DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Love Under The Mistletoe Chapter 20

CHAPTER XIX
THE LOVE UNDER THE MISTLETOE

by Tuktuk
 

“Orang tua Danny sampe disini besok...” ujar Wildan.

Riko masih tertunduk lesu, sudah hampir dua belas jam Danny masih belum juga tersadar.

“Kamu mandi dulu, makan dulu, sudah sampe jam segini kamu masih disini juga...” sambung Wildan.
“Aku mau nungguin dia dulu...” balas Riko.
“Bersih-bersih dulu sana, Wildan temenin dia dulu cari makan juga...” ujar Laura.

Riko menghela nafas panjang. Hatinya, fikirannya, fisiknya ingin berada disini. Ingin bersama Danny.

“Nanti, kalau ada apa-apa aku langsung hubungi kalian” ujar Laura.
“Yuk, Rik”
“Ga usah, biar aku sendiri saja Wildan. Paling nggak ada cowok yang nemenin Laura...”

Riko lalu membalikkan badannya, meninggalkan ruang dimana Danny masih terbaring lemah. Pikirannya kalut, hatinya begitu gundah, paling tidak sampai Danny membuka mata kembali... Perihal ia masih berhak mencintai Danny atau tidak, itu urusan lain. Danny harus sembuh dulu.

***

Sesosok pria berdiri didepan pintu kamar Clara 21, pria itu nampak ragu untuk memasuki ruangan itu. Di satu sisi ia ingin sekali masuk, di sisi lain ia merasa terganjal dan berdosa.

“Allan?” ujar Wildan.
“Ssh...” balas Allan.
“Kamu ... Tau dari siapa?”
“Laura” jawabnya pelan.
“Riko ada?” sambungnya.
“Jangan, jangan cari Riko lagi, biarkan Danny sehat dulu...”
“Bukan... Bukan gitu Wildan. Justru kalau ada dia aku ga mau masuk...”
“Dia lagi keluar...”

Allan melangkah masuk ke dalam kamar kemudian langkahnya menjadi gontai ketika mendapati Danny terbaring lemah dibalik tirai. Rasa bersalah menyelimutinya dan mengubah air mukanya yang mendadak berkaca-kaca.

“Maafin aku, Danny...” ujarnya pelan sambil memegang tangan Danny.

Laura lalu menepuk pundak Allan kemudian membisikkan “Danny belum siuman...”. Allan hanya bisa menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Ia merasa telah begitu banyak menyusahkan Danny. Sedemikian susah.

“Ini..” tiba-tiba Allan mengangkat bungkusan hitam yang ia bawa.
“Apa ini?” tanya Wildan.
“Aku temukan di bekas lemari Danny... Janji Riko ke Danny... “
“Janji?” serempak Laura dan Wildan bertanya.
“Iya, ini lingkaran daun mistletoe, yah, cuma imitasi sih, seperti hiasan natal... Cuma ini belum selesai...”
“Terus?” tanya Laura.
“Bantu aku kelarin hiasan ini, paling nggak aku melakukan satu hal baik untuk Danny... Paling tidak...”
“Aku ingat janji Riko yang ini...” ujar Wildan.

Tanpa diberi komando mereka bertiga seperti mengerjakan tugas rumah yang harus dikumpulkan besok. Ketiganya nampak serius... Serius sekali membuat lingkaran daun mistletoe, lengkap dengan hiasan kristal dan lampunya..

“Danny itu unik... Dia suka hal-hal kayak gini...” ujar Wildan.
“Dia percaya... Dia selalu percaya...” sambung Laura.

Riko berjalan gontai memasuki kamar Danny. Matanya tertegun melihat tiga orang itu tengah duduk dilantai, mengerjakan sesuatu yang nampak ia kenali.

“Ka.. Kalian?”

Dengan sigap Wildan berdiri dan menghampiri Riko.

“Allan yang bawa ini Rik... Allan yang nemuin ini di kamar Danny....”

Pandangan Riko nanar. Ia ingat akan janjinya, ia ingat dengan lingkaran yang belum jadi sepenuhnya itu. Janji yang sedang dipenuhi bahkan bukan olehnya, melainkan oleh Laura, Allan, dan Wildan...
Kini ia seperti melewati perputaran waktu, membuatnya mengitari seluruh memori yang pernah ia jalani...
...
...

27 Maret

Hari itu tidak terlalu panas, tidak terlalu sejuk. Semua serba pas. Aku baru saja pulang dari membeli beberapa perlengkapan, untuk janjiku dengan seseorang. Ini bukan untuk candle light dinner atau surprise party. Tapi sebuah janji, sebelum aku dan dia jadian.

“Kak?” suara itu memanggilku.

Suara yang lembut, suara yang sedetik berlalu kemudian langsung memompa gyrus-gyrus di otakku untuk merindukannya. Suara Danny.

“Hei, Blew...”
“Kamu dari mana?”tanya nya.
“Aku dari Lavender... Habis beli ini...”
“Isi nya apa??” ujarnya sambil menyambar bungkusan yang kubeli.

Aku suka sekali melihat matanya yang berbinar penuh rasa penasaran. Rasanya menggemaskan. Aku ingin mencubit pipinya.

“Ini???”
“Iya, itu untuk janji aku dulu kan? Mau buat Mistletoe yang gede trus ada lampunya jadi bisa buat hiasan kamar”

Ia langsung memelukku. Aku setengah siap saat itu, namun langsung aku sambut dan merengkuhnya erat didalam pelukanku. Ku usap punggungnya pelan. Kuhirup aroma tubuhnya yang manis samar. Rambutnya yang halus dan harum membuatku tak ingin melepaskan kecupan demi kecupan pada pelipis dan keningnya.

“Kapan kamu mau buat ini?” tanyanya.
“Hmmm... cium dulu..” godaku.
“Hahaaa” ia tertawa renyah.

Menit berganti jam, dan kami berdua mengerjakan hiasan itu dengan telaten. Pelan-pelan kami tempelkan bagian demi bagian. Aku ingin sekali menciumnya kala itu. Ia nampak begitu serius tetapi juga menggemaskan. Ahh, Danny...

“Kamu kenapa ngeliatin aku gitu?”
“Nggak papa...”
“Bohong. Dari tadi ngeliatin gitu...”
“Emangnya nggak boleh liatin pacar sendiri?”
“Nggak boleh dong...”

Aku langsung bangkit dan menyambar tubuh kecilnya. Ku gendong lalu kuangkat ke kasur. Ia meronta-ronta, tetapi semakin ia bergerak, semakin pula aku memegang erat tangannya. Matanya yang berbinar menyiratkan sorot penuh cinta. Aku tau itu. Aku yakin itu. Aku bisa melihatnya berbeda saat memandang Wildan, atau orang lain. Tetapi saat melihatku, matanya teduh. Dan mata itu semakin membuatku yakin. Aku juga mencintaimu.


....
...
...

“Rik??? Woi!!!” tiba-tiba Wildan menepuk punggung Riko.
“Eh...” Riko tersentak.
“Ngelamun?”
“Dikit...”
“Nih, bantuin...”

Mereka berempat lalu terhanyut dalam pusaran waktu. Hanyut dalam janji yang harus ditepati. Dalam hati, mereka memanjatkan doa yang sama, harapan yang sama. Danny, untuk bisa bangkit.

“Hahhhhh, Done!” ujar Laura.
“Akhirnya...” ujar Wildan.

Riko hanya tersenyum puas. Hatinya seperti ingin meledak, begitu bahagia ia rasakan saat hiasan mistletoe ini telah selesai. Click. Kemudian lampu merah kecil itu berkelap kelip teratur. Pelan. Remang. Indah.

Riko lalu meletakkannya disamping Danny. Diusapnya kening Danny sambil terus menatapnya lekat-lekat. Betapa ia ingat semua memori yang justru semakin menguatkannya. Ah, andai Danny masih menginginkan ia atau tidak. Ia tak peduli. Ia ingin melihat Danny bangun. Danny tersenyum.

Bagi mereka yang mencintai seseorang terlalu dalam. Terkadang hal terpahit yang menoreh dan melukai diri sendiri akan membuat kita kebas dan tak merasakan apapun. Terluka dalam pun tak apa. Jika memang itu yang membuat orang yang dicinta bahagia.

Riko mengusap pelan pipi Danny. Sejurus kemudian, bibirnya mendarat di bibir Danny. Ciuman lembut yang sudah sekian lama ia rindukan. “Ayo, Dek.. Bangunlah....” ujarnya dalam hati. “Ini mistletoe mu sudah jadi, mana legenda mu? Mana keajaibanmu?”

Riko hanya menatap kosong Danny. Ciuman penuh ketulusan tadi belum juga membawa Danny kembali. Membawa Danny sadar. Wildan hanya menepuk punggung Riko.

***


Aku merasa kepalaku begitu berat. Aku hampir-hampir susah membuka mata. Hal yang pertama terlintas dibenakku saat ini adalah, aku berada di rumah sakit. Ah iya, pukul berapa ini? Hari apa ini?

Aku merasa kegelapan telah merengkuhku cukup lama. Tidak sakit, tidak pengap, tidak menakutkan. Hanya tersesat dan aku tidak bisa bangkit. Kini mataku telah melihat lampu terang diatas kepalaku. Mataku melihat sekeliling, selang infus yang masuk dan mengalirkan cairan kedalam tubuhku. Perban di beberapa bagian tubuhku.

Aku berusaha membuka mata lebih lebar lagi. Sunyi. Hanya ada seseorang yang menunduk ditepi kasur, tepat disebelahku. Aku mengenali sosok ini. Kak Riko.

Tanganku kemudian menyentuh kepalanya. Aku begitu merindukannya. Sangat merindukannya.

“Kak...” ujarku pelan.

Tidak ada jawaban. Ia mungkin tertidur.

Ku usap-usap kepalanya, aku begitu kangen. Begitu ingin memeluknya erat-erat. Seperti anak kecil yang menggenggam balon udara supaya tidak mengambang ke udara.

Ia tersentak. Wajah itu menatapku. Itu kak Riko.

“Kak..” ujarku sambil tersenyum.
“Dan... Danny...” jawabnya lirih.
“Kamu tidur disini saja, disebelahku... Nanti kamu sakit...” balasku.

Kak Riko tak menjawab apapun. Ia hanya menangis. Air matanya mengalir deras. Dan aku bingung.


****


5 Tahun Kemudian.

Aku berjalan menyusuri distrik Altstadt pagi itu. Setahun yang lalu aku menyelesaikan kuliah dan berangkat ke Frankfurt, Jerman. Aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi disini. Ya, 5 tahun berlalu begitu cepat bagi sebagian orang. Tetapi tidak bagiku, karena aku harus menjalani hubungan lintas negara. Selama 4 tahun, sampai akhirnya aku mendaratkan diriku disini. Supaya bisa bersama dia.

“Sini!” ujarnya.
“Sabar... Aku juga capek jalan terus daritadi...” jawabku.
“Walau sudah setahun melewati Braubachstrasse, aku tidak pernah bosan”
“Sama, ini salah satu bagian kota tua di Frankfurt. Entah, seperti membolak balik buku sejarah rasanya.”
“Hahaa...” ujar kak Riko sambil merangkulku.

Kak Riko mengejar perusahan Jerman yang ia inginkan sejak dulu. Begitu lulus, ia melamar dan diterima. Sejak saat itu, aku dan kak Riko menjalani hubungan jarak jauh. Sangat jauh. Dan adanya dia disini, menjadikan beasiswa untuk studi disini adalah prioritas utamaku. Siapa tahu, aku juga bisa bekerja disini.

Tabrakan yang terjadi 5 tahun yang lalu adalah momentum bagi kami. Laura tak henti-hentinya menengokku seperti bayi. Dia menerima pesan dari kak Riko untuk terus merawatku, padahal aku tak ingin merepotkan siapapun. Sampai, saat aku wisuda dan diterima disini, Laura menangis dan tak ingin melepaskanku. Katanya ia takut kesepian, tapi pekerjaannya sebagai auditor di sebuah Bank tentulah menyita waktu, ia tak kan kesepian.

Kak Wildan dengan karirnya yang cemerlang, kini telah menyelesaikan pendidikan kenotariatannya. Life does change.

