DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Dokumen Rahasia [Do Not Open] - Lelaki Sebengis Bara Api

Lelaki Sebengis Bara Api
by MarioBastian




Jadi, apa rahasia tergelapmu?

Aku tahu, Ibu selalu menyembunyikan uang penghasilannya dari Ayah. Ibu jualan lotek depan rumah. Ada petis kangkung, ada rujak buah juga. Kami sekeluarga tahu berapa omset Ibu per hari. Namun kalau dapat lebih, Ibu akan menyimpannya di tempat tersembunyi. Pernah waktu itu aku memergokinya. Dengan cemas Ibu menasehatiku, “Jangan bilang-bilang Ayah. Nanti Ibu beliin kamu baju baru.”

Aku pandai menjaga rahasia. Jadi aku punya baju baru.
Belinya di Cimol Gedebage.

Ayah juga punya rahasia. Ayah sering ngintip Neng Surti mandi di rumah kontrakannya. Kami tinggal di sebuah kampung kota, bilangan Pasteur bagian utara. Rumah kami berhimpitan di dalam gang. Ada yang kontrakan, ada yang milik sendiri. Beberapa ilegal—membangun rumah di atas tanah orang, dua lantai dari kayu-kayuan. Neng Surti salah satu yang tinggal di rumah kontrakan. Kamar mandinya berjamaah bersama tiga belas rumah kontrakan di sekitarnya. Berupa sumur berlumut (yang pernah kuceburkan kucing ke dalamnya), dan tembok rendah yang keropos. Kalau kamu cukup tinggi, siapa pun yang sedang mandi di sana, bisa kamu intip alat kelaminnya. Nah, aku pernah memergoki Ayah memandang lama ke arah sini saat Neng Surti mandi. Ayah bilang, “Kamu jangan bilang Ibu. Nanti Ayah beliin kamu sepatu baru.”

Aku pandai menjaga rahasia. Jadi aku punya sepatu baru.
Belinya di Kings, pinggir jalan. Mungkin dua puluh ribuan.

Namun tak semua rahasia berakhir manis layaknya baju dan sepatu baru. Pagi pertama liburanku di Bandung, aku harus pandai-pandai menjaga rahasia lagi. Kali ini tersangkanya tidak akan membelikanku apa-apa. Dia justru akan melecehkanku secara seksual sebagai hadiah.

“Ini bubur Mang Oyo. Tapi yang di depan gang, bukan yang terkenal itu,” kata Ibu sambil menarikku ke ruang makan. “Makan dulu, Ko. Udah gitu bantuin Ibu rebus kol buat lotek.”
“Tapi siang ini aku mau ke luar, ya. Main sama Wanto.”
“Iya tapi rebus kol dulu.” Jeda beberapa saat. “Sama ulekin kacang.”

Sarapan pagiku di hari libur selalu begini. TV di channel Spongebob, Ibu di singgasana paginya: ruang makan. Dia atas meja makan tidak hanya bertengger sarapan kami sekeluarga, tetapi juga sayur-sayuran dan buah-buahan untuk manifest warung Ibu.

“Kamu naik apa kemaren? Naik bis ekonomi yang tiga puluh ribuan, kan?”
“Iya,” dustaku.
Aku pandai menjaga rahasia. Tak akan kubilang kalau aku naik Argo Parahyangan. Harga tiketnya Rp90.000,-. Mengapa? Terakhir aku bilang aku naik kereta kelas bisnis, harga lima puluh ribu, Ibu menceramahiku soal: Betapa Rp20.000,- bisa berguna untuk beli bawang merah, kangkung, Royco, telur seperempat, sampai minyak goreng yang banyak, dan kamu habisin untuk kereta bisnis?! Nggak tahu kamu, kalau kereta bisa anjlok?!

Jadi sebaiknya, aku jaga rahasia transportasi umumku.

“Kemarin Derry nanyain,” kata Ibu. Sendok yang kupegang nyaris jatuh. “Apa bener, katanya, kamu lagi liburan ke Bandung? Ibu jawab iya. Tapi semalem kamu udah tidur, Ko. Jadi dia bilang mau jemput kamu pagi ini.”
Perutku mulas.
“Dia makin kayak preman, kelihatannya.”
Nafsu makanku hilang.
“Minggu kemaren dia tonjok-tonjokan ama si Doni. Kamu tahu Doni, kan? Yang dari RT dua. Ibu nggak ngerti, kenapa kamu tuh nge-fren pisan ama si Derry. Dia kan tukang mukul. Kamu pernah dipukul nggak?”
Aku menggeleng. Lagi-lagi untuk menjaga rahasia.

“Pokoknya yang pasti, kalo kamu mau ketemu si Derry,” lanjut Ibu. “Rebus kol dulu.”

Derry datang tepat ketika kol Ibu selesai direbus, dan kacang-kacang selesai diulek, dan mangga-mangga muda selesai kukupas. Derry tidak berdiri di depan pintu depanku. Tidak memanggilku seperti, “Nikooo.... Main, yuuuk...!” Dia akan berdiri beberapa meter di dekat rumahku. Bersandar pada tiang listrik. Menunggu. Menghabiskan rokoknya.

Aku tahu itu ketika aku meletakkan mangga-mangga muda di warung Ibu, dia ada di sana. Menatapku sambil menyipitkan mata. Menungguku untuk membuka acara.
Oh sial, batinku. Perutku langsung bergemuruh cemas.

Aku tak akan pernah bisa lari. Derry selalu tahu cara untuk mengejarku. Dia anak pemberani. Terlalu berani. Kadang-kadang kurang ajar. Atau seringnya kurang ajar. Dia kadang lupa kalau rumah orang ada pintu depannya. Dia juga kadang lupa, kalau pintu kamar bisa diketuk. Kalau dia ada di sekitar, sebagian orang menganggapnya burung Wiwik Uncuing. Burung pembawa kematian.

Bagiku, dia adalah lelaki sebengis bara api. Tampak kuat ketika dilihat, menyakitkan ketika digenggam.

“Nico!” panggilnya, sambil mengedik. Itu kode morse supaya aku membuntutinya.
“Iya,” jawabku, sambil menghela napas. “Beresin dulu warung Ibu aku ya...”
Derry lanjut merokok.

-XxX-

Lelaki sebengis bara api ini tidak tampan. Berbeda dengan lelaki berefek toko roti yang kutemui kemarin sore. Derry adalah anak dari Pak Haji Sulaeman. Dulu, Pak Haji Sulaeman warga kampung sini. Kemudian mendadak beliau kaya raya. Rumahnya pindah ke komplek elite dekat sini juga. Sampai saat ini, beliau sudah tiga kali naik haji. Semua orang kelihatannya harus tahu fakta itu. Dan harus memanggilnya dengan Pak Haji.

Karena kaya raya, Derry pun jadi anak orang kaya. Sekolahnya mahal-mahal. SMA-nya di Caralho International School, diantar jemput pake mobil, padahal lokasinya ada di Surya Sumantri, dekat-dekat sini juga. Kalau liburan biasanya ke Singapura, kalau diajak ngobrol hobinya bilang gue-elo. Sombongnya tiada tara. Pernah dia sengaja lewat di sepanjang gang kami. Naik motor gede-nya. Motor Fast Furious, katanya. Menyerempet semua orang di gang, merusak warung-warung. Bahkan, ulekan ibuku pernah jatuh dan pecah, diserempet Motor Fast Furious.

Derry jelas punya problem dengan jiwanya. Dia suka memukul. Suka melabrak. Suka seenaknya memerintah. Gosip terakhir sih, katanya, dia suka memerkosa.
Satu fakta yang tak akan pernah kulupa adalah sampel korban-korbannya Derry. Nyaris 80% banci. Maksudku, anak-anak kemayu, anak-anak alay yang dandan, atau kadang banci beneran yang mangkal di perempatan, adalah korban nomor satunya. Dia begitu benci segala aktivitas homoseksual.

