DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Ninja Next Door - Chapter 2

02
Ninjas on The Move 
by Coatwest

Kharisma


Gw Kaka. Dan gw lagi sial.

Tugas buat tes pertamaku adalah mencuri celana dalem punya seorang manusia bernama Yoga. Siapa itu Yoga aku nggak mau tau, dari namanya aja udah kayak nama olahraga ibu-ibu. Tapi yang jelas dia COWOK dan itu bener-bener sial, gimana coba caranya nyuri celana dalem yang baru dipakai cowok?

“Aku harus nyium cowok? Aaaaaaaaaaargh ..” teriakan pasrah Sam terdengar dari sampingku.

Ah paling enggak tugasku nggak semengerikan Sam ama Liam, hhi, mending celana dalem deh daripada nyium cowok.

Sekarang kami bertiga sedang ngumpul di kamarku, ribut diskusi dan meres otak mikirin strategi buat menuntaskan tugas aneh itu. Eh .. berempat ama Harris juga ding .. dia kan sekamar sama aku jadi ya otomatis ada dia lah.

“Harris sih enak dia dapet cewek,” komentar Liam pelan.

“Belum tentu,” sambarku yakin, “Sapa tau itu nama cowok.”

Harris memandangku tajam dari atas majalah musiknya, “Mana ada cowok namanya Putri, pikir dong.”

Aku udah siap nerkam Harris tapi Liam narik lenganku dan berseru keras, “Sabar Ka, kita itu harus kerja sama, jangan berantem napa sih?”

“Aku bisa kerja sendiri,” gumam Harris cuek, pandangannya tertuju pada majalah, “Aku sudah punya rencana, lagian targetku kan ada di asrama cewek, buat apa aku ikut-ikutan kalian ndobrak masuk asrama cowok?”

Aku dan Sam memandang Harris sebal.

“Apa?” balas Harris menantang.

Empat hari kemudian aku jadi tambah kuatir, apalagi Harris ngumumin kalo dia udah sukses nyuri cincin-nya Putri. Dengan gaya sok keren dia memamerkan cincin perak hasil curiannya. Sam dan Liam melotot gag percaya.

“Gimana caranya Ris?” tanya Liam takjub sambil menerawang cincin perak di lampu neon buat ngecek palsu enggaknya, hha .. Liam .. Liam .. Emangnya uang kertas? Dilihat, diraba, ditrawanggg.

“Rahasia,” jawab Harris singkat.

“Gag boleh kayak gini bro,” aku berkoar penuh semangat di depan Liam dan Sam, sementara Harris menonton bosan di pojokan, “Kita juga harus mulai beroperasi, nanti malam kita menyusup ke Wisma Indah Lima.”

“Rencananya apa?” tanya Liam kuatir.

“Rencananya kita pikirin di jalan aja,” jawabku asal, “Kalo nunggu rencana terus ya kapan mulainya.”

--------------------
Samudera


One thing about Kaka, he is so dull ..

Dia itu orangnya dodol, kita jelas enggak bisa gitu aja masuk ke Wisma Indah Lima tanpa persiapan apa-apa. Oke deh .. Misalnya aja kita sukses masuk ke Wisma Indah Lima, terus gimana? Mo ngapain? Kita kan belum tau apa-apa tentang target, kamarnya yang mana, orangnya yang mana, etc. Akhirnya biar urusan ini cepet kelar aku nawarin diri untuk menyelidiki target kita bertiga : Rion, Arjuna dan Yoga. Tiga cowok penghuni Wisma Indah Lima.

