DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Love Under The Mistletoe Chapter 8

CHAPTER VIII
THE HIDDEN TRUTH



by Tuktuk

Aku tersentak saat kurasakan nafas seseorang menerpa pipi dan sebagian leherku. Perlahan aku membuka mata, ah… benar juga, aku semalam tertidur di kamar kak Riko. Ku perhatikan posisi tidurku, tubuhku benar-benar dianggap seperti bantal guling. Ya, aku didalam pelukan kak Riko! Tuhan, tidak ada lagi perasaan yang lebih bahagia selain merasakan nafas kak Riko berhembus hangat dari pipi dan leher ini. Merasakan lengannya yang begitu kokoh memeluk tubuh ini. >.<

“Hmmmhh……” terdengar suara kak Riko lirih.

Astaga! Dia sepertinya baru bangun, gimana ini? Gimana kalau kak Riko sadar ia sedang memeluk aku? Apa dia akan terkejut dan langsung berpindah posisi?
Aku langsung memejamkan mata. Berakting seolah aku masih tertidur pulas.

“Dan… Danny?” suara kak Riko terdengar pelan berbisik.

Aku tak berani menjawab. Aku masih ingin bersama kak Riko. Aku tak ingin beranjak. Tapi kurasakan tubuh kak Riko beranjak melepas rengkuhannya dan begeser sedikit kekanan sehingga kami tidak berpelukan lagi. Uhhh….

Aku masih memejamkan mata, tetapi kurasakan sentuhan jari tangan mengenai pipiku. Jari kak Riko! Astaga, aku begitu berdebar. Aku tak tau harus bagaimana, aku begitu deg degan saat jari kak Riko menyusuri batang hidungku dan berhenti di bibirku. Kurasakan jari itu menyentuh bibirku lembut, ahh… Bagaimana kalau kak Riko menciumku? Kok First Kiss ku jadinya gini sih? Harusnya romantis dong! Ahhh, kok aku sampe mikir sejauh itu? Itu cuma jari kak Riko, cuma jarinya… Calm down, Danny….

Tiba-tiba… CLICK! Kurasakan lampu blitz kamera baru saja mengenai muka ku. Aku membuka mata lebar-lebar. Kulihat kak Riko memotretku dengan HP nya.
“Ihhhh, apaan sih motret orang lagi tidur!” ujarku sewot.
“Hihihi, habis muka mu lucu…” jawabnya terkekeh.
“Sinih-sinih, hapusin! Bikin malu aja… Kalo ga aku ga mau buatin kopi lagi….”
“Oh please, jangan ancaman yang itu dong dek… Plisss” ujarnya memohon.
“Pokoknya aku minta hapus fotoku itu…”
“Kita foto berdua aja…”
“Hah?”
Aku melongo. Maksudnya foto berdua kak Riko? Di kasur? Hah??? Beneran?
“Berfoto berdua aja ya Dan, biar adil sama-sama kucel mukanya…”

Dan jadilah tangan kak Riko melingkar di bahuku, memelukku dari samping dan memotret kami berdua. Aku benar-benar bingung. Bingung sekaligus bahagia, takpernah terbayangkan di benakku aku dan kak Riko akan bisa sedekat ini, cihuyyyy! >.<

Krekkk… Pintu kak Riko terbuka. Kontan, kami berdua langsung menjauh satu sama lain. Kak Wildan…
“Lho, Danny? Kamu disini? Aku cari ke kamar kamu ga ada…”
“Eh… I… Iya kak…”
“Kamu nginep di kamar Riko?”

Aku tak menjawab. Aku benar-benar kikuk. What happen to you Danny? Itu hanya kak Wildan, tapi mengapa aku begitu merasa bersalah? Tidak, aku cuma suka sama kak Riko.

