Page 6
by GoodFriend
Hari pernikahan Samuel dan Gwen.
Dini hari para penghuni sudah mulai
bangun untuk bersiap-siap, sementara pelayan-pelayan yang khusus disewa
hari ini tiba sekitar pukul enam.
Pukul tujuh pagi kue pengantin dan
katering tiba, para pelayan mulai bekerja menata makanan-makanan yang
baru tiba tersebut, tak lama kemudian pemain band dan anggota paduan
suara menyusul.
Sementara para best men dan bride maids masih
berdandan, Samuel dan para pria berdandan di kamarnya, sementara Gwen
dan para wanitanya di kamar Gwen.
Kalau mengikuti jadwal, seharusnya pukul setengah sepuluh pemberkatan nikah sudah akan dimulai.
Sekitar
pukul delapan para tamu undangan sudah mulai berdatangan, para best men
dan bride maids yang sudah selesai berdandan membantu mengatur tempat
duduk para tamu yang sudah datang,
Collin dan Kenneth tampak sedang
mengobrol di sisi taman, di sebelah kursi-kursi tamu, yang sudah mulai
terisi beberapa, keduanya tampak gagah dalam balutan jas hitam, terutama
Collin, yang menggunakan jas pernikahan ayah Kenneth.
“Kuharap acaranya dapat berjalan dengan lancar..” kata Collin.
Kenneth tersenyum sambil menatap pacarnya tersebut,
“Ya.” jawabnya singkat, tanpa mengalihkan tatapannya dari Collin.
Collin balas menatapnya dengan tatapan curiga,
“Kenapa kau ?” tanyanya.
“Tidak apa-apa..” jawab Kenneth sambil masih tersenyum, “kau tampan sekali menggunakan jas.” lanjutnya.
Collin menunduk tampak malu,
“Jangan menggodaku..” katanya pelan.
“Aku tidak sedang menggodamu, Collby..” balas Kenneth.
Collin hanya terdiam dipuji begitu oleh pacarnya,
“Terakhir
kali aku melihatmu menggunakan jas adalah saat kita wisuda dulu..” kata
Kenneth, “dan kali selanjutnya aku melihatmu menggunakan jas adalah di
hari pernikahan kita nanti.” bisik Kenneth sambil tersenyum puas,
sementara Collin semakin menunduk, wajahnya merah padam.
Ya, bagi
mereka, sekarang pernikahan bukanlah hal yang mustahil untuk
dibicarakan, setelah dengan penuh perjuangan, akhirnya kini mereka
berhasil mendapat restu dari orang tua keduanya,
“Hai tampan..”
Tiba-tiba terdengar suara dari arah kiri mereka, sontak keduanya menoleh ke arah asal suara tersebut,
Tampak
seorang pria tengah berdiri sambil tersenyum tak jauh dari posisi
mereka, pria tersebut sedikit lebih pendek dari Collin dan Kenneth,
warna rambut dan matanya coklat, sama seperti Collin tapi sedikit lebih
cerah,
“Elliot ??” tanya Collin.
Pria yang dipanggil namanya tersebut berjalan mendekati Collin dan Kenneth.
“Hey,
kak..” sapanya, “hey, Kenneth..” lanjutnya sambil mengangguk ke arah
Kenneth, sementara yang disapa membalas sambil tersenyum,
Elliot
adalah adik laki-laki Collin yang usianya dua tahun lebih muda darinya,
saat ini ia masih tinggal bersama ibunya di kota sebelah,
“Apa yang kau lakukan di sini ?” tanya Collin bingung,
“Menghadiri pernikahan tetanggaku.” jawab Elliot singkat.
Tentu saja, pikir Collin dan Kenneth, mereka lupa sama sekali kalau keluarga Owen bertetangga dengan keluarga baru ayah Collin.
“Dengan siapa kau ke sini ?” tanya Collin lagi,
“Dengan Ayah tentu saja, lalu Tante Merilyn, Jenifer, Jordan.. dan Ibu..” jawab Elliot lagi.
“Ayah,
Tante Merilyn, Jenny dan Jordy aku paham kenapa diundang, tapi Ibu ?
keluarga Owen bahkan tidak kenal dengan Ibu.. kenapa dia juga dapat
undangan ?” tanya Collin lagi, tampak bingung.
“Aku yang mengundang..” kata suara di sebelah mereka, sontak ketiganya menoleh, mencari tahu asal suara tersebut,
Ternyata
Mrs. Owen yang barusan menjawab, ia berjalan mendekat bersama seorang
wanita yang tampaknya berumur kurang lebih sama dengannya,
“Ibu ?” Collin kaget melihat ibunya berdiri di sebelah Mrs. Owen.
“Hey, Collin..” sapa ibunya, sambil tersenyum,
“Ketika
Samuel memberitahuku bahwa Collin adalah anak Mr. Sanders, tetangga
kita, aku langsung mengundang mereka, dan sekalian juga aku mengundang
Mrs. Smith..” kata Mrs. Owen lagi.
Orang tua Collin sudah lama
bercerai, ia dan adiknya tinggal bersama ibu mereka, sementara ayah
mereka tinggal bersama Tante Merilyn, istri barunya, dan kedua anak
tirinya, Jordan dan Jenifer, walaupun sudah bercerai, tapi kedua
keluarga masih menjalin hubungan baik, ketika masih sekolah dulu, Elliot
sering menghabiskan liburannya di rumah ayahnya, itulah mengapa ia bisa
kenal dengan keluarga Owen, yang rumahnya tepat di sebelah rumah
keluarga Sanders.
Collin dan Kenneth saling tatap, kemudian beralih menatap ibu mereka masing-masing,
“Kami sekalian ingin membicarakan tanggal baik..” kata Mrs. Smith, ibu Collin.
“Ta.. tanggal baik ?” tanya Kenneth bingung,
“Ya, tanggal baik untuk pernikahan kalian..” jawab Mrs. Owen sambil tersenyum, begitu pula Mrs. Smith.
Collin dan Kenneth saling tatap sejenak, tampak tak mempercayai apa yang baru saja mereka dengar,
“Pe.. pernikahan kami ?” tanya Collin, mengonfirmasi.
Mrs. Owen dan Mrs. Smith mengangguk,
“Pernikahan kalian.” jawab keduanya bersamaan.
Collin dan Kenneth saling tatap lagi, kemudian keduanya tersenyum, benar-benar senyum bahagia.
Setelah
perjuangan panjang mereka, yang hampir berhenti di tengah-tengah,
akhirnya tiba juga hari ini, hari ketika mereka berhasil melewati jalan
rintangan, dan tiba di pintu kebahagiaan.
Kebahagiaan mereka,
Kebahagiaan Collin dan Kenneth.
€ ͢ €͢ € ͢ €
Sementara itu, tamu undangan semakin banyak berdatangan,
Para
best men dan bride maids tampak sibuk mondar-mandir ke sana ke mari
mengatur para tamu, Rea dan Aidan tampak sedang berbicara dengan pemain
band dan anggota paduan suara, menyocokkan lagi daftar lagu yang akan
dibawakan, sementara Kenneth menyambut Pastur Leo yang baru saja tiba,
Di sisi kanan altar tampak Alan sedang berjalan menghampiri Vincent,
“Bisa bicara sebentar ?” tanyanya begitu ia sudah tiba di tempat Vincent.
Vincent menatap bingung padanya,
“Bukankah seharusnya kau sedang sibuk sekarang ?” Vincent balas bertanya,
Alan
tersenyum kecil, ia tahu seharusnya kini ia sedang sibuk mengatur
acara, biar bagaimanapun ia EO dari acara pernikahan Samuel dan Gwen,
tapi urusan yang mau ia bicarakan ini sama pentingnya dengan pernikahan
sahabatnya.
“Cuma sebentar..” katanya dengan nada sedikit memohon,
Vincent
menatapnya sejenak, mencoba menerka-nerka urusan apa yang ingin
dibicarakan Alan dengannya, sementara yang ditatap hanya
tersenyum-senyum,
“Baiklah..” kata Vincent akhirnya.
“Bagus, ayo..” ajak Alan sambil berjalan mendahului Vincent menuju ke dalam rumah.
Keduanya
berjalan menuju halaman depan, hingga akhirnya Alan berhenti di ayunan
tempat kemarin ia berbincang-bincang dengan Samuel.
“Ada apa ?” tanya Vincent ketus,
“Untuk ukuran orang yang sedang menunggu jawaban cinta, kau lumayan ketus, ya..” kata Alan.
Vincent terdiam tampak malu,
“Maaf..” katanya pelan,
Alan mengangguk,
“Jadi,” Vincent merendahkan suaranya, “ada apa ?”
Alan menatap Vincent yang dari tadi menolak untuk menatapnya,
“Aku tidak akan bicara sebelum kau menatapku..” katanya,
Vincent menghela napas sejenak, kemudian menatap Alan,
“Begitu lebih baik..” kata Alan sambil kembali tersenyum,
Mau tak mau Vincent pun ikut tersenyum kecil,
“Oke..” Alan memulai, ia menghela napas sejenak, menyiapkan diri.
“Pertama-tama,
aku mau minta maaf,” Alan menunduk sebentar, kemudian menatap Vincent
lagi, “karena tidak memberi kepastian yang jelas ketika kau menyatakan
perasaanmu padaku tempo hari..”
Vincent mengangguk, jadi tentang ini rupanya,
“Saat
itu aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.. ka.. kau melakukannya
begitu tiba-tiba.. a.. aku tidak ada persiapan sama sekali,” kata Alan
terbata, “ma.. maksudku.. kita baru saling kenal beberapa hari..”
Vincent masih menatap Alan dalam diam, tampak mendengarkan,
“A..
aku juga masih belum yakin dengan perasaanku sendiri, ka.. kau baik..
aku senang menghabiskan waktu denganmu.. tapi di sisi lain aku masih
terpaku pada mendiang pacarku..” lanjut Alan lagi,
Vincent mengangguk, tampak mengerti,
“A..
aku takut, bila aku mulai berpacaran dengan orang lain, aku takut akan
mengkhianati apa yang pernah kami miliki bersama..” Alan menunduk lagi,
Vincent mengerti apa yang menjadi dilemma bagi Alan, bila ia yang di posisi tersebut pun ia pasti akan kebingungan,
“Tapi
kemudian aku sadar..” Alan mengangkat wajahnya, lalu menatap Vincent,
kali ini keyakinan dan kemantapan tampak jelas di wajah tersebut,
“Aku
sadar bahwa aku tidak akan mengkhianatinya hanya karena aku mulai
mencintai orang lain, biar bagaimanapun aku tidak bisa selamanya
terpuruk dalam kenanganku bersamanya,” ia tak lagi terbata, justru
keyakinanlah yang terdengar di suaranya,
“Air mata ku tidak akan pernah membawanya kembali ke sampingku..” lanjutnya,
Sejenak raut kesedihan tampak di wajah Alan,
“Kini aku sudah yakin dengan perasaanku.” katanya akhirnya.
Keduanya saling tatap dalam diam cukup lama,
“Jadi ?” tanya Vincent,
“Jadi,
kalau kau memang serius denganku, sebaiknya kau tanyakan secara resmi
apa yang harus kau tanyakan padaku, karena kalau aku tidak salah ingat,
kau hanya mengatakan bahwa kau suka padaku, kau tidak menanyakan
pertanyaan utamanya.” kata Alan dengan nada menantang, “dan sebaiknya
kau lakukan dengan cepat, pemberkatan nikahnya akan segera dimulai tak
lama lagi,” tambahnya,
Vincent terbengong sendiri mendengar celotehan Alan barusan,
“Apa emosimu selalu berubah secepat ini ?” tanyanya,
Alan mengangkat bahu,
“Tergantung situasinya..” katanya,
Keduanya lalu tertawa,
“Time
is running out, dude..” kata Alan lagi dengan tidak sabar, bukan karena
ia agresif atau semacamnya, ia hanya ingin mencairkan suasana yang tadi
lumayan canggung di antara mereka,
Vincent tertawa lagi,
“Baiklah..
baiklah.. dasar tidak sabaran..” katanya sambil memegang kedua tangan
Alan, sementara Alan hanya tersenyum malu, entah karena dibilang tidak
sabaran, atau karena Vincent memegang tangannya,
Vincent menatap Alan dengan tatapan serius,
“Alan.. aku sudah menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu.. aku tahu ini terdengar aneh, karena kita baru beberapa har..”
“Iya, aku mau jadi pacarmu.” potong Alan tidak sabaran sambil melihat jam tangannya,
Vincent terbengong lagi,
“Maaf ?” tanyanya,
“Yap.
sekarang kita sudah resmi pacaran.. ayo kita kembali ke dalam, acaranya
tidak akan mulai sebelum aku di situ.” katanya sambil menarik tangan
Vincent, mengajaknya kembali ke taman belakang, tapi pria tersebut
tampak tak bergeming, masih berdiri diam di tempatnya,
“Kenapa ?” tanya Alan bingung, sementara Vincent masih terdiam tampak syok,
“Ah iya, aku lupa, ciumannya..” kata Alan sambil tersenyum,
“Apanya ?” sebelum Vincent sempat bertanya, Alan sudah menempelkan mulut mereka berdua,
Awalnya Vincent sempat kaget karena Alan menciumnya secara tiba-tiba, tapi kemudian ia mulai menikmatinya,
Alan dan Vincent berciuman,
Semenit, dua menit, keduanya masih dalam posisi begitu,
Hingga
akhirnya Alan melepaskan ciumannya, lalu tersenyum sambil menatap pria
di hadapannya yang kini sudah resmi menjadi pacarnya itu,
Vincent pun mau tak mau ikut tersenyum,
Ciuman barusan merupakan penanda resminya hubungan mereka,
“Ayo..” ajak Alan lagi, sambil masih tersenyum,
Vincent mengangguk sambil masih tersenyum juga,
Keduanya kemudian bergegas kembali menuju taman belakang, sambil berpegangan tangan tampak mesra.
Akhirnya
kini Alan berhasil menggenggam kebahagiaannya, setelah sekian lama
terpuruk dalam kesedihan, kini ia berhasil bangkit dan mulai berjalan
lagi, berjalan menapaki jalan hidupnya bersama-sama dengan
kebahagiaannya.
€ ͢ € ͢ € ͢ €
Gwen menghela napasnya dengan gugup,
Ia
berdiri menghadap pintu ganda yang menuju ke taman belakang, di balik
pintu ini Samuel sudah menunggunya, begitu pula dengan para tamu,
Tangannya mulai gemetaran, ia mempererat gandengannya pada ayahnya yang berdiri tepat di sebelahnya.
