepanjang jalan berjanji akan mencucinya sebagai hadiah mengantarku. Namun Derry pasti tertawa.

“Ya, udah... Itu Sissy udah di sana,” kataku.
Derry malas melihatku. “Kumaha sia,” bisiknya. “Awas! Jangan pulang kemaleman!”
“Jemput berarti?”
“Sudi!” Derry meludah, lalu pergi.

Hahaha. Sudahlah. Terserah dia mau punya kelakuan bengis seperti Nazi. Sejauh ini nyawaku masih menempel di tubuhku. Aku masih aman.

“Nicky Hiltooon!” teriak Sissy sambil berlari. Dia tampak segar dalam balutan celana army dan kaus biru cerah yang masih baru. “Aduh, aduh... yang barusan kan, Dodol tuh?” bisiknya heboh.
Aku membalasnya dengan anggukan.
“Lembayung, em? Sebenernya kalo dipikir-pikir, dia oke juga, Nikooo...”

Selama aku menjadi korban Derry, aku selalu cerita pada Sissy soal lelaki itu. Aku samarkan menjadi The D, tetapi Sissy bersikeras memanggilnya Dodol. Aku pun ikut-ikutan. Kadang aku malah ingin menambahkan, “Waktu Dodol nungging gitu, ya, kan punggungnya kelihatan depan aku, tuh. Aku pegang-pegang, dan kenyalnya kayak dodol, sih...”

Namun tak pernah kukatakan.

“Udah, ah. Jangan bahas dia. Yuk, jalan. Masih jauh, kan?”
“Cuma beberapa blok dari sini,” jawab Sissy. “Eh, kenapa nggak sekalian ajak Dodol aja?”
“Biar kamu ada kesempatan buat ewita ama dia, gitu?”
“Ya nggak gitu juga, kali...” Sissy merenggut selama tiga detik. Kemudian meralat, “Yah, siapa tahu juga, kan. Toh, kamu nggak semak-semak amat ama detseu.”
“Sumpahnya, Sis,” aku meletakkan tanganku di bahu Sissy, “aku pengin banget kamu gantiin posisi aku. Tapi ngelihat kelakuan kamu kayak begini...”—kutatap Sissy atas bawah—“... nyawamu mungkin cuma bertahan tiga detik.”

Sissy cuma manyun.

Aku dan Sissy hari ini janjian untuk datang ke Pameran Tumaninah. Bukan pameran keagamaan, kok. Tenang saja. Malah, ini pameran untuk memperingati dukun paling misterius di Kota Bandung. Tumaninah berarti: Kutukan Rumah Nini Hegarmanah. Orang-orang sekitar yang membuat nama itu. Bukan si dukunnya. Konon katanya, ada dukun wanita pemelihara kunti, yang tinggal di sebuah rumah paling berhantu di Kota Bandung. Rumahnya sangat-sangat mistis karena banyak tukang nasi goreng yang menghilang setelah lewat sini.

Aku sih nggak percaya.
Tapi, Sissy percaya. Jadi aku ikut saja.

Sissy bilang, dulu ada seorang nenek yang tinggal di sebuah rumah sekitar sini. Rumah tersebut sebenarnya biasa. Tidak ada kuburannya. Tidak ada sesajennya. Hanya tipenya saja yang kolonial yang mengiyakan status misterius tersebut. Orang sekitar bilang sih selalu ada kuntilanak di atap rumah. Duduk sambil mengayunkan kaki. Menyanyi dan menari-narikan kepalanya. Saksinya adalah semua tukang nasi goreng di daerah sini.

Nenek itu terkenal, sebenarnya. Rajin meng-upload ke YouTube dan membuat heboh seluruh dunia. Dia memposting video lipsing sambil menampilkan penampakan kuntilanak di belakangnya. Sissy sampai melongo tiga hari melihat video itu. Baginya, kuntilanak di video itu nyata. Aku sih nggak percaya. Aku pikir itu cuma orang yang dandan sebagai kuntilanak.

