DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Kadang Cupid Tuh Tolol! Chapter 11 Farewell Spell (2)

Farewell Spell (2) 
-chapter 11-

Huh!
Kadang lelah juga ya berjiwa muda di dalam tubuh yang sudah renta ini.
Kadang aku ingin menarik permintaan itu.
Aku ingin berjiwa sama seperti usiaku.
Bukan jiwa 15 tahun dalam tubuh nenek-nenek.

Hanya gara-gara aku ketemu dengan komunitasku, The Jandaz, aku agak terhibur. Tapi sebentar lagi The Jandaz juga bubar. Mungkin sudah waktunya ini semua berakhir.

Aku menyesap lagi tehku dan membaca majalah yang ada SM*SH di dalamnya. Mereka punya gaya baru sekarang. Lebih macho. Morgan jadi ada kumis dan janggut tipis, bajunya pun lebih gagah lagi. Lama-lama mungkin Morgan mirip Chandra, ya? Mengingatkanku ke malam-malam kegagahan itu.

Aku selalu cinta Chandra.
Apa pun kulakukan untuknya meski aku tahu itu tak mungkin.
Seperti saat kematiannya waktu itu.

Aku bersikeras mengasingkan Chandra ke suatu tempat tersembunyi agar iblis tidak bisa mengambil nyawanya. Aku membawa Chandra ke luar negeri. Ke Russia. Aku membohongi Chandra bahwa aku punya tiket gratis Russian Air Show yang menampilkan pesawat-pesawat Antonov. Chandra girang bukan main hingga langsung mengambil cuti.

Sayang, Iblis ada di mana-mana.
Chandra tetap saja mati. Yang paling parah adalah aku ada di sana saat kematian Chandra. Tidak langsung dicabut nyawanya oleh iblis, tetapi dilibatkan dalam sebuah kecelakaan yang direkayasa Iblis. Itu adalah masa-masa terkelamku. Masa-masa di mana aku menjadi mayat hidup. Untuk ukuran orang yang selalu berjiwa muda, rasanya aku ingin bunuh diri. Mirip remaja-remaja yang diputus cinta.

Satu-satunya hal yang menghiburku adalah meminta permintaan lagi. Aku berpikir, mungkin aku bisa meminta Chandra kembali. Tapi mereka bilang, Chandra sudah jadi makanan mereka. Sudah habis jiwanya. Saat itu aku rapuh... aku menjadi gila.... Sampai suatu ketika, Iblis itu berubah wujud menjadi pria normal dan mulai menemaniku ke mana-mana.

Tentu saja, ini untuk bisnis semata. Mereka tahu aku akan menukar jiwa-jiwa manusia dengan permintaan-permintaan tololku. Mereka sengaja membuatku waras kembali, supaya aku datang ke gua mereka lagi.

Tapi aku tidak pernah datang lagi. Thank you aja deh, udah bikin aku waras lagi. Aku justru ngalamin titik balik di mana aku sekarang lebih dekat kepada malaikat. Lina pernah membisikiku tentang cara bertemu dewi-dewi. Legenda bidadari mandi di bumi bukan hanya mitos saja ternyata. Yang perlu kamu lakukan untuk ketemu mereka ternyata sederhana:

Percaya.

Aku percaya pada bidadari saat itu. Aku terlanjur percaya adanya iblis dan kemampuan mengabulkan permintaan mereka. Kalau begitu, aku percaya dewi-dewi. Aku sengaja mencari mereka ke sungai-sungai tersembunyi, menelusuri kawah-kawah berwarna hijau dan menapaki hutan-hutan berpohon tinggi. Kadang para bidadari sembunyi di balik air terjun. Kadang di batu karang tepi pantai.

Aku sempat berkenalan dengan salah satu dengan mereka. Bukan untuk meminta permintaan, seperti yang Lina sarankan. Hanya ingin mencari teman dengan makhluk di luar manusia. Sampai hari ini... aku masih sering berkomunikasi dengannya. Dan dia sangat-sangat membantuku. (Dan aku tidak mencuri selendangnya, yaaa...)