Dan buatku, dia jago juga menjaga rahasia semacam itu.
Karena faktanya, mungkin dia juga homoseksual.

“Njing, sia nggak bilang ke aing sia ada di Bandung?!” sapanya ketika aku keluar untuk menemuinya.
“Baru juga nyampe kemaren,” balasku.
“Ya ngomong, atuh!” hardiknya. “Hayuk!” Lalu aku membuntutinya.

Gue elo dalam kamusnya sudah di-tipe ex, kayaknya. Setahuku, Derry di-drop out dari sekolahnya. Ada gosip beredar kalau dia memukul dan memerkosa siswa di sekolahnya. Sesuatu yang meski sekadar gosip, kami percaya itu bisa terjadi. Toh di kampungnya pun dia tukang pukul. Hanya saja, kejatuhan Derry di SMA-nya diiringi dengan kejatuhan Pak Haji Sulaeman. Katanya, Pak Haji juga mendadak miskin. Mobilnya dijual dan istrinya mulai berjualan lotek juga, persis ibuku.

Lalu Derry? Menjadi preman.
Setiap malam nongkrong di depan gang. Mabuk-mabukan. Godain karyawati kantoran, yang kebetulan pulang malam. Kalau mengobrol, dia semakin kurang ajar. Dirinya disebut aing, orang lain disebut sia. Menurut kamus Tatang Sutarma, aing dan sia adalah kata panggil paling kasar yang pernah ada di Bahasa Sunda.

“Ke mana, nih?” tanyaku.
“Sia jangan banyak omong. Hayuk!” serunya. “Njing, lelet pisan, sia!”

Aku tahu mau ngapain kami berdua. Yang belum kutahu adalah lokasinya. Karena biasanya... random. Bisa di mana saja.

Derry itu badannya besar, by the way. Bahunya lebar, ototnya kekar. Kalau rambutnya dipotong pendek, persis tentara nasional. Ada bekas codet di beberapa bagian wajahnya. Juga luka-luka, di lengan atau kakinya. Mungkin habis tawuran dan menghajar orang yang kurang ajar padanya.

Kami tiba lima belas menit kemudian. Menyeberangi jalan Pasteur, masuk ke gang sempit lainnya. Ada satu rumah kontrakan yang cukup sepi. Derry membawaku ke lantai dua. Sempit, dari kayu. Ke sebuah ruangan pengap bau kayu basah. Dengan lantai dan dinding berlapis kertas karpet. Dengan penerangan seminim warung remang-remang.

Jendela kamar itu tertutup tirai usang warna cokelat kedebuan. Hanya ada kasur tipis yang berantakan, lalu meja yang ditumpuki bebajuan, asbak-asbak berisi puntung yang lupa dibuang, hingga radio jaman Adam Jordan masih bergentayangan. Mungkin ini tempat persembunyian Derry sekarang. Tempatnya melepas tantrum atau pacaran semalaman.

Ketika kami sampai, tidak ada kursi. Aku duduk di atas kasurnya yang nyaris setipis kertas, memerhatikan Derry yang mengunci kamar kontrakan ini. Derry menarik napasnya dalam-dalam. Dia memastikan jendela tertutup rapat, tak ada yang sanggup mengintip kami. Kemudian dengan cepat, Derry menelanjangi dirinya sendiri. Seluruhnya. Sebulat-bulatnya.

Jantungku deg-degan ketika melihat Derry menyusupkan tangannya keluar dari kaus bau apeknya. Lalu celana punk-nya melorot, dan celana dalamnya dilempar sembarangan. Derry telanjang, para pemirsa. Lekuk badan bongsornya, alat kelaminnya yang mengayun-ayun, dan semua jembut-jembut di seluruh tubuhnya, dipertontonkan di depan mukaku.

Tanpa banyak bicara, Derry nungging di sampingku. “Masukin!” titahnya. “Pake ludah sia!”

Inilah, Kawan, rahasia yang kusimpan tanpa aku mendapat baju dan sepatu baru. Rahasia seorang preman yang selalu memaksaku menjadi budak sodominya.

-XxX-

“Sori aku telat.”
“Kamu tuh, ya... Plis, deh. Aku jemput aja, napa?”
“Rumah kamu kejauhan, Sis. Tanggung amat dari Cicadas, mau ke Setiabudi, pake jemput aku di Pasteur segala.”
“Ya nggak apa-apa, kéleus. Kan aku naik motor.”
“Aku mesti beres-beres dulu. Nggak bisa langsung berangkat.”

“Kamu nggak susah kan nyari tempat ini?”
“Nggak. Kan kamu bilang, di Tomodachi belok kanan aja. Aku tadi jalan dari Tomodachi ke sini.”
“Naik angkot?”
“He-eh. Cuma sekali, kok. Eh, ini tempat baru, ya?”
“Embeeer... Aku pilih di sini sebab ada,” Sissy melirik ke arah pantry, “pelayan yang cakep. Hihihi...”

Nama tempatnya, Bamboo Dimsum. All you can eat. Sejak aku kuliah di Jakarta, aku jadi kuper soal wisata kuliner di Bandung. Jadi, begitu janjian makan siang dengan Sissy, aku pasrahkan lokasi tempat makannya pada banci yang satu ini. Lagipula dia yang bayarin, katanya. Merayakan aku yang liburan semester di sini.

Kenalkan Sissy. Nama aslinya Siswanto. Di depan manusia heteroseksual, aku memanggilnya Wanto. Kecuali saat kami sedang berdua, atau kami sedang bersama banci-banci lainnya, dia bersikeras dipanggil Sissy. Pernah waktu itu ingin dipanggil Prisil juga. Namun untung tak bertahan lama. Sissy adalah karib terdekatku sejak jaman SMA. Kami berbagi banyak hal, termasuk orientasi seksual kami yang sama. Ke mana-mana pasti bahas lelaki dan lelaki. Atau kadang banci-banci. Sissy adalah Tim Christina, sementara aku Tim Britney. Di mana otomatis aku sudah punya Perez Hilton sebagai sekutuku.

“Aku punya lekong baru. Eeemmm... cucok!”
“Ketemu di mana?”
“Chatting, dooong! Di mana lagi?” Sissy memutar bola mata seolah itu sudah jelas. “Aku kan masih aktif MIRC, Sayaaang... Tuh, semalem aku baru ketemuan di BIP. Namanya Ali.”
“Ganteng buanget atau apa gitu?”
“Buangeeet!” Kami berdua tertawa.

“Nah, kamuuu... nggak ketemu yang ganteng-ganteng gitu akhir-akhir ini?”
“Nggak,” jawabku. Kemudian, teringat kemarin. “Ada, sih. Tapi cuma ketemu doang.”
“So pasti, laaah... Dengan kita makan di sini aja, kita udah ketemu cowok ganteng—eh, orangnya datang.”

Di Bamboo Dimsum, pelayan akan datang membawa nampan dengan mangkuk-mangkuk bambu berisi dimsum di atasnya. Pelanggan boleh mengambil semua, beberapa, satu, atau tidak sama sekali. Makan sebanyak atau sesedikit apa pun, harganya sama. Syaratnya, harus habis. Kalau bersisa, nanti kena charge. Namun agenda Sissy di sini tentu bukan karena sistem yang unik itu. Melainkan memang satu pelayannya tampan. Efeknya seperti Hello Kitty. Ketika lelaki itu datang, aku jadi ingin mengelus pipinya yang mulus, atau bercengkrama dengan wajahnya yang memikat.

Boleh kukatakan, dia persis bintang film ganteng dari Thailand. Yang film beneran, ya. Bukan yang biru-biru.

Pelayan tampan itu menghampiri meja kami dan menawarkan beberapa macam dimsum. Sissy sengaja berlama-lama dengan menanyakan, “Yang ini isinya apa? Kalau yang ini isinya apa?” Lalu dia akan memutar lagi telunjuknya ke dimsum yang lain, yang kadang-kadang sudah pernah dia tanyakan sebelumnya. Lama-lama mungkin dia akan bertanya, “Kalau yang bawanya, nomor teleponnya berapa?”