Beberapa tahun yang lalu, nenek itu meninggal. Pun kematiannya misterius. Ada yang bilang meledak di ruang meditasinya. Ada yang bilang dibunuh cucunya. Ada yang bilang dirasuki kuntilanaknya lalu bunuh diri. Yang pasti, setiap tahun, akan selalu ada pameran untuk mengenang nenek dukun itu. Pamerannya berlangsung selama tujuh hari. Pengunjung dapat melihat semua ruangan yang ada di sana, merasakan sensasi mistis yang katanya bertebaran di mana-mana.


“Ini udah pameran ketiga aku dooong,” bisik Sissy semangat. “Untungnya tahun ini kamu pulang, Niko... Jadi aku ada temen.”
Untungnya pameran ini ada. Jadi aku ada alasan lepas dari Derry. Kalau aku ketahuan punya waktu luang, Derry akan membuntutiku terus.
“Pokoknya keren banget, lah entar di sana!” seru Sissy. “Pokoknya kamu nggak akan percaya deh ama semua yang ada di sana.”
Emang dari awal aku sudah tidak percaya. Gimana, sih?

Ketika kami sampai, banyak mobil bertebaran di sekitar rumah tersebut. Ada loket tiket. Ada orang yang mengantri di loket tiket. Astaga, untuk apa, sih?
Bahkan, di salah satu dinding carport, ada banner kecil tentang pameran. Tentang acara tambahan, kelihatannya. Ada manusia genderuwo, ada pula manusia ular.

“Yang itu bukan bagian dari rumah ini,” kata Sissy, memergokiku memandang banner itu. “Nggak ada hubungannya rumah ini ama manusia genderuwo itu. Itu mah cuma hiburan aja, mereka ngedatengin orang-orang sirkus buat bikin pameran ini menarik.”
Astaga... bahkan jika mereka mendatangkan manusia kadal, aku tidak akan pernah tertarik, kok.

Sissy pergi ke loket tiket, mengantri di sana sambil melambai kepadaku dengan semangat. Aku sih ogah ikut mengantri. Seperti orang tolol saja. Maksudku, aku ke sini untuk menemani Sissy. Bukan benar-benar menikmati wahana rumah tua ini.

Aku menunggu di dekat pagar. Mencari posisi bagus untuk mengamati bangunan ini. Dindingnya tebal. Lembab dan tampak tak terawat. Sissy bilang, tidak ada yang tinggal di sini sehari-hari. Cucunya kabur ketika sang nenek meninggal. Alhasil, tinggal kuntilanaknya saja yang masih nongkrong. Itu pun agak diragukan keberadaannya. Karena tukang nasi goreng di sini tak pernah melihatnya lagi. Banyak yang berkeyakinan, bahwa kuntilanak itu adalah nenek itu sendiri.

Aku mengamati lagi jendela-jendela rumah. Semuanya dilindungi teralis besi yang dingin. Banyak orang berkeliaran melihat-lihat. Seperti sedang open house saja. Seperti rumah ini sedang dilelang saja. Namun, aku akhirnya bisa mengerti mengapa rumah ini dianggap mistis.

Karena memang dingin.
Beberapa menit aku di sini, aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri.
Sungguh.
Mungkin kamu bisa membayangkan berada di toko boneka di malam hari. Berada di depan ratusan benda mati yang kamu tak pernah tahu... bahwa bisa jadi, di malam hari, mereka bernyawa dan bergerak ke sana kemari.
Rasanya tepat seperti itu.

Aku memeluk diriku sendiri. Refleks tanpa kukendalikan. Mungkin aku juga takut menghadapi rumah ini. Mungkin sebenarnya memang ada nuansa mistis dari dalam rumah. Mungkin di atap itu ada kuntilanak yang mengamatiku.

Padahal ini siang hari. Tapi... entahlah. Aku tak bisa menjabarkan ini dengan jelas. Hatiku berkecamuk antara mengikuti perasaan aneh ini, atau tertawa saja menertawakan Sissy yang percaya pada hal-hal gaib.

