DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



It's Always About You - Chapter 8

Chapter 8, Question & Answer
by Oswald


Gw selalu menjadi anak yang ceria. Dan akan selalu begitulah gw. Gw termasuk cowok yang cuek, tapi perhatian sama teman.
Dan gw enggak pernah menyia-nyiakan hubungan pertemanan gw. Setiap kali teman gw ada masalah, gw selalu repot-repot untuk membantu, mendengarkan keluh kesah mereka, dan bahkan rela melakukan hampir apa pun untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.

Lama kelamaan, karakter gw yang asli mulai timbul ke permukaan. Gw semakin tidak malu-malu dan tidak menahan-nahan lagi. Gw sudah menjadi diri gw sendiri. Sekarang teman-teman sudah sangat akrab dengan gw. Jadi enggak perlu lagi gw pakai topeng ini-itu.
Gw jadi blak-blakan kalau ngomong. Dan udah bebas bercanda sebagaimana pun.

Gw makin akrab dalam VIP. Bahkan kami bergabung dalam club anime sketch, dan mengikuti perlombaan membuat komik, karakter anime, hingga poster-poster anime.

Gw juga udah akrab dengan Makhluk Tuhan Yang Paling Sexy itu. Hampir setiap hari gw bermain dengan Ardo dan Donny. Gw selingin ajah, gantian hari, misalnya hari ini main sama teman VIP, hari besok gw latihan band, lusa gw main basket sama Ardo, atau hanya sekedar nongkrong di Kuta.

Karena sifat gw yang ceria dan cukup memaksa mengambil perhatian orang, ada beberapa teman perempuan yang naksir gw. Mereka dari kelas yang berbeda. Gw sih enggak masalah dengan sikap mereka yang, oh me gad, kentara banget mencari perhatian gw.

Ada yang ngasih gw surat cinta di kolong meja lah, ada yang tiap hari bawain gw kue lah, ada yang kasih gw contekan ulangan, malah ada yang enggak ada angin enggak ada ujan, kasih gw hadiah gelang kulit-silver. Yah, sini mah seneng-seneng ajah kalo dikasih.

Tapi yang enggak enaknya adalah kalau gw harus bicara terus terang bahwa gw enggak tertarik pada mereka. Suka enggak enak sendiri melihat ekspresi sedih mereka itu. Andai gw bisa membalas perasaan mereka. Tapi kan tau sendiri, gw hanya menyimpan hati gw untuk satu orang.

Sampai suatu hari gw juga pernah digosipin sebagai playboy kelas 1. Waaahhh... maaaaakkk... Beritanya sampai kedengaran kakak-kakak kelas lagi.
Menurut kabar burungnya, burung siapa? Hehehe...
Menurut kabar burungnya, gw dinilai suka mengajak teman cewek ngedate dan dicampakan begitu saja.
Sial!! Emang secakep apa gw bisa melakukan hal nista seperti itu?

Padahal, sebenarnya, gw memang suka hang out berdua sama teman perempuan gw, entah dari kelas yang sama atau kelas yang berbeda, tapi itu karena gw mau mendengarkan curhatan mereka.
Sering gw mengajak teman perempuan gw ke Warung Italy di Legian cuma untuk mendengarkan curhatan dan tangisan mereka.
Kenapa di Warung Italy? Soalnya murah! Hohohoho!!!
Tempatnya lumayan enak, banyak bulenya, dan makanannya juga enak.
Sangking seringnya, gw sampai kenal sama para pelayannya dan kokinya. Kalau gw datang, mereka langsung menyuguhkan gw chips kesukaan gw tanpa gw minta. And it's FREE!! Hehehe...
Mereka juga bingung kali yak, koc gw setiap ke sana bawa cewek yang berbeda terus.
Jangan-jangan antara pelayan Warung Italy, gw juga digosipin playboy lagi. Wew!
Sumpeh deh! Gw sama sekali enggak suka di cap playboy! I realy don't meant to be...

Pernah ada 2 orang kakak kelas perempuan yang sampai ngedatengin gw, cuman buat liat muka gw.

Di sore hari yang cerah, gw lagi jalan di depan lapangan basket bersama Donny.

Tiba-tiba 2 orang kakak kelas perempuan ngedatengin gw. Teruuss...