Dari hasil investigasi, aku baru tau kalo ternyata Rion itu seniorku di kampus, dia dua tahun diatasku, dan aktif di kegiatan kampus terutama senat-nya, malah dia jadi Presiden Mahasiswa segala. Oh great (sarcasm mode on), so I gonna messed up with the most powerful boy here .. Rion tuh termasuk dalam deretan papan atas cowok most wanted di kampus, paling sering digosipin ama cewek-cewek yang selalu ngomongin dia bak raja. Jadi mau ga mau informasi tentang makhluk bernama Rion selalu sampai ditelingaku, pacar si Rion pun aku sampai tau, namanya Selina, cewek yang ngetop juga di kampus, yang kabarnya sedang merintis karier jadi model.

Kamar Rion ada di lantai dua, tapi dia jarang tidur di sana, dia seringnya nginep di kampus. Biasalah aktivis kampus kelewat aktif kan kayak gitu, hidupnya di kampus mulu. Waduh bakal berat ni urusannya, soalnya rencananya aku mau nyuri nyium dia waktu dia lagi tidur. Masa sih aku harus ngejar dia sampai ke kampus?

Target Liam namanya Arjuna, mahasiswa baru sama kayak aku. Info tentang dia enggak gitu banyak, soalnya dia kan anak baru jadi belum banyak yang kenal dia. Bingung juga nih kudu tanya-tanya ama siapa lagi biar dapet info tentang dia. Hmmmm .. jujur ya menurutku pribadi, tugas Liam nih yang paling berat, dia harus bikin Arjuna naksir sama dia.

Yoga, target Kaka, mahasiswa tingkat dua, setahun diatasku, kamarnya ada di lantai satu. Kebetulan dia punya kebiasaan suka mandi malem. Great. Kalo mandi udah pasti dong celana dalem dilepas, jadi kesempatan emas tuh buat dicuri. Karena nyuri celana dalem kayaknya hal yang paling mungkin dituntaskan malem ini akhirnya kita sepakat untuk menjalankan misi nyuri kolor terlebih dulu.

“Inget lho ya kita harus saling bantu membantu, pertama kita bantu Kaka, trus abis Kaka dapet celana dalem-nya kalian bantu aku, abis itu baru kita bantuin Liam,” kataku serius ke Kaka sementara Liam manggut-manggut penuh semangat disebelahku.

“Oke, gw setuju,” Kaka ngacungin jempolnya.

Setelah mempelajari semua informasi tentang target, esok harinya tepat jam sebelas malam, kami bertiga menyiapkan diri untuk maju ke medan pertempuran. Pakaian kami serba hitam agar dapat berkamuflase di kegelapan malam. Kaka malah pake syal buat nutupin mukanya, udah kayak ninja aja dia. Hmmm .. tapi idenya boleh juga tuh, biar muka kita enggak ketauan. Akhirnya aku memutuskan untuk memakai penutup muka juga.

“Apa bukannya malah jadi tambah mencurigakan kalo kamu pake baju kayak gitu?” Harris berkomentar kritis waktu melihat penampilanku dan Kaka.

“Siapa?” tanya Kaka.

“Ya kamu,” jawab Harris.

“Yang nanya?” balas Kaka cuek.

Harris mencibir dan langsung masuk kamar.

Dengan sigap aku memimpin Kaka dan Liam keluar asrama Wind Four tanpa terdeteksi penghuni asrama yang lain. Setelah memastikan jalanan depan kost sepi kami buru-buru menyeberang dan langsung masuk melewati pintu pagar asrama Wind Five yang belum terkunci. Kami mengendap-endap sampai ke halaman belakang bangunan asrama bercat hijau itu untuk mencari pintu belakang.

Aku memberi kode pada Kaka dan Liam untuk berhenti di samping pintu belakang. Aku menunjuk ke jendela yang cukup tinggi di sebelah pintu. Jendela dengan kaca buram, tau kan? Standar jendela kamar mandi gitu lah, sengaja ditinggikan dan buram biar gak ada yang ngintip, hhe. Sekarang jendela itu gelap, tandanya tidak ada orang di kamar mandi.