Bahkan sore ini, di kafe mungil jalan Braga, kafe yang akhir-akhir ini mendadak famous gara-gara menyajikan Rainbow Cake, aku sedang menunggu teman bidadariku itu. Kami ada janji selibas di sini. Aku datang dengan sukacita, memesan teh dan sepotong red velvet, sambil membawa majalah berisikan Sm*sh.

Aku ingin menikmati sore hari ini. Keluar dari tekanan-tekanan yang menindih tubuhku.

“Kamu punya kabar baru?”
Dia sudah datang.
Dewi.
Namanya Dewi.
Gaunnya mirip gaun dewi-dewi Yunani.

“Saya punya kabar baru, dong. Saya udah pesan red velvet, nih. Kamu icip-icip, okay?”
“Saya tidak makan makanan manusia.”
“Saya tahu,” bisikku sambil memutar bola mata. “Formalitas aja. Entar saya yang makan. Ehem-ehem.”

Dewi duduk di hadapanku, menatap sekeliling dengan kecewa. “Tempat ini tidak ada indah-indahnya.”
Selalu begitu. Dia selalu komen kalau bumi ini sudah tidak indah. Makin sedikit pohon, makin tidak indah. “Elemen yang digunakan untuk membangun ruangan ini didominasi material non-organik. Tidak indah,” lanjutnya.

Astaga, memangnya ini makanan, pake istilah organik? Memangnya bikin gedung ini pake sayur-sayuran organik dan roti gandum?

“Jadi, masalah, buat loe?” Aku memutar bola mata.
“Kamu makin kurang ajar.” Dewi tertawa.
“Karena saya kira, berjiwa muda tuh awet muda. Ternyata, jiwanya aja yang muda. Dan karena jiwa muda jaman sekarang kayak begini, ya beginilah saya. Aduh, kalau dibahas lagi, saya jadi nyesel pernah minta itu. Eh, tolong fotoin saya sama Red Velvet-nya, dong! Buat diupload di twitter. Pake Instagram. Kamu tahu Instagram, Dewi?”

Dewi menggeleng. Dia malah membahas hal yang sebelumnya. “Penyesalan itu langkah bagus untuk berhenti memuja setan.”
“Saya nggak muja setan, oh my God. Saya cuma... having a deal.”
Deals,” ralat Dewi, mengerlingkan matanya.

“Kita langsung bahas ke kabar baru saya. Sebentar.” Aku membereskan dulu majalah Sm*sh-ku dan melipat baik-baik album foto Morgan. Sesekali aku mengangkat album foto itu ke atas, barangkali ada Morganous di kafe ini, misal dia melihat kumpulan foto Morgan-ku, dan kami bisa tuker pin atau apa gitu?

“Saya, seperti yang kamu bilang waktu itu, punya keputusan baru,” lanjutku.
“Keputusan yang tepat?” tantang Dewi sambil mengangkat salah satu alisnya.
“Sebelum saya jawab, saya mau nanya kondisi Dennis.”
“Dia aman. Maksud saya, dia masih ada di bumi, belum digiring iblis ke gua mereka di neraka.”

Aku mendesah lega. “Di mana Dennis?”
“Di suatu tempat. Sedang berusaha menghubungimu, Allya. Saya sudah tidak punya kuasa lagi atas Dennis. Waktumu sudah habis sejak kemar—“
“Saya tahu.” Aku meremas-remas tisu dengan gugup. “Saya sudah sangat tahu.”

Dewi menatapku serius. Menungguku melanjutkan kata-kata.
“Saya cuma lagi nikmatin masa-masa terakhir.”

Dewi memutuskan untuk menguak sedikit lagi rahasia Dennis sekarang. Dan dadaku makin berdebar. “Dennis tak punya sayap lagi sekarang. Dia dilihat hanya oleh orang pertama yang melihat dia. Saya tidak bisa bilang itu siapa. Kalau kamu sudah punya niat baik untuk berhenti menggali lubang menutup lubang, lompat dari satu perjanjian ke perjanjian lain, semua masalah ini akan berakhir. Kasihanilah semua orang yang kamu sayang, Allya.”

Dan, seperti biasa, Dewi akan mulai menceramahiku dengan kenangan beberapa tahun lalu, saat aku dengan merananya membuat perjanjian pada dewi-dewi.
“Seperti yang sudah saya ceritakan jutaan kali padamu, menghidupkan kembali Dennis tidak pernah menjadi ide bagus. Terima saja kalau nyawa seseorang memang punya masa aktif tersendiri. Ketika sudah habis, ya habis.”