“Ya elah nyet, dia bantuin gue ngerjain skripsi… Jadinya ketiduran deh… lagian pake istilah nginep, kayak beda rumah aja” jawab kak Riko.
“Nggak… bukan gitu… Ahhh… Danny nya itu….” Kak Wildan nampak bingung.
“Emang Danny nya kenapa?” jawab kak Riko.
“Dan… Danny nya sarapan dulu deh… aku udah buatin sarapan tadi… Aku yang masak sendiri, Nasi Goreng Chef Wildan!”

Aku tersenyum.

“Makasih kak!” aku beranjak dari kasur kak Riko menuju ruang tengah. Astaga, aku ada kuliah pagi!
“Kamu masuk pagi kan? Itu aku siapin sarapan “ ujar kak Wildan.

Aku tersenyum lebar. Ah, kak Wildan. Kenapa kamu begitu baik padaku? Tunggu, ini nasi goreng cuma satu piring? Cuma buat aku? Buat kak Riko mana?

Aku seolah tak peduli mulai menyuap nasi goreng itu ke mulutku. Enak! Tak kusangka kak Wildan pandai juga memasak. Benar-benar pria idaman…

“Eh, nyet… Kok Cuma masak sepiring sih?” tiba-tiba kak Riko berdiri dibelakangku.
“Diem lu nyet, udh gede kayak anak kecil aja minta dibuatin” jawab kak Wildan.
“Segitunya lu sama gue…. Danny aja dikasih… Bagi dong dek?” pinta kak Riko.
“Makan aja kak, aku lagi ga laper…”
“Ga enak Dan?” Tanya kak Wildan.
“Enak banget kakakkk! Serius, enak… Tapi aku buru-buru ini udah jam 7, aku mau ada kuliah pagi sama Dosen Komunikasi Massa…”

Kak Wildan nampak cemberut. Ia merasa begitu kurang senang saat kak Riko melahap habis nasi goreng itu. Dan aku menyadari hal itu.

“Nasi goreng kamu enak kak… Nanti kapan-kapan aku yang balas masakin special buat kamu..”
Kak Wildan tersenyum.
“Janji?”
Aku mengangguk. Kulihat kini justru kak Riko yang bingung. Ia mungkin aneh dengan tingkah kami berdua.

“Lu berdua ngapain sih? Buat gue? Siapa yang masakin?”
Aku berlalu sambil tertawa dalam hati. Kedua orang ini begitu menarik. Begitu mempesona. Ah, Tuhan… Aku tak mungkin menyukai keduanya. Untuk saat ini, aku masih menginginkan kak Riko.

****

Selama di kampus, aku bersusah payah beronsentrasi. Saat dalam perjalanan pulang, saat melamun di kost aku tak dapat berfikir hal-hal lain. Pikiranku terus melayang membayangkan dia, kak Riko. Membayangkan senyumnya, muka lucunya, tengilnya, usilnya… Sesekali dalam bayanganku muncul sosok kak Wildan. Mengapa sosok itu muncul? Aku tak merasakan apapun selain kenyamanan saat bersamanya. Tetapi saat bersama kak Riko, ada rasa menggebu-gebu, ada rasa tenang, ada rasa hangat, ada rasa liar… Semuanya…

Ah iya, foto itu! Aku masih menyimpannya di HP. Tadi, sewaktu kak Riko di kamar mandi, aku diam-diam mengirimkan foto itu ke HPku. Aku masih memandangi foto kami berdua, tangan kak Riko begitu rapat mencengkeram bahuku sambil tersenyum. Ahhhh so sweeett!

Brrrmm… Kudengar motor kak Riko memasuki halaman kost. Ini dia!

“Kak…” ujarku.
“Ya, Dan?” jawab kak Riko.
“Gimana skripsi mu?”
“Syukurlah, udah jalan ini…Tapi dibanding Wildan, jauh aku ketinggalan..”
“Oh, baguslah… Turut senang aku dengernya…”
“Hehe makasih” ujarnya sambil meletakan helm di atas meja.
“Anu kak… Aku boleh pinjem motornya?”

Kak Riko mengernyitkan dahi.