“Okay .. stay to the plan,” bisikku serius, “Aku ama Kaka akan masuk ke asrama lewat pintu belakang begitu ada tanda-tanda Yoga mulai mandi, biasanya sih dia mandi sekitar jam segini, tapi kok kamar mandinya masih sepi ya?” Aku mengecek arlojiku sekali lagi sebelum menoleh ke Liam, “Liam tugasmu menjaga halaman depan, kalo ada orang mau masuk ke asrama kasih kode ke kita, trus kalo bisa halangi dia, jangan sampai dia masuk asrama sebelum kita keluar..”

“Kalo di dalem gw butuh bantuan, gw kasih kode ke lo, lo harus langsung masuk bantuin kita,” tambah Kaka.

Liam keliatan cemas. “Kodenya apaan? Jangan yang aneh-aneh ya, aku paling bego kalo udah nyangkut urusan kode ama persandian. Dulu aja waktu pramuka aku enggak lulus ujian praktek, cuman lulus ujian nyanyi doang.”

“Ya nggak lah, ngapain juga pake sandi rumput, emangnya mo perang?” tukas Kaka nggak sabaran, “Pasti lo ngerti deh, pokoknya tungguin kode dari kita, oke?”

Liam mengangguk.

Jendela kecil diatas kami mendadak terang, ada orang yang menyalakan lampu kamar mandi. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi pintu dikunci dan gebyar-gebyur air. Pertanda orang sedang mandi. Pasti Yoga. Yes .. sesuai rencana.

Aku memberi pandangan penuh arti ke Liam yang langsung dibalasnya dengan acungan jempol, dan dia melesat ke halaman depan untuk berjaga-jaga. Kaka mencoba membuka pintu belakang tapi ternyata dikunci. Aku mengeluarkan obeng dari saku dan dengan hati-hati merusak kenop pintu itu.

“Seru juga ya Sam,” bisik Kaka ngaco ketika pintu akhirnya terbuka.

“Fokus Ka, fokus ..” kataku mengingatkan, Kaka nih suka nggak konsen kalo situasi lagi serius.

Pintu belakang itu menyambung ke dapur. Kami masuk ke dalam kegelapan, meraba-raba untuk mencari jalan. Setelah mata kami terbiasa dengan kegelapan itu kami mulai dapat melihat samar-samar keadaan di sekitar kami. Berantakan. Well .. apa yang bisa diharapkan dari kost-kostan cowok?

Aku berbisik ke Kaka. “Kamu langsung aja ke kamarnya Yoga, aku jaga-jaga di sini, kalo Yoga selesai mandi aku kasih kode ke kamu.”

Kaka mengangguk dan langsung menyelinap gesit menuju kamar Yoga layaknya maling betulan. Kami sudah menghapal denah Wisma Indah Lima, jadi biarpun cahaya minim Kaka pasti bisa menemukan kamar yang tepat.

Sambil menunggu aku mengedarkan pandangan ke dapur dan menemukan tumpukan piring kotor, makanan basi, plus tempat sampah yang hampir penuh. Jorok banget sih anak-anak Wind Five, di kostku aja enggak sampai separah itu. Lima menit berlalu dalam kesunyian, cuman suara air dari kamar mandi yang terdengar.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Eh? Yoga sudah selesai mandi? Mana mungkin, menurut info Yoga kalo mandi bisa sampe setengah jam (ngapain aja tuh). Aku langsung menyembunyikan diri di balik rak piring. Dari kamar mandi muncul sosok cowok. Siluetnya membuatku tidak bisa melihat mukanya. Apa dia Yoga?

Cowok itu mulai berjalan.

Shit. Gimana caranya ngasih kode ke Kaka tanpa ketauan tu cowok?

Akhirnya aku putuskan untuk mengikutinya, tapi ternyata dia hanya melewati kamar Yoga. Analisaku, kalo dia Yoga pasti dia masuk kamarnya kan? Cowok itu malah menuju ke ruang tamu, dan langsung merebahkan diri di sofa. Tak lama kemudian terdengar desahan pelan nafasnya, tanda kalo dia sedang tidur.