“Saat itu saya belum siap.”
“Ya. Saya tahu. Saya sudah dengar jawaban itu jutaan kali, sama seperti saya membahas hal ini jutaan kali.” Dewi mendesah. “Kami sudah susah payah meminta Yang Maha Kuasa untuk menghadirkan kembali Dennis di sekitarmu, Allya. Tapi kami bukan Tuhan yang punya kekuatan sebesar itu. Kami hanya sanggup mentransform Dennis menjadi makhluk lain yang tidak sempurna. Tidak seperti manusia. Dan dulu kamu bilang sanggup.

“Bahkan ketika kami bilang, ada syarat khusus, kamu bilang sanggup. Kamu siap mengikuti aturan bahwa Dennis kami ciptakan kembali menjadi cupid untuk satu tujuan saja. Begitu tujuan itu tercapai, Dennis kami ambil kembali. Kamu boleh memanfaatkan Dennis selama menjadi cupid, putra-putra kecil kami yang menebarkan benih cinta. Tetapi kamu tidak bisa menghentikannya mencapai tujuan itu.”

“Dan sekarang tujuan Dennis tercapai,” gumamku lirih. “Saya kemarin-kemarin masih bingung... gimana cara ngadepin kehilangan Dennis lagi.”

“Kamu bilang kamu sudah punya kabar bagus.”
Aku mengangguk, kembali memantapkan diri dan mengambil napas panjang. Setelah meneguk teh yang hangat ini, yang mungkin merupakan teh terakhirku, aku mengangkat kepala menatap Dewi.

“Saya siap menggantikan Dennis untuk menjadi tumbal atas perjanjian saya sendiri. Bukankah itu ide bagus?”

Dewi tersenyum.
Bukan karena dia ingin aku mati.
Melainkan karena ini memang jalan terbaik.

-XxX-

Jeng Novi
aLLy4, bNeeR 9u9H sEcH , , yG dBH1LaN9 cMaa No3No3QH t03cHH , , !!?? QaMyUU do3QuuNnH , , !!??? Y_Y

Jeng Odah
Alleeaa , , qammoe mudja-mudja shetan , , yaagh ? ? qatha zeng Nunuqh qammoe poennyha manteraa manteraa ivlizz...

Jeng Susi
Ow Emh Jiii... kamyu iqtan seqte-seqte hari kiamat!!?? Nunuq nunjuqin buktinya dan alibinya.. teyuz, ada apa nech kamu ngundang qta2 ke The Harvest? Tempatnya gugh dkazih qutuqan dulu, qhaann...?

Jeng Imas
ALLYA, KAYAKNYA AKU SKRG PUNYA IDOLA BARU. NAMANYA KOBOI JUNIOR. BUKAN BERARTI AKU BENCI SM*SH ATAU CHERRYBELLE.

Jeng Yanti
4LL34, cH0B4 k4mU qL4R1f1k451 duLu . . . . . b3N3R 949H s3cH k4mU dUqUn k4Y4K y4n9 d1B1L4n9 nUnUQH ? ? ? ? ? t3Ru5 , , , , m4u 4P4 q1T4 kuMpUL d1 d3u H4Rp35T ? ? ? ? ?

Aku tersenyum memandang semua pesan-pesan di ponselku itu. Ledakan pesan yang menanyakan soal aku ini dukun datang sepanjang pagi ini. Pasti Nunuk sudah bilang macam-macam semalam. Mungkin dia ngetweet atau bikin status facebook tentang aku. Bahkan beberapa gosip yang dia sebarkan ke The Jandaz juga dia forward padaku, hanya demi aku menyadari dan aku jadi panas karena cemburu.

Sayang sekali, Nunuk. Usahamu sia-sia. Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua itu. Silakan saja mau panggil aku dukun. Memang secara logika aku dukun. Aku bahkan punya basement yang berisi peralatan dukun. Aku bahkan tahu cara berkomunikasi dengan iblis. Aku memang dukun.

Semua blackmail yang kamu kirimkan sama sekali nggak berguna, Nunuk. Kamu sudah menang. Datang saja ke acara terakhirku di Harvest dan akan kukuak semuanya.