“Kamu bisa?”
“Bisa kok..”
“I… ini udah mau magrib lho? Mau kemana?”
“Ke jalan Hang Tuah…”
“Jauh amat? Mau ngapain? Disitu seram kalo malam, jalanannya sepi… Nanti kamu kenapa-kenapa?”
“Ya, jangan di doain dong… aku mau ke minimarket sama cetak foto….”
“Mesti disana?”
“Kata temen disitu yang cetakannya bagus…”
“Kakak anter ya?”
“Ga usah, aku bisa kok…”
“Kakak anter pokoknya!’
“Ga usah!” bentakku.

Aku meraih kunci motor dari meja, dan berlarian ke halaman. Maaf kak, bukannya aku tak suka… Tapi aku merasa begitu bergantung padamu. Aku ingin berusaha sendiri kak… Aku merasa tak enak jika terus-terusan merepotkanmu, apalagi kamu baru pulang… pasti capek :(

Aku melaju menuju jalan Hang Tuah. Jarak tempuh memakan waktu 20 menit. Itu pun sudah ngebut. Dan memang, sepanjang kanan dan kiri rumah-rumahnya berjarak berjauhan. Halaman-halaman kosong dan kebun kebun menghampar. Aku benar-benar menjauhi kota.

Langit semakin senja dan perlahan matahari mulai kembali ke peraduannya. Aku baru saja menyelesaikan belanjaan di minimarket. Ah, ini kan satu arah pikirku. Jadi aku mampir ke minimarket dulu baru ke cetak foto itu.

Sesampainya aku di studio foto itu, aku langsung bergegas untuk mencuci foto itu.
“Kakaknya ya mas?” Tanya mbak penjaga took.
“Iya…” jawabku enteng.
“Ganteng, hehe… Mas nya juga lucu, kalian saudara ya?”
“Iya…” jawabku asal.
“Duh, titip salam dong buat si kakak…” ujar si Mbak genit.

Aku hanya tersenyum masam. Sejurus aku tolehkan pandanganku ke luar. Brrrssshhhhhhh hujan turun begitu derasnya. Hah… Hujan? Aku melihat jam tangan. Sudah pukul 7 kurang 10 menit. Darnnnn! Dan hujan turun begitu derasnya.
Drrrtt… Tiba-tiba handphone ku bergetar. Ada 2 sms masuk.

From : K’ WILDAN :
“DEK, DISINI HUJAN… KAMU DIMANA?”

From : K’ RIKO :
“DANNY, HUJAN DERAS… MASIH DIMANA?”

Aku tersenyum membaca sms kedua orang itu. Aku ketik balasan, lalu ku kirim ke kedua orang itu.
To : K’ RIKO, K’ WILDAN
“MASIH CETAK FOTO DI STUDIO XXXX, NANTI LANGSUNG PULANG BEGITU HUJAN REDA. BTW BATREKU LOW BAT…”

Duh, sial… ini batre pake acara low bat segala… Kalo lagi saat-saat genting gimana? Hmmhhh….
Aku masih menengok keluar. Menyaksikan langit seolah menumpahkan seisi kegundahannya kepada bumi. Apakah bumi mau mendengar tangisan langit? Apakah ini bentuk kekesalan langit? Ah, pemikiranku mulai aneh-aneh saja.

Tanpa terasa, sudah hampir 2 jam aku termangu disini. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Aku tau, pasti kak Riko dan kak Wildan cemas. Sedangkan hujan masih cukup deras meskipun tidak sederas tadi.

Aku pulang. Aku harus pulang. Ini masih hujan air, gimana kalau batu? Cuma hujan air. Aku harus berani menerobos hujan. Aku meminta plastik untuk melapisi HP dan hasil cetakan foto tadi di dalam tasku. Lalu aku bersiap menerobos hujan.

Jalanan begitu sepi, sampai-sampai tak ada kendaraan lain melintas selain aku. Perlahan aku menyusuri karena pandanganku sedikit terganggu oleh rintikan hujan yang membasahi tubuhku. Aku basah kuyup. Dan….