Kakak kelas 1: “Oh ini toh yang namanya Oswald?

Gw freeze. Bingung.

Kakak kelas 2: “Eh? Bener nih yang ini?”

Kakak kelas 1: “Bener, koc!”

Kakak kelas 2: “Oooh, ini toh..”

Lalu mereka berbisik-bisik di depan gw, melirik-lirik gw.
Mereka berbisik di hadapan gw, melirik-lirik gw!
Berbisik-bisik lagi di depan gw, melirik-lirik lagi ke gw!
Sumpaaaahhhh!! Bikin emosi!

Terus mereka balik badan dan pergi gituh ajah.

Pengen rasanya gw sambit pake kambing.

Gw mah enggak playboy kalleee... Banyak yg lebih gokil dari gw dalam hal berpacaran.
Kayak temen kelas gw contohnya, si Sisco. Pacarnyaaaa... wwuuiiihhh.... dari Sabang sampai Merauke... Setiap pulau di Indonesia.... Sumpah banyak bangettt... Sumpah Lebay bangettt...

Tapi prinsip gw satu, yang enggak akan pernah gw ubah. Jadilah orang yang baik.
Itu selalu yang gw pegang, baik gw lagi di atas angin, atau di bawah kemalangan.
Karena dengan menjadi orang baik, gw merasa masih memiliki harga diri.

Gw demennya mencurahkan hati gw buat ke panti asuhan, memberikan sumbangan ke pendidikan anak-anak jalanan, dan gw suka berkecimpung di lembaga sosial sekolah. Daripada sibuk berpacaran yang enggak jelas gituh.
Gw sering bikin mading dan baliho tentang kegiatan sosial.
Pernah juga tentang Go Green! Seru deh...

Nilai-nilai gw di sekolah pun enggak ada yang merah. Dan selalu gw ranking di kelas.
Gw semakin unjuk gigi. Semakin memperlihatkan berlian dalam diri gw. Entah kenapa, sejak pindah ke Bali, gw semakin ambisius memperlihatkan kelebihan gw. Bukan maksud hati gw memperlihatkan ke orang lain bahwa gw hebat, sama sekali enggak. Tapi hal apapun yang gw lakukan, kegiatan apapun yang gw ambil, gw berusaha semaksimal mungkin sampai berhasil dan sukses.


Pernah juga gw sampai demo ke ruang kepala sekolah karena kegiatan sosial yang menurut gw sangat bagus, dan udah gw jalankan berbulan-bulan, mendadak dicegal oleh pihak sekolah dengan alasan sekolah tidak sanggup membiayai kegiatan tersebut. Padahal dari awal pihak sekolah telah berjanji di dalam surat bahwa sepenuhnya mendukung kegiatan sosial kemanusiaan yang sedang gw kerjakan tersebut. Langsunglah gw maju ke Kepala Sekolah. Sempat juga waktu mau maju langsung ke Kepala Sekolah, guru BP gw menghadang. Dia bilang, bahwa masalah ini tidak usah diperpanjang dan tidak perlu menyusahkan diri sampai ke kepala sekolah segala, karena keputusan telah dibuat dan tidak dapat diubah.
Enggak pakai ba-bi-bu, gw tetap memasuki ruang Kepala Sekolah.
Setelah gw masuk, ternyata kata sekretaris sekolah, Bapak Kepala sSkolah sedang ada tamu.
Gw menunggu di sofa kantor tersebut.

Tidak lama kemudian, Bapak Dongker, Kepala sSkolah gw, beserta tamunya keluar dari ruang kantornya. Mereka berjabat tangan dan mengucapkan selamat tinggal.

Kemudian, dengan masih tersenyum, Bapak Dongker menyuruh gw masuk.
Dengan patuh gw memasuki ruang kantornya.

“Silakan duduk, nak.” Suaranya balam dan tenang. Gw duduk di hadapannya.
“Ada apa ini?”

“Maaf Pak, saya mengganggu waktu Bapak. Begini....” Gw menjelaskan duduk perkara dan persoalan yang terjadi. Pak Dongker dengan bijaksana mendengarkan gw.
Pak Dongker termasuk guru favorit gw. Dia sebenarnya adalah Kepala Sekolah yang baik. Dia mau mendengarkan keluh kesah siswa dan orangnya cukup bijaksana. Itu menurut pandangan sepintas dari luarnya yah.