-XxX-

The Jandaz nampak rapi.
Dan religius.
Mereka masih mengenakan gaun-gaun indah yang pernah kami beli bersama, memamerkan kilaunya gelang-gelang emas dari Kalimantan, sekaligus membawa tas dengan tulisan merk sebesar mungkin. Seperti tasnya Jeng Yanti yang bertuliskan PRADA sebesar billboard.

Selain penampilan wajib The Jandaz untuk tampil cantik, beberapa mendadak mengenakan aksesoris baru. Misalnya Jeng Novi yang mengenakan kerudung tipis menutupi sebagian rambutnya atau Jeng Susan yang mengenakan kalung rosario berkilauan di depan dadanya.

Mungkin maksudnya, kalau-kalau aku memanggil setan di gedung ini, mereka sudah punya pertahanan religius sendiri-sendiri.
Yang benar saja.

Kami semua duduk di The Harvest, Dago. Duduk melingkar di meja terbesar yang kami gabungkan. Berbisik-bisik kecil saat aku menoleh ke arah lain. Bahkan nge-tweet saat dikiranya aku nggak melihat iPhone-nya di bawah meja.

Jeng Nunuk juga ada di sana, masih asyik berbisik terang-terangan untuk mengatakan aku dukun. Semakin hari semakin kreatif saja ceritanya. Katanya aku bisa menjelma menjadi apa saja, mengintip cowok-cowok mandi, dan menghilang seperti Jinny Oh Jinny.

Aku mentraktir mereka semua kue enak di The Harvest. Sebagian ada yang sudah memesan tiga loyang rainbow cake untuk dibawa pulang. Sebagian masih bertanya-tanya, “Nanti kuenya dikasih jampi-jampi nggak, ya?”

“Selamat sore,” mulaiku, membuka forum.
Semua The Jandaz langsung berhenti berbisik-bisik. Sebagian duduk tegak dan tampak tegang. Aku merasa seperti presiden sekarang. Di mana setiap orang berlagak baik seraya ketakutan aku bakal menghukum mereka dengan santet atau apa gitu. “Terima kasih sudah mau datang ke jamuan saya.”

Aku menamai jamuan ini sebagai The Last Supper.
Karena ini memang jamuan terakhir. Banyak dari mereka yang tidak bisa hadir sebetulnya, disertai jutaan alasan nggak masuk akal seperti, “Kakiku sakit,” “Aku kena darah tinggi, nggak bisa keluar kayaknya,” “Mau ada kerja bakti warga, jadi nggak bisa ikut.” Namun begitu aku tambahkan, “Ada doorprize, kok. Ada hape android baru dan tandatangan Morgan yang pernah kudapatkan beberapa bulan lalu.” Mendadak semua hadir. Jeng Susan malah membawa kenalannya, Cintami, yang sama-sama tua seperti kami, tapi nampak lemah.

“Saya tidak akan berbasa-basi lagi. Saya di sini untuk mengkonfirmasi. Dan untuk mengklarifikasi.”
Aku terdengar seperti wanita bijak sekarang. Mungkin mirip Hilary Clinton.

“Konfirmasi kalau kamu dukun!” seru Nunuk berapi-api.
Semua menoleh dan menelan ludah.

Aku mengangguk kecil. “Ya. Untuk itu.”
“Haaa...” Semua tamu undangan melongo. Langsung saja The Harvest ramai oleh bisik-bisik lagi. Padahal aku kan belum bilang kalau aku dukun.

“Jadi... kamu beneran dukun?” tanya Jeng Yanti hati-hati.
Aku menggeleng. “Aku rasa aku bukan dukun.”
Semua mendesah lega. Jeng Susan dan Jeng Novi bersalaman.
“Tapi kalau pertanyaannya, ‘Apa aku mengadakan perjanjian dengan setan?’ jawabannya adalah iya.”

Semua mendadak pucat.
Kecuali Nunuk. Dia seperti mengibas-ngibaskan uang di depan mukanya sekarang. Nampak begitu bangga kalau dia benar.