Allan? Aku tak mendengar apapun, ia seperti menghilang. Kata-kata terakhirnya sebelum kami berpisah adalah “maaf”. Ah, dia juga anak orang kaya... Pasti dia tengah berlibur disuatu tempat, atau menghabiskan uang untuk sekedar memperoleh kesenangan.

“Hei, Blew...”
“Hmmmh?”
“Ngelamun aja kamu”
“Haha... Kamu ngapain sih narik aku kesini?”
“Ini ada taman kota deket sini..”
“Iya tau, terus?”
“Nah itu dia!”

Tangan kak Riko menunjuk sebuah pohon biasa yang ada di taman kota itu. Dibawahnya ada bangku taman dan beberapa orang ada yang sedang membaca buku, ada yang sedang mengobrol santai.

“Itu pohon white birch biasa...”
“Iya, dikenal dengan nama Lady of woods” balas kak Riko.
“Trus?”
“Kemarin, aku lewat sini. Terus aku ngeliat sesuatu disana”
“Apa?”

Kak Riko lalu menggamit tanganku. Menggandengku pelan sampai kami berdiri dibawah white birch itu.

“Lihat keatas”
“Hah??”
“Itu mistletoe...”

Aku terkesima. Ini pertama kalinya aku melihat mistletoe.

“Mirip pakis ya”
“Namanya juga tumbuhan parasit”
“Iya...” ujarku.
“Janjiku udah kan Blew?”

Muka ku panas. Panas sekali. Aku tak menyangka perjalanan kami akan sejauh ini, aku tak menyangka kak Riko benar-benar membawaku kebawah daun mistletoe. Berdua.

“Belum” balasku.
“Kok?”
“Cium aku dulu, baru selesai... kan legendanya bilang gitu”

Cup. Sebuah ciuman hangat mendarat dibibirku. Bibir yang pertama kali menciumku seumur hidupku, lima tahun yang lalu. Dan bibir yang masih menciumku sampai detik ini.

Aku menatapnya dalam-dalam. Air mataku hampir jatuh disudut mata.

“Blew...”
“Ya?” ujarku sesak.
“Kamu mau terus mencintaiku?”
“Sampai kapan?” tanyaku.
“Entah...” balasnya.
“Aku akan terus mencintai kamu... Sampai kamu tua dan memutih, sampai perut six pack kamu jadi bundar karena lemak, sampai kita harus saling memapah untuk bisa datang kesini lagi” ujarku.
“Aku mencintaimu, Danny”
“Aku juga...” balasku.


Legenda itu nyata. Hanya perlu meminta, hanya perlu berdoa. Cinta tak pernah salah, ia hanya datang diwaktu yang tak diduga, dan jika hanya kita pantas.


TAMAT

Love Under The Mistletoe Chapter 19

CHAPTER XIX
THE CONNECTION


by
Tuktuk

“RIK! DENGERIN GUE DULU INI SERIUS!”

Brughhh... Pukulan kak Riko lebih dulu menghantam pelipis kiri kak Wildan. Tubuhku gemetar hebat.

“TAIK BABI! ITU SAHABAT ? HAH? ITU SAHABAT? “
“RIK!!! GUE TAU ITU SALAH!! DENGERIN DULU GUE NGOMONG!
“SAHABAT ITU GAK MAKAN PACAR TEMEN SENDIRI, NJING!!!”

Pukulan keras kembali mendarat di muka kak Wildan. Aku merasa pusing. Kepalaku seperti diputar aku tak sanggup melihat ini terjadi kembali. Ratusan perasaan berkecamuk di dadaku. Sesal, sedih, takut, benci, semua berkumpul. Aku tak tau lagi yang mana yang kurasa. Hilang.

Haruskah aku keluar dan menemui mereka ? Ataukah berdiam diri disini dan mengiris perih hati menyaksikan kedua orang yang kusayangi itu bertengkar.

Kak Wildan bangkit kemudian mendorong kak Riko ke dinding. Kak Riko nampak nanar, tangan kak Wildan begitu besar untuk dilawan.

“Rik... Aku minta maaf untuk yang kesekian kalinya. Tapi apa yang kamu liat di video itu... Bukan itu yang sebenernya terjadi... Danny... Dia ga nerima semua itu Rik... Dia masih sayang kamu...”

“Mana... Mana Danny?” ujar kak Riko sambil tertunduk lesu, ia mendudukan tubuhnya dan punggungnya menempel ke dinding.

“Plis, Dan... Plis... Danny mana?” ujar kak Riko tercekat.

Suara kak Riko yang pelan menyayat membuatku berderai air mata. Aku disini, hanya sebaris pintu melapisi kita. Rasanya aku memandang dia begitu jauh, sulit untuk ku gapai. Rasa rindu yang berkecamuk ingin memeluknya, memegang kepalanya, walau hanya sekejap. Tapi aku hanya bisa menangis. Butuh keberanian untuk membuka pintu ini, tapi aku merasa lemas.

“Tolong aku, Wildan! “
“Aku... Aku... Ini Danny yang milih, Rik... Danny yang menghendaki...”
“Aku tau, Aku tau... Dan untuk semua kesalahan yang aku perbuat... Aku Cuma mau ketemu dan meminta maaf...”

Kak Wildan menepuk bahu kak Riko.

“Bangun... Duduk disini... Kamu tenang saja dulu disini... Danny aman, kalau sudah saatnya pasti akan ketemu...”

Kak Riko nampak lesu, ia melangkah gontai ke sofa. Ia nampak jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

“Danny mergokin.. Aku dan Allan lagi makan siang di kafe, dan aku tau dia curiga malam itu... Esok pagi, ia sudah tak ada lagi...”

“Aku tau aku bohong, aku tau itu salah. Tapi demi Tuhan, aku Cuma nemenin Allan yang memaksa makan siang. Aku heran kenapa Allan ada di perusahaan itu...”

“Itu perusahaan Ayah Allan, Rik...” ujar kak Wildan.
“Hah?”
“Iya, Itu yang tunda surat izinmu keluar, itu yang menahan Allan disini, itu yang membuat Danny hilang”

Kak Riko menundukkan kepalanya lebih dalam, aku tau ia meneteskan air mata disudut sana.

“Aku... Aku sayang sama dia, Wildan... Aku sayang Danny.... Dia sudah melewati terlalu banyak hal buruk karena semua ini... Betapa egoisnya aku...” isak kak Riko.

Air mataku membanjir deras. Tidak! Tidak kak! Aku meninggalkanmu demi kita... Demi kamu!! Aku benar-benar tak sanggup mendengar ini semua. Aku merasa semakin sakit dan sesak, rasanya sulit bagiku untuk bernafas.

Aku beranjak dan kakiku melangkah gontai. Terasa ringan. Meraih pintu belakang dan KLETEK.

Pintu tempatku bersandar dan mengawas dari jauh terbuka.

“BLEW?” sapa kak Riko.

Aku menoleh. Kak Wildan berdiri di belakang kak Riko, tampak menahan air mata sebisa mungkin.

“Aku... Aku kangen kamu...” ujar kak Riko.

Aku tak menjawab apapun, aku langsung membalikkan badan dan lari secepat yang aku bisa.

“DANNY TUNGGU!!!!” teriak kak Riko.

Aku tau ia meneriakkan namaku, tapi aku masih berlalu dari pintu belakang ini, berlalu dan melaju. Seolah lari adalah hal yang hanya bisa kulakukan. Seolah aku mampu lari begitu jauh. Jauh sekali. Melewati pagar kost, dan terus tanpa peduli namaku diteriakkan seperti aku ini seorang maling.

Tak ada yang kupedulikan, tidak ada... Sampai suara klakson motor mengagetkan aku dari sebelah kanan, aku tersentak. Tubuhku kaku. Aku ditengah jalan raya. Kemudian langit seolah terbalik dan aku terguling diatas aspal. Kepalaku sakit, tetapi Cuma sebentar... mendadak langit menjadi gelap dan suara-suara bising perlahan mulai sunyi. Sampai pada satu titik, aku merasa perbedaan hidup dan mati itu tipis. Hilang.

****

“Aku yang hubungi orang tuanya” ujar Riko.
“Iya, aku siapin keperluan selama dia dirawat disini...” ujar Wildan.

Seorang perempuan berlari kencang ke arah Riko dan Wildan, ia nampak tergopoh-gopoh.

“Kenapa Danny bisa ditabrak ?”

Riko dan Wildan membisu.

“Kenapa Rik??? Wildan???”

“Tenang, Laura... tenang... kami juga bingung. Semua terjadi begitu cepat. Danny berlari menjauh, ia kabur... “

“Ini salah aku...” ujar Riko.
“Rik... ini bukan salahmu... Jangan buat dirimu bertambah sulit... Paling tidak pengendara motor itu juga bertanggung jawab...”
“Bukan masalah itu, Wildan... Apa salah kalau aku masih menyukainya? Masih menginginkan dia? Jika memang dia sudah melihatku sedemikian jijik... Mungkin saat ia siuman, ia tak akan pernah melihatku lagi...” ujar Riko.

“Dia, tak mungkin jijik Riko!” ujar Laura.
“Rik, dia sayang sama kamu... Dia sering nangis karena nahan kangen... Setiap malam sapu tangan mu yang ia simpan selalu diletakkan disamping bantalnya. Fotomu juga jadi wallpaper HP yang ia setel sesaat sebelum ia tidur.”
“Tapi kenapa... Kenapa harus sampai seperti ini???”

Pintu instalasi gawat darurat terbuka, beberapa orang dengan baju putih keluar dari ruangan itu.

“Yang mana dari kalian keluarga pasien ini?”
“SAYA!” Otomatis ketiga orang itu mengangkat tangan.

“Kami baru saja menghentikan perdarahan yang terjadi di paha kiri dan luka-luka di bagian lain, tetapi ada luka tajam yang cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah. Kami khawatir ia kehilangan banyak darah, ia butuh transfusi secepatnya...”

“Dimana kami bisa ambil kantong darah itu, Dok?”

“Saya rasa itu agak sulit, Nak...”

Laura, Wildan dan Riko mengernyitkan dahi.

“Tim saya juga sempat melakukan pengambilan sampel darah begitu kami yakin ia telah kehabisan banyak darah, kami mengecek golongan darahnya... Ia Golongan darah B negatif, golongan darah dengan rhesus negatif cukup sulit ditemukan. Dan kami tidak yakin ada ‘ready stock’ untuk itu...”

“Darah saya pak!” Riko berujar.

“Kamu rhesus negatif ?”
“Tidak tahu, tapi golongan darah saya B”
“Tidak, tidak semudah itu... Harus diperiksa dahulu...”
“Tolong pak, bantu kami selamatkan anak itu...”
“Pasti... kamu saudara dia ?”
“Iya... Kakaknya!” jawab Riko.

Setengah jam kemudian Riko sudah terbaring di kasur pembaringan, jarum dimasukkan ke lengannya menembus pembuluh darahnya dan perlahan darahnya turun mengisi kantung darah.

“Untung, ya... Kamu sama-sama rhesus negatif...” ujar Laura.
“Iya... Kalau tidak, kita pasti bingung cari B negatif dimana...” sambung Wildan.

Riko tak menjawab. Fikirannya melantur, membayangkan Danny yang masih terbaring lemah belum sadarkan diri.

“Kakak benar-benar minta maaf, Dek... Maaf” ujarnya dalam hati.

****

“Tanda-tanda vitalnya sudah menunjukkan perbaikan... Darahnya juga sudah ditransfusikan, tetapi ia masih belum sadarkan diri. Meskipun begitu, ia masih merespon... Mungkin esok, dia sudah siuman” ujar sang dokter.

“Iya dok.... Terima kasih banyak...”

Dokter tua itu segera berlalu meninggalkan Riko, Laura dan Wildan dikamar itu. Bersama Danny yang tergolek tanpa daya. Perban melingkar dikepalanya, ditangan, di paha dan dibeberapa bagian lain ditubuhnya.

“Kamu disini terus ?” tanya Laura.
“Iya... “ ujar Riko.

Riko lalu menggenggam tangan Danny, menempelkannya di dagu lalu menciumi tangan itu. Seakan sudah lama sekali baginya tak memegang tangan itu. Sudah lama sekali baginya tak menemukan tangan itu.

“Rik...”
“Hmmhh..”
“Tadi, pas aku beres-beres aku nemu ini...” ujar Wildan.
“Apa ini?”