GLEDUK… GLEDUK… GLEDUK… Kurasakan motor ini naik turun, seolah sedang melewati bebatuan terjal. Ada apa ini? Aku tak merasa menginjak batu. Jalanan juga mulus, lantas ada apa ini? Aku menepikan motor dan kudapati bahwa motor kak Riko pecah ban! Shit.. Oh Shitttt!

Aku dalam keadaan basah kuyup dan kini harus mencari tukang tambal ban! Aaaaahhh Aku menyesal menolak tawaran kak Riko untuk diantar tadi…. Arrrgggghhh Danny bodoh! Danny bodohhh! Sekarang aku butuh kakak… Aku butuh kak Riko!!!!!

Aku mendorong motor yang kutumpangi menyusuri jalan menuju kost. Sepi, hanya bunyi jangkrik terdengar bersahutan, sesekali bunyi katak memanggil hujan terdengar meramaikan malam ini. Aku kedinginan. Aku letih. Aku butuh kak Riko.

Aku tak menemukan tukang tambal ban maupun tempat untuk berteduh, karena jarak rumah yang berjauh-jauhan. Aku benar-benar ingin menangis rasanya. Kaki ini sudah begitu letih untuk berjalan mendorong motor yang ternyata cukup berat. Aku menepikan motor dan merapatkan kedua kakiku sambil berjongkok. Aku menyandarkan keningku pada lenganku. Aku menunduk. Aku menahan rasa ingin menangis ini. Aku harus meminta tolong pada siapa ? HP ku tidak bisa dihidupkan, baterenya tidak bisa untuk digunakan menelepon. Tuhan….

Sekitar 30 menit aku menunduk, menyesali kelakuan dan kenekatan bodoh ini. Aku kedinginan, aku letih… Aku ingin kak Riko. :(

Lampu sorot motor dari arah berlawanan datang menyinariku. Siapa itu? Aku dengan susah payah mengenali sosok dibalik cahaya menyilaukan mata itu. Sejurus kemudian ia menepi dan menghampiriku. Kak Riko!
Aku langsung berdiri dan benar-benar bingung. Aku bahagia, sampai ingin menangis rasanya.

“Kakak… maaf… gara-gara aku motornya pecah ban…”
Kak Riko tak menjawab, ia tampak menahan sesuatu saat melihatku basah kuyup dan… Ia memelukku. Membenamkan kepalaku did adanya. Hangat. Hangat sekali. Mataku terasa panas sampai akhirnya kupecahkan tangisku dipelukannya.

“Kakak… Danny selalu menyusahkan kakak….” Ujarku sambil terisak.
“Ssssh… sudah sudah.. aku yang salah… sudah…” ujarnya menenangkanku.

Kak Riko mengusap kepala ku lembut. Ia lalu membuka bajunya, dan membuatnya telanjang dada.
“Pakai bajuku… kamu pasti kedinginan…”
“Tapi kak?”
“Aku lebih mengkhawatirkan kamu dek… Demi Tuhan, pakailah bajuku, dan biarkan aku memakai bajumu….”

Baju ku nampak begitu sempit saat kak Riko memakainya, ditambah baju itu basah… Kak Riko…
Aku mengendarai motor yang dibawa oleh kak Riko, sedangkan ia mendorong motor itu sampai sekitar 1.5 km. Sesekali aku menawari untuk bergantian, tetapi ia menolak. Sampai kami berhenti di sebuah tambal ban yang sudah akan tutup. Mungkin bapak itu kasihan melihat kami, sampai ia mau menambalkan ban motor kami.

“Maafin kakak Dan…” ujar kak Riko lirih.
“Aku yang keras kepala kak…” jawabku.