Pelan-pelan aku mendekatinya. Dan ketika melihat wajahnya dari dekat, jantungku melorot.

Dia Rion.

Entah aku harus senang atau enggak. Disatu sisi bagus kan kalo malem ini aku ketemu Rion, aku jadi bisa menyelesaikan tugasku. Tapi disisi lain aku harus ngejaga Kaka. Stay to the plan Sam .. Stay to the plan ..

Aku menatap cowok yang tidur di depanku. Rion memakai singlet putih dengan celana training. Wajahnya terlihat damai, terlihat jelas kalau dia sangat menikmati tidurnya. Kesempatan langka nih bisa nemu Rion di kost, lagi tidur pula. Apa salahnya mencuri ciumannya sekarang? Screw the plan .. Okay. Lets do it.

Aku berlutut disamping Rion untuk mendekatkan wajahku dengannya, tercium bau harum peppermint dari mulutnya. Jadi Rion tadi ke kamar mandi buat gosok gigi? Bagus deh, jadi kan mulutnya gak bau. Ehm .. aku memutar kepalaku mencari posisi yang pas untuk menciumnya, miring ke kanan, miring ke kiri .. tapi susah. Aturan dari Caessar, harus ciuman di bibir, gak boleh pipi ato yang laen, huft ..

Oh iya .. Spiderman kiss aja kalo gitu.

Aku berdiri dan pindah ke samping sofa, kepala Rion terlihat jelas didepanku, bibirnya juga ada di jangkauan, sip .. this will do. Aku mengeluarkan ponsel dan menyalakan aplikasi kamera dengan modus malam. Aturan lain dari Caessar, aku harus membawa bukti kalo aku sudah mencuri ciuman dari Rion. Kalo difoto gini kan bisa dijadikan bukti.

Aku mengatur nafasku, pelan-pelan aku mendekatkan wajahku, waduh kok jadi deg-degan gini yah? Aku membasahi bibirku, tiba-tiba tanpa alasan yang jelas aku jadi grogi, lalu gak pake lama aku memaksakan bibirku untuk menempel di bibir Rion.

We kissed .. Well sort of ..

Rasanya hambar, tapi jantung gak mau berhenti berdebar. Ummmm .. koreksi .. ada sedikit rasa mint di bibirnya, cool and fresh gimana gitu, mungkin bekas pasta gigi kali ya. Aku menelan ludah, panik. Tangan kananku memencet tombol ponsel dan dengan bunyi cekrik nyaring dan kilatan cahaya blitz, momen memalukan itu pun terabadikan di ponselku. Wait .. kenapa ada suaranya? Kayaknya tadi udah aku silent deh. Aku menjauhkan bibirku dari bibir Rion dan saat itu juga mata Rion terbuka. Mampus.

“Siapa lo?” Rion bertanya parau, tatapan matanya nggak fokus, ekspresinya bingung. Otaknya masih loading gara-gara abis bangun tidur, setelah nyawanya full baru dia sadar apa yang terjadi, “MALINGGGG ..” teriaknya lantang dan langsung bangkit mencoba menangkapku.

Aku buru-buru menutup mukaku dengan syal hitam, jangan sampai Rion melihat wajahku dengan jelas. Dengan panik aku lari menjauh dari Rion sambil bersiul keras, memberi kode pada Liam untuk segera mengirim bala bantuan. Tapi Rion berhasil memegang tanganku, dia menarikku dan kami pun terlibat dalam adu gulat. Adegan perkelahiannya gak usah terlalu detil yah, ntar malah jadi cerita persilatan deh, hhe.