Oh, betapa aku selalu terhibur dengan Sissy. Setiap aku curhat padanya tentang masalahku, dia selalu tahu caranya menghiburku.

“Jadi, cowok ini aku temuin di kereta,” lanjutku, ketika lelaki berdimsum seimut Hello Kitty itu pergi. “Kebetulan, duduknya di samping aku.”
“Gantengnya taraf apa?”
“Taraf BreadTalk. Yang kalo kita masuk mal, ada BreadTalk, kita pasti noleh gara-gara baunya.”
Sissy menyipitkan mata. “Ooowwwhhh... bakalan bagus, nih. Terus, gimana lanjutannya.”

“Lanjutannya adalah...” Aku menghela napas. “Dia ternyata udah punya pacar.”

Aku bertemu lelaki berefek toko roti di kereta kemarin sore. Lelaki itu manis sekali sepanjang Terowongan Sasaksaat hingga stasiun Bandung. Aku jatuh hati padanya. Belum apa-apa kami sudah berpegangan tangan. Belum apa-apa kami sudah punya panggilan sayang. Semua tampak surgawi sore itu. Saking indahnya, aku mencatat di ponselku, tanggal dan jam kejadian. Barangkali aku perlu mengingatnya lagi di masa yang akan datang.

Sayang, lelaki itu sudah punya pacar.
Worst, pacarnya lelaki. Di mana berarti, sebenarnya aku punya kesempatan lebih mendapatkannya.
Tapi makin parah adalah ketika lelakinya banci. Jenis-jenis yang kamu pasti berpikir, “Nggak panteeess...!”

Lelaki itu menawariku tumpangan pulang. Namun aku tentu nggak mau semobil bersama lelaki pujaanku, yang pacaran dengan banci, yang bahkan setelah dipikir-pikir... mending Sissy ke mana-mana dari pada si Ayank Seluler ini. Jadi aku naik angkot. Memutuskan kesempatan terakhir bersama lelaki berefek toko roti itu. Aku ambil resiko untuk tak pernah ketemu dia lagi. Toh, memang pasti dia bukan untukku. Toh, Tuhan pasti cuma agak mismatch aja sore itu. Aku nggak perlu berharap lebih. Aku anggap saja dia lelaki tampan lain, yang kujatuhi hati hari itu, lalu kulupakan begitu sampai di rumah.

“Namanya Cazzo,” kataku, menutup cerita.
Sissy mengerutkan alis. “Kejo?” tanyanya. “Nasi?”
“Cazzo. Dia bahkan spelling namanya sewaktu aku udah maksa-maksa buat pisah dan naik angkot. Che, a, zet, zet, o.”
Sissy makin bingung. Matanya menyipit. “Dan kamu milih naik angkot?”
Aku mengangguk mantap.

“Aku sih milih numpang,” kata Sissy.
“Dia udah punya pacar, Sis. Nggak enak, ah. Entar aku jadi sebel sendiri. Udah berapa kali sih kita sebel sama cowok cakep, yang pacaran ama cowok jelek, dan kita iri seirinya karena ngerasa Tuhan nggak adil.”
“Oh, bukan soal itu,” sergah Sissy. “Aku sih lagi anti naik angkot, maksudnya. Jadi kalau ada yang nawarin tumpangan... gratis... ya aku ambil aja.”
“Oh.”

Obrolan kami membeku selama beberapa detik. Sampai akhirnya Sissy memecah keheningan lagi. “Kamu tapi nggak jatuh cinta sama dia, kan?”
Aku mengibaskan tangan di depan muka Sissy. “Nggak, lah. Haha.” Ditambah tawa palsu.

Aku justru memikirkannya semalaman.

Pertama, betapa Tuhan nggak pilih-pilih siapa jodoh siapa. Kalau banci taraf kanker stadium empat saja bisa mendapatkan lelaki berefek toko roti, berarti mungkin Tuhan menentukan jodoh berdasarkan kocok dadu. Seriusan. Kamu harus bertemu AyySell ini. Badannya kurus, dengan wajah lonjong dan mata yang sangat besar. Kulit wajahnya juga rongsokan seperti bulan, banyak ranjau-ranjau darat berminyak di sana-sini. Yang semuanya ditambal bedak. Oke, lah, soal wajah. Aku nggak boleh bilang dia jelek gara-gara wajah, karena itu rasis namanya. Namun penampilannya berefek tepok jidat. Dia pake hot pants. Dari bahan jins. Dengan rumbai-rumbai seperti habis digunting. Lalu tanktop-nya garis-garis, dengan kalung suku pedalaman ditumpuk-tumpuk. Nyaris saja kuanggap dia dukun.

Atau bisa jadi dia dukun. Yang menggunakan ilmu hitam untuk mendapatkan Cazzo.

Semalaman aku gelisah nggak bisa tidur karena memikirkan pasangan tersebut. Belum lagi, kedua, kelihatannya aku masih jatuh hati mengingat lelaki itu. Aku sampai memeluk diriku sendiri. Membayangkan kuaran wangi tubuhnya, membayangkan genggaman tangannya, membayangkan jutaan terowongan yang rela kulalui demi pelukan hangat darinya.

Sampai-sampai aku, ketiga, berdoa pada Tuhan bahwa aku ada di posisi si AyySell ini.

“Tapi kalo orang Bandung, sih...” Sissy memutar otak. “Entar aku cari di MIRC, deh. Atau WeChat.”
“Dia rumahnya di Padalarang.”
“Oh.” Sissy memutar otak lagi. “Aku cobain Manjam juga. Planet Romeo juga. Badoo juga. Atau di Gay Indonesia Forum, barangkali dia ada di sana. Dia gay, kan?”
Aku mengangkat bahu. “Kelihatannya sih, nggak. Sampe part AyySell itu muncul.”

“Maksud kamu, dia manly, gitu?”
“Dia romantis.”
“Hah?”
“Eh, iya. Maksudnya manly. Kamu pasti nggak nyangka aja pokoknya.”

Sissy berpikir lagi. “Kayak si Dodol itu?”
Oh, tidak. Kenapa pembahasan jadi nyambung ke arah sana.

Dodol maksudnya Derry. Lelaki sebengis bara api yang pagi ini minta disodomi. Aku cerita panjang lebar semua tentang Derry. Kecuali namanya. Yang awalnya kusamarkan dengan “The D”, yang akhirnya Sissy ganti menjadi “Dodol”. Semua cerita tentang Derry pasti kuceritakan pada Sissy. Bahkan, aku sudah menyiapkan diri untuk menceritakan kejadian pagi ini.

“Kenapa muka kamu berubah?” Sissy mendeteksi aura gosip baru.
“Ya gitu, lah.”
“Dodol lagi?”
Aku mengangkat alis. Mengiyakan.
“Oke, cerita!”

Aku tak pernah menyangka, aku akan punya kehidupan rahasia sekelam ini. Jujur, pagi ini sudah kesejutakalinya, mungkin, aku berhubungan seks dengan Derry. Semua diawali ketika kehancuran keluarga Pak Haji Sulaeman. Aku masih ingat malam itu. Malam-malam di mana Derry sering berkeliaran dan membuat ulah. Malam-malam di mana aku paling takut pulang larut, meski aku pulang tarawihan. Malam itu ketika aku melewati sebuah kontrakan gelap... aku mendengar seseorang menangis.

Waktu kejadian, pukul dua belas malam. Tepat di RW enam. Aku sebenarnya berjalan dengan ketakutan. Melewati gang-gang sepi. Melewati kumpulan preman yang nongkrong di bibir jalan. Aku memutar ke sana kemari. Melewati banyak masjid gelap. Melewati banyak rumah kontrakan, dengan suara TV menyala sayup-sayup. Ada satu kontrakan yang lampunya remang-remang. Pintu kontrakan itu tepat menghadap gang. Dua pasang sandal juga diletakkan tepat di depan pintu, secara teknis menghalangi jalan.