Oh, Sissy masih mengantri. Sebesar itukah antusiasme orang-orang untuk datang ke pameran ini?

“Argh!”
Oh, ya Tuhan! Aku kaget sekali!
Ketika aku menoleh ke arah kiri, ada seorang bocah berdiri di sana!

Hoh... hoh... hoh...
Aku mengatur napasku yang memburu. Meredakan jantungku yang bertalu-talu. Aku tak mengerti, sejak kapan ada anak kecil berdiri di dekatku. Sedari tadi aku melamun, aku ingat aku sendiri. Semua orang masuk ke dalam rumah, ingin melihat-lihat. Tidak ada yang berdiri di bawah pohon belimbing sambil menatap pintu depan yang ramai.

Bocah itu berkulit gelap. Tipikal anak kampung sekitar sini yang suka main layangan. Bajunya juga dekil. Gambar superhero yang tak kukenal. Oh, tunggu... aku kenal. Itu Power Ranger. Bocah itu menatapku sambil memiringkan kepalanya. Tampak tertarik.

“Kenapa, dek? Kok nggak masuk?” sapaku.
Dia diam untuk beberapa saat. Matanya yang jernih menelitiku. Sungguh, deh. Matanya jernih. Seolah ada selaput air yang bersih di lapisan paling atas. Satu-satunya bagian dari dirinya yang tidak tampak dekil.

“Namanya siapa?” tanya bocah itu.
“Nama kakak, Niko. Adek namanya siapa?”
Dia tidak menjawab.

Malah, bocah itu mundur. Hanya dua langkah saja. Hanya demi memerhatikanku lebih luas lagi.
Aku mengerutkan alis heran. Kenapa dia?
“Mana temen-temennya, Dek?”
Kali ini, dia langsung menjawab. “Nggak ada.”
“Nggak datang?”
Dia mengangguk.

Selama beberapa detik, dia hanya diam saja di sana. Memperhatikanku. Sesekali kepalanya miring, sesekali menatap perutku. Kemudian, Sissy datang sambil membawa tiket untukku. Dan, anak itu pergi. Berlari ke belakang rumah melewati lorong kecil di samping sebuah kamar. Mungkin dia anak salah satu pengunjung di sini.

“C’mon Bitch, lewat sini. Aduh, aku nggak sabar pengin lihat lagi tahun ini displaynya kayak gimana,” kata Sissy. Padahal, ini sudah kali ketiga Sissy ke sini. Mungkin dia sudah hafal lekuk-lekuk sudut rumah ini. Namun selalu saja dia tampak antusias.

Kami memasuki balkon dari tegel abu-abu yang berdebu. Ada tanaman rambat dikondisikan di pinggir pagar balkon, beberapa orang duduk di sana sambil membahas semua hal yang ada di sini. Namun Sissy langsung menarikku ke dalam. Masuk ke ruang tamu yang ramai. Dipenuhi lukisan-lukisan.

“Ini bukan asli si nenek dukun itu,” kata Sissy sambil menunjuk semua lukisan itu. “Ini paling... lukisan sampah biar pamerannya serem. You know, lah, Dear... Sebab tahun kemarin aku nggak ngelihat ini.”
Ada lukisan Nyi Roro Kidul, ada lukisan kereta kencana, ada juga lukisan wanita bergaun putih di depan pohon pisang.

Di ruangan itu pun ada sofa yang diduduki nyaris oleh semua pengunjung. “Pasti kursi ini pernah didudukin sama si dukun!” kata salah satu pengunjung. “Mungkin sama kuntilanaknya juga!” Lalu mereka merinding dan haha-hihi, sambil dengan centilnya pindah ke ruangan lain. “Serem ya, serem...”

Kalau bukan karena Sissy dan Derry, seratus persen aku tidak akan datang ke sini dari inisiatif sendiri.