“Kapanpun kau siap, sayang..” kata ayahnya sambil dengan lembut mengelus tangan Gwen yang menggandeng tangannya.
Gwen
menatap ayahnya yang tersenyum dengan lembut, ia kemudian menutup
matanya sejenak, memantapkan diri, ini adalah harinya, hari yang sudah
lama ia tunggu bersama Samuel, satu hari terpenting yang diimpikan
setiap anak perempuan, hari terbesar yang sudah ia persiapkan dengan
sangat matang, yang selalu ia khayalkan sejak kecil.
Gwen membuka matanya lalu kembali menatap pintu ganda di hadapannya,
Ia kemudian mengangguk dengan mantap.
Ayah Gwen tersenyum sambil mempererat gandengannya pada putrinya,
Pintu tersebut kemudian dibuka,
Cahaya matahari pagi menyambut mereka,
Di
hadapan keduanya tampak taman belakang yang menjadi area utama acara
pernikahan, celotehan para tamu undangan mendadak berhenti begitu pintu
terbuka, semua pandangan tertuju pada Gwen, hal ini membuat nyali Gwen
yang tadi sempat mantap kembali menjadi ciut,
Ia menatap tepat ke
seberangnya, di mana teman-temannya sudah berdiri di kanan kiri altar,
siap menyambutnya, Pastur menunggunya, berdiri tepat di sebelahnya
adalah pria yang amat sangat dicintainya, Samuel, yang terlihat sangat
tampan dengan jas hitamnya yang dikombinasi warna ungu dan broken white,
tersenyum padanya, lalu mengangguk pelan,
Itu dia, Gwen menghela
napas tampak siap, senyuman dan anggukan penyemangat dari Samuel cukup
untuk memantapkan kembali nyalinya,
Gwen kemudian melangkahkan
kakinya, begitu langkah pertamanya menyentuh rumput intro You and Me
milik Lifehouse langsung terdengar mengalun, dibawakan oleh paduan suara
gereja, diiringi petikan akustik gitar oleh Kenneth, para tamu undangan
serentak berdiri menyambut Gwen,
What day is it ? And in what month?
This clock never seemed so alive
I can't keep up and I can't back down
I've been losing so much time
Gwen melangkah semakin mantap, senyum semakin lebar menghiasi wajah cantiknya, para tamu undangan menatap takjub padanya,
'Cause it's you and me and all of the people with nothing to do
Nothing to lose
And it's you and me and all other people
And I don't know why, I can't keep my eyes off of you
Gwen
terus melangkah menuju altar, menapaki jalan yang sudah dipersiapkan
oleh takdir khusus untuknya, yang di ujungnya sudah menanti Samuel,
menunggu dengan sabar kehadirannya, yang hanya bisa berdiri membisu
saking takjubnya,
One of the things that I want to say just aren't coming out right
I'm tripping on words
You've got my head spinning
I don't know where to go from here
Altar
sudah semakin dekat, Gwen mulai bisa melihat dengan jelas keluarganya
dan keluarga Samuel berdiri di barisan paling depan, bersiap
menyambutnya, di kanan kiri altar, Alan, Aidan, Collin dan
teman-temannya yang lain berdiri menemani Samuel, juga bersiap menyambut
dirinya,
'Cause it's you and me and all of the people with nothing to do
Nothing to prove
And it's you and me and all other people
And I don't know why, I can't keep my eyes off of you
Altar sudah tepat di hadapannya, gandengan tangan ayahnya terasa melonggar, keduanya berhenti tepat di hadapan Samuel,
Ayah
Gwen kemudian melepaskan gandengan putrinya, Gwen menatap haru pada
ayahnya, pria paruh baya itu menggenggam erat tangan putrinya sejenak,
“Pergilah.. “ katanya, “sambut kebahagiaanmu..”
Ia kemudian memberikan tangan Gwen pada Samuel, yang langsung disambut dengan mantap oleh pria tersebut,
Ayah
Gwen berjalan menuju barisan depan bangku tamu, kemudian berdiri di
sebelah istrinya, matanya berair, ia terisak penuh haru,
Kini tinggal Gwen dan Samuel berdiri saling berhadapan di depan altar, keduanya tersenyum bahagia,
There's something about you now
I can't quite figure out
Everything she does is beautiful
Everything she does is right
Samuel
lalu menggandeng Gwen naik ke atas altar, menuju pastur yang akan
menikahkan mereka, bersama-sama melangkah menyambut kebahagiaan mereka,
What day is it?
And in what month?
This clock never seemed so alive
©×©×©×©×©
TAMAT
DISCLAIMER:
The Wedding Page 6
The Wedding Page 5
Page 5
by GoodFriend
H-2 sebelum hari pernikahan Samuel dan Gwen,
Sekitar pukul delapan pagi Gabriella, kakak perempuan Samuel dan Kenneth tiba bersama suaminya, Jordy, dan kedua anak kembar mereka yang baru berumur satu tahun, Lilas dan Lucas.
Gabriella cukup terkejut setelah diceritakan tentang drama yang terjadi pada adiknya, Kenneth sepanjang hari kemarin, dan seperti reaksi anak-anak yang lain, Gabby pun ikut memberi semangat dan menguatkan Collin dan Kenneth.
Sama seperti kemarin, hari ini pun acaranya masih mendekorasi taman belakang yang akan menjadi area utama pernikahan,
Para pria membantu para pekerja melanjutkan merakit altar yang baru setengah jadi, beberapa menata meja-meja tempat meletakkan makanan, yang lain lagi memasang kain pelapis warna broken white, senada dengan warna baju dan kue pengantinnya, sementara para wanita menemani Lilas dan Lucas bermain.
Alan masih sibuk mengatur letak properti, agar sesuai dengan rencananya, sementara Vincent masih setia berada di sampingnya ke manapun Alan pergi, walaupun begitu, hari ini keduanya tampak canggung, tak seperti biasanya,
Kemarin, setelah Vincent mengutarakan perasaannya pada Alan, Alan berlari meninggalkannya, malam harinyapun mereka belum sempat berbicara karena seisi rumah sedang dihebohkan oleh drama Collin dan Kenneth.
Alan tahu tidak seharusnya ia meninggalkan Vincent, tepat setelah pria tersebut menyatakan perasaannya pada Alan, tapi ia tidak tahu harus berespon bagaimana dengan perasaan Vincent padanya itu, ia menyukai Vincent, ia senang Vincent berada di sampingnya, ia senang menghabiskan waktu bersama pria tersebut, tapi di sisi lain ia belum mau memulai kisah cinta baru dengan orang lain, iapun takut, bila ia melakukan hal tersebut, ia akan mengkhianati kisahnya bersama Liam.
Dan Vincent pun tampaknya mengerti akan hal itu, ia tidak memaksa Alan untuk segera menjawab perasaannya, ia memberikan kebebasan pada Alan kapanpun ia sudah merasa yakin dengan perasaannya sendiri.
“Ka.. kau sudah menghubungi lagi paduan suaranya ?” tanya Alan canggung.
“Sudah kulakukan kemarin, tapi akan kukonfirmasi lagi besok.” jawab Vincent.
“Ahh.. i.. iya.. ba baiklah..” balas Alan dengan tetap canggung,
Keduanya terdiam, membuat suasana semakin canggung,
“Ba.. bagaimana dengan ba..”
“Dengar, Alan..” potong Vincent, sementara yang dipotong terkejut, kemudian menatap Vincent takut-takut,
“Aku minta maaf, gara-gara aku, suasana di antara kita menjadi canggung seperti ini, tapi aku harus mengungkapkan perasaanku padamu, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi, aku benar-benar menyukaimu, Alan...” Vincent menatap Alan lekat-lekat, sementara Alan terdiam tidak tahu harus berbuat apa,
“Tapi bila perasaanku membuatmu risih,” Vincent masih menatap Alan, tampak guratan kesedihan di wajahnya, ”maka lebih baik kau lupakan saja apa yang kukatakan padamu kemarin.”, sambungnya kemudian beranjak pergi, meninggalkan Alan yang tampak terkejut.
“Vi.. Vincent..” panggilnya, tapi yang dipanggil tak kunjung menoleh, malah menghilang ke arah dalam rumah.
Alan masih terdiam sambil menatap ke arah Vincent menghilang, ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, tapi melihat guratan kesedihan dan kekecewaan di wajah Vincent membuat dadanya sesak.
Alan harus meminta saran dari seseorang, ia kemudian memandang ke sekeliling taman, kemudian melihat Samuel sedang berbicara dengan salah seorang pekerja, sambil menunjuk-nunjuk altar yang masih setengah jadi,
Ia kemudian menghampiri pria tersebut,
“Sammy, kau ada waktu ?” tanyanya setelah ia tiba di tempat Samuel berdiri.
“Ada apa ?” tanya Samuel.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu..” jawab Alan.
“Ada apa ? apa ada masalah ?” tanya Samuel tampak khawatir.
Alan menggeleng sambil tersenyum lemah,
“Bukan masalah, hanya sesuatu yang ingin kuceritakan padamu..” jawabnya, “tapi kalau kau sedang sibuk, nanti saja aku datangi kau lagi,” sambungnya.
“Aku tidak sedang sibuk, bahkan kalaupun iya, aku akan tetap mendengarkan ceritamu.. ayo kita cari tempat yang tenang..” kata Samuel.
Alanpun mengangguk, keduanya lalu beranjak menuju teras depan rumah, kemudian memilih untuk duduk di ayunan kayu yang terletak di sudut kanan teras.
“Ada apa ?” tanya Samuel, begitu keduanya sudah duduk dengan nyaman, masih terdengar sedikit kekhawatiran di suaranya.
Alan menatapnya, Samuel menjadi sahabatnya bukan baru sehari dua hari, tapi sudah bertahun-tahun, kalaupun ada yang harus dimintai pendapat tentang masalah percintaan Alan, pria di hadapannya inilah orangnya.
Alanpun kemudian menceritakan tentang kegalauannya, tentang perasaan Vincent padanya, tentang perasaannya pada Vincent, tentang segala hal yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.
Alan menceritakan segala keluh kesahnya pada Samuel seperti yang selama bertahun-tahun ini ia lakukan,
“Aku sudah tahu kalau Vincent menyimpan perasaan padamu..” kata Samuel di akhir cerita Alan.
“Ka.. kau tahu ?” tanya Alan sedikit terkejut.
Samuel tersenyum padanya,
“Aku sahabatmu, Alan.. aku menaruh perhatian penuh pada segala hal di sekelilingmu, aku tahu Vincent sering menatapmu diam-diam, aku tahu bahkan sebelum Aidan mengajakku mendiskusikan tentang hal ini..” jawabnya.
“A.. Aidan juga tahu tentang hal ini ?” Alan kembali bertanya dengan nada terkejut.
“Aidan juga sahabatmu, sama sepertiku, ia pun selalu mengawasi segala hal di sekelilingmu..” jawab Samuel lagi.
Alan terdiam sejenak,
“La.. lalu.. bagaimana menurutmu ?” tanyanya kemudian.
“Well,” Samuel menatap Alan lekat-lekat, “kau menyukainya ?” tanyanya serius.
Alan menunduk, tak berani menatap mata Samuel,
“A.. aku tak tahu..” jawabnya terbata.
“Apa yang kau rasakan bila sedang bersamanya ?” tanya Samuel lagi.
Alan terdiam sejenak, membayangkan kembali momen-momen kebersamaannya dengan Vincent,
Ketika Vincent menemaninya ke toko bunga, ketika mereka bersama-sama mempersiapkan pernikahan Samuel dan Gwen, ketika malam itu mereka berdua mengobrol tentang banyak hal, ketika untuk pertama kalinya ia menatap mata Vincent.
Tanpa Alan sadari ia tersenyum,
“A.. aku merasa senang..” jawabnya sambil masih tersenyum.
Samuel pun ikut tersenyum melihatnya, sudah bertahun-tahun rasanya sejak terakhir kali ia melihat sahabatnya ini tersenyum sebahagia ini.
“Kau menyukainya ?” tanyanya kemudian,
“A.. aku..” Alan kembali terbata,
“Kau menyukainya, akuilah..” potong Samuel.
Alan kembali menatap Samuel,
“Kau menyukainya, walaupun kau belum menyadarinya, tapi ya, Alan, kau menyukainya.” ulang Samuel.
“Bagaimana kau bisa yakin ?” tanya Alan.
“Karena kau tersenyum sama seperti aku tersenyum saat aku mengenang kembali kebersamaanku dengan Gwen,” jawab Samuel dengan yakin, ”dan denganmu..” sambungnya.
Alan kembali terdiam,
“Ta.. tapi bila aku menyukainya, berarti aku mengkhianati kebersamaanku dengan Liam..” katanya pelan.
Samuel tersenyum sambil menatap sahabatnya,
“Jatuh cinta pada orang lain bukan berarti kau mengkhianati kebersamaanmu dengan Liam,” katanya sambil melingkarkan lengannya di bahu Alan, ”sampai kapanpun Liam akan selalu memiliki tempat khusus di hatimu, yakinlah dengan hal itu, tak ada apapun yang bisa menggantikan tempatnya.”
Alan menatap Samuel,
“Dan aku yakin, Liam akan setuju apapun keputusanmu, karena yang terpenting baginya adalah kebahagiaanmu, bila bersama Vincent membuatmu bahagia, maka yakinlah bahwa restu Liam sudah ada di tanganmu.” sambung Samuel akhirnya.
Alan terdiam,
“La.. lalu.. apa menurutmu aku bisa bahagia bersama Vincent ?” tanyanya kemudian.
“Well, sebetulnya, tanpa ada yang tahu, beberapa hari terakhir ini aku dan Aidan sibuk mengawasi dan memperhatikan Vincent, kami ingin tahu apakah ia memang pantas untukmu atau tidak.. Aidan bahkan sudah bicara langsung dengan Vincent untuk memastikan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya padamu, dan setelah banyak pertimbangan yang kami lakukan, kami kemudian tiba di kesimpulan,” Samuel menghela napas sejenak, “bahwa ia memang pantas untukmu.”
Alan mengangkat alisnya,
“Vincent adalah pria kedua setelah Liam yang menurutku memang pantas untukmu..” kata Samuel.
Alan kembali menatap Samuel, keyakinan tampak jelas di wajahnya, keyakinan yang sama dengan yang bertahun-tahun lalu pernah ia lihat ketika Samuel mengatakan bahwa Liam adalah pria yang bisa membahagiakannya.
Alan kemudian tersenyum,
“Raihlah kebahagiaan yang hidup tawarkan padamu, sahabatku..” kata Samuel akhirnya.