Buku dengan warna maroon gelap, ah itu buku harian Danny.

“Ini punya dia kan?”
“Iya, kali aja lu mau baca...”
“Makasih” ujar Riko.

Halaman demi halaman ia membuka buku harian itu, ia tersenyum. Betapa ia masih mengingat jelas semua momen yang ditulis Danny. Momen saat ia baru pindah ke kost, momen dimana harus bermain hujan dengannya, momen untuk kali pertama nonton bareng, momen dimana ia memeluk Danny saat ia sakit, dan saat pertama kalinya ia dan Danny resmi berpacaran. Semua jelas, sejelas sinar matahari.

Kemudian tulisan Danny yang semula seperti not balok yang melompat-lompat riang, berangsur membiru. Sampai dimomen dimana Danny mencurahkan semua isi hatinya, ketakutannya, kekesalannya dengan Allan, sampai rasa sakit yang masih terasa karena harus meninggalkan Riko.

“April 12 – Kamu sedang apa kak? Jam segini seharusnya kamu sudah makan malam, kamu sudah harus mandi dengan air hangatmu....”

“April 13 – Dearest Love, Dearest Mistletoe.... Aku masih mengingatnya dengan jelas, masih. Dan bahkan aroma tubuhnya seperti oksigen yang kuhirup, aku membauinya dimanapun. Dan aku masih percaya kamu, kita... Dan janjimu soal daun mistletoe... Kamu masih mengingatnya kah?“

“April 14 – Aku mencintaimu. Sungguh.”

Riko lalu tercekat, itu tulisan tersingkat dan terakhir di buku harian ini. Tulisan yang begitu pendek namun menyiratkan makna yang begitu dalam.

“Aku sayang kamu, Danny. Aku mencintaimu....” ujar Riko sambil menciumi tangan Danny yang belum juga membuka matanya.


“And in another life, I would be your guy...
We keep all of our promises, be us against the world...
And in another life, I would make you stay....
So I don’t have to say, you were the one that got away...
The one that got away....”
(Katy Perry – The One That Got Away)


to be continued




next chapter
 

Love Under The Mistletoe Chapter 18

CHAPTER XVIII
POCKET OF SUNSHINE


by Tuktuk

“Selamat pagi” suara kak Wildan membangunkanku.
Aku mengusap mukaku dengan kedua telapak tangan, kepalaku masih terasa berat. Aku tidak bisa tidur semalaman.
“Kamu ga bisa tidur?”
“Iya” jawabku pelan.
“Aku sudah beli sarapan...”
“Hmmm... Belum lapar kak...”
“Ga mesti lapar kan buat sarapan?”
“Ga usah” jawabku.

Kak Wildan lalu mendekat ke tepi tempat tidur, menggamit kedua tanganku.
“Riko pasti sangat marah kalau tau aku menyembunyikan kamu disini... Dan akan lebih marah lagi kalau tau aku ga bisa ngerawat kamu disini, mau ya makan?”

Aku tersenyum lebar.
“Hahaha... Iya deh....”
“Gitu dong...” ujarnya sambil mengusap kepalaku.

Tangan kak Wildan besar dan hangat, tanpa sadar aku menggenggam erat tangan yang baru saja mengelus kepalaku.
“Ayo kita makan!” ujarku.

Kami lalu beranjak meninggalkan kamar dan menemui dua piring nasi goreng lengkap dengan kerupuk dan telur mata sapi.
“Kamu kuliah?”
“Nggak, kan ini sabtu...”
“Trus, ada rencana kemana?”
“Nggak tau.. nggak ada kayaknya..”
“Nggak mau kemana-mana?”
“Nggak, mau disini saja...”
“Ya sudah, aku juga nggak kemana-mana kalau gitu. Nemenin kamu aja”
“Kalo kakak ada janji, ya penuhi dong... Masa gara-gara aku batal?”
“Aku free hari ini, dek... Hari ini nemenin kamu ajalah...”

Dengan cepat aku habiskan sarapan itu, aku benar-benar tidak merasa lapar. Tetapi aku merasa harus menghabiskannya, harus. Aku hanya ingin menikmati seharian ini sendiri sebenarnya. Tetapi apa mau dikata, kalau kak Wildan merelakan waktunya untuk tidak melakukan apa-apa selain menemaniku seharian.
Aku beranjak dari meja makan, lalu bergerak dan duduk di depan TV. Ada beberapa novel tergelatak disana. Ah, aku juga suka membaca buku... Terutama kalau sedang senggang seperti ini. Kulihat lihat diantara tumpukan buku-buku itu, kupilih satu yang sudah kusam lalu berguling disofa.
“Selamat pagi...” sapa kak Wildan.
“Pagi...” jawabku sekenanya sambil mengacuhkan kak Wildan.

Ngapain sih kak Wildan bilang selamat pagi, padahal jelas-jelas dia sudah menyapaku beberapa saat yang lalu.
“Sepertinya, ada yang lagi asik baca buku nih...”
“Hmmmh...” gumamku sambil terus membaca buku.
“Saya mau tanya sesuatu boleh?”
“Apa?”
“Pilih mana, Bruno Mars atau Jason Mraz?”
“Nggak dua-duanya...”
“Jadi?”
“Boyce Avenue.”
“Oke, pilih mana Captain America atau Iron Man?”
“Iron Man”
“Sepertinya sekali ini benar, tebakanku...”
“Hah?” balasku, tetapi mataku masih tertuju ke buku yang aku baca.
“Makanya lihat sini dong”

Aku menoleh, kulihat kak Wildan sedang memegangi handycam dan memakai topeng Iron Man sambil pakai fedora ala ala Bruno Mars. Aku tertawa.

“Kamu ngapain sih?”

Diletakannya handycam itu diatas meja, lalu kak Wildan membuka topengnya.

“Pengen menghibur kamu...”
“Hahaha, konyol... Aku baca buku aja udah terhibur kok...”
“Nggak bisa gitu, kamu mesti ketawa dulu baru aku yakin...”
“Trus sampe pake handycam segala...”
“Soalnya jarang kamu bisa ketawa lepas gitu...”

Aku tersenyum tipis.

“Udah, jangan galau lagi...”
“Nggak kok... Hehe..”
“Baca buku apa?”
“Little Summer...”
“Agak berat buku itu, tapi kamu kan pinter... Pasti bisa ngerti...”
“Iya nih kak, aku agak kurang mengerti... Awal-awalnya saja sudah ribet...”
“Haha! Sebenarnya buku ini mau kakak kasih ke kamu...”
“Oya?!”
“Iya, tapi kamu waktu itu sudah keburu tidur... Hari dimana kamu ulang tahun...”
“Hmmmh...”
“Sekalian mau nembak sih rencananya dulu... Tapi kalaupun aku nembak mungkin ga bakal diterima juga kali ya...”

Aku tak menjawab.

“Danny, buku ini inspiratif sekali. Aku yang dulunya terpuruk semenjak baca buku ini perlahan timbul semangat lagi, terlebih sejak ada kamu. Aku merasa dunia semakin terang, you’re my little summer, my little pocket of sunshine...”

“Darimana emangnya?”
“Kamu yang penyabar, kamu yang baik hati, kamu yang polos. Aku rindu sosok seperti itu. Aku rindu sosok untuk disayangi seperti itu..”

Nafasku tercekat. Aku menatap kak Wildan lekat-lekat. Ia masih menatapku seperti kak Riko menatapku. Tatapan penuh kasih sayang, tatapan penuh cinta. Kak Wildan kembali menggenggam tanganku. Mukanya semakin mendekat lalu... Cup.... Bibirnya mendarat di bibirku. Aku terkejut, rasanya seperti disetrum.
Aku mendorong tubuhnya kebelakang. Aku memalingkan muka, tak berani menatapnya langsung.

“Ma... maaf dek..”

Aku menarik nafas panjang, mencoba mengatur kembali nafasku. Rasanya seperti dihipnotis, kemudian sepersekian detik aku tersadar. Ini salah.

“Ini salah kak...”
“Iya, aku tau... Aku bodoh karena belum sadar... Aku bodoh karena berpaling dari kenyataan bahwa kamu mencintai Riko”

Aku menunduk lesu merasa dunia sudah terputar balik. Mana yang benar dan mana yang salah, semua samar. Seperti sinar matahari yang menyilaukan mata. Sementara handycam itu membisu, dengan lampu merahnya menyala, tanda ia menyaksikan kami berdua dan menuangnya dalam rekaman.

****

“Kamu makin kurus” ujar Allan.
“Bukan urusanmu...” jawab Riko.
“Sejak kapan kamu ngerokok?! Jangan bodoh Rik!”
“Sejak kapan aku mesti dengerin kamu?! HAH?” balas Riko dengan nada semakin tinggi.

Riko lalu membalikkan badan sambil terus menghisap batang rokok itu. Perlahan ia menjauh, menuju teras kost. Tatapannya kosong, menantikan sesuatu yang sendirinya ia tak yakin kapan akan datang. Tatapan penuh penantian.

“Rik...” ujar Allan lirih.
“Andai kamu bisa ngeliat apa yang aku lihat,ngerasa apa yang aku rasa, kamu pasti ngerti betapa sakitnya hati ini, Rik..” sambung Allan.

Riko tak menggubris, ia terus saja menghisap rokoknya.

“Andai Rik, andai aku bisa menukar semua hal bodoh yang aku lakukan dulu... Kutukar semua yang aku punya untuk bisa balik ke kamu lagi, Rik...”

Riko menghisap lebih dalam lagi lalu menghembuskan asap rokoknya.

“Dan Allan, kalau kamu ngerasa sakit, ngerasa kosong, ngerasa ga dianggap, ngerasa terbuang? Itu yang aku rasain sekarang, bajingan!”
“Fine, Rik... Fine... Bilang aku bajingan! Bilang apapun yang kau suka! Danny itu masa lalu, sekalipun kamu ngerasa dia bagian dari kisahmu, dia tak lebih angin yang menyejukkan... Kemudian berlalu Rik... BERLALU!”

Riko lalu mendorong Allan kedalam, meremas kerah bajunya dan itu membuat Allan menatapnya dengan seringai tajam.

“APA RIK? PUKUL! PUKUL SAJA!!!”
“TAHI KAMBING!!!!! ARRGGHHHHHH!”

Riko lalu mengacak-acak rambutnya.

“Sekali lagi, kamu bilang Danny sekedar masa lalu, sekali lagi kamu bilang gitu.... Aku pastikan kamu gak akan bisa buka mulut kamu lagi!”
“Oya!? Oya??? Lantas folder di laptopmu itu apa Rik? APA??! Itu foto kita Rik! KITA!!”
“ANJING! Itu bukan aku yang simpen! Itu WILDAN semuanya! Aku sudah sejaklama mau hapus foto-foto sampah itu! Tapi Wildan yang menolak! Kalau bukan karena dia, sudah lama aku hapus foto-foto sampahmu itu!”

Allan terdiam. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Riko yang hangat, Riko yang memesona, Riko yang dulu ia cintai kini hilang. Sosok yang didepannya tak lebih seperti sosok orang dengan amarah membeludak.
Kepala Allan seperti dibenturkan ke tembok. Ia merasa bingung, kini apa yang ia perjuangkan dan rebut seakan kosong dan hancur.

“Sekarang pergilah, pergi... Aku mohon...” ujar Riko.

Allan tak menyahut. Ia terdiam.

“Ga ada yang bisa kamu peroleh disini, Allan... Ga ada... Aku gak akan pernah berpaling ke kamu... Ga akan lagi...”

Allan melangkah gontai, seluruh ototnya lemas. Ia masuk ke kamar dengan tangis membanjiri mukanya.

“Wildan, Rik... Wildan...” isaknya.

Riko menoleh, mencari tahu apa yang baru saja ia dengar.

“Hah?” ujar Riko.
“Wildan, Rik. Danny bersama Wildan...”

Semua ini menjadi masuk akal bagi Riko. Danny tak mungkin bisa jauh di kota ini, tak mungkin bisa hilang secepat kilat. Dan andai Riko lebih dahulu mencari tahu Danny di tempat Wildan, mungkin ia tak akan segila ini. Hanya tempat Wildan yang memungkinkan, dan belum ia datangi. Ia takut Wildan akan marah karena kehilangan Danny tanpa jejak. Tapi sekarang, ia sudah yakin benar kalau Danny disana.