Satu-satunya hal yang membuatku tertarik adalah suara tangisan dari dalam.

Karena penasaran, aku mengintip. Jantungku berhenti berdetak saat kutemukan lelaki sebengis bara api sedang dilecehkan di dalam. Derry telungkup di atas meja. Tungkainya terkulai ke lantai. Kedua tangan dan kakinya terikat entah ke mana. Dan dia... telanjang.
Namun bukan itu yang membuatku terkejut. Dia sedang disodomi.

Oleh pamannya sendiri.

Aku mematung mengintip kejadian itu. Tidak ada siapa-siapa lagi di sekitarku. Semua pintu kontrakan tertutup. Semua tetangga di situ mengunci jendelanya. Seolah mereka tahu, tapi tak mau ikut campur. Suara tangisan preman itu cukup jelas sebenarnya. Begitu teriris. Begitu tak berdaya.

Sang paman selesai dengan urusannya hanya dalam waktu dua menit. Paman itu dingin, tak ada kata-kata keluar dari mulutnya. Dia hanya membiarkan keponakannya terkulai menyedihkan di atas meja. Dia hanya peduli pada alat kelaminnya yang penuh pejuh dan pelicin. Dia mengelapnya dengan kaus Derry. Lalu, setelah bersih... dia mengencinginya.

Aku bersembunyi di balik sebuah gerobak bakso, lima meter dari sana, ketika sang paman sudah bercelana dan bergegas keluar. Kepalanya melirik kanan-kiri, mengecek apakah ada yang melihatnya atau tidak.
Tidak, pikirnya.
Dia lalu mengenakan sandal, merapatkan ritsleting celana, dan menutup pintu. Kamar kontrakan itu lampunya mati sekarang. Menyisakan isakan tangis yang mereda... tetapi memilukan. Ketika pamannya berjalan melewati gerobak bakso, jantungku seolah tak berdetak. Rasanya menegangkan sekali.

Aku menemukan diriku berjalan ke kontrakan gelap itu ketika sang paman belok di ujung gang. Entah ide busuk dari mana, mendadak aku menyelamatkan Derry. Maksudku, tidak ada yang suka Derry di sini. Dia lelaki yang membuatmu ketakutan, cemas, kadang kesakitan. Mungkin semua tetangga di sini senang ada orang yang mau memperkosanya. Mungkin justru sedari tadi mereka sengaja membiarkan.

Karena pintu dikunci, aku masuk melalui jendela. Derry sudah tidak terikat ternyata. Dia sedang terduduk di sudut. Masih telanjang. Masih terisak-isak. Aku mengumpulkan semua pakaiannya, termasuk kausnya yang basah penuh pejuh pamannya. Namun aku malah dihardiknya.

“Sia ngapain ke sini!”
“A-aku...” Sebagai homoseksual yang sering dianggap lemah, saat itu aku benar-benar merasa lemah. “Aku c-cuma... mau bantu...”
Derry menatapku dengan tajam. Napasnya memburu. Persis singa yang sedang ancang-ancang menerkam mangsanya.
“I-ini...” Aku menyodorkan semua pakaiannya. Mungkin sebaiknya aku pulang. Mungkin sebaiknya aku tidak lewat sini tadi.

“Awas kalo sia ngomong-ngomong ke orang!” serunya.
“Nggak. Nggak bakalan.”
“Ku aing gorok!”
“Iyah, digorok aja,” kataku. Maaf, saat itu aku memang ketakutan. Aku tidak tahu kata-kata yang tepat untuk menjawab pernyataan.

Dengan tangan gemetar, aku berjalan mundur. Derry mendadak terisak lebih keras. Dan dia bangkit. Dalam kegelapan, dalam cahaya remang dari lampu rumah tukang bakso di depan, aku bisa melihat tubuhnya keringatan. Alat kelaminnya bahkan masih tegang.

Lalu Derry memukulku. Tiga kali. Sambil menangis. Sambil meneriakiku, “Anjing! Anjing! Anjing!”

Aku pulang babak belur. Lukanya baru sembuh seminggu kemudian. Aku mengaku aku dikeroyok geng motor kepada Ibu dan Ayahku. Mereka percaya. Efeknya adalah aku tak boleh ikut kegiatan OSIS lebih dari pukul enam petang.

Yang tak bisa kupercaya, Derry mengunjungiku seminggu kemudian. Dia tampak segar dan gagah. Tampak sangat perkasa sebagai preman. Di lehernya ada kalung rantai perak yang membuatnya tampak tak terkalahkan. Aku gugup saat itu. Karena berarti Derry sudah tahu rumahku.

“Aku nggak bilang-bilang, kok,” kataku.
Derry hanya menatapku dengan keji. Dia menghabiskan rokoknya, lalu dia merangkulku. “Hayuk!” Persis pemalak yang awalnya merangkul korban, dibawa ke tempat sepi, lalu dihajar habis-habisan. Tidak ada Ibu dan Ayah yang bisa menyetopku saat itu. Tidak ada pula tetangga yang sadar kalau ini situasi gawat darurat, dan aku butuh pertolongan.

Aku dibawa ke lapangan. Ke sebuah sudut sepi, di balik pepohonan besar dan semak-semak. Nah, kan... aku pasti dipalak. Atau dihajar lagi seperti tempo malam. Kepala Derry celingukan, memastikan tak ada yang mendengarkan.

“Ngaku, Njing! Sia banci, lain?” tanyanya tiba-tiba.
Aku hanya menunduk ketakutan.
“Si Enur ngomong ke aing. Sia juga siga banci!”
Aku tak berani merespon. Aku tak mau sedikit saja gerak-gerikku mengundang bogem mentah darinya.

Derry mendengus nafsu. “Sia nggak ngomong, kan?”
Aku menggeleng.
“Bagus!” Lalu Derry sekali lagi celingukan, memastikan kami berdua sendirian. Detik berikutnya yang dia lakukan adalah melorotkan celananya.
Berbalik memunggungiku.
Menyodorkan lubang pencernaannya.
“Masukin!”

Itulah awal dari kegiatan rahasia yang selama ini kami lakukan. Kalau di Facebook ada pilihan “Relationship status: Anal”, aku dan Derry mungkin mendaftar. (Secara rahasia, tentu.) Derry selalu memintaku untuk membuntutinya, ke sebuah tempat tak terduga. Kadang alam terbuka, kadang di balik gerobak tukang sayur. Dia akan menyodorkan pantatnya, dan aku harus memasukkan kelaminku ke dalamnya.

Sejak itulah aku mengenal Derry sedikit demi sedikit. Kami tidak banyak bicara, sebenarnya. Namun aku bisa menarik kesimpulan, hanya dari desahan-desahan yang dilontarkan saat kugagahi dirinya. Persis mengigau. Misalnya, “Aaahhh... Si Mamang ontohod... aaahhh... nyolok aing waé, Anjing! Aaahhh... Yah, terus... Aaahhh....” Yang pada akhirnya menguak jalan cerita tentang mengapa Derry seperti itu.

Derry sudah dilecehkan pamannya sejak kecil. Apa dia gay? Tidak. Setidaknya, secara romantika, tidak. Dari dua juta kali hubungan seks kami, sebanyak dua juta aku yang menyodominya. Dia tidak tergiur dengan oral. Dia tidak peduli apa aku telanjang atau tidak. Dia tidak ingin alat kelaminnya aku hisap atau apa. Dia hanya peduli pantatnya ada yang menggagahi. Hanya itu.

Pernah suatu waktu aku tak sanggup menggagahinya, aku dipukul. Alhasil kami menggunakan mentimun untuk menggantikan alat kelaminku. Tentu saja harus aku yang menggerakkan mentimun itu. Karena Derry terbiasa diam. Dia terbiasa membungkuk, melebarkan kaki, membiarkan seseorang memainkan pantatnya. Yang paling aneh adalah, alat kelaminnya justru tegang kalau ada yang melakukan itu.