Alan menatapnya dengan haru,
Sampai detik ini pun ia tak pernah lupa mengucap syukur karena Samuel sudah hadir di tengah-tengah hidupnya, Samuel, sahabat kesayangannya inilah yang selalu ada di ketika Alan membutuhkan sesuatu, Samuel selalu ada di sisinya di tengah–tengah saat terberatnya, pun di saat paling bahagia dalam hidupnya, Samuel juga lah yang setia berada di sampingnya pasca kepergian Liam, menghiburnya, dan bersedia melakukan apapun untuk bisa membuatnya tersenyum kembali.
Saat inipun, Samuel juga lah yang sudah membuatnya semakin yakin atas perasaannya pada Vincent.
“Thanks, dude..” kata Alan,
“Anytime, buddy..” balas Samuel.
Keduanya kemudian saling tersenyum,
“Kau tahu..” kata Alan kemudian,
“Apa ?” tanya Samuel bingung,
“Hari di mana aku menyatakan perasaanku padamu di atap sekolah bertahun-tahun yang lalu,” Alan menghela napas sejenak, “adalah hari paling beruntung dalam hidupku.”
Tanpa aba-aba dan keraguan Samuel menarik Alan ke dalam pelukannya,
“Aku bersyukur... sangat sangat bersyukur karena kau sudah mau mampir ke hidupku..” kata Alan pelan di dalam pelukan Samuel,
“Aku tahu, sobat..” Samuel mengeratkan pelukannya, “aku tahu.”
€ ͢€ ͢ € ͢ €
Sementara itu, di sisi lain taman Collin dan Kenneth tampak sedang membantu para pekerja menata meja-meja untuk para tamu undangan duduk menyantap makanan setelah pemberkatan nikah,
Keduanya tampak menikmati kegiatan tersebut, terutama Collin, terlepas dari fakta bahwa Mrs. Owen masih belum mau menerimanya, kini ia bisa lega, karena, setidaknya ia tidak harus berpura-pura lagi, kini ia bisa menghabiskan waktu bersama Kenneth dengan menjadi dirinya sendiri, ia bisa dengan bebas menggenggam tangan Kenneth dan tertawa bersama pacarnya tersebut,
Kenneth tersenyum melihat pria di hadapannya,
“Sudah lama aku tidak melihat senyum manismu itu..” katanya,
Wajah Collin mendadak bersemu merah,
“Diam kau..” katanya sambil menunduk, sementara Kenneth tertawa terbahak-bahak.
Keduanya melanjutkan menata meja, sementara Kenneth masih tetap tertawa,
Masalah ibu Kenneth memang masih mengganjal di hatinya, tapi itu tidak menjadi penghambat kebahagiaannya saat ini, baginya yang terpenting saat ini adalah menghabiskan waktu bersama Kenneth selagi masih bisa,
Diam-diam Collin menatap wajah Kenneth, ia kemudian tersenyum simpul,
“Kenapa kau menatapku sambil tersenyum-senyum begitu ?” tanya Kenneth yang ternyata menyadari kelakuan Collin.
Collin tertawa kecil,
“Tidak.. tidak apa-apa..” jawabnya sambil masih tersenyum,
Kenneth mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Collin,
“Haha.. oke.. oke.. aku hanya sedang mengagumi pacarku, puas ?” tanyanya.
“PUAS !!” kata Kenneth,
Keduanya kemudian tertawa terbahak-bahak,
“Aku pasti akan sangat merindukannya..” kata Kenneth tiba-tiba setelah berhenti tertawa,
“Merindukan siapa ?” tanya Collin, terdengar sedikit nada kecemburuan di suaranya.
Kenneth menatap Collin, wajahnya tampak sedih,
“Merindukan siapa, Kenny ??” ulang Collin.
Kenneth terdengar mengisak,
“Kenneth ?” desak Collin.
“Aku akan sangat sangat sangatt merindukan si cantik Caroline..”
“KENNETHHHH !!!!!” jerit Collin, sementara Kenneth tertawa semakin keras dan puas, Collin pun karena melihat tawa Kenneth, pelan-pelan akhirnya jadi ikut tertawa juga, Kenneth memang benar, pikirnya, mereka tidak akan pernah lagi melihat Caroline, untuk selama-lamanya.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, Mrs. Owen tampak sedang mengamati mereka dari jendela kamar di lantai dua,
Mrs. Owen memandang Kenneth, entah kapan terakhir kali ia melihat anaknya ini tampak sebahagia ini, setetes air mata tampak mengalir di pipinya,
Ia masih tidak bisa percaya dan masih tidak bisa menerima fakta bahwa anak laki-lakinya, yang ia sayangi sama seperti ia menyayangi anak-anaknya yang lain, ternyata adalah seorang gay.
Kennethnya, anak tengahnya,
Kemarin untuk pertama kalinya ia membentak Kenneth, ia memarahinya habis-habisan,
Ia seharusnya sudah curiga dari dulu,
Samuel sudah beberapa kali mengenalkan pacar perempuannya padanya, sementara itu, Kenneth sama sekali belum pernah, kalau ia tidak memaksa, Kenneth pun pasti tidak akan mengajak Carol ke rumah beberapa tahun yang lalu,
Seharusnya ia sadar ketika Kenneth dan Carol tak juga membicarakan tentang pernikahan,
Ya, Carol,
Mrs. Owen ganti memandangi Collin yang masih sibuk menata meja, yang selama ini ia bangga-banggakan sebagai calon menantunya, yang ia kagumi kecantikan, keramahan serta kebaikan hatinya,
Impiannya selama ini adalah memiliki menantu-menantu yang cantik, ramah dan baik hati, dan Carol benar-benar masuk dalam kategori tersebut, jika ditanya apa ia kecewa ? iya, tentu saja ia kecewa, benar-benar kecewa.. ia sudah terlanjur jatuh hati pada Carol.
Mrs. Owen masih memandangi Collin dan Kenneth, yang kini masih tertawa-tawa, tampak sangat bahagia,
Tanpa ia sadari, air mata sudah mengalir lumayan deras di wajahnya,
“Apa yang harus kulakukan, Tuhan ?” tanyanya pelan,
Tok tok..
Mrs. Owen terkejut mendengar suara ketukan pintu di belakangnya,
“Ma ?” tanya Samuel yang sudah berdiri di pintu bersama Gabriella,
“Boleh kami masuk ?” tanya Gabriella,
Mrs. Owen cepat-cepat mengelap air matanya, kemudian mengangguk,
Samuel dan Gabriella berjalan mendekati ibu mereka, keduanya lalu berdiri di kiri kanan Mrs. Owen sambil ikut memandang ke bawah, ke arah Collin dan Kenneth.
“Kalian sudah lama tahu tentang ini, kan ?” tanya Mrs. Owen sambil tetap memandang Collin dan Kenneth.
“Ya.” jawab Samuel singkat,
“Maafkan kami, karena menutupinya darimu selama ini..” sambung Gabriella,
Mrs. Owen terdiam,
“Kami ingin Kenny sendiri yang memberitahu kalian..” kata Gabriella lagi,
Kenneth tertawa terbahak-bahak lagi di taman belakang,
“Apa menurut kalian ini benar ?” tanya Mrs. Owen kemudian,
Gabriella dan Samuel terdiam,
“Dia seharusnya tertawa dengan seorang perempuan, bukan dengan seorang laki-laki..” sambung Mrs. Owen, nada suaranya sedikit meninggi.
“Apa menurut Mama ini salah ?” tanya Samuel,
“Tentu saja ini salah !!” jawab Mrs. Owen dengan mantap.
“Lalu siapa menurutmu yang harus disalahkan di sini ? Kenneth ? Collin ?” tanya Samuel lagi, nada suaranyapun sedikit meninggi,
Sementara Gabriella hanya terdiam, menatap adik dan ibunya saling aduk argumen,
“Tentu saja ini salah mereka.. tidak seharusnya mereka saling jatuh cinta..” jawab Mrs. Owen, “seharusnya Kenneth sekarang sudah menikahi seorang perempuan, dan bukannya bermesraan dengan seorang laki-laki !!”
Samuel menatap ibunya, kemarahan tampak jelas di wajahnya,
“Yang mereka lakukan hanya saling mencintai.. apa itu salah ?” balasnya,
“Menurutmu apa yang akan orang-orang katakan tentang hal ini ? di mata masyarakat hal ini salah, Samuel !” Mrs. Owen tampak tak mau kalah,
Samuel terkekeh pelan,
“Aku tidak peduli apa kata orang-orang.. aku tidak peduli bila masyarakat memandang ini sebagai sesuatu yang salah..,” Samuel menatap ibunya dengan serius, “yang aku pedulikan hanyalah kebahagiaan kakakku..” sambungnya kemudian beranjak pergi, meninggalkan kakak dan ibunya yang terdiam tampak syok.
Air mata kembali membasahi pipinya, sementara Gabriella menatapnya dengan iba,
“Apa kau juga mau menceramahiku ? seperti yang adikmu lakukan ?” tanya Mrs. Owen, sambil menatap anak perempuannya,
Gabriella menggeleng pelan,
“Aku tidak akan menceramahimu..” katanya, ”aku hanya ingin kau tetap di sini, pandangi anakmu di bawah sana itu, dan pikirkan, kali ini gunakan hatimu, pikirkan mana yang menurutmu lebih penting, pendapat orang lain... atau kebahagiaan anakmu..”
Mrs. Owen terdiam, ia kembali menatap Kenneth yang masih saja tertawa bersama Collin,
“Kau lah yang sudah mengajarkan kami tentang mana yang benar dan mana yang salah,” Gabriella kembali berbicara, “sekarang giliran kami yang mengingatkanmu apa yang sudah kau ajarkan pada kami..” sambungnya.
€ ͢ € ͢ € ͢ €
Makan malam berlangsung seperti biasa, Collin dan Kenneth masih memilih tempat duduk yang paling jauh dari suami istri Owen, Samuel masih tampak cemberut, Mrs. Owen tetap diam seperti biasa, yang berbeda pada makan malam kali ini hanyalah bahwa mereka harus menambah meja dan kursi untuk Gabriella, Jordy dan kedua anak kembar mereka.
“Besok hari terakhir persiapan sebelum acara hari sabtu nanti.. apa rencana untuk besok, Sammy ?” tanya Mr. Owen.
“Well, besok aku dan Gwen akan ke bandara untuk menjemput orang tuanya, Kenneth akan ke gereja untuk mengonfirmasi kembali waktu pemberkatan dengan pastur, yang lain akan membantu menata bunga-bunga yang akan datang besok siang, sisanya tinggal menelepon katering, kue pernikahan, paduan suara, dan pemain band untuk konfirmasi.” jelas Samuel.
Mr. Owen mengangguk,
Bisa dibilang persiapannya sudah mencapai 90%,
Sesekali Alan mencuri pandang ke arah Vincent yang malam ini memilih untuk duduk cukup jauh darinya,
Tinggal satu hal lagi yang harus ia lakukan untuk benar-benar memantapkan perasaannya.
“Vincent..” panggilnya,
“Ya ?” jawab Vincent dingin,
“Besok pagi aku mau pergi sebentar, bisa gantikan aku mengurus persiapan pernikahannya sampai aku kembali ?” tanya Alan, tampak tidak perduli dengan tanggapan dingin dari Vincent,
Sementara yang ditanya tampak terdiam,
“Bagaimana ?” ulang Alan.
“Ba.. baiklah..” jawab Vincent akhirnya.
“Terima kasih..” kata Alan sambil tersenyum, sementara yang disenyumi hanya terdiam.
Alan kemudian menatap Aidan yang duduk di hadapannya,
“Kau sibuk besok ?” tanyanya,
“Kenapa ?” Aidan balas bertanya,
“Aku mau memintamu menemaniku..” jawab Alan.
“Ke mana ?” tanya Aidan lagi,
“Ke tempat kau mengirimkan surat-suratmu tiap tahun..” jawab Alan lagi, sambil tersenyum.
Aidan terdiam, tampak malu, ternyata Alan menyadarinya selama ini, pikirnya,
“Ba.. baiklah..” jawabnya kemudian,
“Terima kasih.. “ balas Alan akhirnya, sementara di ujung meja yang lain Samuel tersenyum.
Jam sembilan tepat mereka menyelesaikan acara makan malam, Gabriella pamit ke kamar duluan untuk menidurkan anak-anaknya, sementara yang lain satu per satu meninggalkan meja makan dan mulai sibuk dengan urusan masing-masing.
Mrs. Owen beranjak menuju dapur untuk mulai mencuci piring-piring kotor,
Ia sedang membuang sisa-sisa makanan ke tempat sampah ketika Kenneth muncul di dapur,
Hanya ada mereka berdua di situ,
Kenneth berdiri canggung di pintu yang menghubungkan dapur dengan taman belakang,
“Bi.. biar aku saja yang mencuci, Ma..” katanya takut-takut.
“Tidak usah.” jawab ibunya dingin tanpa menatapnya.
Sementara itu, di ruang tamu, tak jauh dari situ tampak Collin tengah berdiri, mendengarkan.
“Tidak apa-apa... biar aku saja..” kata Kenneth lagi, sambil berusaha tersenyum.
Mrs. Owen terdiam sambil masih meneruskan membuang sisa makanan.
Kenneth berjalan mendekat secara perlahan, kemudian berhenti tepat di sebelah ibunya.
“Ma..” bisiknya,
Mrs. Owen masih tidak menggubrisnya,
“Ma.. kumohon..” kata Kenneth, kali ini dengan suara yang lebih keras.
Mrs. Owen akhirnya menghentikan aktivitasnya, ia terdiam sejenak, kemudian menatap Kenneth,
“Terserah kau saja..” katanya, lalu melempar piring yang baru setengah ia bersihkan ke westafel, kemudian beranjak pergi, meninggalkan Kenneth yang hanya bisa berdiri sambil menunduk di sebelah westafel.
Kenneth kemudian mengambil piring yang tadi dilempar ibunya kemudian mulai mencucinya dalam diam,
Sepanjang umurnya, baru tadi Ibunya membanting barang di hadapannya, dan kemarin itu adalah pertama kalinya juga ia dimarahi habis-habisan sampai dibentak oleh wanita yang ia sayangi itu, air mata menetes ke atas piring yang sedang dicucinya, ia merasa sudah gagal menjadi seorang anak yang patut dibanggakan, ia merasa benar-benar sudah mengecewakan ibunya, betapa susah bagi orang-orang sepertinya untuk bisa bahagia.