Setelah mendengarkan cuap-cuapnya gw, akhirnya beliau angkat bicara, “Begini, nak. Sekolah sudah tidak mampu membiayai program sosial itu. Biaya yang dikeluarkan termasuk besar. Dan pihak sekolah sedang memfokuskan biaya untuk memlengkapi fasilitas sekolah. Sehingga pihak sekolah menutup program itu pada tahun ini.”

“Tapi program ini sudah bertahun-tahun berjalan, Pak. Dari jaman kakak kelas saya, program ini sudah ada. Semenjak beberapa bulan terakhir ini saya membuat sistem yang akan mempermudah kelancaran dan prosedur yang dijalankan dalam program ini. Dan member anggota pekerjanya semakin banyak. Sumbangan dari teman-teman pun terus bertambah. Sayang sekali kalau program ini ditutup. Mengingat, kita dapat membiayai ratusan anak putus sekolah di Bali, bahkan Lombok.” Gw berbicara cepat dan meluap-luap. “Menurut saya fasilitas sekolah sudah semakin baik. Dan saya nyaman sekolah di sini. Tapi untuk apa sekolah ini mempercantik diri, sedangkan di luar sana jutaan anak putus sekolah tidak dapat mengenyam pendidikan.”

Pembicaraan itu berlangsung lebih dari satu jam. Kepala gw sampai pusing.

“Maaf, nak. Keputusan telah ditetapkan. Sekolah tidak dapat membiayai program itu.” tegas Pak Dongker. “Dan coba kamu tanya ke teman-teman kamu, memangnya mereka tidak mau sekolahnya bagus?”

“Berarti, kalau saya bisa mendapatkan donatur di luar sekolah, program ini bisa terus dijalankan?” tanya gw.

“Yah, kalau memang kamu bisa mendapatkan penyumbang, yah, boleh-boleh saja.” jawab Pak Dongker sambil angkat bahu.

“Dan kalau saya bisa mendapatkan suara sebanyak mungkin, program ini terus dijalankan?” tanya gw.

“Tentu. Tapi itu bukan hal yang mudah.” jawab Pak Dongker.

“Baik. Terima kasih, Pak. Mohon maaf untuk waktu yang terbuang karena saya.” Segera gw bangkit berdiri dan beranjak keluar kantor.

“Nak, perjuangan kamu itu akan memakan waktu yang panjang. Jangan menyusahkan diri.” kata Pak Dongker. “Lebih baik kamu berfokus pada ujian yang sbentar lagi akan tiba.”
Gw tetap melengos pergi.

Anjjjjjiiiiinnngggg!!!! Nyolot banget!!! Liat luh ntar!! Bakal kaget luh!!!

Segera gw sampaikan kepada teman-teman anggota organisasi. Dan mereka langsung bete gituh.
Usaha yang kita lakukan selama berbulan-bulan ini sia-sia sudah.

“Jangan takut!” kata gw. “Kita akan mendapatkan donatur dari luar. Kita kumpulkan semampu kita. Setelah terkumpul, pasti pihak sekolah akan malu, dan mau tidak mau mereka akan mengeluarkan dana untuk program ini. Pihak sekolah juga pasti akan berusaha saving their ass. Karena mereka pasti tidak mau ketiban malu, ketika pihak masyarakat mengetahui bahwa program ini milik sekolah tapi dananya tidak sepeser pun bukan dikeluarkan dari sekolah.” Gw menjelaskan. “Dan yang penting sekarang, kita kumpulkan suara sebanyak-banyaknya!” seru gw.

Teman-teman gw ikutan berseru.

Kami segera membuat campaigne mengenai organisasi sosial pendidikan yang ditutup itu. Kami membuat poster, mading, dan kami mengumpulkan sumbangan suara dari setiap kelas.
Tidak sulit bagi kami untuk mengumpulkan suara dengan dalam bentuk tandatangan.

Gw sempat mengadakan meeting dengan para guru yang menyukai gw bersama anggota OSIS mengenai campaigne yang kita lakukan. Ardo turut serta dalam meeting itu.
Ya, iyalaahhh!! Secara dia Ketua OSIS.