Namun Derry heteroseksual, kok. Aku pernah memergokinya mengintip Neng Surti juga, persis Ayah. Dia hanya korban traumatic dari sexual abuse. Yang membuatnya ketagihan diperlakukan seperti itu. Efek negatifnya adalah, dia juga senang melakukan kekerasan. Dia senang memukul. Apalagi pada cowok-cowok yang tampak lemah di matanya.

Bahkan, aku. Kalau aku kurang memuaskan, aku masih berkesempatan memenangkan tonjokan darinya.
Aku pernah bertanya, apa dia punya seseorang yang dia cintai? Dia hanya tertawa. Katanya, jangan ikut campur. Masukin lagi yang dalem. Ya, bagus. Terus. Aaahhh...
Jadi mungkin... bisa jadi, ya. Bisa jadi, tidak.

Aku sih berharap iya. Aku berharap ada orang lain yang mau menggantikan posisiku.

Bukannya aku tidak menikmati momen-momen itu. Maksudku, ada berapa gay sih di dunia yang mendambakan bisa menggagahi preman seperti Derry? Aku bertaruh: pasti banyak. Tubuh Derry besar, Kawan. Pantatnya empuk. Garis lekukan tulang belakangnya selalu membuat Derry tampak lebih macho. Belum bahu lebarnya. Belum otot-ototnya. Belum fakta betapa kuatnya dia.

Ketika lelaki sebengis ini justru tunduk pada alat kelamin kita, bukankah rasanya menyenangkan?

Pagi tadi pun seperti itu. Aku menggagahinya hingga siang datang. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk terpikat. Dengan fakta bahwa dia telanjang dan tak berdaya di tanganku, alat kelaminku bisa bekerja sama. Derry akan mendesah nikmat, seolah dia kehausan di padang pasir, lalu kamu memberinya segalon air. Kedua tangannya mencengkram kasur dengan senang. Tubuhnya bergidik dan menggelinjang. Aku sempat meraba-raba selangkangannya. Di balik jembut keriting itu, ada yang berdiri keras dan berdenyut-denyut.

Untuk pertama kalinya, Derry tidak melarangku menyentuh bagian situ.
Derry fokus dengan pantatnya. Pantat yang kehausan akan kehadiranku.

Perlu kamu tahu, paman Derry sudah tidak tinggal di sekitar sini lagi. Beliau menikah dengan pelacur entah dari mana, pindah rumah ke Sumatra. Sementara Derry, tak mungkin minta digagahi pada lelaki lain. Satu-satunya teman bermain Derry selama aku kuliah di Jakarta mungkin... mentimun.
Atau terong.

Pagi ini, Derry tampak bahagia. Aku bisa melihatnya dari orgasme tanpa intervensi. Yah, dia memuncratkan pejuh tanpa ada yang menyentuh kelaminnya. Tahu-tahu saja ketika aku mengintip ke bawah, kasur tipis itu sudah basah oleh seember pejuh. Berkali-kali, kayaknya. Karena Derry bergidik berkali-kali juga. Padahal, tanganku sibuk memegang pantat Derry. Tangan Derry sibuk mencengkram kasur tipis.

Seks berhenti ketika Derry kelelahan. Mungkin orgasme ketujuhnya. Aku sih belum memuncratkan apa-apa. Derry langsung terkulai lemas di atas kasur. Tampak puas. Tampak tercerahkan. Kalimat terakhir yang dia ucapkan adalah, “Besok sia ke sini lagi, Brad! Sip?! Awas mun sia nggak ke sini!”

Untuk pertama kalinya Derry memanggilku Brad.

“Dan kamu masih nggak punya perasaan ke dia?” tanya Sissy, dengan malas. Karena dia sudah menanyakan ini seribu kali kepadaku.
Aku menggeleng. “Hubungan aku ma Dodol cuma sebatas tempong-tempongan.”
“Ya tetep ajaaa... mestinya kamu jatuh cinta atau apa, kek. Pacaran, gitu. Kan lumayan, network dia preman-preman. Kamu bisa bebas dari ancaman geng motor.”
“Dia bukan gay, Sis.”
“Dia gay,” tegas Sissy. Seolah dialah yang lebih tahu Derry dibanding aku. “Dia bot sejati.”

“Tapi tetep, aku nggak cinta dia,” kataku. “Emang cinta dia tuh maksudnya gimana? Dengan horni ngelihat dia nungging, gitu?”
“Ya bukan, laaah... cinta tuh, kayak... mikirin dia semaleman, gitu? Nggak bisa tidur? Pas dia pegang tangan kamu, terus kamunya deg-degan gitu... pas dia ngelihat kamu, rasanya... whoaaa... dunia akhirat kamu bahagia...”

Begitukah rasanya cinta?
Secara teknis, jujur, aku tidak merasakan itu setiap bertemu Derry. Sama sekali tidak ada deg-degan bahagia. Yang ada deg-degan takut disiksa.
Namun, aku tahu satu orang yang mungkin tepat untuk deskripsi itu.

Lelaki berefek toko roti.

-XxX-

Baiklah. Aku bisa menyimpulkan. Barangkali ada ratusan malaikat sedang berdemo kepada Tuhan. Menuntut turun harga sembako, atau lanjutkan subsidi BBM. Barangkali gara-gara demo itu, Tuhan agak lupa pada nasibku. Nasib yang kukira akan selalu buruk hingga maut menjemput.

Dua sore berturut-turut, aku dipertemukan dengan lelaki berefek toko roti.
Ya. Lelaki yang itu.
Che, a, zet, zet, o.
Lagi.

Ini berarti, sedang ada kekacauan di surga sana. Karena aku yakin, mestinya keberuntunganku tidak sebagus ini. Tiga tahun terakhir aku melayani traumatic abuse seorang preman. Seharusnya aku salah satu orang sial yang pernah ada di dunia. Seharusnya ada meme dengan pas fotoku mengenakan rompi kotak-kotak. Bad Luck Nico.

“Woi!” sapa Cazzo. “Ngapain di sini?”
“Jalan-jalan aja sih, sebenernya. Mau main ke Gramed.”

Lokasi: Paris van Java. Naik angkot sekali dari Tomodachi, berhenti tepat di depan malnya. Sissy tidak bisa menjemputku karena Ali mengajaknya bertemu saat ini juga di Lembang. Mungkin mereka memesan hotel atau apa. Aku berencana mencari buku untuk dibaca selama dua minggu ke depan. Namun, taadaaa... Tuhan mempertemukanku dengan lelaki berefek toko roti.

“Sendirian?” tanyaku. Berusaha tak terdengar seperti, “Banci yang kemaren nggak ngekor, kan?”
Cazzo mengangkat alisnya sambil tersenyum lebar. Dia tampak manis. “Yap!”

Cazzo mengenakan jaket yang kemarin. Tentu, dengan earphone di telinga, dan efek toko roti yang sama. Di tengah lautan orang-orang yang berjalan di depan J.Co menuju SOGO, aku bisa menemukan dirinya ada di mana. Dia juga. Karena dialah justru yang menghampiriku. Agak berlari. Kali ini mengenakan celana pendek santai. Dan sandal. Sesuatu yang kalau kupakai, bakal terlihat kampungan. Namun begitu Cazzo yang memakainya, voila... tampak seperti Tom Cruise lagi jalan-jalan.

“Adek sendirian?” tanya Cazzo.
Oh, astaga... dia masih memanggilku Adek?
Bagaimana aku tidak mencintainya, coba?
Bagaimana aku tidak berhenti memikirkannya semalaman?

Mungkin aku harus beli obat tidur malam ini. Aku bisa menebak aku tidak akan tidur semalaman.

“Iyah, sendirian. Kakak mau ke mana?”
Dia menggeleng. “Nggak tahu. Tadi habis nganterin nyokap ke Inul Vista. Sekarang nyokap ama temen-temennya karokean tiga jam, gue mesti nunggu nih di sini sendirian.”
“Nggak ikut karaokean?”
“Sama ibu-ibu?” Dia tertawa.