Sementara itu di ruang tamu Collin hanya bisa menatap pacarnya dalam diam, guratan kesedihan yang tadi siang sempat absen kembali terlihat di wajahnya, masalah dengan ibu Kenneth yang sempat ia lupakan mau tak mau kembali memenuhi pikirannya.
Hanya ada Alan dan Aidan, tengah berdiri di depan makam yang bertuliskan William Ferdinand Chen.
Pagi-pagi sekali keduanya sudah berangkat dari rumah keluarga Owen, dan sekarang di sinilah mereka, di hadapan makam pacar dan juga sahabat yang rajin mereka datangi setiap ada kesempatan.
Alan tersenyum lemah,
“Hey..” katanya pelan, sambil menatap nisan di hadapannya,
Suasana tampak hening,
Alan kemudian berjongkok sambil mengeratkan jaketnya, udara pagi di bulan ini memang sangat dingin, apalagi di lahan terbuka seperti pemakaman.
“Apa kabar ?” tanyanya pelan.
Aidan masih berdiri diam sambil ikut mengeratkan jaketnya,
“Kau pasti kaget karena kami datang bersama..,” lanjut Alan, “biasanya kan kami datang sendiri-sendiri..”
Alan menghela napas sejenak,
“Aku ingin melakukan ini di depan sahabatmu, seperti sore itu, ketika untuk pertama kalinya kita bertiga ngobrol bersama-sama, saat kau sedang di rumah sakit..”
Alan tersenyum sejenak,
“Kau pasti sudah tahu maksud kedatangan kami ke sini, kan..” katanya lagi.
Alan menatap batu nisan yang bertuliskan nama pacarnya tersebut, ia kemudian mengelusnya pelan,
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana..” katanya sambil menunduk, “aku bahkan tidak tahu apa yang kulakukan ini benar..” katanya lagi,
Nisan Liam menancap kokoh dalam diam, sementara Aidan masih tetap berdiri, tampak memperhatikan,
Alan menatap nisan di hadapannya itu cukup lama, ia sedang berusaha memantapkan hatinya untuk yang terakhir kali, Alan ingin melakukannya dengan benar,
“Aku menyukainya, Liam..” kata Alan akhirnya, “Aku menyukai Vincent..” sambungnya.
Alan masih menatap nisan Liam seolah-olah ia sedang bicara berhadap-hadapan dengan pacarnya itu,
Alan tersenyum kecil,
“Ketika bersamanya, aku merasa seperti sedang bersamamu..” katanya, sambil kembali mengelus nisan Liam,
“Kau tahu, kan.. aku sedang sibuk mengurus pernikahan Sammy dan Gwen ? well, Vincent lah yang selama ini banyak membantuku, sama seperti dulu kau membantuku mengurusi acara natal..” lanjut Alan.
Aidan kemudian ikut berjongkok di sebelah Alan,
“Aku merasakan sesuatu yang berbeda padanya, tidak seperti yang lain yang selama ini mencoba mendekatiku..”
Alan terdiam sejenak,
“Dia mirip sekali denganmu, Li.. andai saja kau sempat bertemu dengannya, kalian pasti akan cocok satu sama lain..” katanya sambil tersenyum,
Alan kemudian terdiam lagi, senyumannya perlahan-lahan memudar.
“Aku tahu ini terdengar egois..” Alan melanjutkan lagi, ia menghela napas sejenak, berusaha mengumpulkan kekuatan sebanyak mungkin,
“tapi ijinkanlah aku memulai kisah bersamanya..”
Air mata mulai mengalir di pipinya secara perlahan,
“A.. aku mencintainya, Liam.. aku mencintainya sebesar aku mencintaimu..” lanjut Alan di tengah isakannya,
Nisan Liam diam tak bergeming,
Aidan mengusap bahu Alan perlahan, mencoba menenangkan,
Kini gantian ia yang menatap nisan di hadapannya tersebut,
“Well, kau sudah mendengarnya kan, kawan ?” katanya sambil ikut mengusap nisan Liam dengan lembut,
“Alan meminta ijin padamu untuk bisa menyambut kebahagiaannya..” lanjut Aidan sambil tersenyum,
“Kau juga menyadarinya, kan, kalau ia sudah terlalu lama terpuruk dalam kesedihan atas kepergianmu.. sudah terlalu lama ia menyiksa dirinya sendiri demi menjaga agar hatinya tetap milikmu seutuhnya,” senyuman di wajah Aidan perlahan-lahan menghilang,
“Kini ia akhirnya bisa bangkit dan mulai mencoba untuk meraih kebahagiaan baru..” Aidan menatap nisan Liam lekat-lekat,
“Ikhlaskanlah Alan untuk bisa bebas meraih kebahagiaannya, kawan..” katanya akhirnya,
Alan masih terisak di sebelahnya, sambil tetap menatap nisan Liam,
“Kalau kau masih ragu apakah Alan bisa bahagia bersama Vincent atau tidak, kau tidak usah khawatir,” lanjut Aidan lagi, “aku yang akan menjamin bahwa mereka akan bahagia.”
“Kau bisa pegang kata-kataku..” kata Aidan akhirnya, sementara Alan tersenyum kecil di sampingnya,
“Kau juga tidak usah khawatir Alan akan melupakanmu,” Aidan terdiam sejenak, “karna ia tidak akan pernah.. akan selalu ada tempat khusus di hatinya untukmu..”
Alan mengangguk kecil,
Keduanya kemudian terdiam sambil masih menatap nisan di hadapan mereka, mencoba merasakan kehadiran Liam,
Udara pagi kembali membelai Alan dan Aidan, membuat keduanya semakin mengeratkan jaket yang mereka gunakan, sementara nisan Liam masih menancap kokoh tak bergeming, seolah-olah sedang menatap kedua pria di hadapannya,
Aidan lalu menatap Alan,
“Bagaimana ?” tanyanya,
Alan balas menatap pria di sebelahnya itu, ia kemudian tersenyum, lalu mengangguk,
Tujuan utamanya ke sini untuk meminta restu pada Liam sudah tercapai, ia yakin, walaupun Liam tidak bicara langsung padanya, Alan yakin sepenuhnya bahwa Liam sudah merestuinya, karena, seperti yang dikatakan Samuel padanya kemarin, yang terpenting bagi Liam adalah kebahagiaan Alan, apapun dan siapapun yang ada di sampingnya, kini ia sudah benar-benar yakin dengan perasaannya pada Vincent.
Keduanya kemudian kembali menatap nisan Liam,
“Well, kami harus pamit sekarang, Li.. hari ini hari terakhir persiapan sebelum acara pernikahan Samuel dan Gwen besok.. masih banyak yang harus kami persiapkan.. doakan semoga acaranya bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan..” kata Aidan akhirnya, ia dan Alan kemudian bangkit berdiri,
“Sampai jumpa lagi, Liam.. di kesempatan berikutnya aku akan mengajak Vincent ke sini, agar kau bisa menilai sendiri, apa dia pantas untukku atau tidak..” kata Alan sambil tersenyum.
Keduanya menatap nisan Liam untuk yang terakhir kalinya, sebelum akhirnya mereka berbalik dan meninggalkan nisan tersebut.
€ ͢ €͢ € ͢ €
Sementara itu di rumah keluarga Owen,
Collin tampak sedang berdiri sendirian di beranda kamarnya,
Ia menatap kosong ke arah taman belakang yang kini dipenuhi para pekerja dan anak-anak yang lain yang sedang sibuk menyematkan lavender dan mawar putih di mana-mana, di kursi para tamu, di meja makan, di altar, di mana-mana.
Ia menghela napas tampak lelah, ia teringat kembali pada kejadian tadi malam, apa ia masih pantas berada di sini, tanyanya dalam hati, tinggal masalah waktu sampai ibu Kenneth mengusirnya dan melarangnya menghadiri pernikahan Samuel dan Gwen.
Ia menutup matanya, ia harus siap jika kemungkinan itu terjadi, bahkan, ia baru saja menyadari kemungkinan yang lebih buruk dari itu, bagaimana jika Kenneth ikut diusir dari rumah ?
TIDAK ! itu tidak boleh terjadi, jangan hanya karena hubungan mereka Kenneth jadi harus pergi dari rumahnya, ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, ia tahu bahwa Kenneth sangat menyayangi keluarganya, terutama ibunya, Kenneth pasti akan sangat menderita bila harus pergi meninggalkan rumahnya,
Collin menghela napas sejenak, kini sudah tiba saat baginya untuk mulai bertindak, ia harus bicara dengan ibu Kenneth, berdua, Collin akan mencoba meyakinkan Mrs. Owen akan hubungannya dengan Kenneth, ia akan berusaha semaksimal mungkin meminta restu dari ibu Kenneth, kalaupun seandainya tidak berhasil, setidaknya ia akan berusaha agar Kenneth tidak sampai diusir dari rumah.
Collin sudah berbalik untuk mendatangi Mrs. Owen ketika langkahnya terhenti, ia terpaku di tempatnya karena orang yang mau ia datangi sudah berdiri di hadapannya.
Keduanya saling tatap sejenak, Collin terdiam, tidak bisa membaca ekspresi wajah wanita di hadapannya tersebut.
“Tan… tante.. “ sapanya canggung, sambil berusaha tersenyum, sementara yang disapa tetap diam, tekad yang tadi sudah bulat kini menghilang entah ke mana,
“Kau sibuk ?” tanya Mrs. Owen.
“Ap.. aku.. ti.. tidak, tante..” jawab Collin terbata.
“Ikut aku sebentar..” kata Mrs. Owen, dengan nada sedikit memerintah, sambil berjalan tanpa menunggu Collin.
Collin mengangguk pelan kemudian mengikuti Mrs. Owen dari belakang dengan takut-takut.
Ada apa ini, tanyanya dalam hati, tiba-tiba saja Mrs. Owen mengajaknya bicara,
Mrs. Owen berjalan masuk ke dalam kamar tamu yang ia tempati bersama suaminya, sementara Collin mengikuti dari belakang, ia berhenti di pintu, sementara wanita tersebut berjalan menuju lemari baju kemudian membukanya.
Collin masih terdiam, tidak berani angkat suara, hanya memandangi wanita di hadapannya yang mengeluarkan sebuah jas dari dalam lemari, memandang jas tersebut sejenak sambil tersenyum singkat, kemudian berjalan mendekati Collin sambil menenteng jas itu,
Mrs. Owen menatap Collin, tampak seperti sedang menilai, sementara yang ditatap hanya bisa menunduk takut,
“Kutebak, mereka memberimu gaun untuk acara pernikahan Sammy..” katanya,
Collin tersenyum takut-takut sambil mengangguk pelan.
Rencana awalnya memang ia akan datang sebagai Carol, jadi Samuel dan Gwen menyiapkan gaun untuknya, bukannya jas.
Mrs. Owen memandangi jas di tangannya lagi sambil kembali tersenyum,
“Ini jas yang digunakan ayah Kenneth saat ia menikahiku dulu,” katanya pelan, “tadinya aku ingin kalau tidak Samuel, Kenneth yang menggunakan jas ini..”
Collin menatap jas di tangan Mrs. Owen, kalau mendengar ceritanya barusan, umur jas ini pastilah sudah cukup tua, walau begitu warnanya masih tetap hitam sempurna, tidak terlihat kusam, terlihat sekali kalau jas ini dirawat dengan baik.
“Jas yang bagus.. pasti akan co.. cocok jika dipakai Kenneth.” katanya sambil masih takut-takut.
Mrs. Owen kembali menatapnya,
“Aku ingin kau memakai jas ini di pernikahan Samuel.” katanya.
“Ap.. apa ?” tanya Collin tidak percaya.
Mrs. Owen menyodorkan jas tersebut pada Collin.
“Selamat datang di keluarga kami.” katanya sambil tersenyum.
€ ͢ € ͢ € ͢ €
Menjelang sore taman belakang baru benar-benar selesai didekor, altar sudah terpasang sempurna, kursi-kursi tamu undangan, meja-meja untuk makanan, peralatan band, serta tempat untuk paduan suara semuanya sudah ditempatkan di tempatnya yang sesuai, lengkap dengan hiasan bunga lavender dan mawar putih di mana-mana,
Sementara orang tua Gwen baru tiba sejam sebelum makan malam, terjadi keterlambatan penerbangan pesawat alasan mereka, keduanya adalah tipikal orang tua yang kurang lebih sama seperti Mr. dan Mrs. Owen, begitu bertemu keempatnya langsung akrab satu sama lain.
Dan yang terakhir pulang hari itu adalah Kenneth, ia baru tiba beberapa saat setelah makan malam beres, para penghuni sudah bubar dan sibuk dengan urusannya masing-masing,
Kenneth menemukan Daniel dan Thessa di dapur, keduanya kebagian jadwal cuci piring malam itu,
“So late ?” tanya Daniel begitu ia melihat Kenneth muncul di dapur,
Kenneth mengangguk sambil duduk di salah satu kursi makan, tampak kelelahan,
“Pastur Leo sedang tidak ada di gereja tadi, jadi aku terpaksa harus menunggunya sampai ia kembali..” jawabnya.
“Sudah makan malam ?” tanya Thessa.
“Pastur memintaku menemaninya makan malam tadi, karena memang belum makan dari siang ya kuterima saja ajakannya..” jawab Kenneth.
Thessa mengangguk sambil kembali meneruskan kegiatannya membantu Daniel mengeringkan piring-piring yang sudah dicuci.
“Collin mana ?” tanya Kenneth sambil menengok kiri kanan, mencari pacarnya,
“Sedang istirahat di kamarnya sepertinya..” jawab Thessa.
Kenneth mengangkat kedua alisnya, tampak heran,
“Tumben sekali ia tidur cepat..” katanya, masih dengan nada heran.
“Mungkin ia kelelahan..” jawab Daniel, “setelah seharian menemani Ibumu jalan-jalan..” sambung Daniel sambil menoleh ke arah Kenneth.
“Menemani siapa jalan-jalan ???” tanya Kenneth kaget.
“Ibumu.” jawab Daniel, ia dan Thessa menatap Kenneth.
“Collin dan Ibuku ?” tanya Kenneth lagi, tidak percaya.
Daniel dan Thessa mengangguk,
Sontak Kenneth langsung berdiri dan berlari meninggalkan dapur menuju ke lantai atas, meninggalkan Daniel dan Thessa saling bertukar pandang dalam diam.
Collin bersama dengan ibunya ? tanya Kenneth dalam hati, masih bingung.
Ia tiba di depan kamar Collin, sambil mengatur napasnya ia membuka pintu kamar tersebut perlahan,
Kenneth melihat Collin sedang tertidur pulas di tempat tidurnya, Ia memandanginya selama beberapa saat, mencoba memastikan bahwa pacarnya itu baik-baik saja.