“Saya sangat membutuhkan suara dukungan Anda semua yang ada di sini.” akhir kata gw setelah menjelaskan tujuan, program kerja dan aplikasi kegiatan organisasi yang sedang gw perjuangkan.
Setiap guru di dalam meeting itu akhirnya memberikan sumbangsih suara dengan menandatangani selembar besar poster organisasi. Setiap suara guru yang disumbangkan, akan mendapatkan voucher yang dapat ditukarkan dengan pijat pundak gratis selama 15 menit.

“Waahhh... voucher apa ini?” tanya Ibu Tika.

“Itu voucher pijat, Bu.” kata gw sambil tersenyum.

“Voucher pijat apa toh, nak?” tanya Pak Muana.

“Voucher ini bisa ibu tukarkan dengan gratis pijat pundak selama 15 menit di stand kami yang didirikan di lapangan belakang, Pak. Jadi kalau Bapak dan Ibu sedang kelelahan, silakan datang ke stand organisasi kami, dan bisa menukarkan voucher gratis pijat ini. Teman-teman kami siap memberikan pijatan relaksasi untuk Bapak dan Ibu. Dapat minum jus jeruk pula, Bu. Voucher ini hanya berlaku untuk jam istirahat sekolah dan sepulang sekolah.” jelas gw.
Guru-guru semuanya tertawa. Ardo yang duduk sebagai ketua OSIS ikutan terperangah sama ide voucher lucu itu.

“Waahh... ada-ada saja kamu ini. Boleh ini sering-sering diadakan campaigne, biar dapat voucher pijat gratis lagi.” kata Pak Sintar sambil tertawa.

Tinggal beberapa guru yang menjadi pendukung Pak Dongker yang belum memberikan sumbangan suara. Secara mereka tidak mau datang meeting.
Tapi Pak Arya, guru matematika gw, juga tidak ikut meeting. Beliau terlalu netral, tidak ingin terlibat dalam konflik sekolah. Padahal gw termasuk murid kesayangan Pak Arya. Tapi, mungkin beliau menjaga aman saja. Gw harus mendapatkan tanda tangan suara Pak Arya.
Campaigne yang gw rencanakan pun berjalan. Gw sudah mengumpulkan banyak sekali tanda-tangan siswa. Hampir semua siswa mau menandatangani poster organisasi pendidikan tersebut.
Kebanyakan dari mereka karena sudah mengenal gw dengan baik. Sebagian cuma ikut-ikutan, sebagian ikut menandatangani tapi tidak tahu apa isi poster itu, sebagian karena ingin terlihat eksis di sekolah.
Gw pun masih berburu tanda tangan Pak Arya. Cuma tanda tangan bapak itu yang gw masih belum dapat. Akhirnya setelah banyak berspekulasi, gw mendapatkan juga tanda tangan guru sejarah yang tadinya ikut setuju dengan pendapat Pak Dongker. Dan gw mendapatkan tambahan tanda tangan dari guru seni yang tadinya tidak memihak siapa pun juga.
Gw masih bersikeras mendapatkan sumbangan suara berupa tanda tangan dari Pak Arya.

Di hari sekolah, pagi-pagi, semasih jam pelajaran kakak kelas, gw memasuki ruang kelas gw, yang juga ruang kelas Ardo. Gw sudah mendapatkan tanda tangan dari semua kakak kelas dan teman-teman. Gw memasuki ruangan kelas itu karena pagi itu jadwalnya pak Arya mengajar di kelas itu.

Tok.. Tok.. Tok..

“Ya, silakan masuk.” Terdengar suara Pak Arya dari dalam kelas.

Gw membuka pintu dan mengintip ke dalam. Beliau sedang menulis di papan tulis. Kakak-kakak kelas menoleh ke arah gw. Ardo yang tadinya sedang menulis, langsung mengangkat kepala untuk melihat gw.

“Oh, kamu lagi.” kata Pak Arya.

“Permisi, Pak, maaf mengganggu.” Gw memasuki kelas itu.

“Mau apa lagi kamu?” tanya Pak Arya gusar.

“Saya mau minta sumbangan suara dari Bapak berupa tanda tangan. Sebentar saja, Pak.” Gw menyodorkan poster besar yang telah penuh berisi tanda tangan para siswa dan guru sekolah.
Poster itu di terimanya. Dilihat sebentar.