Sissy mengambil salah satu brosur sejarah Tumaninah. Dia memberikannya padaku dan membiarkanku membacanya. Lalu, selama sepuluh menit berikutnya, Sissy akan melompat dari satu display ke display lain. Asyik sendiri. Di belakangnya aku mengekor. Membaca ulang brosur, atau melipat-lipatnya.

Oke juga, sebenarnya.
Iya betul, rumah ini cukup seram.
Minus manusia genderuwo yang katanya anak jin itu, ya... Karena Sissy sejuta kali bilang mereka nggak ada hubungannya sama si nenek dukun.

Ada kamar-kamar tidur yang didisplay menyeramkan. Ada kamar sang cucu. Dibuat rapi dan bersih. Selimutnya terlipat dengan baik. Lemarinya berdiri tegak dekat jendela. Oh, aku ingin sekali punya kamar seperti ini. Menghadap langsung ke halaman depan. Meskipun di balik jendela berteralis yang menyeramkan.

Di beberapa bagian, ada stiker yang menunjukkan sejarah ruangan ini. Misal, di atas lemari, ada stiker bertuliskan, “Kuntilanak pernah duduk di sini.” Atau di salah satu sudut dekat nakas, “Hantu Tukang Kebun bergentayangan di sini.”

Astaga. Konyol.
Sumpah, deh. Bisa-bisanya ada ratusan orang yang rela membayar tiket demi melihat ruangan kosong yang ditempeli stiker. Kalau begini caranya, aku bisa menempel, “Ada pocong melompat-lompat di sini,” di warung lotek Ibuku, lalu menjual tiketnya supaya orang-orang bisa melihat.
Aku kasihan pada orang-orang di sini. Sungguh. Mereka jelas-jelas tertipu.

Sissy bergerak ke ruangan lain. Aku membuntutinya. Kadang kami berpisah. Misal Sissy asyik melihat display sesajen di ruang tengah, sementara aku masuk ke dapur yang dipenuhi makanan lezat. Namun, makanan itu untuk display saja. Konon katanya, menurut info bar di situ, anak tukang kebun selalu membuat makanan-makanan enak... yang ada racun di dalamnya.
Aduh, apaan sih?

Di ruangan lain, ada satu tempat di mana proyektor disorotkan ke sebuah tembok. Selama bermenit-menit diputar semua video YouTube yang pernah diunggah si nenek. Dia tidak pernah sendiri dalam video itu. Kadang berdua dengan temannya, kadang se-RT bikin video. Selalu saja ada penampakan kuntilanak dalam video itu—yang sudah kutonton sejuta kali gara-gara Sissy memaksaku menontonnya. Di bagian dinding yang lain, ada footage Masih Dunia Lain, liputan TvONE, hingga Discovery Channel, yang semuanya pernah menggunakan rumah ini sebagai objek acara mereka. Masih di dinding yang sama, ada pigura cantik dengan foto Tukul Arwana dan Citra Prima, berfoto di halaman belakang bersama kru. Acaranya Mister Tukul Jalan-Jalan.

Ini benar-benar berlebihan. Semistis apa emangnya rumah ini?
“Argh!”
Astaga! Bocah itu muncul lagi!
Tiba-tiba saja dia ada di sampingku. Berdiri sambil menatapku dengan tatapan antusias. Aku mengurut dada karena kaget. Setelah merapikan napas, aku bertanya padanya.
“Adek sendirian di sini?”
Dia tidak menjawab.

“Adek kenapa, sih?” Aku sampai jongkok untuk menyamakan posisi. Bocah itu tak berekspresi sedikit pun. “Adek mau kakak temenin keliling?”
Dia diam sejenak. Namun, tak disangka-sangka... dia mengulurkan tangan.
Oke, mungkin dia butuh teman. Dari pada dia mengagetkanku untuk yang ketiga kalinya, aku genggam saja tangannya. Kubawa dia ke ruangan lain. Mengamati semua display tidak penting yang dipamerkan.