Kenneth menghela napas lega, setelah yakin bahwa Collin benar-benar baik-baik saja,
Ia terdiam sejenak di depan kamar Collin, masih mencoba mencerna berita bahwa Collin baru saja menghabiskan waktu seharian bersama ibunya.
Kenneth lalu menutup pintu kamar perlahan, kemudian beranjak pergi mencari ibunya tersebut,
Kenneth menemukan ibunya di beranda atas, tengah berdiri sambil menghadap ke arah taman belakang, membelakangi dirinya.
Kenneth mengatur napasnya sebentar, meneraturkan iramanya yang berantakan setelah berlari.
Ia kemudian berjalan perlahan mendekati ibunya yang masih belum menyadari kehadirannya,
“Ma..” sapanya pelan.
Wanita di hadapannya tidak bergeming sama sekali, masih tetap berdiri membelakangi dirinya.
Kenneth akhirnya tiba di sebelah ibunya, ia menatap wanita paruh baya yang ia sayangi tersebut dengan takut-takut.
“Collin..” bisik Kenneth pelan.
“Apa dia sudah tidur ?” tanya ibunya akhirnya, dengan masih tidak menatap Kenneth.
Kenneth sedikit terkejut ditanya demikian,
“Ahh.. i.. iya.. sudah..” jawabnya terbata.
“Dia pasti kelelahan sekali setelah seharian menemaniku jalan-jalan..” kata Mrs. Owen lagi.
“Ma..” ulang Kenneth, kembali dengan nada takut.
Mrs. Owen kembali terdiam, masih belum menatap anaknya, sesaat Kenneth tampak ragu, tapi kemudian ia memantapkan hatinya, inilah saatnya ia memperjuangkan cintanya.
“A.. aku.. aku mau minta maaf..” kata Kenneth akhirnya.
Wanita di sebelahnya itu masih tetap diam,
“Maaf sudah mengecewakanmu… “ Kenneth masih menatap ibunya,
“Maaf tidak bisa mengikuti kehendakmu…
maaf tidak bisa menjadi anak yang pantas kau banggakan…
maaf…”
Kenneth terdiam sejenak,
“atas pilihan hidup yang sudah kubuat.”
Kenneth menatap ibunya dengan serius, jantungnya berdebar kencang, belum pernah ia merasa segugup ini dalam hidupnya.
Keheningan menyeruak cukup lama, Kenneth masih terus menatap ibunya, menunggu respon,
“Kau tahu..” Mrs. Owen akhirnya bersuara, masih belum menatap anaknya tersebut,
“Selama ini aku dan Ayahmu bekerja keras demi memenuhi semua kebutuhanmu dan saudara-saudaramu…” ia terdiam sejenak, “kami berusaha semampu kami untuk bisa menjamin kesejahteraan kalian, apa yang kalian butuhkan, apa yang kalian inginkan, sepanjang kami bisa, kami pasti akan memenuhinya..”
Kenneth masih terdiam sambil tetap menatap ibunya, matanya mulai berair tanpa ia sadari,
“Semua kerja keras dan pengorbanan kami, semata-mata hanya agar kalian bisa bahagia..” lanjut ibunya lagi,
Air mata semakin deras mengalir di pipi Kenneth,
Wanita tersebut akhirnya berpaling menatap anaknya yang sudah bersimbah air mata,
“Apa kau bahagia bersamanya ?” tanyanya sambil mengelus pipi anak laki-lakinya tersebut,
Kenneth mengangguk sambil masih terisak,
Ya. Satu-satunya sumber kebahagiaannya di dunia ini adalah kebersamaannya dengan Collin.
“Jika Gabriella dan Samuel diijinkan untuk bisa bahagia dengan pilihan hidup mereka..” Ibu Kenneth mulai ikut terisak, tak ada seorangpun Ibu yang tidak ikut menangis bila melihat anaknya menangis, “maka kaupun pantas untuk mendapatkan kebahagiaan yang sama.”
Kenneth mendekap tangan ibunya yang masih mengelus pipinya, keduanya kemudian berpelukan sambil menangis bersama.
to be continued
The Wedding Page 4
Page 4
by GoodFriend
Esok paginya,
Mereka sarapan di taman belakang seperti biasa,
rencananya hari ini mereka akan beres-beres dan mulai menata rumah
tersebut, menyingkirkan barang-barang yang tidak perlu untuk disimpan di
gudang, mengeluarkan barang-barang yang sekiranya diperlukan, para pria
akan kerja bakti membersihkan halaman depan, sementara para wanita
bertugas membersihkan bagian dalam rumah.
Gwen, Carol, Rea, dan
ketiga teman Gwen tengah berada di ruang tamu, membersihkan debu, dan
menata perabotan agar tampak lebih enak dilihat,
Carol menatap
foto-foto keluarga Owen yang tergantung di dinding, di beberapa foto
tampak Mr. dan Mrs. Owen berdiri berdampingan sambil tersenyum, keduanya
tampak masih muda, kelihatannya foto ini diambil sebelum mereka
mempunyai anak,
Di foto yang lain tampak mereka sedang berada di
taman bersama seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahunan, yang
bisa dipastikan adalah Gabriella, anak perempuan tunggal mereka.
Di foto yang lain lagi tampak sepasang balita laki-laki berambut pirang tersenyum sambil berpelukan.
“Ini pasti Kenneth dan Samuel..” kata Carol dalam hati sambil tersenyum,
Ia
bertanya-tanya sendiri yang mana Kenneth dan yang mana Samuel, keduanya
masih tampak sama persis, belum ada yang menggunakan kacamata, dan
belum ada yang mengecat rambutnya menjadi warna cokelat.
“Yang mana pacarmu dan yang mana calon suamiku ?” tanya Gwen yang membuat Carol terkaget karena muncul tiba-tiba di sebelahnya.
“Entahlah..” jawab Carol setelah berhasil mengendalikan kekagetannya.
“Lihat betapa lucunya mereka..” kata Gwen lagi.
Carol tersenyum sambil mengangguk,
Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa salah satu dari balita lucu ini adalah pacarnya.
Ia dan Gwen kemudian melanjutkan membersihkan ruang tamu,
Sementara itu di luar para pria sedang sibuk membersihkan halaman,
Kenneth dan Daniel tampak sedang memangkas semak-semak di pinggir halaman, sambil seperti biasa, berkelahi dan saling menggoda.
Samuel, Greg dan Aidan memotong rumput dan menyapu teras depan.
Sementara Alan dan Vincent memindah-mindahkan pot bunga agar letaknya lebih pas dan enak dilihat.
Vincent
menatap Alan yang tengah sibuk menimbang-nimbang akan ditaruh di mana
pot bunga yang sedang dipegangnya, ia teringat lagi perkataan Aidan
padanya tadi malam, ia memang mencintai Alan, sangat mencintainya,
saking cintanya ia tidak keberatan sama sekali jika dirinya ternyata
memang gay.
Vincent tersenyum kecil sambil menatap Alan,
“Kenapa kau tersenyum ?” tanya Alan bingung.
“Ah.. ahh.. tidak apa-apa.. aku hanya senang sudah diundang ke pernikahan ini..” jawab Vincent sambil masih tersenyum,
“Tentu saja.. ini kan pernikahan sahabatmu, memang sudah seharusnya kau senang..” kata Alan sambil balas tersenyum,
“Iya itu juga.. “ kata Vincent, “tapi ada hal lain yang lebih membuatku senang bisa berada di sini sekarang..” sambungnya.
“Apa ?” tanya Alan.
“Aku jadi bisa bertemu dengan..”
Lanjutan perkataan Vincent terputus karena suara mobil yang tiba-tiba muncul di depan rumah.
Kenneth dan Samuel saling tatap kaget, terutama Kenneth, yang langsung memasang tampang horror.
Keduanya menghampiri mobil tersebut yang berhenti tepat di depan teras.
Seorang wanita paruh baya turun sambil tersenyum lebar ke arah keduanya.
“Ma..”
sapa Kenneth dan Samuel, ketiganya kemudian berpelukan, sementara
seorang pria paruh baya muncul dari arah pintu pengemudi.
“My sons..” katanya sambil menghampiri ketiga orang yang baru melepaskan pelukan mereka tersebut.
Kenneth dan Samuel bergantian memeluk pria tersebut.
“Kukira kalian baru akan datang besok lusa..” kata Samuel sambil melepaskan pelukannya.
“Ibumu sudah gatal ingin ikut mempersiapkan acara pernikahanmu..” jawab Mr. Owen, sementara istrinya tertawa.
Anak-anak yang lain berkumpul di dekat pintu masuk sambil menatap keluarga tersebut,
“Mana Gwen dan Carol ?” tanya Mrs. Owen.
“Di
dalam... ayo kita masuk.. sekalian ku kenalkan kalian pada
teman-temanku.” jawab Samuel sambil mempersilahkan orang tuanya berjalan
menuju ke arah rumah, sementara Kenneth kembali memasang tampang horror
begitu mendengar ibunya menyebut nama Carol.
€ ͢€ ͢ € ͢ €
Seluruh penghuni rumah tampak sedang makan siang di taman belakang bersama kedua orang tua Samuel.
Mrs. Owen memilih duduk diapit antara Gwen dan Carol, calon-calon menantu kesayangannya.
Semenjak
kedatangan pasangan suami istri Owen, Kenneth dan Carol terus-terusan
bertukar pandangan suram, mereka tidak menyangka bahwa Carol harus mulai
berakting secepat dan setiba-tiba ini.
“Ma, kau harus mengajarkanku
cara memasak ini.. enak sekali..” kata Gwen pada calon mertuanya, sambil
menyantap makan siangnya dengan lahap.
“Kita akan punya banyak waktu
untuk memasak bersama, sayang,.. kau, Carol, dan aku.. bersama-sama...
sebagai keluarga..” balas Mrs. Owen, sambil menyentuh tangan kedua calon
menantunya.
Kenneth dan Carol kembali bertukar pandangan suram, begitu juga dengan anak-anak lain yang mengetahui jati diri Carol.
“Jadi, sudah sejauh mana perkembangan persiapannya ?” tanya Mr. Owen dari ujung meja.
“Sudah
sampai 80%, Pa.. undangan sudah diantar, baju pengantinpun sudah jadi,
kue pernikahan sudah dipesan, besok bagian dekorasi akan datang untuk
mulai mendekor, tinggal mengingatkan kembali bagian katering untuk
urusan makanan.” jawab Samuel.
Mr. Owen mengangguk,
“Kapan rencananya kakakmu akan datang ?” tanyanya lagi.
“Gabby
bilang padaku bahwa dia akan datang besok, Jordy masih harus
membereskan pekerjaannya dulu sebelum bisa mengambil cuti.” kali ini
Kenneth yang menjawab.
Mr. Owen mengangguk lagi.
“Aku ingin melihat baju dan kue pengantinnya..” kata Mrs. Owen, tampak penasaran.
Gwen mengangguk,
“Akan kuperlihatkan foto-fotonya setelah makan malam..” katanya.
Sisa acara makan malam ini mereka habiskan untuk saling berkenalan dan membicarakan sisa persiapan pernikahan.
€͢ € ͢ € ͢€
Esok paginya,
Para
pekerja yg bertugas mendekor mulai berdatangan , begitu pula dengan
barang-barang berat seperti papan-papan dan kerangka-kerangka besi untuk
merakit altar, peralatan band pengiring, dan kursi-kursi untuk para
tamu.
Para anak lelaki membantu para pekerja mendekor halaman
belakang, sementara para wanitanya beberapa ada yang memasak makan siang
bersama Mrs. Owen, yang lainnya menemani Gwen mengambil baju pengantin.
Alan tampak sedang berdiri di tengah halaman belakang, sibuk mengatur letak kursi-kursi dan dekorasi lainnya,
“Peralatan
band pengiringnya di sebelah kiri altar, kursi-kursi untuk paduan suara
di sebelah kanan..” katanya pada para pekerja.
Para pekerja
mengikuti arahannya, sementara Vincent sedari tadi sibuk berdiri di
samping Alan, mengikutinya ke manapun Alan beranjak.
“Bagaimana menurutmu ? atau paduan suara ditempatkan di sebelah band nya saja ?” tanya Alan padanya.
Vincent tersenyum,
“Begitu sudah benar kok..” jawabnya.
Alan kemudian menghitung kursi tamu yang baru saja datang,
“Kuharap bunga penghias kursi yang kupesan cukup..” katanya tampak cemas,
Vincent mengusap bahu Alan, mencoba menenangkan,
“Tak usah khawatir, Al.. pasti cukup kok..” katanya.
Alan mengangguk pelan sambil membiarkan Vincent tetap mengusap bahunya.
“Warna kursinya cocok tidak ya dengan warna bunganya ?” tanyanya lagi kemudian.
“Cocok kok.. pilihanmu sudah tepat..” jawab Vincent dengan sabar.
Alan menatap Vincent,
“Kau berkata demikian bukan karena kau tidak enak padaku, kan ?” tanyanya curiga.
Vincent tertawa,
“Tentu saja tidak.. kenapa kau bisa berpikir demikian ?” Vincent balas bertanya.
“Well,
kau selalu setuju dengan pendapatku.. seakan-akan aku selalu benar..
aku merasa kau hanya sedang berusaha bersikap sopan padaku..” jawab Alan
masih dengan tatapan curiga.
“Aku tidak sedang berusaha bersikap sopan.. aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Alan..” sanggah Vincent.
Alan masih menatap curiga pada Vincent.
Sejenak kemudian ia tertawa,
“Kau seperti sedang merayuku, Vince..” katanya sambil masih tertawa.
Vince ? tanya Vincent dalam hati, apa Alan baru saja menyapanya dengan sapaan akrab ?
“Aku memang sedang merayumu, Alan.” kata Vincent kemudian dengan tatapan serius.
Ini
dia saatnya, kata Vincent dalam hati, perbincangannya dengan Aidan
malam itu membuatnya semakin memantapkan hatinya, bahwa ia mencintai
Alan, bahwa perasaan yang ia rasakan sejak pertama kali ia melihat Alan
di bangsal rumah sakit lima tahun yang lalu adalah benar-benar perasaan
cinta.
Alan menatap Vincent, sambil masih tertawa,
“Kau ternyata lucu juga ya, kupikir kau orangnya tipikal serius yang sulit bercanda..” katanya.
“Aku serius, Alan.” balas Vincent dengan tatapan seriusnya.
Alan terdiam, kemudian menatap Vincent, tawanya perlahan-lahan menghilang.
Vincent memegang kedua tangan Alan,
“Aku menyukaimu, Alan..” katanya serius.