“Tetep aja itu dukun!” sahut Nunuk sambil berdiri dengan ksatria. Dia membuka tasnya, mengaduk, dan menggebrak meja sambil menunjukkan selembar resi pembelian produk-produk Tong Fang. “Nih! Eh, salah—“ Dia masukkan lagi resi tersebut dan menggebrak selembar kertas dari buku diary-ku yang berhasil disobeknya waktu itu. “Nih! Mantera-mentera setan! Oremus Sifirmus Makantikus Nggakdikukus!”

Semua undangan The Last Supper terperangah, menyipitkan mata. Memandang tak percaya pada kertas itu.
“Oh, lihat! Itu memang tulisan Allya,” seru Jeng Novi.
“Ya. Dan dia pake kertas buram,” tambah Jeng Odah. “Kertas buram banyak kandungan mistisnya. Pasti sudah dijampi-jampi biar nggak sobek.”

Aku memutar bola mata.
Kertasnya begitu sudah dari sananya, dari diary-nya. Lagipula, itu, jelas-jelas sudah disobek.

“Saya bukan manusia sempurna,” lanjutku.
“Memang bukan manusia. Kamu kan dukun!” potong Nunuk antusias.
“Dulu saya membuat perjanjian dengan iblis, taruhannya nyawa.”

Semua mendadak tegang, mendadak ngeri. Aku dapat mendengar Odah bergumam. “Astaga, aku belum bayar asuransi bulan ini. Bagaimana kalau aku jadi tumbal?”

“Kalian nggak usah khawatir, aku sudah berhenti, kok.”

“Kamu harus keluar dari The Jandaz!” tegas Nunuk. “Kita nggak bisa nerima anggota yang memuja setan. Kita punya peraturan tentang itu!”
Semua langsung berbisik-bisik. “Peraturan yang mana ya?” bisik Jeng Susan.
“Mungkin yang tentang prinsip The Jandaz mengenai Pancasila,” bisik Jeng Novi.

“Nggak perlu khawatir, saya memang mau keluar, kok,” jawabku. “Saya cuma pengen kalian tahu yang sebenarnya dari mulut saya. Kalau ada yang mau kalian tanyakan, tanyakan saja.”

“Jadi kita bisa dapat duit banyak kalo bikin perjanjian?” sahut Jeng Odah.
Semua The Jandaz langsung menimpuki Jeng Odah dengan gulungan tisu. “Ssst! Jangan pertanyaan macam begitu.”

“Jika itu pertanyaannya,” aku mendesah, “Ya. Kita bisa mendapatkan semua yang kita mau. Dan Iblis bisa mendapatkan apa yang Iblis mau.”

Semua bergumam lagi.
Aku bisa mendengar Jeng Imas bergumam, “Kira-kira dia mau nggak ya nuker koleksi handuk hotel saya sama seperangkat alat make-up dari Chi Factory?”

Ladies...” selaku di tengah gumaman-gumaman itu. “Yang mereka minta tuh nyawa.”
“Nyawa siapa?”
“Nyawa kita?”
“Pasti bukan, Susan... Itu buktinya Allya masih hidup. Mungkin nyawa tetangga-tetangganya Allya. Mungkin kamu, Yuyun, kamu kan yang paling deket sama Allya.”
“Oemji, saya nggak mau, ah! Pantesan cucu saya dari tahun kemarin minta pindah rumah.”
“Pindah rumah ke mana? Ke perumahan baru yang di Gedebage itu? Jangan! Aksesnya macet!”
“Masa sih, padahal saya udah rencana mau beliin rumah di situ buat anak saya.”
“Kalau mau, sekalian yang di Batununggal itu, yang bermiliar-miliar...”
“Oh, yang ada tukang bakso yang enak itu? Kalian semua ada yang tahu lagi nggak beli bakso itu di mana—“

“Cukup!” Aku menggebrak meja dan menghela napas. Kalau tidak dihentikan, pembicaraannya bisa melantur ke mana-mana.

Kami semua terdiam. Jeng Odah nampak ingin bertanya lagi, tapi urung dikatakannya. Setelah suara jangkrik bersenandung sebentar (maksudku, saking heningnya. Bukan berarti di The Harvest ada jangkrik), Nunuk berdiri.

“Kalau begitu, saya mau bertanya,” katanya. “Siapa yang jadi tumbalmu?”
Aku sudah menduga pertanyaan ini akan keluar. “Suami saya.”
“Bukan yang itu!” pekik Nunuk. “Tumbal yang lain...”