Kak Riko lalu merangkulku, menghangatkan tubuh kami berdua. Sembari menunggu bapak tukang tambal ban itu menyelesaikan tambalannya, kak Riko bercerita tentang perjalanannya kemari. Ternyata itu motor kak Wildan. Ia begitu cemas, dan memaksa untuk menjemputku.. Tetapi kak Riko bersikeras untuk meminjam motornya dan menjemputku.

Mataku masih sembab. Aku kedinginan, aku letih… Tapi aku berada disini, dipelukan kak Riko.

“Sayang….”
“Hmmm?” Tanya kak Riko.

Tanpa sadar aku mengucapkan kata sayang didepan kak Riko.
“Ngg… Nggak… Sayang kak WIldan ga disini”
“Hmmmh… Yang penting kamu udh selamat dulu, kita berdua khawatir” ujar kak Riko.

Ia semakin menguatkan pelukannya. Membenamkan aku dalam rangkulannya. Kami sudah tak peduli bahwa masih ada 1 orang disekitar kami. Kami tak peduli.

“Mas, ini sudah selesai…” ujar bapak tambal ban itu.
“Oh.. Makasih pak, ini uangnya”
Perlahan aku menyusuri jalan menuju kost. Menyusuri gelap dan dinginnya malam bersama kak Riko. Ahh… Kak Riko… Sesampainya di kost, kak Wildan berdiri di teras dengan muka khawatir.

“Kamu ga papa Dan?” Tanya nya.
“Hehe… maaf ya kak sudah buat kalian khawatir.”
“Haaatsyyimmm” tiba-tiba aku bersin.
“Kamu sakit tuh! Pasti karena kehujanan tadi…. “ ujar kak WIldan.

Tangan kak wildan menempel di keningku. Tubuhku memang terasa hangat. Aku begitu letih…

“Tuh kan panas… keringkan badanmu, aku ambilkan obat” kata kak Wildan.

Kak Riko menatapku. Ia lalu memelukku. Lagi. Lagi kak… Peluk aku lagi… Aku masih menangis jika aku dipelukan kak Riko. Menangis bahagia.
“Berikan aku separuhnya Dan… Separuh rasa sakit yang kau terima sekarang” bisiknya di telingaku.

“Andai aku bisa kak… Aku hanya ingin membagi kebahagiaan…” jawabku terbata-bata.

Kak Riko seperti menahan rasa gundah. Ia begitu khawatir.
“Dan… Ini minum obat ini” kata kak Wildan.

Aku lalu meminum obat itu. Merebahkan tubuhku yang telah kering dan hangat di atas kasur. Meresapi apa yang telah aku lewati dengan kak Riko hari ini. Andai.. Andai kami berjodoh, andai… Aku menangis dalam hati…

Ku pejamkan kedua mataku. Kepalaku semakin lama terasa semakin berat. Aku ingin bermimpi bersama dia, bersama kak Riko. Aku ingin menyampaikan satu kebenaran, bahwa aku begitu mencintainya.

****

Dalam sekejap Danny telah pulas tertidur. Kehujanan dan rasa letih itu membuat tubuhnya memberi sinyal bahwa ia butuh istirahat. Istirahat yang banyak.

Krek. Pintu terbuka. Seseorang masuk kekamarnya. Riko. Muka Riko terlihat begitu gusar dan khawatir. Ia mendekati Danny yang masih tertidur pulas dan mengusap kepalanya lembut. Ia tidak sadar kalau ia menitikkan air mata kedua sudut matanya. Ia nampak begitu menyesal.

Riko menggenggam erat tangan Danny.

“Maafkan kakak Dan… Aku ga akan membiarkan kamu sendirian lagi. Aku akan menjagamu. Aku sayang kamu, Dan…. Aku sayang kamu...” Bisiknya.

Sayang, ucapan Riko tadi hanya bisa didengar oleh dirinya. Danny telah jauh bermimpi, dan dalam mimpinya ia mengucapkan hal yang sama untuk Riko.


to be continued....


1 comments:

putra samosir said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

Ya tuhan, cerita ini unforgettable kali yah. Kasian banget itu si willdan.

Post a Comment