Alan menatap tangannya yang dipegang erat oleh Vincent, kemudian menatap pria di hadapannya tersebut.
“Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu..” kata Vincent lagi.
Alan
masih terdiam, sebenarnya, walaupun ia tidak mau mengakuinya, Alan
sudah merasakan bahwa Vincent menyimpan perasaan tertentu padanya, ia
menyadari kalau selama ini Vincent selalu menatapnya diam-diam, ia sadar
bahwa alasan selama ini Vincent menemaninya dan menawarkan bantuan
padanya adalah karena Vincent.. menyukainya.
Tapi Alan selalu
berusaha menyingkirkan pemikiran itu jauh-jauh, ia kenal Vincent baru
sekitar empat hari, bisa saja ia salah mengartikan perlakuan Vincent
padanya selama ini, dan juga, ia belum siap untuk membuka hatinya untuk
cinta yang baru, bukan berarti ia tidak menyukai Vincent, Alan suka,
Vincent orang yang baik, hanya saja, ruang hati Alan masih terisi oleh
Liam sepenuhnya.
Sampai saat ini, masih Liam seorang.
“Katakan sesuatu..” kata Vincent, semakin mengeratkan pegangan tangannya ke tangan Alan.
Alan menatapnya.
Sementara itu, di dapur,
Mrs. Owen sedang memasak makan siang bersama Carol, Rea, dan Thessa.
“Begitu
kau menikah dengan Kenneth nanti, aku akan mengajarkan resep rahasia
turun temurun dalam keluarga Owen, aku akan menurunkannya padamu dan
Gwen..” kata Mrs. owen sambil asyik mengaduk cream soup calon makan
siang mereka.
Rea, Thessa dan Carol saling bertukar pandang ngeri,
Mrs. owen tampaknya sudah sangat jatuh cinta pada Carol dan tak sabar
untuk mengambilnya sebagai menantu,
“Kapan rencananya kau akan mengenalkan kami pada orang tuamu, sayang ?” tanya Mrs. Owen sambil membelai rambut Carol.
“Ahh..
ah.. o.. orang tuaku lumayan sibuk, tante.. u.. untuk anaknya saja
kadang-kadang mereka tak ada waktu..” jawab Carol dengan terbata, ia
menatap Thessa dan Rea, meminta bantuan.
“Ah ya ya.. tante mengerti,
tante dan om pun lumayan sibuk, tapi itu bukan berarti bahwa orang
tua-orang tua yang sibuk itu tidak menyayangi anaknya, tidak, jangan
berpikiran begitu..” kata Mrs. Owen.
Carol tersenyum kaku,
“Anak-anak
tante adalah harta tante yang paling berharga..” lanjut Mrs. Owen,
“tante selalu mengharapkan yang terbaik untuk mereka, tante ingin mereka
bahagia..”
Senyum Carol menjadi kecut,
Ia tidak bisa membayangkan
apa yang akan terjadi bila Mrs. Owen mengetahui bahwa salah satu
anaknya gay, dan bahwa salah satu menantu yang ia bangga-banggakan
ternyata tidak seperti harapannya.
Mrs. Owen adalah wanita yang baik,
Carol tidak mau menyakiti hatinya, tapi ia mencintai Kenneth melebihi
ia mencintai dirinya sendiri, ia tidak mau berpisah dengan Kenneth,
“Beritahu kami bila orang tuamu sedang tidak sibuk,” kata Mrs. Owen lagi.
“I.. iya, tante..” balas Carol, sambil berusaha membuka box susu untuk campuran cream soupnya.
“Agar kami bisa bertemu dan menentukan tanggal pernikahan kalian..” sambung Mrs. Owen.
Refleks
Carol merobek box susu yang sedang dipegangnya, sehingga susunya tumpah
ke bajunya, biar bagaimanapun ia adalah seorang laki-laki, secantik dan
segemulai apapun tampilan luarnya, tenaganya tetaplah tenaga seorang
laki-laki, tidak heran ia bisa merobek box susu saking gugupnya.
“Ahh.. ma.. maaf..” katanya sambil berusaha membersihkan susu yang mengenai bajunya,
“Tidak apa-apa..” kata Mrs. Owen.
“A.. aku ganti baju dulu..” kata Carol sambil bergegas pergi menuju kamarnya di lantai atas untuk mengganti baju.
Sesampainya
di atas Carol masuk ke dalam kamar yang terpaksa harus ia tempati
bersama Rea dan Thessa, ia menutup pintu dan bersender,
Mrs. Owen sudah seserius itu membicarakan hubungannya dengan Kenneth,
Bagaimana ini, pikirnya dalam hati, mau mundurpun sudah tidak bisa.
Carol menutup matanya, mencoba me-rileks-kan pikiran dan tubuhnya,
Sementara itu di dapur,
“Ahh..
aku lupa, aku beli beberapa baju untuk Gwen dan Carol dalam perjalanan
ke sini kemarin, kurasa ini saat yang tepat untuk memberikannya pada
Carol.. kalian tunggu di sini, aku mau menyusul Carol ke kamarnya..”
kata Mrs. Owen kemudian beranjak meninggalkan dapur,
Sementara Rea dan Thessa saling tatap dengan tatapan ngeri.
Carol
masih bersender di pintu kamarnya sambil masih menutup mata, ia tidak
yakin apakah ia akan selamat melewati tiga hari ke depan tinggal di
bawah atap yang sama dengan orang tua Kenneth.
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu yang ia senderi diketuk dari luar,
“Col ? kau di dalam ? ini aku, Kenneth..” kata suara dari luar.
Carol cepat-cepat membuka pintu yang ia senderi, tampak Kenneth berdiri di hadapannya dengan tampang seperti baru habis berlari.
“Aku melihatmu berlari ke sini, ada apa ? apa yang terjadi ?” tanyanya khawatir sambil masuk ke dalam kamar.
Carol mendengus pelan,
“Aku menumpahkan susu di bajuku.” jawabnya sambil membuka lemari baju dan mulai mencari baju ganti.
Kenneth menghela napas lega,
“Kupikir
ada apa.. aku khawatir sekali..” katanya sambil duduk di atas salah
satu tempat tidur yang sedang dibelakangi oleh Carol.
“Memang ada
sesuatu sebenarnya..” jawab Carol sambil masih membongkar lemari baju,
“Ibumu ingin bertemu dengan orang tuaku untuk membicarakan tanggal
pernikahan kita.”
“Apa ?” tanya Kenneth kaget.
“Ya. Tanggal
PERNIKAHAN KITA !!” ulang Carol sambil menarik asal salah satu kaos dari
tumpukan baju di dalam lemari, kemudian melepas wig-nya.
Kenneth
menatap pacarnya yang kini mulai melepas kaosnya yang terkena tumpahan
susu dengan terburu-buru, ia kemudian berdiri dan menghampiri Collin
yang masih bertelanjang dada.
“Jangan cemas.. “ katanya sambil memegang kedua bahu Collin.
“Jangan
cemas bagaimana ? Ibumu benar-benar serius ingin menikahkan kita..
bahkan kalau dia bisa, mungkin kita disuruh menikah di hari yang sama
dengan Samuel dan Gwen..” kata Collin sewot.
“Kita akan mencari jalan keluarnya bersama-sama.. oke ?” kata Kenneth, berusaha menenangkan pacarnya yang tengah gelisah.
Collin terdiam, ia masih merasa gelisah.
Kenneth masih memegang kedua bahu Collin, keduanya kini saling bertatapan.
“Kau
tidak sendirian, ingatlah bahwa aku selalu bersamamu.. kita akan
menghadapi ini bersama.. berdua.. oke ?” kata Kenneth lagi.
Collin
menatap wajah Kenneth, wajah kekasihnya, yang selama beberapa tahun ini
selalu ada di sampingnya, yang menyempurnakan hidupnya, yang menjadi
alasan kenapa ia mau melakukan semua ini, berdandan seperti perempuan,
berpura-pura menjadi calon menantu yang baik, semata-mata ia lakukan
karena besarnya rasa cintanya pada pria di hadapannya ini,
Dan ia
memang tidak perlu khawatir, karena apapun yang akan ia temui di
sepanjang jalan takdirnya, ia tidak akan menghadapinya sendirian, akan
selalu ada seorang Kenneth yang setia menemani dan melindunginya,
bagaimanapun situasi dan kondisinya.
Collin merasa lebih tenang
sekarang, ia kemudian tersenyum manis pada Kenneth, yang dibalas tak
kalah manisnya oleh pria tersebut.
Keduanya kemudian mendekatkan bibir mereka dan berciuman,
“Kenneth !”
Terdengar teriakan dari arah pintu, yang sontak membuat keduanya terkejut dan melihat ke arah asal suara tersebut,
Di sana, tampak Mrs. Owen tengah berdiri kaku, wajahnya tampak sangat terkejut.
“M.. Maa..” kata Kenneth terbata, wajahnya dan wajah Collin sama–sama tampak pucat.
Mrs. Owen beranjak pergi dari situ, meninggalkan Collin dan Kenneth dalam keterkejutan mereka masing-masing.
“Kejar dia..” kata Collin pelan.
Kenneth mengangguk, kemudian bergegas mengejar ibunya.
Kini tinggal Collin seorang diri di kamar tersebut, berdiri terpaku meratapi nasibnya selanjutnya.
Akhirnya yang ia takutkan terjadi juga, akhirnya tiba masanya ia dan Kenneth harus membayar konsekuensi atas pilihan mereka.
Collin kemudian memakai kaos yang ia ambil dari dalam lemari, menatap wig-nya yang teronggok di atas tempat tidur,
Sudah tidak ada gunanya lagi ia menyamar menjadi seorang wanita, pikirnya.
€ ͢ € ͢ € ͢ €
Kenneth
dan kedua orang tuanya berada di dalam kamar yang ditempati Mr. dan
Mrs. Owen sepanjang siang tersebut, samar-samar dari luar bisa terdengar
teriakan Mrs. Owen, bisikan menenangkan Mr. Owen, dan suara memohon
dari Kenneth.
Anak-anak yang lain tampak berkumpul di halaman
belakang, mereka sudah tahu apa yang terjadi, dan mereka merasa kasihan
pada Collin dan Kenneth, teman-teman Gwen yang baru mengetahui kebenaran
tentang jati diri Collin tampak terkejut, tapi mereka turut bersimpati
atas situasi yang harus dijalani oleh keduanya saat ini.
Menjelang
sore ketiganya baru keluar dari kamar, Mr. dan Mrs. Owen pergi menuju
halaman belakang untuk makan malam, sementara Kenneth menghampiri Collin
yang sedari tadi mengurung diri di kamarnya.
“Hey..” sapa Kenneth
pelan sambil melangkah perlahan ke dalam kamar, ia melihat pacarnya
sedang terduduk sambil menatap keluar jendela, tampak merana dan
kesepian.
Sebuah koper tampak di sebelahnya, siap untuk diseret keluar dari rumah besar tersebut.
“Hey..” balas Collin sambil tersenyum lemah,
Kenneth
menghampiri Collin, kemudian berjongkok di hadapannya, ia menatap koper
di sebelah Collin sejenak, kemudian menatap pacarnya,
“Bagaimana ?” tanya Collin cemas,
Kenneth tersenyum lemah,
“Begitulah..” jawabnya.
Collin menatap Kenneth, menunggu jawaban yang lebih memuaskan.
Kenneth balas menatap Collin, sesaat kemudian ia menghela napas pelan,
“Well,
Ayahku bisa menerimanya dengan cukup baik..” jawab Kenneth kemudian,
“Ibuku...” Kenneth terdiam sejenak, “perlu waktu sedikit lebih lama..”
Collin menatapnya dengan tatapan sedih,
“Maafkan aku.. sudah membawamu ke dalam situasi ini..” katanya.
“Bukan
salahmu.. ini konsekuensi yang harus kita jalani bila kita ingin
memperjuangkan kebahagiaan kita..” balas Kenneth sambil menggenggam
tangan pacarnya.
“Aku akan meminta maaf pada orang tuamu, dan pergi dari sini..” kata Collin lagi.
“Jangan pernah berani memikirkan ide seperti itu !” bentak Kenneth.
Collin terdiam,
“Aku
sudah berjanji padamu bahwa kau tidak akan menghadapi ini sendirian,
aku sudah berjanji untuk selalu bersamamu, menghadapi apapun yang ada di
ujung jalan kita..” kata Kenneth lagi, kali ini dengan nada lebih
pelan.
Collin mulai terisak, tapi ia mencoba lebih tegar, dari awal
ia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Kenneth, ia tahu bahwa
saat-saat seperti ini harus ia hadapi, ia hanya tidak tahu bahwa akan
secepat dan setiba-tiba ini datangnya,
“Yang harus kita lakukan
adalah berjuang sedikit lagi.. Ayah dan saudara-saudaraku sudah bisa
menerimanya, kita hanya tinggal meyakinkan Ibuku sedikit lagi..” yakin
Kenneth.
Collin menunduk,
“Dan kau akan tetap di sini, setidaknya sampai pernikahan adikku selesai..” lanjut Kenneth.
“Tapi Ibumu..”
“Kau mau memperjuangkan hubungan kita atau tidak ?” potong Kenneth.
Collin
menatap pacarnya, ada kesungguhan di mata Kenneth yang membuatnya tidak
bisa mengatakan tidak, dan ia memang ingin memperjuangkan hubungan
mereka, dan ia tahu bahwa ia tidak akan sendirian menghadapi semua ini,
Maka ia mengangguk,
Collin mengangguk, menyetujui bahwa ia akan berjuang bersama Kenneth, pacarnya, berjuang demi kebahagiaan mereka.
Keduanya saling tatap, kemudian tersenyum,
Sore
itu keduanya semakin yakin atas pilihan hidup yang sudah mereka pilih
bertahun-tahun yang lalu, pilihan yang tidak akan mudah memang, bukan
jalan yang mulus tanpa hambatan dan batu kerikil memang, tapi masih bisa
dihadapi, sepanjang mereka saling memiliki satu sama lain, sepanjang
mereka masih berjalan berdampingan berdua, maka jalan berkerikil akan
bisa dilewati, pilihan sulit akan bisa diatasi.
Kenneth menarik tangan kanan Collin,
“Ayo..” katanya.
“Ke mana ?” tanya Collin bingung.
“Makan malam, Collby.. kau bahkan belum makan siang, kan ?” Kenneth balas bertanya.
Collin
menatap wajah pacarnya, kemudian terkekeh pelan, bahkan di situasi
macam ini masih ada hal senormal makan malam yang bisa mereka lakukan.