Tawanya manis. Ketika gigi-giginya ditayangkan di balik senyum imutnya, membuatmu merasa iri saking rapi dan bersihnya. Astaga, beneran, deh. Aku iri berat. Bukan pada gigi rapinya itu. Melainkan AyySell sialan itu. Mengapa dia bisa pacaran dengan Cazzo?

“Aku mau ke toko buku. Mau ikut?” tawarku.
Dia berbalik untuk menjajariku. “Ayo.”
Ikut?!
Dia IKUT?!
Aku kan cuma bercanda! Basa-basi!

Ya ampun. Paling tidak kamu bisa menjaga dirimu, Nico. Jangan berbuat konyol. Jangan melakukan hal yang bodoh. Misalnya terpeleset. Atau menjatuhkan barang dagangan orang. Dan, oh... jangan ngupil.

...

Astaga, aku malah jadi ingin ngupil. Rasanya seolah berkarung-karung upil mendadak bergelantungan seperti kepompong. Aku harus menggaruk hidungku. Tanpa kentara membersihkannya.

Oh, ya ampun... bagaimana dengan gigiku?! Bagaimana kalau ada dimsum yang masih nyelip di sana?

“Lo kenapa, Dek?” Cazzo memergokiku sedang sembunyi-sembunyi membersihkan gigi. (Dan hidung.)
Dengan salah tingkah, aku buru-buru menjawab, “Nggak apa-apa. Nggak ada apa-apa.”
Cazzo malah mengerutkan alis. “Ada yang kotor,” katanya. Lalu tanpa bisa kuhindari, tangan Cazzo menyentuh mataku, dia menyingkirkan entah apa itu yang ada di sana.... Kemudian membuangnya. “Nah, udah bersih. Yuk.”

Ketika aku mengkhawatirkan gigi dan upilku, ternyata kotoran ada di mataku? Dan Cazzo pula yang membersihkannya? Bunuh saja aku, Tuhan! Aku malu!

Tidak pernah dalam hidupku aku diperlakukan seromantis itu. Di alam terbuka, pula. Kalau kamu mau tahu, tadi kejadiannya di eskalator turun. Di belakang kami tentu saja ada pengunjung lain, yang pasti menonton kejadian pembersihan mutiara di sudut mata. Dilakukan oleh seorang lelaki tampan tak terkira, terhadap lelaki antah berantah yang bisa-bisanya ada di Paris van Java. Aku jadi tak bisa berkonsentrasi. Untuk sesaat, aku lupa Gramedia ada di mana. Untung Cazzo ingat.

Karena Cazzo ada terus di sampingku, membuntutiku, aku tak mampu memilih buku. Rasanya semua buku di sana tak penting. Rasanya hanya Cazzo yang penting. Mataku menyepelekan novel-novel romansa atau komik-komik lucu di sana. Mataku mencari-cari Cazzo. Semeter saja dia jauh, aku langsung mencari.

Ya Tuhan, apa aku perlu beli kalung-kalung etnis di luar sana? Sebelum masuk Gramedia, kami melewati toko aksesoris. Ada banyak kalung-kalung aneh. Apa perlu aku mengenakan kalung demi menarik perhatian Cazzo? Maksudku, AyySell jelas berhasil melakukannya. Barangkali selera cowok-cowok tampan tahun ini adalah cowok kemayu berkalung aneh. Sissy bahkan mengenakan kalung, meski hanya kalung cantik dari Yogya.

Pada akhirnya, aku tidak membeli satu buku pun. Kami keliling-keliling sekitar setengah jam, tanpa tujuan. Cazzo berbisik padaku, “Gue lapar, Dek. Mau makan nggak?” Dan, tentu saja, aku mengiyakan. Jadi kami langsung ke luar dari Gramed, lupa tujuan awalku sebenarnya apa.

“Adek suka nonton bioskop?”
Kami berdua sudah ada di J.Co. Menyicip kopi hangat dan sepotong donat dengan gula-gula. Bandung diguyur gerimis saat itu. Duduk di sofa cokelat dengan makanan semahal ini, rasanya menakjubkan. Apalagi ketika Cazzo memaksa bayar. Apalagi ketika aku sadar, akulah yang bersamanya di situ. Tampak romantis dilihat dari arah mata angin mana pun.

“Suka,” jawabku. “Apalagi kalau ada yang traktir. Hehe.”
“Gue nggak suka,” katanya. “Gelap.”
“Oh, iya.”
Mungkin sebenarnya dia bukan fobia terowongan. Mungkin fobia gelap. Namun aku tidak akan membahas soal ini. Biarkan obrolan manis ini membahas sesuatu yang mencerahkan.

...

Tapi bahas apa, ya?
Aku sudah tahu dia kuliah di mana, jurusan apa, sedang apa di sini, berapa lama di sini, semua sudah kami bahas di kereta. Tidak mungkin aku bahas soal politik yang marak di televisi. Apalagi membahas pacarnya. Tidak sopan.

“Udah berapa lama, Kak, ama someone-nya?”
Oh, tidak. Ujung-ujungnya, aku menanyakan juga. Maksudku, wajar kan? Semua orang juga penasaran kenapa dia bisa pacaran dengan dugong.

Cazzo memiringkan kepalanya, memutar otak. Di mulutnya ada donat yang sedang dikunyah. Pipinya sampai menggelembung. Oh, Tuhan... kenapa bisa ada manusia semanis ini.

“Empat tahun, mungkin?” Dia mengangkat bahu. “Esel yang inget tanggal jadian. Gue sih nggak inget.”
Bahkan mendengar mereka benar-benar jadian, rasanya aku sakit hati. Sampai detik barusan, aku masih berharap bahwa mereka sebenarnya bukan pacaran. Bisa jadi maksudnya someone adalah, adiknya Cazzo, atau sahabatnya Cazzo, atau siapanya Cazzo. Aku masih menyimpan harapan bahwa dia at least single. Boleh lah dia hetero. Yang penting bukan sama makhluk jadi-jadian.

“Emang nggak inget pertama kali ketemu?”
“Inget, kok. Cuma nggak inget tanggal.”
“Kayak gimana ketemunya?”
“Hmmm...” Cazzo mengingat-ingat lagi, sambil menyesap kopinya. “Dia nolongin gue waktu itu.”

“Nolongin?” Bisa-bisanya makhluk macam itu nolongin? Makhluk yang bahkan lebih banyak menghabiskan waktu dandan dibandingkan memikirkan sekitar?
Aku memang belum ketemu lama dengan AyySell. Namun tiga detik pertemuan dengannya cukup untuk menjabarkan karakteristiknya. Semua orang pasti setuju. Sungguh.

“Ya. Dia nolongin gue.” Cazzo lalu nyengir menatap ke arahku. Rasanya agak intim. “Persis kayak lo ke gue kemaren.”
“Oh...” Aku menelan ludah. Kenapa juga aku ge-er? “Di kereta juga? Terowongan?”
Cazzo tertawa. “Nggak kok... di sekolah. Gue ma dia kan satu SMA.”

Hmmm... Aku sebenarnya berharap kejadiannya di kereta. Hanya untuk meyakinkanku bahwa aku sebenarnya punya kesempatan.

“Waktu itu gue di-bully ma temen-temen gue. Yah, biasa, lah... anak-anak SMA, suka ngelabrak. Gue dikunci di WC, ditakut-takutin, ditinggalin sampe malem, terus... yah, muncul Esel sebagai penyelamat gue.”

Huh. Betapa mudahnya. Maksudku, bisa saja siapa pun masuk ke WC, kebetulan menemukan Cazzo yang di-bully, lalu dengan mudahnya mereka pacaran?
“Gara-gara itu? Kalian langsung pacaran?”
“Ya nggak, lah. Pasti ada momen-momen berharga yang nggak bisa gue lupain soal awal-awal gue ma Esel.”
“Misalnya?”