Jujur saja, tangannya dingin. Seolah dia baru memegang es, lalu dia memegang tanganku. Namun aku tidak mempedulikan itu. Karena, bocah itu tak memperhatikanku lagi. Dia justru ikut menikmati display-display bersamaku.
Sissy gabung bersama kami beberapa menit kemudian. Tampaknya dia tidak keberatan dengan kehadiran bocah kecil yang kutuntun sepanjang pameran. Sissy hanya peduli pada misteri rumah ini. Menceritakan ulang padaku tentang rumor hantu tukang kebun dan perjanjian setan. Memasuki ruangan penuh display foto seorang anak. Lalu ruang tengah yang menjadi background semua video tadi. Hingga halaman belakang yang ada galian tanah sedalam satu meter. Sissy bilang, anak tukang kebun dikubur hidup-hidup di sini.

Aku menoleh ke bocah yang masih asyik kutuntun. Dia pun menatap lubang itu penuh minat. Nyaris saja aku berpikir bocah ini adalah anak tukang kebun yang dikubur hidup-hidup di sini. Maksudku, kehadirannya misterius. Mungkin saja dia hantu. Meski itu tak mungkin.

“Aku ke toilet dulu,” kata Sissy kemudian. “Kamu tunggu di sini ya, Ko. Kayaknya lama, sih. Sebab dari tadi ngantri.”
“Oke, aku masuk ke ruangan sana aja, ya.”
“Oh, iya. Bener. Masuk sana. Itu workshop tukang kayu. Banyak pigura cantik di sana.”
“Ayo,” kataku ke si bocah.


Kami lalu masuk ke workshop kecil di halaman belakang. Ada beberapa orang di sana, mengamati display pigura-pigura kayu. Ruangan ini tidak terlalu seram. Namun lebih baik. Setidaknya tidak ada stiker yang bertuliskan, “Kuntilanak pernah nongkrong di sini.”

Aku melihat-lihat selama semenit. Lalu, berhenti pada satu pigura cantik selama tiga menit. Pigura itu sederhana. Namun, dipahat dengan sempurna. Ada satu ukiran cupid di atasnya, sedang mengacungkan busurnya. Selain aku, ada juga satu cowok yang memperhatikan pigura ini lebih dari satu menit. Lumayan cakep cowoknya. Berwajah bulat, berkacamata, dengan jaket kulit cokelat. Perutnya agak buncit, tapi justru itu bikin imut.

“Saya suka pigura ini,” kata cowok itu kemudian.
Aku celingukan sesaat, memastikan kalau akulah yang dia ajak ngobrol. Benar, aku. Dia juga tidak sedang menelepon. “Iya,” balasku. “Simpel tapi bagus.”
“Lihat itu detail cupidnya. Penuh misteri.”
Misteri apanya? “Cupidnya bagus.”

Kami terdiam sepuluh detik. Lalu, dia menoleh. “Sering ke pameran ini?”
“Eh, nggak pernah. Ini baru yang pertama.”
Dia tersenyum lebar. Tampak manis sekali. “Saya sih suka yang berbau-bau misteri. Bukan hantunya, tapi misterinya. Rumah ini banyak misteri yang bisa dipecahkan.”
“Misalnya?”
“Misalnya tentang... di mana cucu si nenek sekarang.”

Misteri macam apa. Aku sampai mendengus dalam hati. “Udah dipecahkan?”
“Belum.” Dia menggesek dagu sambil melipat tangan di depan dada. “Misteri di sini rumit. Saya udah dua tahun terakhir nge-track misteri rumah ini, Kang. Nggak nemu-nemu jawaban yang memuaskan.”
“Buat apa emangnya kalau udah ketemu?”
“Buat buku.” Lalu dia tersenyum.

“Saya Faisal,” katanya, mengulurkan tangan. “Saya fotografer. Saya lagi mau bikin buku tentang misteri rumah ini. Semua sudut udah saya capture. Tinggal cerita di baliknya.”
“Oh, oke... saya... Nico.”
“Ada kartu nama?”
Dia pikir aku pengusaha? Aku menggeleng.
“Nomor telepon deh kalo gitu,” katanya. “Kali aja bisa aku jadiin narasumber. Misalnya bagian, ngng... pendapat warga sekitar.”