Ia kemudian beranjak berdiri, diikuti Kenneth,
“Kau siap ?” tanya Kenneth.
“Mau
tak mau..” jawab Collin, keduanya tersenyum lagi, kemudian bergandengan
tangan pergi meninggalkan kamar tersebut menuju taman belakang untuk
makan malam.
Sesampainya di taman belakang, pandangan seluruh
penghuni tertuju pada mereka, tak terkecuali pasangan suami istri Owen,
sesaat Collin ingin menarik tangannya yang digenggam oleh Kenneth, tapi
Kenneth tampak tak mengijinkannya,
Kenneth menarik tangan Collin,
sambil berjalan mendekati meja makan, pandangan seluruh penghuni masih
tertuju pada mereka, pandangan yang menurut Collin adalah pandangan
menuduh dan mencibir, sekarang, setelah semuanya jelas bahwa mereka
adalah pasangan gay, Collin tidak merasa heran bila teman-teman mereka
bereaksi sama seperti orang kebanyakan tentang hal-hal tabu seperti
percintaan sesama jenis, reaksi penolakan dan penghinaan.
Kursi yang
tersisa tinggal di ujung, di sebelah Aidan, keduanya kemudian menduduki
kursi-kursi kosong tersebut, jauh dari tempat duduk Mr. dan Mrs. Owen.
Suasana masih hening hingga beberapa saat,
“Kau
mau ayamnya, Collby ?” tanya Kenneth, tampak cuek memecah keheningan
sambil mengambil sepotong ayam kemudian meletakkannya di atas piring di
hadapan Collin, tanpa memperdulikan penghuni yang lain.
“Ah..
thanks... Kenny...” kata Collin ragu-ragu, sambil mengarahkan
pandangannya ke sekeliling meja, sekilas tatapannya bertemu dengan
tatapan Mrs. Owen yang tidak dapat terbaca apa yang sedang
dipikirkannya.
Collin masih terdiam, ia masih merasa ditatap oleh tatapan menghina dan mencibir,
Sampai tiba-tiba Daniel yang duduk di seberangnya menyendokkan nasi ke piring miliknya,
“Kusendokkan agak banyak, ya.. kau belum makan siang juga, kan ?” tanya Daniel.
Collin menatap pria di hadapannya tersebut,
Daniel tersenyum padanya, senyuman yang seakan-akan mengatakan “everything’s gonna be fine, dude”.
Collin balas tersenyum,
“Coba cream soupnya juga, Collin..” kata Samuel dari ujung meja yang lain.
“Ah ya, kemarikan piringmu, biar kutuangkan..” balas Gwen sambil mengulurkan tangannya meminta piring Collin.
“Ah.. ya..” kata Collin terbata sambil dengan ragu menyodorkan piringnya pada Gwen.
“Kau juga harus mencoba saus buatanku dan Rea, Coll..” kata Thessa sambil menyodorkan mangkuk saus pada Collin.
Rea mengangguk,
Collin menatap Kenneth yang balas menatapnya sambil asyik menggigit ayam gorengnya,
Kenneth tersenyum padanya,
Anak-anak
yang lainpun tersenyum padanya, senyuman yang memiliki arti yang sama
dengan senyuman Daniel barusan, senyuman yang seakan-akan mengatakan
bahwa kami tidak peduli dengan orientasi seksualmu, kami senang berteman
denganmu, itu sudah cukup, atau bahwa kami akan selalu mendukungmu,
apapun keputusanmu, atau bahwa hey, pada akhirnya, semuanya akan
baik-baik saja.
Collin membalas senyuman teman-temannya dengan penuh
haru, dan malam itu, di kursinya itu Collin bersyukur pada Tuhannya
bahwa ia sudah diberikan teman-teman yang baik seperti mereka-mereka
yang duduk di meja makan ini bersamanya sekarang ini.
“Kudengar kau ikut membantu memasak cream soupnya ya, Collin ?”
Semua penghuni di meja makan tersebut sontak menatap ke ujung meja, karena barusan itu Mr. Owen yang bertanya.
“I..
iya..” jawab Collin takut-takut, baru saja ia merasa senang atas reaksi
teman-temannya yang cukup baik, kini ia harus dihadapkan dengan orang
tua Kenneth.
“Enak sekali..” kata Mr. Owen lagi, sambil tersenyum.
Collin terdiam sambil menatap Mr. Owen, masih belum mempercayai apa yang baru saja dilihat dan didengarnya,
Mr. Owen baru saja tersenyum dan memujinya.
Collin menatap Kenneth yang tampangnya sama kagetnya dengan dirinya.
“Kau harus lebih sering membuatkannya untukku..” lanjut Mr. Owen lagi.
“I.. iya..” jawab Collin masih dengan terbata sambil balas tersenyum.
Collin menatap Kenneth lagi, kemudian tersenyum padanya,
Kenneth balas tersenyum,
Keduanya saling balas senyum,
Senyum yang benar-benar dapat membuat lega setelah harus menghadapi drama seharian.
Di ujung meja yang satunya Mrs. Owen menatap keduanya.
to be continued
The Wedding Page 3
Page 3
by GoodFriend
Esok harinya,
Kenneth dan Collin meregangkan tubuh sambil menghirup udara pagi, keduanya kini sudah berada di pinggir danau, sementara anak-anak yang lain sudah pergi.
Cahaya matahari terpantul di permukaan danau, tampak berkilauan menambah indahnya pemandangan sekitar.
“Kau suka ?” tanya Kenneth.
Collin mengangguk sambil tersenyum senang,
“Indah sekali.. udaranya juga segar.. aku suka..” jawabnya.
Kenneth ikut tersenyum melihat pacarnya senang, ia kemudian duduk di rumput di pinggir danau, menatap Collin yang sedang mencelupkan tangannya ke air,
Kenneth jadi teringat lagi dengan masalah yang kemarin mengganggu pikirannya, mau dibawa ke mana hubungan mereka ini ?
Kenneth menunduk sambil termenung,
“Ken.. kau kenapa ?” tanya Collin tampak khawatir sambil berjalan menghampiri pacarnya tersebut,
Kenneth menatap Collin dengan tatapan sedih,
“Ada apa Kenny ?” tanya Collin lagi sambil duduk di sebelah Kenneth.
“Tidak ada apa-apa..” jawab Kenneth pelan.
“Jangan bohong, aku pacaran denganmu bukan baru sehari dua hari, aku tahu jelas bila kau sedang berbohong Kenneth..” kata Collin.
Kenneth terdiam lagi, ia mengelus rambut Collin dengan penuh sayang,
“Aku mencintaimu Collin.. aku sangat mencintaimu.. aku tidak tahu harus hidup bagaimana tanpamu.” katanya.
“Kau sedang memikirkan apa sih ?” tanya Collin semakin khawatir.
“Aku sedang memikirkan masa depan hubungan kita, Collby..” jawab Kenneth akhirnya.
Collin terdiam sambil menatap Kenneth, ia mengerti apa yang dimaksud pacarnya tersebut, sudah lama hal ini mengganggu pikirannya, tapi Collin terlalu takut untuk memikirkannya.
Diantara saudara-saudaranya hanya tinggal Kenneth yang belum pernah sama sekali membicarakan tentang pernikahan, cepat atau lambat pasti orang tua Kenneth akan mendesaknya, begitu juga dengan orang tua Collin,
“Aku tahu ibumu cepat atau lambat akan mulai mendesakmu untuk menikah juga..” kata Collin.
Kenneth terdiam sambil menatapnya,
“Mungkin sudah saatnya kau mulai mencari seorang pacar.. wanita.. Kenneth..” kata Collin lagi,
Sebenarnya sudah lama Collin memikirkan ide ini, bila saatnya tiba ketika pernikahan dipertanyakan, maka ia akan memprioritaskan Kenneth terlebih dahulu di atas dirinya, ia akan melakukan apa saja asalkan Kenneth bisa menjalani hidupnya senormal mungkin, meskipun bila itu artinya Collin harus menghilang selamanya dari hidup Kenneth.
“Apa maksudmu ??” tanya Kenneth bingung,
“Well, aku tidak bisa selamanya menyamar menjadi Carol, Ken.. kau harus mencari wanita sungguhan untuk kau nikahi..” jelas Collin sambil menunduk,
“Jangan bicara yang aneh-aneh, kau tahu aku tidak akan mungkin melakukan hal itu..” kata Kenneth.
“Mau tak mau kau harus melakukannya.. kau tidak mau mengecewakan ibumu, kan ?” tanya Collin.
“Aku.. aku..” Kenneth terbata, tak tahu harus bicara apa.
“Aku akan mengikhlaskanmu, asal kau bahagia..” lanjut Collin.
“Aku hanya bisa bahagia bila denganmu !” sergah Kenneth sedikit membentak.
“Tapi kita tidak bisa bersama selamanya..” balas Collin sambil menunduk, air mata tampak membasahi pipinya,
“Kata siapa kita tidak bisa bersama selamanya ??” tanya Kenneth, suaranya semakin kencang,
Collin masih menunduk terdiam,
“Kau dan aku sama-sama tahu sejak awal kita berpacaran bahwa hubungan kita tidak akan bertahan selamanya kan, Kenneth ??” tanya Collin kemudian,
Kenneth hanya bisa terdiam memandangi wajah pacarnya yang sudah dibasahi air mata,
“Seandainyapun aku akhirnya menikah dengan seorang wanita, lalu bagaimana denganmu ?? apa kau juga akan mencari seorang wanita untuk kau nikahi ??” bentak Kenneth kemudian.
“Aku tidak akan pernah menikah dengan orang lain selain kau, tidak dengan pria ataupun wanita.. masalah bagaimana hidupku jadinya nanti.. itu akan menjadi misteri yang harus kucari jawabannya seorang diri..” jawab Collin.
“Aku tidak mau begitu !! aku ingin terus bersama denganmu !! sekarang sebaiknya kau buang jauh-jauh ide bodohmu itu dan berjanji padaku untuk tidak akan pernah memikirkan ide-ide seperti itu lagi !!!” bentak Kenneth lagi.
“Tapi, bagaimana dengan ibumu ?”
“Masalah itu akan kita cari pemecahannya bersama-sama.. sekarang kita jalani saja dulu seperti ini..” kata Kenneth.
Collin menatap Kenneth, ada sedikit keraguan di matanya,
Kenneth mengusap air mata dari pipi Collin dengan lembut,
“Aku mencintaimu Collin, aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu, bahkan bila aku harus meninggalkan keluargakupun akan kulakukan..” kata Kenneth lagi,
Collin tersenyum haru mendengar perkataan Kenneth.
Padahal yang mereka inginkan hanya untuk bisa saling mencintai, tapi kenapa takdir begitu kejam sehingga mempersulit hal tersebut, kenapa Tuhan sama-sama menciptakan mereka dalam sosok laki-laki ?
Keduanya kemudian berpelukan erat, seakan tak ingin berpisah.
Siang harinya,
Gwen, Alan dan Vincent tampak keluar dari toko kue, mereka baru saja menyelesaikan urusan mereka di situ,
“Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu ke toko bunga, Al.. toko tempat aku menjahit gaun pengantin tadi meneleponku, aku harus ke sana lagi untuk menyocokan ukuran..” kata Gwen.
Alan mengangkat bahunya,
“Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri kok, yang penting aku sudah lihat model dan warna kuenya, jadi bisa kusesuaikan dengan bunga untuk dekorasinya..” katanya,
“Aku akan menemanimu..” kata Vincent, ia bertatapan dengan Alan.
“Ya, sebaiknya Vincent menemanimu dengan mobil, biar aku naik bus saja ke tempat jahit.” kata Gwen.
“Baiklah kalau begitu..” kata Alan kemudian, “tapi sebaiknya kau saja yang memakai mobilnya, toko bunganya tidak jauh dari sini kok, kami bisa berjalan kaki..”
“Kau yakin ?” tanya Gwen.
“Ya.” jawab Alan.
“Baiklah, sampai bertemu nanti sore kalau begitu..” kata Gwen kemudian masuk ke dalam mobil sedan berwarna biru muda metalik miliknya, kemudian pergi meninggalkan Alan dan Vincent yang masih berdiri di pinggir jalan berdua saja.
Keduanya kemudian bertatapan canggung,
“A.. ayo kalau begitu..” ajak Alan kemudian mulai berjalan.
“I.. iya..” balas Vincent sambil ikut berjalan di sebelah Alan.
Keduanya berjalan dalam diam, sama-sama canggung tidak tahu harus mengobrol apa.
“Ti.. tidak apa-apa nih kau menemaniku ? kau tidak ada urusan lain ?” tanya Alan.
“Tidak apa-apa kok, aku memang tidak ada kerjaan lain untuk dilakukan, lagipula aku senang bisa bersama denganmu..” Vincent cepat-cepat menunduk karena malu dengan perkataannya barusan.
“Apa ?” tanya Alan.
“Ti.. tidak.. bukan apa-apa..” kata Vincent cepat sambil memalingkan wajahnya yang sudah sangat merah dari Alan.
Alan menatap Vincent dengan tatapan bingung sejenak sambil masih terus berjalan,
Keduanya kembali terdiam,
“Ehhmm.. Alan..” kata Vincent tiba-tiba,
“Ya ?” tanya Alan.
“Menurutmu aku bagaimana ?” tanya Vincent, entah dapat keberanian dari mana hingga ia bisa menanyakan pertanyaan bodoh itu.
Alan menghentikan langkahnya, kemudian menatap Vincent lagi,
“Maksudmu ?” tanyanya bingung.
“Ahh.. be.. begini.. a.. aku sedang menyukai seseorang, aku ingin tahu bagaimana orang lain menilai diriku, apa aku ini baik atau tidak, si.. siapa tahu di.. dia juga berpikiran sama seperti orang kebanyakan tentangku..” jawab Vincent terbata, keringat dingin membasahi wajah dan lehernya,
“Kau baik.” jawab Alan sambil kembali meneruskan langkahnya, “kau juga ramah dan sopan, walau awalnya kau terlihat sedikit misterius dan agak pendiam..”
“Me.. menurutmu aku begitu ?” tanya Vincent lagi, senyum simpul tampak menghiasi wajahnya sejenak,
“Aku baru mengenalmu selama dua hari, dan well, sejauh ini itu yang kupikirkan tentangmu..” jawab Alan enteng.
“Te.. terima kasih..” kata Vincent kemudian.
Alan mengangguk,
“Memangnya siapa yang sedang kau sukai ?” tanyanya.
“Ah.. di.. dia kenalanku..” jawab Vincent sambil terbata.
Alan mengangguk lagi sambil meneruskan berjalan.