***

“Kamu masih marah ?”
“Aku nggak marah kak...”
“Maafin kakak ya, Dan...”
“Kamu gak perlu minta maaf kak...”
“Habisnya, kamu ngediemin kakak satu jam lebih... Aku jadi ngerasa khawatir sekaligus ga enakan..”

Brmmm.. Tiba-tiba dari halaman kak Wildan terdengar suara motor berhenti. Suara yang tak asing, motor kak Riko!

“Kak! Itu sepertinya...” bisikku.
Kak Wildan mengangguk. Aku setengah berlari menuju ruang belakang dan mengunci pintu rapat-rapat. Persis seperti seseorang berselingkuh dan pasangannya datang. Aku merasa bodoh.

Tok Tok Tok!!!! Ketukan itu terasa kasar sekali.
“Tumben lu dateng nyet?”
“Danny mana?!”
“Danny?”
“Iya, Aku tau Danny pasti disini!”
“Maksud lu apa nyet?”
“Kalaupun Danny gak disini, pasti lu tau sesuatu, Wildan! Dimana dia?!”
“Aku beneran gak tau Rik aku...”

Tiba-tiba Wildan tercekat melihat Riko mengambil handycam yang tergeletak diatas meja.

“Ini nyala? Lu lagingapain?”
“Gua.. Gua...”

Aku mengintip dari sela-sela pintu, kulihat kak Riko menatap handycam itu. Seperti menyaksikan sesuatu.

“BAJINGAN KAMU WILDAN!!!!!” teriak Kak Riko.

Aku memejamkan mata. Ini tak mungkin terjadi lagi...
Diluar, matahari begitu terik... Darah segar mungkin bisa mengalir deras jika harus menetes saat ini...

to be continued




next chapter
 

Love Under The Mistletoe Chapter 17

CHAPTER XVII
THINKING OF YOU


by Tuktuk

Riko memencet tombol yang sama pada handphone nya. Tombol dial. Dengan satu nomor yang ia miliki. Hanya satu nomor itu saja. Nomor telepon Danny. Setiap kali ia berusaha mendengar, selalu suara mesin penjawab dari operator seluler itu berbuny. Pertanda nomor Danny sudah tidak aktif lagi.
Danny telah ‘hilang’ selama 3 minggu. Dan selama 3 minggu itu Riko terus menerus mencari dan menghubungi Danny. Kost teman Danny sudah ia sambangi. Tapi Danny tidak berada disana. Ah, ingin sekali ia ke tempat Wildan. Bertanya kepada Wildan, apakah Danny kesana? Apakah Danny mengatakan sesuatu kepada Wildan? Tetapi ada sesuatu yang menahan Riko untuk sebelum melangkahkan kakinya menemui Wildan. Ia ingat akan janjinya untuk menjaga Danny, tentu ia akan menjadi bulan-bulanan Wildan jika tahu Danny kabur begitu saja. Tentu hubungannya dengan Wildan akan hancur lagi.
Riko benar-benar bingung. Semangatnya yang membubung tinggi mendadak terhempas ke tanah. Ia yang sebelumnya berkeyakinan penuh untuk mengejar wisuda dan mendaftarkan diri di salah satu program beasiswa kini mendadak kehilangan semua itu. Ia rusak.

“Kamu belum mau makan?” ujar Allan lirih.
Riko menggeleng.
“Yakin?”
Riko menatap Allan lekat-lekat.
“Allan, Aku ga tau apa yang kamu lakukan. Tapi tolong, beritahu aku dimana Danny? Kamu pasti tau sesuatu...”
“Rik, kalaupun aku tau kemana bocah itu pergi... Aku juga akan kasih tau kamu. Ngeliat kamu seperti orang bodoh setiap hari, it’s getting me sick!”
“Then bring him back to me! I love Danny!”
“Sadar Rik! Sadar! Dia berlalu, Rik! Dia masa lalu!” teriak Allan.

Riko menundukkan kepala nya.

“Rik... Aku... Aku bener-bener minta maaf...” ujar Allan sembari menundukkan badannya.
“Untuk apa?” balas Riko.
“Maaf untuk apa yang aku lakukan dulu. Ngebohongin kamu dan menjalin affair dengan Wildan...”
“Hah... Hahhahah... You’re silly!”
“Rik, Aku ingin kita mulai lagi. Kita ulangi lagi... Aku sama kamu...”

Allan memegangi kedua tangan Riko. Matanya kini menatap mata Riko lekat-lekat. Apa yang Riko lihat bukanlah sepasang bola mata Allan. Tetapi yang ia lihat adalah Danny.

“Nggak... Nggak... Ini gila!” ujar Riko.
***


“Tumben lo gak bareng sama kakak lo Dan?” ujar Doni.
“Eh, iya Don... Gw pisah kost sama dia. Cari suasana baru...”
“Kok bisa? Dia kekost gw loh kemaren...”
“Trus? Lo kasih tau gw kemana?”
“Ya nggaklah, gw aja gak tau lo dimana... Lagian lu berdua aneh banget, kok dia bisa ga tau lo pindahan... Pindah kemana dia juga ga tau... Kayak orang bingung...”
“Hehe, gw pindahan aja.. Biasa masalah keluarga...”
“Ohhh... Ya, gw ngerti deh...”
“Bye Don.. “

Aku berlalu meninggalkan Doni, teman sekelasku. Yah, anak-anak kampus cuma tau aku dan kak Riko kakak adik. Aku sih bilangnya kakak sepupu. Setiap pulang, aku selalu mengintip dari lantai dua gedung utama. Mengintip apakah kak Riko ada disitu. Mengintip apakah dia masih mencariku. Sudah dua minggu ini aku pulang lewat pintu belakang. Yahh, gak lazim sih karena jarang banget orang pake pintu ini. Meskipun jarak untuk bisa ke terminal menjadi dua kali lipat karena aku harus memutar, aku lebih memilih seperti ini. Lagian menyendiri itu juga menyenangkan. Terutama untuk saat-saat seperti ini.
Drrrt... Drrrtt.... SMS masuk ahh... Dari kak Wildan. Aku mengganti nomor handphoneku, yang tau nomor ini hanya keluargaku dan kak Wildan.
“FROM : K’WILDAN
“HOW WAS YOUR COLLEGE? KK GA BISA PULANG SIANG INI, BARU SORE BISA PULANG. KAMU LUNCH SENDIRI YA...”

Ah, tanpa disuruh aku pasti cari makan juga. Kantin Hasanah? Ah..Bad idea. Oke, aku segera pulang saja. Perjalanan ke rumahku yang baru ini 1 jam. Itu kalau tidak macet. Jauh memang, but it’s better. The far i got from kak Riko, the better i get.

Sepanjang perjalanan pulang, aku meraba cincin yang masih berada dijari manisku. Cincin yang dipasang oleh kak Riko. Aku tak punya alasan selain mengakui bahwa aku masih mencintainya. Aku belum siap meninggalkannya. Dan cincin ini yang membuatku seolah masih terjaga dengan kak Riko. Aku tak tau bagaimana ia melewati hari tanpa aku. Bagiku, 3 minggu belakangan adalah minggu terburuk selama aku berada di kota ini. Andai harus berakhir begini, aku menyesal bahwa kami pernah dipertemukan.

***




“Makan dulu, Rik...” ujar Laura.

Riko masih tak menjawab. Ia mematung dan matanya menatap kosong ke kamar pintu Danny. Kamar yang memiliki sejuta kenangan. Kamar yang memutar semua rekaman memori bagaimana ia bertemu Danny, bagaimana ia menghabiskan waktu bersama Danny. Riko masih mengingat jelas semuanya, bagaimana ia meletakkan barang-barang Danny sewaktu pindah ke kost ini. Menaruh tumpukan baju Danny atau sekedar mengecek apakah Danny sudah tidur atau belum.
Alasan itu kini tidak ada. Tidak untuk Riko. Ia seperti kehilangan sayap dan baginya sudah mustahil untuk terbang seperti dulu.

“Rik! Makan dulu ini! Aku ga mau kamu sakit!” bentak Laura.
“Aku ga laper...” jawab Riko.
“Aku tau ini berat, Rik... Apa kamu mau seperti ini terus? Danny itu orang yang baik... Dia gak mungkin seperti ini kalau nggak ada apa-apa...”
“Itu yang buat aku bingung, Laura! Kami tak pernah bertengkar, kami tak pernah ada masalah sebelumnya! Itu yang buat aku speechless!”
“Nanti kita cari Danny,kamu sudah tanya Wildan?”
“Ga usah, nanti aku sama Wildan jadi berantem. Dia pasti ngamuk kalau tau Danny kabur...”

Laura menunduk. Laura tau benar sifat Riko dan Wildan. Kedua sahabatnya itu adalah orang yang penyayang. Ia tau betapa keduanya bertengkar hebat sewaktu kasus Allan dulu. Ia tak mau hal yang sama terulang lagi.

“Ya sudah, kamu makan ya...”

Laura beranjak dari tempat duduknya, membuka bungkusan makanan yang ia beli diluar tadi kemudian menyiapkannya kedalam mangkuk dan menyuapkan suap demi suap ke Riko. Ia suka melakukan ini. Ia sering menyuapkan bubur saat Wildan atau Riko sedang sakit atau sedang kalut. Ia suka ketika Riko dan Wildan membutuhkan dirinya.

“Skripsi kamu gimana?” tanya nya.
“Lancar... Cuma aku belum lanjut...”
“Kerjainlah! Aku rasa Danny juga pengin kamu cepat kelar. Kamu masih mengejar perusahaan Jerman itu kan? Ayo kejar! Recruitment nya berapa bulan lagi lho...”
“Aku lagi ga kepingin ngapa-ngapain sekarang...”
“Nggak bisa gitu Riko! Ini bukan hal yang Orang Tua kamu inginkan, Danny inginkan, aku dan Wildan inginkan! Kamu juga ga akan mau seperti ini terus!”
“Terlalu berat bagi aku untuk move on sekarang! Aku ga bisa bohong Laura! Aku hancur!!!!”

Buru-buru Laura meletakkan piring makan siang Riko dengan cepat ia memeluk Riko. Tangis Laura membuncah di bahu Riko.

“Kamu bukan Riko... Bukan Riko yang aku kenal... Riko yang aku kenal ga pernah lupa dengan impiannya. Impian kamu kerja di Jerman!”
“Jangan nangis, tolong...” ujar Riko sambil mengusap rambut Laura.
“Aku sakit, ngeliat kamu gini lagi. Kamu dan Wildan itu keluarga aku disini. Kepergian Wildan sendiri saja sudah buat aku sedih karena kita bertiga sudah tak bisa sesering kemarin bertemu. Sekarang? Kamu seperti ini....” ujar Laura sambil terisak.
“Aku... aku mungkin Cuma butuh waktu Laura...”

Sekitar 5 menit keduanya terdiam sementara kepala Laura masih menggelayuti bahu Riko. Keduanya terdiam dalam angan masing-masing. Riko yang masih hidup didalam bayang-bayang Danny berusaha keras melupakan wajah Danny detik demi detik. Tetapi ia gagal. Semakin ia berusaha melupakan, semakin wajah Danny terlihat jelas dimana-mana.
Semakin ia berusaha mengalihkan pandangannya, semakin ia ingat merah bibir Danny, sebagaimana ia ingat aroma manis dari badan Danny yang mungil saat ia peluk, sebagaimana ia suka mengecup belakang telinga Danny saat ia membenamkan Danny kedalam dada nya, sebagaimana ia mengingat jarak antara kedua bola mata Danny yang memancarkan rasa suka yang begitu dalam. Dalam sekali.
Riko menyerah. Mungkin ia masih akan terus mencintai Danny, meskipun untuk sekarang ia tak bisa dimiliki.

“Kamu dimana sekarang, Blew? Aku kangen kamu...” ujar Riko dalam hati.

***

“Baju kamu mau ditaruh di lemari mana?” ujar Wildan pelan.
“Aku taruh disini saja dulu” ujarku sambil meletakan potongan demi potongan pakaianku di lemari.
“Aku tunggu di teras ya, mau ajak kamu makan...”