Yang lain? Memangnya dia tahu ada berapa jumlah tumbalnya? Aku tidak mungkin mengatakan bahwa Dennis adalah salah satu nyawa yang direbut Iblis demi tumbal.

“Tidak ada tumbal yang lain,” dustaku.
“Ada, kok, ada.” Nunuk manggut-manggut yakin. Dia mirip pengacara yang yakin kliennya tidak bersalah. “Ciri-cirinya, orangnya suka tanaman.”
“Menteri Lingkungan Hidup?!” jerit Jeng Odah histeris.
“Nggak sejauh itu,” Nunuk berdecak sambil mendesah. “Orangnya dari komplek kita.”
“Pak RT?!” pekik yang lain—yang memang kebetulan Pak RT suka sekali dengan tanaman.
“Bukan yang itu. Tapi profesinya tukang kebun.”

Tukang kebun?
Astaga.
Ternyata maksud Nunuk adalah Pak Darmo.
Memangnya dia nggak pernah mau melepaskan orang itu, hmh?

Dulu, aku dan Nunuk sempat bertengkar beberapa kali untuk topik yang tidak masuk akal. Mendadak, Nunuk membela amat sangat mantan tukang kebunku. Entah apa yang merasukinya. Padahal aku sudah mengunci arwah Pak Darmo di kamar belakang. Aku menguncinya karena suatu hari akan menyerahkannya pada Iblis untuk dimakan. Aku kira arwahnya lepas dan merasuki Nunuk untuk membelanya.

Ternyata...

Dia pikir hanya dia yang pintar melakukan riset?

“Apa yang mau kamu bahas di sini, Nunuk?” tantangku dengan anggun.
“Tentang kamu membunuh orang.”
“Saya nggak membunuh siapa-siapa. Yang mengambil nyawa mereka adalah Iblis.”
“Ya, tapi itu kan gara-gara kamu juga.”

“Okay... jadi, masalah buat loe?”
Nunuk mendengus. “Ya iyalah! Itu masalah buat gue. Masalah buat temen-temen gue!”
“Kayaknya itu bukan masalah temen-temen kamu, Nunuk.”
“Masalah! Nyawa kita terancam! Kalau tukang kebun aja bisa dijadiin tumbal, apalagi kita! Betul nggak chibi-chibi-chibi?”

“Tukang kebun?!” Semua terperangah. Beberapa The Jandaz yang memang sudah tinggal di komplek itu sebelum kematian Pak Darmo, langsung melongo ngeri.
“Yang perutnya buncit itu, kan?”
“Bapaknya Dicky, kan?”
“Yang sering kita lihat lagi ngerapihin tanaman hias di depan rumah Allya, kan?”
“Imas, pinjem sisir dong, rambut aku jadi ngembang, nih.”

“Ya, yang itu!” tegas Nunuk. “Betul, kan, kalo tukang kebunnya aja mati—“
“Saya nggak pernah milih siapa pun untuk jadi tumbal,” potongku. “Kalau perlu, saya nggak mau ada tumbal. Iblis yang memilih tumbal itu.”
“Tetep aja. Berarti kita-kita juga bisa kena! Bayangkan nasib tukang kebun itu! Mesti mati di tangan Iblis. Padahal tukang kebun itu masih punya masa depan, masih bisa merasakan cinta, atau gairah... masih bisa bertualang.”

“Benar,” kataku setuju. “Sayangnya... Pak Darmo, tukang kebun saya, bukan termasuk ke dalam tumbal itu. Beliau meninggal karena alasan lain.”

Nunuk terperangah kaget. “Nggak mungkin! Apa lagi memangnya alasannya?!”
“Saya kirain kamu tahu, Nunuk.” Aku mengambil napas dan menyuap sepotong cake ke dalam mulutku. “Bukannya kamu sering bersenang-senang bareng Pak Darmo? Melanglangbuana ke berbagai hotel dan threesome dengan gigolo?”

Aku mengelurkan sebuah scrapbook usang dan menggebraknya di meja. “Ini bukti-buktinya.”
Wajah Nunuk seketika memucat. Dia nyaris pingsan.

-XxX-

to be continued





0 comments:

Post a Comment