Astaga. Aku juga bukan warga sekitar. Rumahku jauh dari sini.
Namun, tanpa banyak bicara, aku berikan juga nomorku, dan dia memberiku kartu namanya.
Ah, betul. Dia fotografer. Tercetak jelas di atas kartu.

“Udah nemu apa aja?” tanyaku.
“Yaaah... beberapa, lah. Misteri anak tukang kebun dikubur hidup-hidup itu udah saya dapat info akuratnya.”
“Oke.” Kami melihat lagi ke pigura itu beberapa saat. “Kalau pigura ini? Ada misterinya?”
“Bisa jadi, iya. Bisa jadi, nggak.”

Kami terdiam lagi. Kali ini, aku fokus pada celah kecil antara pertemuan kusen pigura. Seolah pigura itu tidak dipaku dengan rapat. Hanya celah kecil saja, tapi mengganggu. Rasanya seperti pigura ini akan jatuh dan tercerai berai.

“Sayang, ya. Bagian ininya nggak rapat,” kataku.
“Mana?” Faisal mengeluarkan kameranya lalu memotret. “Oh, iya. Padahal barusan nggak kayak gitu, ah.”
“Masa?”

Kalau begitu, sejak kapan celah itu ada di sana?
Sejujurnya, aku juga tidak menemukan celah itu ketika tiga menit menatap pigura ini. Tahu-tahu saja celahnya muncul dan mengganggu sistem OCD-ku.

“Ini baru,” ujar Faisal. “Beneran, tadi nggak ada celah ini.”
Tiba-tiba saja Faisal berubah antusias, lalu memotret berkali-kali celah tersebut. Seolah ini penemuan baru. Maksudku, itu hanya celah kecil. Aku sering sekali membuat kerajinan tangan. Ketika kutempel dengan lem, semuanya tampak sempurna. Ketika aku menoleh dan kembali lagi, tempelannya sudah terangkat. Semua sangat wajar terjadi. Tidak perlu seantusias itu, seharusnya.

Semua orang di sini sama saja.

Eh, tunggu. Sepertinya ada sesuatu di balik celahan itu. Samar-samar, aku bisa melihat benda kecil menyembul dari dalamnya. Tidak jelas, sih. Tapi karena aku menyipitkan mata, mendekatkan pandanganku ke celah, aku menemukan sesuatu tertanam di sana.

“Ada sesuatu di situ,” kataku.
“Mana?” Faisal memotretnya dulu sebelum dia ikutan mengamati. “Kertas, ya?”
“Kertas rahasia?” kataku sambil tertawa.
Namun, Faisal tidak tertawa. Dia tampak serius. Mungkin baginya, memang benar itu kertas rahasia.

“Kita boleh buka ini nggak?” tanya Faisal.
Aku menoleh sekitar. Sebenarnya tidak ada petugas jaga sih di sini. “Kayaknya jangan, deh. Lagian paling itu cuma cacat kecil aja. Nggak ada apa-apanya. Mungkin itu cuma serpihan koran yang masuk ke dalam pigu—“
Terlambat. Faisal menarik celah itu sampai terbuka.

Struktur pigura itu terdiri dari dua kayu yang ditempel depan belakang. Satu kusennya dapat dibuka dengan mudah oleh Faisal. Mungkin lemnya kurang terpasang dengan baik? Faisal sempat celingukan mengecek sekitar. Memastikan tidak ada yang melihat.

“Apa ini?” Faisal menarik sebuah jurnal lusuh dari balik rangkapan kusen itu. Bentuknya seperti jilidan makalah. Tanpa sampul. Terdiri dari berlembar-lembar kertas, digulung, dan dijejak ke dalam kusen. “Buat ganjel?”
“Nggak mungkin,” kataku. Sebab, struktur kusen yang lain tampak kuat. Aku memeriksa kusen yang dilepas oleh Faisal. Ada lubang yang sengaja diciptakan untuk menyimpan jurnal itu. “Ini disengaja.”