Aku mengangguk pelan. Aku terus saja memindahkan satu demi satu pakaian itu dari kopernya. Sampai akhirnya aku tertegun dengan sapu tangan cokelat yang terselip diantara pakaian itu. Sapu tangan kak Riko. Sapu tangan dengan pinggiran garis putih dan abu-abu. Sapu tangan yang masih ada harum parfum kak Riko.
Parfum yang selalu ia pakai disela-sela dada dan bahunya.Parfum yang membuatku menggilainya sekarang. Semua yang menyumbat sela dada dan kerongkonganku kini membumbung keluar. Turun deras dalam bentuk tetesan air mata. Tanpa henti. Sambil terus mengingat kak Riko. Cuma dia.

“Kamu...” tiba-tiba kak Wildan menyelinap kembali masuk ke kamar.
Aku tercekat sambil menoleh ke arahnya.
“Kamu kangen Riko?”
Aku mengangguk.
Kak Wildan lalu menghampiriku, menundukkan badannya lalu merengkuhku dalam pelukannya. Aku merasa hangat. Lalu tangisku semakin membuncah. Aku masih mengingatmu, kak. Masih.

to be continued



 

Love Under The Mistletoe Chapter 16

CHAPTER XV
BROKEN STRING

by Tuktuk



“Brew... Air hangatnya sudah siap..” ujarku pelan.

Kak Riko beranjak dari kasurku. Perlahan berlalu menuju kamar mandi. Aku menarik lengannya. Ia seperti tersentak. Mataku menatap tajam matanya. Kami saling beradu pandang. Aku mencari sosok yang sama, dengan tatapan yang sama saat melihatku. Aku masih melihat tatapan itu. Aku masih merasa ia mencintaiku.

Cup. Bibir kami saling berpaut satu sama lain. Saling mengecup, berkejar-kejaran. Permainan yang begitu bergairah. Seolah menyulut lagi apa yang sempat hilang kemarin. Aku masih mencintainya dan masih ingin mencintainya. Tetapi jika ingat bahwa kami sudah saling tidak jujur hari ini, aku merasa tercekik.

Aku dorong kak Riko. Ia nampak bingung dan berusaha memelukku, tapi aku mendorongnya lebih keras.
“Kamu... Kamu mandi saja...”
“Oh, okay...”

Ia berlalu. Membalikkan badan. Meninggalkan aku.

“Well, kamu orang yang cukup sabar ya...” suara Allan menghancurkan ketenangan yang selama 30 menit terakhir aku cari.
“Maksud kamu?” tanyaku.
“Yah, saat pacar selingkuh dan kamu tau kalau aku sengaja merebutnya... Kamu masih belum bertindak... Sabar juga...”
“It’s enough Allan, kami saling mempercayai satu sama lain.”
“Oh ya? Aku ngeliat kamu sama Wildan tadi sore. Kalian baru mau masuk resto itu. Tapi ga jadi... Apa karena ada aku sama Riko? Takut ketauan selingkuh juga?”
“Aku bukan selingkuh! Aku Cuma nepatin janji ke kak Wildan... Dia yang maksa..”
“I don’t believe it, Danny... Jangan jadi orang suci... Daripada kamu setengah-setengah sama Riko, mending kasih ke aku aja...”
“You’re sick!”
“Well, I am sick... So what?”

Aku tidak berbicara sepatah kata lagi. Aku mendekati pintu kamarku dan menutupnya. Klek. Ku kunci rapat pintu kamarku. Tidak untuk malam ini, tidak untuk saat ini. Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa.

Aku melihat gantungan Mistletoe kecil yang dulu aku buat untuk jimat keberuntungan. Aku raba, sedikit berdebu. Semua memori kembali terputar. Apa yang dulu terekam jelas di otakku. Kini terputar kembali. Bagaimana kami melewati semua perjalanan ini. Sampai kisah ini terjadi. Ku dekap erat hiasan mistletoe itu.

Kemana keajaibanmu sekarang? Kenapa saat aku membutuhkan keajaiban untuk aku dan kak Riko, aku tak mendapatkannya? Aku mulai tak mempercayai legenda ini. Tidak.

Aku tarik nafas dalam-dalam. Aku koyak, aku cabik, aku sobek hiasan itu. Hancur. Tak ubahnya seperti sampah. Dan aku yakin, ia tidak akan memberi keajaiban lagi sekarang. Aku merasa begitu rapuh. Tak berdaya.

***

Aku merasa sedikit berat saat membuka mata ini. Pagi ini kurasa begitu tak bergairah. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Tubuhku rasanya remuk. Aku beranjak bangun dari kasur. Berusaha ke kamar mandi.

Ah iya, aku semalam tidak bertemu kak Riko. Aku mengunci rapat pintu kamar. Pasti dia heran.
Aku melangkah gontai menuju kamar kak Riko. Ku raih gagang pintu kak Riko. Tidak dikunci. Aku menengok kedalam.

Cup. Allan mengecup bibir kak Riko yg sedang tidur. Aku tercekat. Aku tak percaya apa yang aku lihat. Oh Tuhan, hal ini akan semakin memburuk. Aku yakin. Aku menutup pintu kamar kak Riko. Klek. Kemudian aku berjalan mundur kearah tembok. Aku terhenyak. Aku merasa dibelah dua. Mati rasa.

Klek. Pintu kamar kak Riko terbuka.

“Ngapain sih pake ngintip-ngintip?” ujar Allan.
“Bajingan kamu!” umpatku.
“Sudah kubilang, kamu orang kelewat sabar atau sedikit bodoh?”
“Setan!” ujarku sambil mendorong Allan ke dinding.
“Danny... “ ujar Allan sambil melepaskan tanganku. Ia lalu merogoh kantong celananya.
“Kamu tau surat apa ini Danny?”

Aku masih terdiam.

“Ini surat yang membuat Riko gelisah. Surat yang menahan Riko. Surat yang membuat aku kembali kesini...”
“Ga usah basa basi Allan!”
“Kalau kamu sayang sama Riko, kamu harus lepasin Riko. Kalau nggak, kasian Riko nya...”

Aku merampas surat itu dari Allan, aku membukanya.

Mataku seperti berkunang-kunang. Aku tak mempercayai surat yang aku baca. Itu surat dari Foster Trusco. Perusahaan besar. Perusahaan yang memiliki alat untuk penelitian skripsi kak Riko. Surat itu berisi izin untuk melakukan peminjaman alat untuk penelitian. Surat dari perusahaan Ayah Allan.

Aku menutup muka ku. Aku seperti meminum racun. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ini alasan kenapa kak Riko pulang larut, setiap hari menanyakan apakah surat izinnya telah ada atau belum. Ini alasan kegundahan ia. Dan alasan itu ditahan oleh bajingan ini.

“Kenapa tak kamu serahkan Allan?!! Kamu tau surat ini penting untuk dia!!!”
“Kamu juga tau surat ini penting untuknya, tapi kenapa juga kamu tak serahkan Riko buatku, Danny?”

Aku tersentak.

“Danny, aku di Jakarta saat itu. Aku tak sengaja menemukan proposal dari Riko, semua surat yang berhubungan dengan perusahaan anak harus dimasukkan ke perusahaan induk, di kantor Ayahku. Dan saat tahu surat ini berhubungan dengan Riko, aku merasa inilah saat yang tepat untuk memperbaiki hubungan kami dulu. Tapi apa yang kudapat? Riko sudah berpacaran dengan anak kecil seperti kamu? Ck...”

“Serahkan surat itu untuk kak Riko, Allan.. Aku mohon” pintaku.
“Dengan syarat.”
“Apa?”
“Tinggalkan Riko”

Aku terhenyak. Aku menunduk.

“Baik. Aku juga mengajukan syarat.”
“Apa?”
“Aku ingin berpisah dengan kak Riko. Aku tak mungkin tinggal disini, berada dalam satu rumah. Aku akan pergi. Tolong rahasiakan. Biarkan ia tau sendiri aku yang pergi.”
“Oh tentu saja. Dengan senang hati, aku yang siapkan mobil untuk angkut barangmu”

Allan membalikkan badannya dan masuk ke kamar kak Riko lagi. Air mataku jatuh deras. Begitu deras. Mengalir sembari aku mengunci rapat pintu kamarku. Ruangan yang mendadak menjadi sempit dan menyesakkan dadaku. Menyisakan isak tangis dan rasa bersalah yang menusuk dadaku berulang kali.

Aku mencintai kak Riko. Mencintai ruangan ini. Mencintai tempat ini dengan semua kenangan yang kami lewati. Semua hari yang pernah aku alami.




***

Riko terbangun. Ia merasa kepala nya begitu berat. Seperti tertidur begitu lama. Ah iya, semalam Danny mengunci pintu kamarnya. Ia merasa insomnia, sehingga baru terlelap pukul 4 pagi. Dan sekarang jam di tangannya menunjukkan pukul 12 siang.

Ia mengusap mukanya. Perlahan ia beranjak meninggalkan kasurnya. Menuju ruang tengah yang terlihat sepi. Hanya Allan dengan sepucuk surat di atas meja.

“Danny mana? Kuliah?”
“Oh, Aku ga tau. Tiba-tiba dia ga ada aja... Eh ini tukang post tadi anter ini..”
“Surat buat aku?”
“Iya...”
“Tanggalnya kok lama banget baru dianter sekarang, trus udh dirobek?”
“Itu yg robek aku, abis penasaran...”
“Ini...”

Riko terdiam sejenak. Mencerna kata demi kata di surat itu. Sejurus kemudian matanya berbinar.

“Horeee!Akhirnya!!! Surat izin sudah kudapatkan!!!! “ Ujarnya girang.
“Blew!!!! Danny!!!! Danny!!!” teriaknya didepan kamar Danny.

Tok!Tok! Tok! Ia mengetuk keras pintu kamar Danny. Tapi tak menerima jawaban.
Tok! Tok! Tok! Ia mengetuk lebih keras lagi. Masih tak ada jawaban.

Riko lalu membuka pintu kamar Danny. Ia melongo. Ia sapukan pandangannya ke seluruh jengkal kamar Danny. Bersih tak berbekas. Hanya lemari dan meja belajar yang memang sejak dulu ada. Semua tentang Danny hilang. Kamar itu kosong.

Kepala Riko mendadak berat dan pandangannya mendadak gelap. Ia menunduk sambil memegangi kepalanya. Ini pasti mimpi. Ia masih berharap ini mimpi.

Ia berlari ke arah teras rumah. “DANYYYY!!!!!” Teriaknya keras.
Tiba-tiba Allan memeluknya dari belakang.

Riko melepaskan tangan Allan.
“Mana Danny!!! Mana Danny!!!”
“Aku nggak tau, Ko! Tiba-tiba dia udah nggak ada! Dia ngeliat kok, kita kemarin makan berdua di resto favorit kalian! Kamu mestinya sadar Riko!”

Riko terhenyak. Ia terduduk lemas. Nafasnya berganti begitu cepat. Denyut nadinya berdetak cepat. Ia bangkit kembali lalu masuk ke kamar Danny.
Kemana kamu, Danny? Kemana kamu? Tanyanya dalam hati. Ia hanya menitikkan air mata disudut matanya. Ia melihat seisi kamar itu dan menemukan secarik kertas. Tulisan Danny.

“Brew,

Tolong jangan cari aku. Tolong jangan ingat tentang kita. Aku meminta maaf karena aku tidak pernah menjadi pacar yang cukup baik untukmu. Aku yakin, tanpa aku kamu masih bisa melaju, mencapai mimpi-mimpi yang selama ini membatasi kamu. Tanpa aku, seperti dulu waktu kamu belum kenal aku.

Go chase your dreams, go pursuit your own happiness, cause i’ll pursuit mine.
Kita berada di planet yang berbeda, dengan garis edar yang berbeda. Meskipun di galaksi yang sama.

Blew”

Riko terdiam. Ia menekuk kepalanya. Menenggelamkan kepalanya dalam-dalam. Berharap ini cuma mimpi. Dan mimpi akan usai saat ia terbangun.



***

“Aku terkejut pas baca sms kamu didepan rumah...”
“Maaf kak, aku ga tau harus kemana lagi.” Ujar Danny pelan.
“Ini, cokelat panas. Aku tau, Riko suka buatin ini ke Kamu.”
“Makasih” ujar Danny.

“Kamu yakin mau tinggal disini? Yakin putus dari Riko?”

Danny mengangguk.
Wildan lalu memeluknya erat. Menenggelamkan Danny dalam pelukannya. Lalu tangis Danny membuncah. Tak terbendung.