“Hm..” Pak Arya menyengir.
“Ini lihat, anak yang keras kepala.” kata Pak Arya dengan suara keras. Ia berbalik badan, menghadap ke arah murid-muridnya, berbicara kepada semua murid kelas itu.
“Setiap hari kerjaannya mendatangi saya. Ya di sekolah, ya waktu jam istirahat. Ndak dapat lagi, dia malah ke rumah saya, nungguin sampai malam.” Pak Arya kemudian menoleh memandang gw. Sejenak, kemudian menoleh pada murid-muridnya lagi.
“Sampai ketika saya sedang makan malam bersama istri saya di restaurant, bertemu ini anak, langsung saya disodorkan beginian.” Pak Arya berbicara dengan tangan mengarah ke gw. Wajahnya setengah tersenyum. Kacamatanya melorot sampai ke hidung. “Sekarang, ketika saya sedang mengajar, sampai detik ini, saya masih dikejar-kejar sama ini poster.” Pak Arya menggeleng-gelengkan kepala.
“Semangat apa yang kamu miliki, nak?” tanya Pak Arya, menoleh pada gw, bertolak pinggang.

Kakak-kakak kelas di kelas itu semuanya terdiam. Semua mata tertuju memandang lekat pada gw.
Gw hanya berdiri di depan kelas sambil salting. Gw melirik ke arah Ardo, ia menatap gw.

“Eh?” Err..” Gw kebingungan mau menjawab apa. Memang sih, gw agak keterlaluan. Gw mengejar Pak Arya terus-terusan demi mendapatkan tanda tangannya.
Gw tidak menceritakan ke teman-teman, bahwa gw sampai rela jauh-jauh mendatangi rumah Pak Arya, dan menunggui dia sampai malam, agar mendapat persetujuan suaranya dalam bentuk tanda tangannya.

“Kamu mengumpulkan tanda tangan sebanyak ini, apakah mengerti esensial tujuan sebenarnya apa?” tanya Pak Arya lagi.

“Err.. Seperti yang pernah saya jelaskan sebelumnya, Pak, saya hanya ingin membantu pendidikan anak-anak jalanan dan yang putus sekolah, Pak.” jawab gw singkat. Gw menggigit bibir bawah gw.

“Kasih saya satu alasan, mengapa saya harus menandatangani poster ini?” Pak Arya mengangkat poster itu dengan tangan kanannya.

Semua kakak kelas menatap gw, menunggu gw berbicara.

“Dengan hormat, Pak. Sebelumnya, berikan saya satu alasan, mengapa Bapak tidak mau membantu anak jalanan untuk dapat bersekolah kembali?” tanya gw berbalik kepada Pak Arya.
Mata gw menatapnya tajam.

“Hm..” Pak Arya menyunggingkan senyuman.
Kemudian, tanpa disangka-sangka, ia lalu mengambil pulpen di saku blazer safarinya, kemudian dengan cepat ia menandatangani poster itu, dan memberikan poster itu kepada gw.

Gw dengan bengong menerima poster itu.

“Te.. Terima kasih, Pak.” jawab gw terbata-bata, masih dengan ekpresi terperangah.

Seorang kakak kelas bertepuk tangan sambil berdiri. Diikuti kakak kelas yang lain ikut berdiri dan bertepuk tangan. Diikuti kakak kelas lain lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Sampai semuanya berdiri sambil bertepuk tangan. Semua mulai bersorak sorai. Ada yang meneriakkan, “Yeah!”
Ada yang bersiul kencang. Semuanya bersorak dan tertawa keras.

Pak Arya tersenyum pada gw, mengedipkan mata kanannya, mengangguk ke gw, dan mengacungkan jempol kanannya ke gw.

Gw tersenyum lebar. Hati gw lega banget. Gw melirik ke Ardo, dia sedang tersenyum menatap gw, sambil masih bertepuk tangan.

Terkadang pertanyaan tidak harus disusul dengan jawaban. Dan terkadang, pertanyaan dapat menjadi jawaban yang paling tepat.

-----------------------------------------------------------------------------

Chapter 1 - It's Hard to Say GOODBYE

0 comments:

Post a Comment