“Ini misteri,” simpul Faisal. “Mungkin petunjuk?”
Astaga. Mana mungkin sih itu petunjuk. Bisa jadi itu cuma akal-akalan penyelenggara supaya semua hal di rumah ini tampak misterius. “Apa isinya?” tanyaku.
Faisal menggeleng. Tangannya sibuk membolak-balik kertas. Tidak ada apa-apa di sana.
Kosong.
Hanya berlembar-lembar kertas kuning yang kosong.

“Ada pesan rahasia,” ujar Faisal.
Ya ampun, apalagi.
“Lihat ini!” Faisal menggosok-gosok sedikit ujung kertasnya. Tampak serapan minyak muncul dari kertas, membuatnya transparan. Ketika kertas itu diarahkan pada cahaya, ada serentetan tulisan.

Tentunya tulisan yang tak terbaca. Aku bisa mendeteksi huruf A, atau M. Namun sisanya blur.
Apa benar ini pesan rahasia?
Maksudku, semua orang menyimpan rahasia di otaknya masing-masing. Ibu tak pernah menuliskan rahasia belatungnya di kertas apa pun. Ayah tak pernah menyembunyikan rahasia Neng Surti-nya di pigura apa pun. Dan kini ada jurnal “rahasia” dari balik pigura?

Ada sedikit rasa penasaran membuncah dari diriku. Bisa jadi ini akal-akalan penyelenggara. Namun sekonyol apa pun itu kelihatannya, pasti ada maksud tertentu menyembunyikan jurnal tak terbaca di kusen pigura. Barangkali kami bisa mendapat grand prize ketika berhasil menebak jurnalnya? Barangkali Faisal bisa menemukan kunci semua misteri yang dicarinya? Siapa tahu, kan?

“APA-APAAN INI?!”
Dari dalam rumah, kami mendengar sayup-sayup orang berteriak. Semua orang di workshop bisa mendengarnya, karena kami semua menoleh ke arah pintu bersamaan. Aku dan Faisal bertatapan. Orang-orang di workshop itu juga. Dalam waktu singkat, kami semua menghambur keluar, ingin tahu apa yang terjadi.

“KAMU PIKIR INI BAHAN CANDAAN, HAH?!”
Ada seorang lelaki berkemeja putih membentak petugas jaga. Lokasinya tepat di dekat dapur. Semua pengunjung membeku, menonton adegan dramatis itu. Lelaki itu nyaris menonjok petugas jaga, tetapi ada seorang wanita socialite di belakang lelaki kemeja putih yang menahannya.
“Udah, udah, ah... malu... It’s so lame, Darling!” kata wanita itu.

Lelaki itu bertubuh tinggi, berbahu lebar. Dari lencana yang menempel di dada kirinya, dari strip yang bertengger di bahunya, aku bisa menyimpulkan dia pilot. Dasinya gelap, dengan bros pesawat menempel. Salah satu tangannya juga menenteng jas hitam besar dengan bros dan kancing emas. Aku belum pernah naik pesawat. Aku juga belum pernah bertemu pilot. Namun dari semua film-film yang kutonton, dia jelas seorang pilot.

Lelaki itu, jujur saja, tampak mempesona. Mengenakan seragam ngepas badan. Yang menjadi ngepas karena tubuhnya berotot. Rahang mukanya jelas, dengan bekas cukuran seperti model Eropa. Wajahnya juga enak dilihat. Seperti dewa yunani. Seperti Hermes. Ketika dia marah-marah, dia tampak berenergi.

Aku selalu suka lelaki yang berenergi.

“Kamu pikir kamu siapa, hah?! Mana bos kamu?!” kecam lelaki itu.
Wanita yang kuduga istrinya itu mencoba menengahi. “Udah, ah, Darling. Jangan loud-loud. Slow down aja suaranya. Kita kan baru arrived—“
“Ini keterlaluan!” pekik si lelaki.