“ Nevermind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you...
Don’t forget me, I beg... I remember you said...
Sometimes it lasts in love, sometimes it hurts instead...”
(Someone Like You – Adele)


to be continued


Love Under The Mistletoe Chapter 15

CHAPTER XV
LIES
by  Tuktuk

Aku bangun pagi-pagi sekali hari ini. Aku merasa seperti berisi kembali. Setelah ‘pertengkaran’ kecil karena ketidakdewasaanku kemarin dengan kak Riko. Pelukannya yang hangat, kecupannya yang tulus dan perasaannya yang begitu aku rasakan dalam pengakuannya kemarin membuatku tenang. Membuatku yakin.

Bola mata kak Riko tidaklah berbohong saat itu, meski dalam temaram lilin, aku masih bisa melihat jelas. Jelas sekali, pancaran ketulusan begitu terlihat dari kak Riko. Aku menarik nafas panjang sambil menatap pria itu yang masih tertidur pulas disampingku. Menatapnya seperti aku begitu menginginkannya, seperti aku mencium harum tubuhnya diudara, seperti aku tau sesekali angin menyapa rambutnya yang sedikit berantakan, seperti aku tau perasaanku kepadanya terpatri. Terkunci untuknya.

Aku bangkit dari tempat tidurku dan berusaha menata kembali apa yang seharusnya pacar yang baik lakukan.  Aku meraih gagang pintu kamar, membukanya perlahan lalu menutupnya rapat. Aku tak ingin pangeran itu terbangun. Aku hanya ingin menyiapkan sarapan dan kopi panas utk dia memulai harinya nanti.

“Riko mana?” tiba-tiba suara Allan mengagetkanku.
“Jangan berisik, dia masih tidur” jawabku singkat.
“Aku mau ngomong sama dia. Aku ada perlu.”
“Dia masih tidur, Allan. Tolong biarkan dia bangun sendiri.”

Allan lalu tersenyum hambar. Ia menatapku kali ini aku merasakan tatapan yang berbeda. Tatapan dingin dan tajam. Tatapan yang tidak aku suka.

“Apa sih yang Riko lihat dari kamu?”

Aku tercekat. Baru sekali ini aku melihat orang sejahat dia.

“Aku ga ngerti apa yang sedang kamu bicarakan sekarang, Allan. Tolong hargai hubungan kami. I am not giving up on him”
“Oh, So do I...” balasnya.

Aku lalu melengos berlalu membalikkan tubuh dari Allan. Aku tidak habis pikir. Kemarin aku begitu kesal, aku begitu melodramatik, aku begitu lemah. Tetapi memang seperti itulah adanya aku. Dan setelah apa yang kak Riko sampaikan malam itu, aku semakin yakin bahwa kami berdua harus menjaga komitmen ini. Menjaga perasaan ini. Kami berdua.
Drrrrtt! Drrrrtttt! Tiba-tiba hape ku bergetar. Satu sms masuk dari kak Wildan rupanya.

From : K’ Wildan
“DEK, HARI INI KK LAGI KOSONG, JALAN YUK!”

Aku tertegun sejenak membaca sms itu.

To : K Wildan
“PAGI AMAT SMS NYA, TUMBEN UDH BANGUN. JALAN KMN? AKU TANYA KAK RIKO YA BISA GA DIA...”

Sejurus kemudian aku menerima balasan lagi.

From : K’Wildan
“SENGAJA SMS DARI PAGI, SBLM KAMU KELAYAPAN. GA USAH, JUST THE TWO OF US. PLS??”

Aku meletakkan handphone itu di meja. Aku terus melangkah ke dapur, membuatkan nasi goreng untuk kak Riko. Di fikiranku banyak hal berputar-putar saat itu. Apa jadinya jika aku berdua sama kak Wildan? Kak Riko bagaimana? Setelah hampir tiga puluh menit berkutat dengan nasi goreng dan kopi, aku menulis catatan kecil untuk kak Riko sebelum aku mandi dan bersiap berangkat kuliah.

“BREW, NASI SAMA KOPI BUAT KAMU YA... GA TEGA BANGUNIN KAMU PAGI-PAGI. I LOVE YOU, BLEW”

Kemudian aku berlalu dan bersiap memulai hari ini. Aku kemudian teringat sms kak Wildan tadi. Lalu aku balas :

“OK KAK, AKU PULANG KULIAH JAM 12.30, KETEMU DIMANA?”

Drrrt Drrrttt... Secepat kilat kak Wildan membalas sms ku.

“GA USAH, AKU JEMPUT DI KAMPUSMU.”

Aku tersenyum tipis membacanya. Aku berlalu meninggalkan kost, semoga apa yang aku lakukan ini tidak menjadi apa-apa bagi aku dan kak Riko.

***
Aku berjalan santai menuju kampus, bau tanah yang basah menemani perjalananku kala itu. Aku suka bau itu, sebagaimana aku suka harum yang menyeruak dari jaket kak Riko yang aku kenakan sekarang.

Drrrt.. Drrrt satu pesan masuk ke hape ku.

From : K’Riko
“BLEW, MAKASIH YA BUAT SARAPANNYA, KAMU KENAPA GA BANGUNIN? KAN BISA AKU ANTER KE KAMPUSNYA, SEMANGAT YA, AKU SAYANG KAMU...”

Aku tersenyum. Dada ini terasa hangat tiap kali melihatnya, membayangkannya, bahkan hanya dengan tulisan darinya yang membuatku begitu bersemangat pagi itu.


“Danny!” tiba-tiba suara perempuan berteriak memanggilku.
“Eh Laura, tumben pagi gini ngampusnya?”
“Aku lagi ngejer dosenku, beliau mau keluar kota... Minggu depan sudah harus sidang akhir...”
“Wah, gak kerasa ya udah mau sidang akhir...”
“Apanya yang gak kerasa, Wildan aja udah kerja... Masa aku belum tamat juga...”
“Kak Riko kapan ya bisa kelar juga” tiba-tiba aku berceletuk.

Laura lalu tersenyum.

“Aku yakin dia bisa cepet juga kok, kan ada kamu...” goda nya.
“Iya sih, Cuma kan... Entahlah dia agak sibuk belakangan” balasku.
“Iya, aku ngerti apalagi dia baru mau urus penelitian skripsinya...”

Aku tersenyum tipis.

“Laura, aku duluan ya.”
“Oke, semangat ya!” ujarnya.

Aku melangkah berbelok ke fakultasku. Disana teman-teman seangkatanku menungguku. Jelasnya lagi, aku akan bersemangat karena jaket kak Riko ini akan aku kenakan seharian. Rasanya seperti sedang dipeluk. I miss you, kak...

****

“Lama nunggu kak?” ujarku menyapa kak Wildan yang menunggu dihalaman fakultas.
“Nggaklah, selama apapun juga asal nungguin kamu aku mau...”
“Mulai deh ngawur...”
“Hehe, becanda... Yuk naik, peluk yang erat ya..”
“Ogahhh...”

Motor kak Wildan melaju membawaku ke salah satu mall terbesar dikota ini. Mall dimana aku, kak Riko dan kak Wildan sering menghabiskan waktu bersama.

“Kita mau ngapain kak?”
“Nonton terus makan, mau?”
Aku terdiam. Aku menatap lekat-lekat lobby bioskop itu. Melihat sudut dimana aku duduk bersama kak Riko sambil menunggu film diputar. Melihat sudut dimana kami berebutan menentukan judul film, melihat sudut yang kini jauh berbeda. Aku sudah lama tidak melakukan hal ini dengan kak Riko. Aku ingin menonton bioskop denganya lagi. Seperti dulu.

“Dan?”
“Eh, iyya ... Boleh...” jawabku terbata.

Kak Wildan lalu berjalan membeli tiket sementara aku duduk di sofa lobby itu. Lantunan lagu instrumen yang diputar di lobby itu membuatku sedikit terhanyut. Apa yang kamu lakukan sekarang kak?

Aku lalu menelepon kak Riko.

Tuuut... Tuuuut...

“Halo?” suara yang membuatku terngiang-ngiang tanpa henti menyambutku diseberang sana.
“Kamu dimana kak?”
“Aku lagi diluar, lagi urus penelitian skripsiku sama salah satu perusahaan disini...”
“Sudah makan?” tanyaku.
“Bentar lagi ya, Blew”
“Makan dulu, aku kangen sama kamu kak...”
“Aku juga ga sabar mau pulang, peluk-peluk kamu... “

Aku tertawa renyah. Meski teleponku barusan tak sampai 5 menit. Tetapi paling tidak itu yang membuat kegamanganku hilang. Aku menjadi lebih bebas untuk nonton. Toh aku juga ga bakal ngapa-ngapain dengan kak Wildan.

Sepanjang film diputar, aku sesekali melanturkan fikiranku ke kak Riko. Aku tidak benar-benar berkonsentrasi. Begitu film selesai diputar, aku segera keluar mendahului kak Wildan.

“Bahagia bener filmnya kelar. Ga suka ya?”
“Eh, bukan gitu.... Aku pengin cepat pulang bawaannya. Tapi sesuai agenda, makan dulu yaa”
“Iya Tuan, kita makan dulu...” jawab kak Wildan.

Aku tertawa renyah. Aku berjalan bersisian dengan kak Wildan menuruni tangga eskalator meninggalkan lantai enam dan beranjak menuju lantai empat dimana salah satu spot makan favorit kami bertiga.

Pandanganku kusapu keseluruh restoran itu. Mencari bangku yang kosong namun posisinya enak. Tiba-tiba pandanganku terhenti saat aku melihat seseorang.

Orang yang begitu aku kenal, orang yang seharian ini mengisi kepalaku. Kak Riko. Ia makan bersama.... Allan! Rasanya dada ini remuk. Aku mencoba sekuat mungkin menahan ini. Tidak, tidak seperti ini Danny. Pasti ada alasannya. Pasti, aku harus percaya dengan kak Riko.

Kak Wildan menyadari hal itu. Ia melihathal yang sama denganku.

“Kamu ga papa Dan?”
“.....”
“Kita mau cari tempat lain?”
“Aku mau pulang saja kak...”

Kepalaku seperti tertimpa longsoran es. Aku merasa begitu berat. Aku merasa tak karuan. Apakah ini balasan karena aku tanpa setau kak Riko nonton berdua dengan kak Wildan? Apakah ini bagian pahit yang lain yang aku rasakan karena memantik api didekat jerami? Tapi apa kak Riko tau? Apa jika aku tidak pergi dengan kak Wildan, kak Riko tidak akan berdua dengan Allan? Pertanyaan-pertanyaan itu seperti pedang yang menghunus dan meninggalkan luka yang mendalam didadaku.

****
Aku menunggu dengan was-was kak Riko pulang dengan Allan. Dari suara motornya, aku tau ia baru saja pulang beberapa detik yang lalu.

Tok!Tok! Tok!

Aku bergegas membukakan pintu.

“Makasih ya, Ko...” tiba-tiba Allan berbicara seperti itu didepanku.

Air muka kak Riko nampak bingung.

“Darimana kak?”
“Ngurusin surat izin penelitianku”

Aku tersenyum.
“Mau mandi? Aku siapin air hangat dulu ya?”
“Beneran?”
“Iya, kamu duduk di kamar aja... Aku panasin air bentar” ujarku.

Aku lalu memanaskan air didapur sambil ribuan pertanyaan sejak sore tadi berputar-putar dikepalaku.
Bagaimana aku harus memulainya? Bagiamana aku harus menyampaikannya?

Setelah kukumpulkan semua keberanian itu,  aku lalu memasuki kamarku dan mendapati kak Riko tengah berguling disana.
Aku lalu menyelipkan kepalaku dilengannya sambil mengendus-endus aroma tubuhnya.

“Kamu darimana tadi?” tanyaku.
“Dari urus surat izin itu...”
“Belum dapet-dapet ya suratnya? Dari kemarin urus itu terus...” ujarku pelan.
“Iya, perusahaan yang punya mesin untuk penelitianku itu Cuma perusahaan itu. Aku udh masukin proposal tapi katanya surat ACC dari pusat belum turun... Heran...”
“Kalau ganti perusahaan lain ga bisa? “ tanyaku.
“Di kota ini, Cuma perusahaan itu yang pake alat sesuai skripsiku...”
“Brew, kalau ada yang bisa aku bantu, kasih tau ya” pintaku.
“Kayak gini aja kamu udah ngebantu aku banget, sayang..”
“Brew...”
“Hmm???”
“Selain ngurus surat itu, kamu kemana lagi? Kok bisa ketemu Allan?”
“Ng... Ng... Itu, nggak kok.. Aku ketemu dia pas dijalan pulang..”