“Banyak. Kayak misalnya... gini, gue jujur aja ama lo, Dek, gue takut hantu. Segala sesuatu yang berhubungan sama hantu, misalnya gelap, atau rumah tua, gue benci. Nah, Esel nih termasuk orang yang selalu ada buat gue. Buat nenangin gue, atau ngelindungin gue dari rasa takut.”
“Masa?”
Jelas, aku nggak percaya. Banci mana sih yang nggak takut hantu?

“Sumpah, Dek. Sampe sekarang juga gitu. Terus pernah waktu gue ada tugas sekolah ke Jogja, naik pesawat baling-baling bambu gitu, kan gue takut tuh... Esel selalu ada di samping gue, megangin tangan gue dari awal sampe akhir. Dia bener-bener, apa yah... bisa nenangin hati gue.”

Dilihat dari betapa antusiasnya Cazzo menceritakan kisah itu... mungkin itu benar. Mungkin AyySell ini memang banci super. Sekelas Xena Warrior Congcess. Hanya penampilannya saja yang menipu. Bisa jadi... AyySell ini setara dengan Derry.

Aku agak kecewa melihat ekspresi Cazzo ketika bercerita. Tampak sekali binar-binar bahagia. Tampak ingin membagi kisah fantastis mereka berdua kepada dunia. Dia bahkan tidak merasa malu pacaran dengan banci kaleng seperti itu. Dia bahkan tampak... impossible. Masa iya ada lelaki yang seperti Cazzo ini?
Mungkin aku sebenarnya sedang bermimpi saat ini.

“My Princeee?” Mendadak, J.Co dihebohkan oleh jeritan banci yang menggelegar. “You masih di sindang?”

Tadaaa... Tuhan sedang main The Sims, ya? Mendadak orang yang sedang kami bicarakan ditaruh di dalam ruangan. Oh, sial. Sekarang bakalan muncul awkward moment sepanjang malam.

Ayank Seluler itu malam ini mengenakan celana ketat selutut dengan sepatu persis Lady Gaga. Dia mengenakan kaca mata hitam. Bayangkan ini: Bandung, hujan, malam-malam, kaca mata hitam. Ada skarf bunga-bunga di kepalanya. Juga jutaan kantung belanja di lengannya. AyySell sedang berjalan bersama nenek-nenek dengan penampilan yang sama.

Dan dia menghampiri kami.
“Kakak, tunggu I sebentar, yaaa... I ngobras dulu! Duluan ajijah ke Sushi Groove-nyaaa... alrite?” kata AyySell kepada nenek-nenek itu.
“Alrite!” Nenek itu memasang kacamata. “Kakak ke sana dulu, ya! Bye Cazzooo...”
“Bye, Kak Nunuk!” kata Cazzo sambil melambai.

“Dahliiing... katanya you nganterin mami karaokean? Kok masih di sindang, dahliiing...” AyySell mengecup dulu kening Cazzo dengan mesra.
“Kan nungguin, Beib. Pulangnya bareng lagi.”
“Bilang dooong... Biar I bisa tempuraaa... temenin maksudnya...”
“Ah, ngerepotin. Kan kamu lagi belanja, Say....”

“Ya tinta apipa-apipa, kéleus... santai ajaaa...”
“Ini Nico, yang kemaren,” kata Cazzo, mengenalkanku lagi.
“Oh, yang kemaren?” AyySell menatapku atas bawah, berulang-ulang. Aku nyaris menganggap matanya mesin Bingo. “Yang kemaren yang menong, My Puh-riiincee?”
“Yang kemaren di stasiun, Beib.”

Banci ini bahkan lupa aku ada di sana.
“Oh, iya, ya?” Esel masih menatapku atas bawah. “I kirain, you berdua tinta kenari, nggak kenal, terus J.Co-nya pinata, terus you share meja.”
“Nggak kok, Beib. Tadi ketemu aja di sana. Jalan-jalan bareng sambil nungguin Mami beres karaokean.”

“Okeyyy...” AyySell menatapku dengan tatapan penuh kebencian. Tanpa perintah siapa-siapa, dia duduk di meja kami. Matanya masih mengawasiku.

Aduh, harus ngapain, nih?
“Haiii...” Aku melambaikan tangan dengan canggung. Mungkin sudah saatnya aku pergi. Toh, Cazzo sudah bersama kekasih hati.

“Dahliiing...” seru AyySell dengan manja. “You beliin I donita, dooong!”
“Donita?”
“Donat, maksudnya. Pliiisss...”
“Ke sana aja.” Cazzo mengeluarkan dompet sambil menunjuk konter J.Co. “Nih, aku bayarin, Beib.”
“Tintring, dahliiing... I pengin you yang beliin, okay? Puh-leeeaseee...”

Cazzo tersenyum. Sama sekali tidak merasa terbebani. “Oke. Kamu mau yang mana?”
“Yang menong aja. Yang penting lama di sananya. Ayo-ayo, go, go. Sana beli donita. Hush-hush.”
“Kamu, Dek?”
Aku menggeleng. Cazzo pun meninggalkan kami berdua.

Yang rupanya ide buruk. Karena ada agenda tersembunyi dari banci satu ini. Ekspresinya berubah menjadi Medusa sambil masih menatapku atas bawah. Seolah aku ini sampah yang bau. Seolah baju yang kupakai hari ini melanggar norma Undang-Undang Dasar.

“You sapose, sih?!” hardiknya.
“Apa?”
“You ngapain deketa-deketi pacar I, hah?!”
“Deketa-deketi?”
“You mawar ngerebut Cazzie Dahling dari I, kan?”
“Apa?” Aku menggeleng-geleng panik. “Nggak, kok. Nggak. Tadi cuma kebetulan—“

“Alaaah... Alissa Soebandono! Alasan!”
Hah?
“I tau... you mawar ngerebut detseu, khaaan? Jengong sekelong-kelong you ngontak-ngontak detseu lagi. Understand?”
“Apa, sih? Aku kan cuma kebetulan ketemu—“
“Kebetulan?!” Mata AyySell menyipit-nyipit. Kali ini persis Leily Sagita. “I denger detseu manggil you Dek! Nama you bukan Dede, kan?!”

Aku menggeleng.
“Nah!” serunya. “I ingetin sekelong legong... You, jengong pernah deketa-deketi Cazzie Dahling, okey? Sekarang, I bebasin you dari penderitaan. Next time? You, modar, em?”

Tanpa perlu pamit pada siapa pun... aku bergegas pulang.

-XxX-

Baiklah. Aku anggap, Tuhan sudah kembali pada kewarasannya. Terbukti bahwa pertemuanku dengan Cazzo hanya error surga semata. Aku tidak berjodoh dengan dia. Sejak awal, mestinya aku tidak mengajaknya ke toko buku. Sejak awal, mestinya aku tidak mengajak dia ngobrol di kereta.

Ya ampun. Nomor teleponnya saja aku belum tahu.

Aku kembali ke rumahku dengan lemas. Menunggu angkot St. Hall—Gunung Batu di bawah jembatan Surapati. Kebetulan angkotnya lamaaa sekali. Membiarkanku kehujanan dalam gerimis. Begitu dapat satu angkot, isinya penuh. Aku terpaksa duduk di jok artis, dekat pintu. Dan aku kehujanan.

Tuhan sudah kembali, batinku.

Begitu aku tiba di depan gang, ada seorang preman sedang menungguku di sana. Dia langsung mematikan rokoknya ketika melihatku turun. Dia tampak seperti menungguku sesorean.
Ya. Dia Derry.

“Hayuk!” katanya tegas, tanpa mengatakan kalimat pembuka atau sambutan pembina upacara. Dia merangkulku. Menarikku ke kamar kontrakan pagi tadi. Menyeberang jalan, dan menelusuri gang.