Sambil melempar jas pilotnya pada sang istri, lelaki itu menarik petugas jaga masuk. “Bawa saya ke bos kamu! Cepat!” Lalu semua pengunjung berbisik-bisik. Dari halaman belakang, aku masih bisa mendengar lelaki itu berteriak. “Kalian pikir Nenek ini manusia purba, hah?!” Diikuti si istri yang juga masuk ke dalam.

“Siapa itu?” tanyaku.
Faisal mengangkat bahu. “Saya juga baru lihat. Tahun kemarin nggak ada drama kayak begitu.”
“Apa itu cucunya?”
“Bisa jadi.”

Semua orang terkejut dengan kehadiran lelaki gagah itu. Sekumpulan orang langsung mencatat, sekumpulan lain langsung berhipotesa. “Pasti itu cucunya, saya yakin!”
“Ah, bukan. Paling itu aktor.”
“Nggak, kok! Beneran. Sebab dia marah-marah. Mungkin itu cucunya yang hilang. Disantet mungkin, terus hari ini sadar.”

Ngomong-ngomong soal cucu, aku tak menemukan lagi bocah yang seharian ini ada di sampingku. Dia sudah hilang entah ke mana. Entah kapan. Mungkin dia kembali pada orangtuanya?
“Kamu lihat anak kecil yang tadi ada di samping aku?” tanyaku.
Faisal menggeleng. “Anak kecil?”
“Yang pake baju Power Ranger.”
Faisal mengingat-ingat. “Aku nggak lihat anak kecil dari tadi. Anak kecil yang kayak gimana?”
“Yang sama aku pas masuk. Pas lagi lihat pigura aja masih ada, kok.”

Faisal mengerutkan alis. “Bukannya sedari tadi kamu sendirian?”
Sendirian?
Aku ingat sekali membawa anak kecil itu masuk ke dalam workshop. Apa dia kabur ketika aku melihat-lihat pigura cupid itu?



to be continued...

12 comments:

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

thanks setelah sekian lama dalam ketidak pastiaan akir nya keluar juga se engga nya bisa keliatan sedikit tentang akir nya but tetep di tunggu lanjutan nya.

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Gk di update bikin penasaran,,
Setelah diupdate malah makin penasaran ajeeeee,,,
What was happened there? What have done to agas n diki n all the mistery?
And what will become of them?
Wuaaaaa
#treak treak

--

The Baron

Dazz said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

@Baron

Ngapain treak treak?
tuh dokternya sudah datang
^^

muhammad husain said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Ane punya feeling kalau si Nico ini adalah DENNIS ..... !!!!!

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

ohhhh ternyata zaki telah kembali,,,, ini pov'y niko aka belo or dennis,,,,
asikkkkkk "friday night" mau di rilis,,,, thanks banget buat @mario sebastian dan @dazz

gay FOR U said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Wow cara berceritanya asik banget.narasinya renyah dan lancar.penulisnya udah layak nerbitkan novel kayaknya.
ditunggu ya kunbalnya.
www.gayceritaku.blogspot.com
ada cerita yang beda lho.

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Tapi tetep kecewa Cazzo dgn +tak usah dsebut+. Cocoknya dgn Agas, Dicky dan Zaki kan abangnya Agas

Owner List said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

ini masih lama terusannya apa udah gak ada terusannya?

Owner List said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

ini masih lama terusannya apa udah gak ada terusannya?

Dazz said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

@Owner List nyicil lanjutannya neh :(

Vene Nara said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Yang Lelaki hangan di bawah hujan deras nggak bisa dibuka, kenapa ya?

tiara olifia said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Agas......kamu dimana???ga diculik setan kan ya?
kok sedih ya si Granny dikenal sbg dukun gini pas udah tiada.....panteslah bang Zaki ngamuk!
pas dibilang anak kecil berkulit gelap ga mikir,tapi pas baca 'baju Power Ranger' langsung inget Dennis.

Post a Comment