Kak Riko berbohong. Aku tau itu.

“Oh,... Aku Cuma pengin kamu tau Brew, aku selalu dipihakmu, selalu percaya sama kamu...”
“Aku juga gitu ke kamu, Blew...” ujarnya sambil mengusap rambutku.

“Air hangatmu mau kucek dulu tuh udah panas belum”

Aku berjalan gontai ke dapur. Aku berusaha menahan sebisaku. Mataku kosong menatap bulirn bulir gelembung udara yang perlahan mulai banyak. Seperti perasaan yang berkecamuk padaku saat ini.
Saat aku tau bahwa kami berdua sama-sama berbohong.

to be continued




Love Under The Mistletoe Chapter 14

CHAPTER XIV
KEEP IT FOR ME

by  Tuktuk

“Kalian ngapain disini? Aku cari-cari di kost ga ada...Ternyata pada ketempat Laura..” ujar Allan.

Aku tertegun. Aku menatapnya sejenak. Orang ini, adalah orang yang menjadi cinta pertama kak Riko. Adalah orang yang pertama mengecup bibir kak Riko. Adalah orang yang serba pertama untuk kak Riko. Entah kenapa, melihat orang ini aku selalu kesal.

“Blew?” bisik kak Riko.
“Ya?” tanyaku.
“Kita cari makan yuk?”

Aku mengangguk. Riko lalu menggandeng tanganku. Aku terkejut! Dia menggenggam pelan tanganku lalu berjalan mendekati Allan.

“See? Gw udh cukup bahagia sekarang. Apapun tujuan lo kesini, gw harap lo ngerti posisi gw sekarang”

Aku tersenyum dalam hati. Oke, it’s time for you to leave Allan!

“No, It is not that simple Riko... Aku Cuma mau ngembaliin ingetan kamu aja, ingetan ke momen waktu kita bareng dulu...”

“Udah ga ada, udah gw hapus semuanya...” balas kak Riko.
“Yakin? Mungkin butuh waktu, tapi aku Cuma mau ambil apa yang aku punya dulu, meskipun itu sudah ada yang memilikinya sekarang...”

“A..ap?” belum selesai aku bicara kak Riko menempelkan telunjuknya dibibirku.
“You’re mine, you will always be”
“So sweet banget sih... Bikin jealous!” balas Allan.

Aku dan kak Riko berangkulan pada pundak masing-masing berjalan meninggalkan mereka, meninggalkan Allan. Meninggalkan masa lalu kak Riko. Amin.


***


“Aku mau ngeliat bintang” pintaku manja ke kak Riko.
“Sekarang?”
“Iyalah, mumpung belum larut malam...”
“Hm... “ kak Riko nampak bingung.
“Kenapa Brew?”
“Aku harus jemput Allan dulu.”
“Allan?”
“Iya, dia beli perlengkapan kost, kemaleman dan ga ada angkot pulang.”
“Dimana?”
“Jalan Hang Tuah”
“Kan jauh? Masa sih ga ada angkot? Kan bisa kita telfonin taksi? Masa dia ga bisa naik taksi?”
“Dia yang minta aku jemput, Blew..”
“Terus kamu mau?”
“Jam segini, angkot sudah sepi...Mana jalan itu juga sepi, dia ga berani naik taksi...Takut katanya kalau Cuma sendirian.”
“Penakut amat sih..” ujarku sinis.
“Kamu cemburu?”
“Hah?” aku memerah.
“Ga usah dijawab deh... Muka kamu kayak kepiting rebus...”

Aku memalingkan muka.

“Kamu ga perlu khawatir sayang, aku janjiin deh nanti kita ngeliat bintang. You and me...”
“Entahlah, aku ga sanggup bayangin kamu sama Allan”
“Cuma jemput dia pulang saja... Mau nitip dibeliin sesuatu?”
“Nggak ada. Aku Cuma mau liat bintang. Jalan kaki malem-malem...”
“I promise you. But not now...”
“Oh iya, kak.. Kamu pernah janji untuk buat Mistletoe di dinding yang besaaarrrr sekali buat aku... masih inget?”
“Tentu saja! Aku mau nambahin lampu-lampu kecil supaya bisa berkelip nanti, tambah bagus jadinya. Sabar ya aku lag cari bahan dulu”

Aku mengangguk.

“Hati-hati dijalan yah” ujarku.
“Pasti...” jawabnya.

I miss everything about you, I love everything about you, Kak... Aku mungkin cemburu, aku mungkin terbakar cemburu, karena kamu yang pertama. Kamu yang pertama bagiku...

Aku melangkah keluar kost kemudian mengunci pintu kost . Perlahan meninggalkan pekarangan rumah. Berjalan menelusuri gang kost kami, ada beberapa pemuda lain duduk-duduk didekat lampu jalan.
“Riko mana Dan?” tanya Anto salah satu dari mereka yang kebetulan ngekost didekat kami.
“Keluar sebentar” ujarku.
“Wildan kok ga pernah keliatan?”
“Dia pindah To... Udah seminggu lebih...”
“Wahh ga bilang-bilang tuh anak...”

Aku berlalu sambil tersenyum. Aku jarang terbuka dengan orang yang baru aku kenal. Aku jarang bisa akrab dengan orang yang tidak membuatku nyaman. Tetapi dengan kak Riko dan kak Wildan, aku merasa nyaman. Bahkan sejak pertama kami bertemu. Ah... Apa kabarnya kak Wildan ya?

“Tuutt.... Tuut..” teleponku kusambungkan ke ponsel kak Wildan.
“Halo? Dek? “ jawab kak Wildan.
“Eh, kakak... Apa kabar?”
“Baik, Dek... Kamu lagi ngapain? Tumben nelpon?”
“Lagi jalan-jalan diluar... Ngeliat bintang...”
“Sama Riko?”
“Sendirian...”
“Riko kemana?”
“Jemput Allan.... hmmhh”
“Hehe, sabar ya... Percaya saja sama monyet itu...”
“Iya, kamu udah makan?”
“Udah, Dek... Kamu?”
“Udah tadi... sama kak Riko”
“Aku pengen ketemu kamu, Dek”
“Hehe, datang dong makanya...”
“Nggaklah, ngajak kamu jalan kemana gitu... Sekalian mau traktiran gaji pertama...”
“Haha.. boleh juga...”
“Bintang apa yang kamu lihat?”
“Ga tau...” ujarku sambil menatap langit.
“Kakak juga lagi ngeliat bintang dari loteng...”
“Oh ya?”
“Kamu bilang gitu sih, kakak jadi mau liat juga...”
“Hehe, itu kak.. Di deket Bulannya, ada satu yang terang... Gede...”
“Mana?”
“Coba deh liat lagi, deket bulan...”
“Oh iya, ada... hehee... “
“Hmmhh...”
“Kenapa Dan?”
“Andai yang ngeliat juga kak Riko...”
“Dia pasti inget kamu Danny... Ya sudah, ini sdh malam. Kamu sebaiknya pulang, tidur...”

Aku menuruti apa yang dibilang kak Wildan. Aku pulang dan memasuki kamarku. Aku kadang tidur di kamar kak Riko, kadang ia juga yang tidur dikamarku. Gantian. Malam ini, entah kenapa aku mau tidur di kamarku. Klek. Aku mengunci kamarku. Aku ingin tidur dikamarku dan tidur sendirian malam ini.

***

Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!

Aku mengusap muka ku. Aku tidur dikamarku ya semalam?

Tok! Tok! Tok!

Klek. Aku membuka pintu.

“Kenapa dikunci? Kan semalam kamu mestinya tidur dikamarku, Blew?”
“Maaf kak, aku ngantuk berat semalam... Aku langsung ke kamarku saja... tidur...”
“Maaf ya, aku pulangnya agak malam. Si Allan merengek mau makan bakso rusuk dulu...”
“Ga papa... Aku buatin kopi kamu dulu ya..”
“Hai Danny?”
“Ya, Allan”
“Ini kopi buat Riko, udah aku buatin. Kamu ga perlu repot-repot lagi...”
“Hah?” aku mengernyitkan dahi.
“Ga... Ga! Apa-apaan, gw biasa dibuatin Danny, terserah lu mau buat atau nggak. Gw ga bakal minum.”
“Jahat amat sih, Brew...”
“Habisnya... Cuma kopi kamu yang enak, Blew...”

Aku Cuma menelan ludah. Mengetahui Allan membuat kopi untuk kak Riko. Dia mengajak perang sepertinya. It hurts me. He is my boyfriend, Allan! Can you just stay away from us?

“Nggak... Kamu minum aja kopinya, Brew... Aku mau mandi sama siap-siap ke kampus”
“Kok?” tanya kak Riko.
“Ya sudah Riko, kamu minum aja dulu...”

Oke, I hate this person!

Sepanjang perkuliahan aku tak benar-benar bisa konsentrasi. Mereka berdua di kost. Mereka bakal ngapain? Ughh...

Begitu kuliah selesai aku bergegas pulang. Berjalan begitu cepat. Begitu tergesa-gesa.

Klek. Aku membuka pintu. Kulihat pemandangan yang menurutku menyakitkan.
Allan menyuapkan sesendok makanan ke mulut kak Riko! Bitch!

Aku melotot. Aku berjalan dengan cepat ke kamarku dan menguncinya.

Tok! Tok! Tok!

“Dan?! Danny! Dengerin kakak dulu!”
“Danny!!”

Aku tak mau mendengar. Aku tak mau. Aku benci kak Riko. Aku benci kak Riko.

“Dan! Danny!!!”

Kudengar suara kak Riko berteriak berulang-ulang kali didepan kamarku. Entah, sudah beratus kali mungkin. Aku hanya terduduk saja. Menyudut. Aku cemburu, Kak.

Kudengar suara kak Riko mulai jarang, tapi sesekali ia memanggilku. Menyuruhku makan. Aku benar-benar tak keluar kamar seharian ini. Sedangkan ini sudah pukul 8 malam. Aku tak keluar-keluar kamar.

Kak Riko entah dimana. Kak Riko tak lagi menyahuti memanggil namaku. Kak Riko sudah tak pedulikan aku?

BLEP.

Listrik mati. Tuhan! Aku benci gelap. Aku benci gelap. Aku takut. Aku takut gelap. Aku pernah dikunci di lemari pakaian ayahku sewaktu bermain petak umpet dirumah bersama Abangku. Aku trauma. Aku takut gelap.

Jam semakin berdetik. Aku berusaha menenangkan diriku. Apa yang membuatku begitu gelap mata? Membuatku begitu marah? Andai aku mendengarkan dahulu penjelasan kak Riko tadi... Andai..
Kemana kamu kak? Kenapa tak ada suaramu?

Air mata mengalir di pipiku. Aku bingung. Aku menangis entah karena takut atau karena cemburu. Aku butuh dia. Butuh pelukannya. Butuh belaiannya yang menenangkanku.

Aku menangis.

KLEK.

Aku mendengar pintu kamarku dibuka. Aku merasakan seseorang masuk ke kamarku.
Lengan yang kokoh datang dan memelukku. Menghangatkanku. Menghanyutkanku untuk menumpahkan kesedihan didada ini. Dada kak Riko.

“Blew, dengerin aku dulu sayang....”
“...”
“Blew... Tadi aku pergi ke rumah pak Jaka, dia punya duplikat kunci. Aku butuh bicara sama kamu. Aku perlu minta maaf ke kamu...”
“Kak... Aku...Tadi Cuma kecapean...”
“Kamu bohong, Blew... Aku ngeliat betapa kamu kecewa...”

Aku menangis. Kak Riko semkain memelukku erat.

“Blew, tadi itu Allan nyoba masakan barunya. Dia maksa aku nyicip tapi aku tak mau. Aku menolak. Karena gerah akhirnya aku mau menerima satu suapan. Dan tepat satu suapan itu masuk ke mulutku, kamu datang. Akubingung saat itu. Tapi aku pantas menerima kalau kamu marah...”