Vincent merendengi Alan di sebelahnya sambil sesekali menatap ke arah pemuda tersebut,
Wajahnya tak banyak berubah sejak pertama kali Vincent melihatnya, siapa yang menyangka bahwa setelah lima tahun akhirnya Vincent bisa bertemu lagi dengan laki-laki yang dulu pernah menggetarkan hatinya, ini pasti takdir, pikirnya, Tuhan sudah memberikan kesempatan pada Vincent untuk bertemu lagi dengan Alan, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Tak sampai 10 menit keduanya sudah tiba di depan sebuah toko bunga,
“Ayo.” ajak Alan kemudian mendahului Vincent masuk ke dalam toko, Vincentpun mengikutinya.
Alan kemudian mulai melihat-lihat aneka jenis bunga yang dipajang di dalam toko tersebut, ia tentu harus mencari bunga yang berwarna ungu dan putih untuk menyesuaikan dekorasi dengan kue dan gaun pengantinnya, sementara Vincent dengan setia mengikuti Alan mengelilingi toko bunga tersebut,
“Ka.. kau suka bunga ?” tanya Vincent basa basi pada Alan yang sedang sibuk menciumi aroma bunga di hadapannya.
“Tidak.” jawab Alan, “Laki-laki tidak sewajarnya menyukai bunga.”
Vincent terdiam sambil masih terus mengikuti Alan di sampingnya,
“Lalu apa yang kau suka ?” tanyanya lagi.
Alan terdiam tampak sedang berpikir,
Satu-satunya yang ia sukai di dunia ini adalah Liam, tak ada orang lain ataupun benda yang bisa menyaingi kesukaannya pada pacarnya tersebut.
“Tidak ada.” jawabnya kemudian.
“Ti.. tidak ada ?” tanya Vincent sedikit terkejut.
“Tidak ada.” ulang Alan.
Vincent terdiam di tempatnya berdiri, tadinya ia berniat untuk memberikan hadiah barang kesukaan Alan, tapi bila begini ceritanya, ia jadi harus memutar otaknya lebih keras untuk bisa membuat Alan terkesan, ternyata memang benar bahwa tidak akan mudah untuk bisa membuat Alan jatuh cinta lagi.
Setelah kira-kira sejam mereka berada di dalam toko bunga akhirnya Alan memutuskan untuk memesan berbuket-buket mawar putih dan lavender.
Keduanya tampak keluar dari dalam toko bunga, dengan tampang puas menghiasi wajah Alan.
“Ke mana lagi kita sekarang ?” tanya Vincent.
Alan mengangkat bahu,
“Pulang ?” tanyanya.
“Pulang ?” ulang Vincent, ia melirik jam tangannya,
Jam 3 sore,
Masih terlalu sore untuk pulang, masih ada beberapa jam lagi sebelum makan malam, dan Vincent ingin memanfaatkan beberapa jam tersebut untuk dihabiskan bersama Alan.
“Kau sudah makan ?” tanyanya sambil menatap Alan.
Alan balas menatap Vincent, refleks tangannya mengelus perut, gara-gara sibuk mengurus keperluan pernikahan Samuel dan Gwen ia sampai lupa kalau ia belum makan dari tadi, makanan terakhir yang masuk ke dalam perutnya adalah telur dadar sarapannya tadi pagi.
Alan menggeleng.
“Ayo kita cari makan dulu kalau begitu..” ajak Vincent.
Alan kemudian mengangguk.
15 menit kemudian keduanya sudah berada di dalam sebuah restoran.
Vincent menatap Alan yang tengah menyantap makanannya dengan rakus,
“Kau lapar sekali ya ?” tanya Vincent sambil menahan senyum karena melihat tingkah Alan.
Alan mengangguk sambil masih menyantap makanannya, sesaat kemudian ia tersadar dengan kelakuannya dan menunduk malu, tak berani menatap Vincent.
“Kau pasti lelah sekali mengurus pernikahan Samuel dan Gwen, maksudku, dekorasi dan segala macamnya..” lanjut Vincent.
Alan mengangguk lagi,
“Tapi aku cukup menikmatinya.. hanya itu yang bisa kulakukan untuk mereka..” jawabnya.
Vincent memandang Alan lagi sambil tersenyum, ia jadi semakin menyukai pria di hadapannya tersebut, Vincent kagum karena Alan berusaha keras untuk membuat sahabat-sahabatnya bahagia sekalipun dirinya sendiri masih tenggelam dalam sedih dan duka.
“Mulai sekarang aku akan menjadi asistenmu.” kata Vincent kemudian.
“Ap.. apa ?” tanya Alan bingung.
“Aku akan membantumu mengurus keperluan pernikahan Samuel dan Gwen, apapun yang kau kerjakan, kau akan mengerjakannya berdua denganku.” kata Vincent mantap.
Alan terdiam lagi, bertahun-tahun yang lalu pernah ada seorang laki-laki yang menawarkan tawaran yang sama padanya saat ia tengah sibuk-sibuknya mengurusi urusan acara natal kampus,
“A.. aku tidak mau merepotkanmu..” katanya kemudian,
Vincent tertawa kecil,
“Bicara apa kau.. aku tidak merasa direpotkan, lagipula ini pernikahan sahabatku juga, jadi aku akan sangat senang membantumu..” katanya.
Alan hanya terdiam sambil masih menatap Vincent,
“Dan juga,” lanjut Vincent, “aku senang menghabiskan waktu denganmu..”
Wajahnya tiba-tiba langsung memerah, sementara Alan makin kebingungan.
“Mak.. maksudku.. kau teman ngobrol yang menyenangkan, aku merasa cocok denganmu.. se.. sebagai teman..” tambah Vincent dengan terbata.
Alan tersenyum, ia menghargai kebaikan hati Vincent, dan harus Alan akui, iapun sebenarnya menikmati menghabiskan waktu dengan Vincent, sudah lama ia tidak seakrab ini dengan seorang pria, selain Samuel dan Aidan tentu saja.
Malam harinya,
Gwen, Samuel dan para pendamping tengah menikmati makan malam mereka di taman belakang, Gwen terpaksa harus memesan makanan cepat saji karena ia tidak sempat memasak.
“Sammy, kau sudah menyiapkan kamar untuk Gabby dan keluarganya ? kau ingat, kan.. mereka akan tiba lusa..” kata Kenneth pada adiknya di tengah-tengah celotehan anak-anak yang lain.
Samuel mengangguk,
“Tenang saja, aku sudah menyiapkan sekalian untuk ayah dan ibu, untuk orang tua Gwen juga..” jawabnya.
Kenneth dan Collin saling pandang suram,
“Al, paman dan bibi menitipkan salam untukmu, kalau kau ada waktu mampirlah ke sana..” sahut Aidan dari sisi meja yang lain,
Alan mengangguk sambil masih menyantap makan malamnya, ia sudah beberapa kali menerima undangan makan malam dari orang tua Liam, yang ditolaknya dengan berbagai alasan, bukannya ia tidak mau bertemu dengan orang tua Liam, mereka sangat baik pada Alan, mereka sudah tahu tentang kondisi Liam dan hubungannya dengan Alan, dan mereka bisa menerimanya dengan baik, hanya saja, Alan tidak kuat bila harus datang ke tempat di mana begitu banyak hal tentang Liam mengelilinginya, ia tidak siap untuk menghadapi kenangan-kenangan tentang Liam yang pasti akan muncul begitu ia datang ke rumah laki-laki yang sangat ia cintai tersebut.
Di sisi lain Vincent, seperi biasa, menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.
Sisa malam itu dihabiskan dengan memantapkan kembali rencana-rencana seputar pernikahan, beberapa anak yang lain mulai membereskan meja makan, karena malam itu mereka memesan makanan cepat saji, tidak banyak piring yang mereka gunakan, Vincent kemudian menawarkan diri untuk mencuci piring-piring yang hanya sedikit tersebut.
Vincent meletakkan piring-piring kotor tersebut di atas westafel kemudian mulai mencucinya ketika tiba-tiba Aidan muncul di dapur dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil air minum.
Aidan kemudian berdiri di sebelah kulkas sambil meminum air minum tersebut, ia menengok kiri kanan untuk memastikan apakah ada orang lain atau tidak, anak-anak yang lain masih tampak asyik mengobrol di taman belakang.
Setelah yakin bahwa mereka hanya berdua saja Aidan kemudian memandang Vincent yang masih sibuk mencuci piring,
“Well, hanya ada kita berdua di sini, kau boleh mengatakannya padaku sekarang.” katanya.
Vincent menghentikan kegiatannya sejenak kemudian menatap bingung pada Aidan,
“Mengatakan apa ?” tanyanya.
“Alasan kenapa kau selalu menatap Alan diam-diam.” jawab Aidan enteng.
Vincent terdiam di tempatnya, wajahnya langsung memerah padam,
“Ka.. kau menyadarinya ?” tanyanya tergagap.
Aidan mengangguk,
Aidan selalu menaruh perhatian penuh bukan hanya pada Alan tapi pada lingkungan di sekitar Alan juga, ia mengamati gerak-gerik orang-orang yang berada di sekitar Alan, apakah mereka punya niat tertentu pada pria tersebut atau tidak, apakah ada yang diam-diam mencibirnya dari belakang, atau dalam kasus ini, menatapnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Aku terbuka untuk segala alasan, baik yang wajar, ataupun yang agak di luar batas kewajaran..” kata Aidan lagi sementara Vincent masih terdiam.
“A.. aku..” gagap Vincent.
“Kau menyukainya ?” tanya Aidan to the point dengan entengnya.
Wajah Vincent semakin memerah mendengar perkataan Aidan, ia masih terdiam tidak tahu harus bicara apa.
“Tidak usah kau jawab, aku sudah tahu jawabannya dari ekspresi wajahmu..” kata Aidan lagi.
Vincent menatap Aidan dengan terkejut,
“Me.. memangnya kelihatan jelas, ya ?” tanyanya.
“Jadi benar ?” tanya Aidan tidak menghiraukan pertanyaan Vincent.
Vincent mengangguk perlahan dengan ragu,
Aidan menatapnya, tampak sedang menimbang-nimbang,
“Kau serius dengannya ?” tanyanya kemudian.
“Ap.. apa ?” tanya Vincent bingung.
“Aku ingin Alan memulai hubungan yang baru dengan orang yang memang benar-benar mencintainya, bukan hanya sekedar ingin main-main saja..” kata Aidan tegas.
“A.. aku..” Vincent tidak menyangka bahwa ia akan diinterogasi seperti ini, ia tidak menyiapkan diri sebelumnya,
“Kau gay ?” tanya Aidan lagi, tak memberikan kesempatan pada Vincent untuk berpikir,
Itulah pertanyaan yang terus berputar-putar dalam otak Vincent selama beberapa hari ini, tidak, sebetulnya pertanyaan itu sudah muncul sejak kali pertama ia melihat Alan bertahun-tahun yang lalu.
“Entahlah..” jawabnya pelan sambil menunduk,
Aidan terdiam mendengar jawaban Vincent, tampak sedikit kemarahan di matanya, jawaban Vincent barusan terdengar seperti ia sedang main-main dengan Alan,
“Bagaimana mungkin kau bisa menyukai Alan kalau kau sendiri belum yakin kalau kau gay ?” tanyanya tajam.
Bahkan walaupun ia sudah bersahabat cukup lama dengan Alan, Aidan masih belum bisa mengendalikan emosinya yang suka meledak-ledak seperti saat ia kuliah dulu.
Vincent masih terdiam, ia memang belum yakin apakah ia gay atau tidak, ia tidak menyukai laki-laki lain selain Alan, tapi perasaannya pada Alan bukanlah main-main, ia sungguh-sungguh menyukai Alan, tapi apakah dengan begitu berarti ia seorang gay ?
“Aku tidak tahu bagaimana ceritanya hingga kau bisa menyukai Alan, tapi sebaiknya kau pastikan dulu orientasi seksualmu, kalau kau sudah yakin bahwa kau gay, baru dekati dia lagi.” kata Aidan dengan bijak, ia kemudian berjalan hendak kembali ke taman belakang,
“Kau tahu,” kata Vincent tiba-tiba, membuat Aidan menghentikan langkahnya,
“Sebetulnya kita sudah pernah bertemu sebelum ini,” lanjut Vincent.
Aidan mengernyitkan dahinya, tampak kebingungan.
“Kapan ?” tanyanya,
“Bertahun-tahun yang lalu di rumah sakit, ketika kecelakaan yang menewaskan pacar Alan sekaligus sahabatmu itu terjadi.” jawab Vincent,
Aidan memicingkan matanya sambil menatap Vincent, mencoba mengingat-ingat kembali apakah ia pernah melihat wajah tersebut atau tidak.
“Kau pasti tidak begitu memperhatikan karena pikiranmu saat itu sedang terfokus pada sahabatmu..” lanjut Vincent,
Aidan masih terdiam sambil menatap Vincent,
“Aku merupakan salah satu perawat yang membopong jenasah sahabatmu untuk dibersihkan, well, saat itu aku baru mahasiswa perawat yang sedang praktek.” kata Vincent.
“Saat itu jugalah untuk pertama kalinya aku melihat Alan, dan entah kenapa.. saat aku melihatnya menangis karena ditinggal pacarnya itu, hatiku juga ikut merasa sakit, timbul hasrat dalam diriku untuk menghiburnya, saat itu juga rasanya ingin sekali aku berjalan ke arahnya yang sedang terduduk di lantai dan membiarkannya menangis dalam pelukanku, saat itulah aku menyadari kalau aku..” Vincent menatap Aidan dengan tegas, ”mencintainya.”
Vincent terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya,
“Aku tahu kedengarannya aneh, tapi bahkan biarpun sudah bertahun-tahun berlalu aku masih belum bisa melupakan wajah sedihnya tersebut, hingga akhirnya aku bertemu lagi dengannya di sini..” kata Vincent.
Aidan masih terdiam sambil menatap Vincent, ekspresinya tidak dapat dibaca.
“Aku belum tahu aku gay atau tidak, tapi aku sudah menyukai Alan sejak pertama kali aku melihatnya, aku ingin melindunginya, membuatnya bahagia lagi.. aku ingin selalu berada di sisinya.. aku..” Vincent menunduk, “aku mencintainya.”
“Well, you’re gay.” kata Aidan singkat sambil melanjutkan berjalan menuju taman belakang.
“Ap.. apaa ??” tanya Vincent bingung,
“Kau dapat ijin dariku..” kata Aidan sambil lalu, sementara Vincent hanya bisa terbengong-bengong sendiri di dapur.
to be continued