Padahal badanku lemas. Padahal aku ingin istirahat saja di rumah. Ingin menangisi nasibku yang kembali normal malam ini. Mencoba melupakan Cazzo.
Mengapa si preman ini malah jadi liar di waktu yang salah? Masa gara-gara aku meninggalkannya satu semester, dia jadi serindu ini padaku?

Mungkin harusnya aku kenalkan dia pada Sissy. Paling aku perlu mengajarkan Sissy bagaimana caranya menyodomi lelaki. Yang Sissy tahu selama ini adalah disodomi. Jadi kalau aku tidak ada di sini, ada Sissy untuk menggantikanku.

Derry mengunci pintu kamar kontrakan itu. Aku mengira dia akan melepas bajunya lagi, telanjang di depanku lagi. Namun, tidak. Dia hanya berdiri di sana. Bersandar pada pintu. Tangan terlipat di depan dada. Untuk pertama kalinya... kulihat mata Derry nanar. Dia tampak galau.

Okay, ini serius.

“Sia tadi ke mana?” tanyanya. Kasar, tetapi dengan volume rendah.
“Main, Bang.”
“PVJ, kan?”

Kenapa dia bisa tahu? batinku. Apa sekarang dia jadi mata-mataku?
Aku mengangguk. Aku tidak berani menatap matanya sekarang. Bisa jadi aku bukan mau berhubungan seks dengannya malam ini. Bisa jadi... aku mau dibunuhnya.

“Aing ge tadi ke PVJ, Njing!” katanya. “Tau lah, aing juga... sia tadi ngobrol ama siapa!”
Aku melirik ke arah Derry sekarang. Ada getaran perih dalam suaranya. Dia tidak sekuat biasanya.
“Itu cuma kenalan yang ketemu di kere—“
“Gandeng, Njing!”

Buuukkk!!!
Aku dipukulnya.
Tepat di pelipisku. Seperti empat tahun yang lalu. Aku tersungkur dan menutup mukaku erat-erat. Aku tahu dia akan melayangkan tinju keduanya. Ketiganya. Ketujuhnya. Karena dapat kudengar embusan napas memburu dari paru-parunya. Derry marah. Derry sedang ingin memangsa manusia, lalu menyantapnya.

Ya Tuhan... apa ini akhir hidupku?

“Jadi sia juga mau ngambil dia, HAH?”
Aku tak berani mengintip. Aku masih bersiap dengan tinjuan dari Derry. Hanya saja... aku bisa mendengarnya menangis sekarang.

Buuukkk!!!
Derry memukul meja. Satu benda jatuh ke lantai, suaranya seperti gemuruh badai.
“ANJING!!” pekiknya.
Buuukkk!!!
Kali ini tembok sasarannya.

“Pertama, si Vargas! Kedua, si Esel!” BUUUKKK! Tembok lagi yang dipukul. “Sekarang sia juga mau ngerebut Cazzo dari aing?!”

Buuukkk!
Kali ini aku. Perutku ditendangnya!
Sambil dia menangis.

Aku terkejut mendengar emosinya. Mengapa ada dua nama yang kukenal muncul dari mulutnya? Mengapa ada amarah yang besar gara-gara nama itu? Apa Derry mengenal Cazzo dan AyySell?

Selama beberapa menit, aku masih meringkuk di atas kasur. Masih menutup mukaku. Masih menunggu Derry menghujamkan pisau atau celurit, lalu membunuhku. Aku sudah pasrah. Namun Derry malah terduduk di sudut. Persis seperti malam itu. Dia menangis. Tampak tak berdaya. Ketika aku akhirnya mendongak dan menatapnya di seberang sana... Dia tidak berlari lalu memukulku lagi.

Derry sedang memeluk lututnya.
Bahunya berguncang.
Dia sedang jatuh.

“Aku... aku nggak tahu kalo kamu kenal mereka.”
“Gandeng, Njing!” serunya.

Pada akhirnya, aku melakukan hal yang sama. Aku terduduk memeluk lututku. Tepat di sudut di seberangnya. Aku ketakutan. Aku ingin pulang. Karena The Next Ryan Jombang ada di seberang sana. Dalam waktu sekejap, mungkin aku akan menangis.

....

Atau membantunya lagi. Seperti empat tahun yang lalu?

Maksudku... sekarang sudah lebih dari satu jam, mungkin, kami berdiam bisu di kamar kontrakan ini. Memeluk lutut masing-masing. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sudah saatnya ada yang berbicara. Sudah saatnya ada yang meredakan semua ini. Kalau perlu aku mati... ya bunuhlah aku.

Maka aku pun bangkit. Menghampirinya.
Aku duduk di depan Derry. Di depan wajahnya yang tampak terguncang.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Karena aku juga tidak mengerti masalahnya apa.
Aku hanya duduk di sana, di depan Derry. Menunduk dan ketakutan. Berharap dia mengizinkanku pulang.

“Mulai sekarang,” ujar Derry kemudian, dalam suaranya yang menyayat hati. “Sia jadi pacar aing. Sia nggak boleh jadi pacar orang lain! Apalagi ketemuan ama si Cazzo Babi Anjing!”
“Hah?”
“Malam ini...” Derry menjewer kupingku. Ditariknya kepalaku mendekat ke wajahnya. Bisa kulihat bola mata yang hatinya telah tersakiti. Entah cerita tragis apa yang ada di dalamnya. Derry hanya mendengus. Napasnya bau. “... Sia tidur di sini. Sia harus mau layanin aing!”

Ini lebih buruk dari pada aku mati.
Aku tidak tahu permainan apa yang sedang Tuhan mainkan untukku.
Jelas... aku tidak suka ide menjadi pacarnya Derry. Sampai kapan pun.
Hanya saja sekarang aku tahu, di tengah ketidaktahuanku tentang hubungan Derry dan Cazzo-AyySell... bahwa sebenarnya, Derry pun punya hati.

Aku tahu tatapan orang yang sedang patah hati. Tatapan itu barusan kulihat di mata Derry.

THE END




9 comments:

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Oh,, per amore di Dio..
First you gave Cazzo a bitch..
Now you give Nico a beast..
You are a cruel one..please ,,,lepaskan mereka dari penderitaan ini,,
---
Hehehe lebayku kumat,,but ckckck
You Sir,,are making such a great story
Saluut deh bang Mario,,,terus berkarya en ditunggu lanjutannya ^^
--

The Baron

ss said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Nih ingatan cazzo dicuci sma si bello yah... smpe2 semua ttg agas d gnti sma essel...

makin kesel w...
ckckckck...


tp seru ajh si cerita'a..
(Kebawa suasana)

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Keren...
Sayang admin sma writer nya suka banget gantungin jemuran alias rasa penasaran orang

--
The Baron

Dazz said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

@Atas

Tegaaa
Kok saya dibawa-bawa brow...
hiks... hiks...

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Cozz anda terlibat dalam konspirasi itu bang!
Tpi krna bang iDazz udah baeg hati mau update lanjutannya,,aku kasi gulali super duper guedenya ngalahin pohon Ydrasil di middle earth :D
^^

Anonymous said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Bang mario parah!! Balikin si cazzo lagi bang plisss (but at least biarin dia ama nico)

danu kusuma said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

heiii bro ... i give you Google+1 okeyy ... thanks for you update

Faris Rivai said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Cazzo, yg nolong km bukan esel, tapi agas!!, please siapapun tolong bunuh esel dan pukul kepalanya cazzo pake batu bata

tiara olifia said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

miris sumpah....miris ngeliat betapa sayang'y Cazzo ke Esel -si banci taraf kanker stadium empat-yg harusnya tuh Agas T.T
Derry jatuh miskin!si kuntinya lepas donk?!
maybe si Aminah tuh yg ngalangin pandangan Cazzo makanya tiap liat Esel berasa Agas!hm.pasti ye.iye ajalah.
aduuuh....agak pusing ye,si Derry dulu ama Cazzo jadi top,trus ini kok jadi bot sejati?O.o

Post a Comment