“Aku yang terlalu sensitif kak..” balasku.
“Kamu ga perlu mikir gitu, paling ga aku semakin yakin. Dan ini buat kita makin sayang satu sama lain”
“...”
“Jangan nangis lagi ya Blew, aku ga tahan liat kamu nangis.”

Aku memeluk dia erat-erat seolah tak ingin melepaskannya.


Your eyes whispered “have we met?”
Across the room, your shillouettes starts to make its way to me
The playful conversation starts
Counter all quick remarks like passing notes in secrecy

And it was enchanting to meet you...
I was enchanted to met you....
(Taylor Swift – Enchanted)



to be continued



next chapter
 

Love Under The Mistletoe Chapter 13

CHAPTER XIII
ALLAN


by  Tuktuk

“Blew, kamu ke dalam dulu saja... Aku masih ada urusan sama orang ini...” ujar kak Riko pelan.
“Oh, oke..” balasku.
“Eh tunggu dulu! Gue belom kenalan tuh”tiba-tiba sang tamu setengah berteriak berujar kearahku.

Aku menoleh tepat saat aku baru saja hendak melangkahkan kakiku meninggalkan ruang depan.

“Gue Allan.”
“Oh, aku Danny...”
“Wah, namanya Danny ya...”

Aku tersenyum tipis. Jujur aku tidak begitu menyukai orang yang datang ini. Gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan mungkin dengan maksud yang tidak baik. Kak Riko selalu ramah dengan semua orang, tetapi untuk tamu ini, ia bersikap seolah tidak nyaman. Orangnya sih ganteng, kulitnya putih, tingginya lebih sedikit dariku, badannya juga sedikit lebih berisi. Hmmh, siapa ya dia?

Dengan sedikit gontai aku memasuki kamar kak Riko. Aku segera duduk diatas kasur, dan kembali menemui kak Wildan via Skype.

“Kok cemberut?” tanya kak Wildan.
“Ada tamu yang kurang sopan...” ujarku.
“Tamu yang tadi? Kenapa?”
“Kayaknya kak Riko kurang suka sama dia, dia ceplas ceplos gitu, sok-sok bilang selera kak Riko ga berubah...”

Eh tunggu dulu! Kok dia bilang gitu? Berarti dia tau kak Riko dan aku? Selera ga berubah? Apa dulu kak Riko juga pernah menjalin hubungan seperti ini?

“Siapa tuh? Tumben si monyet ada musuhnya” ujar kak Wildan.
“Ga tau, temen kuliah mungkin kak...Dia bilang namanya Allan”
“HAH?! A?? ALLAN??”
“Iya kak... Kenapa?”

Kali ini kak Wildan yang terkejut. Aku tidak mengerti apa yang terjadi disini. Apa yang tersembunyi disini dan mengapa kak Wildan juga kak Riko tidak senang dengan pria bernama Allan itu.

“Kenapa kak???”
“Allan? Orangnya putih dan agak sipit?”
“Iya bener...”
“My God...Dek, apapun yang terjadi nanti kamu Cuma denger kata-kata aku, Laura dan Riko, Ok?”
“Apapun? Emang kenapa?”
“Percayalah dengan kami bertiga...”
“Aku ga mengerti kak...”
“Nanti, nanti, kami akan ceritakan semuanya... Bersabarlah dulu...”
“Ah, kak Wildan jahat... Ayolah...”
“Aku ga enak ceritainnya, tanyalah ke Riko saja...”
“Huh...”
“Jangan cemberut dong...”
“Males ah kalo dibuat penasaran...”
“Duh... coba kamu tanya ke Riko ya, aku rasa dia lebih berhak”
“Oke deh, aku tanya ke dia ya... webcamnya aku matiin ya kak?”
“Kenapa?”
“Takutnya lama, kasian kamu nunggu...”
“Oh, ok....”

Aku menutup windows skype, lalu menjelajah isi laptop kak Riko. Tamu itu masih didepan sepertinya. Kalau memang tidak ada yang mau memberi tahuku, ada baiknya jika aku cari tau sendiri.

Aku menelusuri senarai folder satu demi satu, mulai dari yang hidden sampai yang tersembunyi diantara folder-folder lain. Sampai suatu ketika aku bingung melihat folder bernama ‘Memory’.

“Aku mulai membuka folder itu dan melihat kumpulan foto. Tunggu,ini bukan foto biasa. Ini foto kak Riko, kak Wildan dan... Alan! Banyak. Banyak sekali, sepertiinya mereka benar-benar akrab. Lantas mengapa sikapnya menjadi seperti itu sekarang? Seperti orang yang tidak saling kenal.

Aku harus menanyakan ini. Baru saja tanganku akan menutup folder itu aku bingung melihat foto terakhir. Tangan, dua tangan... Satu tangan kak Riko. Aku mengenali dari jempolnya dan satu lagi tangan siapa aku tak tahu... Dan tangan itu saling menempel satu sama lain dengan simbol Love yang disatukan dan digambar setengah pada masing-masing tangan. Oh my God! Apa yang terjadi diantara mereka!

“Blew?” suara kak Riko mengagetkanku.
Aku tersentak.
“Kamu ngapain?” tanyanya.
Aku tak bisa menjawab.
“Blew?” ujarnya sambil mendekat.
“Kamu, kamu ada apa dengan Allan?”

Air muka kak Riko berubah. Ia nampak gusar.
“Ceritain ke aku kak...”
Kak Riko tak mau menjawab.
“Fine, aku akan cari tau sendiri...” ujarku sambil meninggalkannya.
“Dan...”

Aku menoleh.
“Kakak sayang Danny...”
“Then tell me, everything kak...”

Kak Riko masih terdiam.

“Fine...” aku berlalu meninggalkannya.

Jika kak Riko tak mau menceritakannya, aku yang akan mencari tahu sendiri.

“Dan! Danny! Mau kemana kamu!” ujar kak Riko setengah berteriak.

Aku tak menggubris panggilan kak Riko. Aku terus saja berlalu ke depan kost.

“Belum banyak yang berubah disini” ujar sang tamu.
“Lho, masih disini?” tanyaku bodoh.
“Iyalah, bukan masih disini... Aku bakalan terus disini..”
“Maksudnya?”
“Kamar bekas Wildan kosong kan?”

Mataku setengah melotot, aku mulai tidak menyukai tamu ini.

“Aku udah urus semuanya, besok aku mungkin sedikit merepotkanmu, aku Cuma mau ambil apa yang aku punya dulu, mohon pengertiannya...” ujarnya.

Aku mengernyitkan dahi. Fu*k! Entah apa yang ada dipikiran orang ini! Aku benar-benar badmood! Aku ga ngerti apa yang dia omongkan, aku juga tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku seperti orang yang dibodohi disini. Aku harus mencari tahu.

Aku berlari kencang untuk bisa sampai di kost Laura. Ia pasti tahu banyak tentang semua ini. Selama aku berlari kurasakan HP ku bergetar beberapa kali. Aku mengeceknya, kudapati 5 pesan dari Kak Riko menanyakan dimana aku.

Tok tok tok! Ku ketuk pintu kost Laura sedikit kencang.

“Eh, Danny... Tumben main kesini, biasanya ga pernah ninggalin kost...” sapa Laura.
“Ehh... nggak Laura. Aku, Cuma mau tanya tanya sesuatu. Boleh?”
“Silakan...”
“Tentang Allan...”
“Hah?” kini Laura yang melotot.

Entah kenapa semua orang seperti terkejut dengan kehadiran Allan. Aku semakin bingung.

“Tolong ceritakan Laura, ceritakan semuanya!”
“Aku... Aku bingung, Danny... Riko?”
“Kak Riko dan Kak Wildan semuanya bungkam... Aku ga suka sama Allan, dia keliatan ga sopan dan ga punya niat baik untuk ngekost disana...”
“Nge- ngekost????”
“Iya, kayaknya dia nempati kamar kak Wildan dulu...” ujarku.
“Oh tuhan...” kini Laura menepuk jidatnya.
“Please, Laura... ceritain..” pintaku.
“Oke... Oke..”
“Allan itu sepupuku Danny. Dia dulu tinggal disini, di kota ini. Aku juga dulu tinggal bersama dia dan keluarganya.”
“Terus?”
“Sejak awal masuk kuliah, aku berkenalan dengan Riko, kami akrab dan semakin mengenal satu sama lain, termasuk Wildan. Lalu, Riko dan Wildan mulai sering main ke rumah pamanku, tempat aku tinggal dulu...Disitu dia kenal dengan Allan” sambungnya.
“Paman sibuk dengan bisnis dan perusahaanya, sampai kemudian dia pindah ke Jakarta untuk mengurus tender yang lebih besar lagi. Allan waktu itu masih SMA kelas 3, ia ditawarkan untuk tinggal disini sementara keluarganya pindah ke Jakarta. Tetapi Allan menolak, dia lebih memilih ngekost bersama Riko dan Wildan”
“Dia kan punya rumah disini?” tanyaku
“Iya, tapi Allan tidak mau sendirian disini, akhirnya dia ngekost dengan Riko dan Wildan, rumah itu juga dijual oleh keluarganya.”
“Lalu? Mereka begitu akrab, begitu mengenal satu sama lain, aku melihat foto-foto mereka dari foplder kak Riko” sambungku.
“Iya, Riko juga pernah jadian dengan Allan...”

Aku tersentak. Laura tau? Laura tau masa lalu kak Riko???
“Ka... Kamu tau kak Riko itu...”
“Iya, aku tau...”
“Aku kira kamu suka sama kak Riko”
“Haha, aku hanya temenan. Best friend, just it. Riko yang cerita bahwa Allan adalah pacar pertamanya.”

Oh... kerongkonganku rasanya mendadak tersumbat.

“Aku terusin ya...”

Aku mengangguk.
“Riko jadian dengan Allan, kemudian semuanya berbalik 180 derajat saat kami tau bahwa Allan juga menjalin affair dengan Wildan...”
“Serumit itukah?” mata ku melotot.
“Iya” ujarnya sambil mengangguk.
“Wildan saat itu bingung, menurut pengakuannya sih dia juga lagi bingung sampai suatu ketika Allan yang menciumnya, sejak saat itu mereka berhubungan rahasia, Riko tidak pernah bercerita tentang hubungannya dengan Allan kepada Wildan, mereka berdua saling menutupi”
“Lalu, bagaimana bisa ketauan?”
“Riko yang memergoki mereka. Kejadiannya sama kayak pas Wildan nembak kamu”

Muka ku memerah.

“Laura tau?”
“Iyalah, Wildan sama Riko yang cerita” ujarnya sambil tersenyum.
“Waktu itu mereka berantem hebat, sampai aku yang bingung melerainya. Allan mungkin merasa bingung, dia memutuskan pindah dan melanjutkan studi di Jakarta bersama keluarganya.”
“Terus, kak Riko dan kak Wildan?”
“Mereka baru bisa baikan setelah aku yang saling bujuk untuk bisa saling maafan. Hingga bisa akrab lagi, tapi sejak saat itu Wildan tidak pernah pacaran sedangkan Riko menjadi playboy, aku ga ngerti apa yang mereka pikirkan sampai akhirnya kamu datang”
“Maksudnya?”
“Sejak kamu datang, Dan... Aku ngeliat mereka kayak dulu lagi, Riko jadi semangat lagi, Wildan lebih ceria, entahlah, disatu sisi aku juga mikir suatu saat kisah kemarin bisa terulang lagi, dan syukrulah nggak...”

Aku tersenyum.

“Aku kira kak Riko masih menyembunyikan rahasia, aku kira kak Riko ga mau ceritain”
“Pasti ada alasannya Dan, dia cinta sama kamu, dia selalu cerita tentang kamu apalagi sebelum dia nembak kamu...”
“Oh ya?”
“Iya, dia kayak orang bego, dia cerita Danny gini gini... Danny begitu, Danny Danny dan Danny”
“Dasar tuh orang”
“Sana noleh, didepan pager ada yang nungguin” ujar Laura

Aku menoleh ke belakang. Itu Kak Riko!

“Sudah denger semuanya?” ujarnya.

Aku mengangguk pelan.

“Masih ragu sama aku?”
Aku menggeleng.

“Aku sayang kamu, Kak...” bisikku
“Aku juga sayang kamu, Danny” bisiknya.


to be continued



next chapter