Tenaga Rion gede juga ternyata, kayak gajah Afrika, aku hampir kehabisan nafas. Dengan putus asa aku mencoba melepaskan diri, lalu tanganku yang bebas menjangkau sebuah vas bunga, aku meraihnya dan langsung memukulkannya ke kepala Rion, dengan bunyi nyaring vas itu pecah. Rion berdiri sempoyongan sebelum akhirnya jatuh. Tubuhnya tergeletak lemas di lantai.

Aku memandang ngeri Rion yang mengerang pelan kesakitan. Paling enggak dia masih hidup. Sukur deh .. jangan sampai cuman gara-gara tugas konyol ini aku jadi masuk penjara.

Tapi rupanya malam itu kesialanku masih terus berlanjut, tiba-tiba sebuah tangan menahan tubuhku dari belakang. Aku menoleh dan mengenali wajah Yoga. Dia memegangku erat-erat. I’m caught.

Oh great .. Our plan was totally screwed ..

“Siapa kamu?” gertak Yoga kasar sambil memiting lenganku.

Aku mendengus kesal. Mana ada maling yang ngaku, ntar ketauan dong. Oh wait .. aku bukan maling .. tapi tetep aja, di misi ninja ini nama adalah rahasia. Nggak mungkin ada ninja yang dengan begonya ngasih tau namanya sembarangan ..

----------------------
Liam Firman


“Aku Liam.”

Kataku ramah sambil tersenyum pada cowok didepanku.

Cowok itu menatapku heran. Dia bukan cowok biasa. Dia Arjuna. Cowok yang harus aku curi hatinya.

Waktu aku sedang menjaga halaman depan sesuai perintah Sam, tiba-tiba ada cowok yang masuk dari pintu pagar, dan waktu aku sadar kalau cowok itu Arjuna aku memutuskan untuk mendekatinya. Aku harus mencegahnya agar tidak masuk asrama.

“Kamu siapa?” tanya Arjuna cuek.

“Aku Liam,” ulangku.

“Aku enggak tanya namamu. Kamu siapa? Ngapain disini?”

“Oh .. Eh .. Aku anak kost depan, Wisma Indah Empat .. Ini lagi cari angin aja ..”

Arjuna mengernyit, lalu memutuskan untuk tidak bertanya lagi.

“Oke, have fun,” kata Arjuna sambil berjalan menuju pintu asrama.

Aku berlari dan menghadangnya.

“Ada apa lagi?” tanya Arjuna dengan suara datar.

“Aku mau kenalan,” kataku mencari alasan.

“Kenalan sama siapa?”

“Sama kamu.”

“Huh?”

Aku menegakkan badanku dan mengulurkan tangan. “Aku Liam.”

Arjuna menatapku dengan pandangan tidak percaya, setelah diam agak lama dia menjawab, “Aku tau.”

“Huh? Namamu Tau? Bukannya Arjuna?” tanyaku bego.

“Maksudku aku tau namamu Liam, kamu kan udah bilang tadi,” kata Arjuna melamun tanpa melepas matanya dariku, “Lagian itu kamu udah tau namaku, mau kenalan apa lagi?”

Aku tersenyum grogi, bingung mau kasih alasan apa.

“Ya nggak papa sih .. cuman mau kenalan resmi gitu, kalo cuman tau nama sih bukan kenalan namanya.”

“Oke. Aku Jun,” Arjuna meraih tanganku dan kami pun bersalaman.

Tangannya hangat.

“Arjuna?”

“Panggil Jun aja.”

“Oke Jun.”

“Sekarang aku boleh masuk kan?”

“Iya ..” Aku mengangguk, tapi kemudian teringat misi dan langsung buru-buru menghadang Jun lagi, “Eh maksudku belum boleh .. Maksudnya gimana kalo kita jalan-jalan ke warung ujung jalan sana, cari makanan .. mau nggak?”

“Aku habis dari sana.”

“Tapi sekarang kan sama aku.”

“Aku mau tidur.”

“Masih sore gini masa mau tidur.”

Jun menatapku datar, “Jam setengah dua belas gini kamu bilang sore?”

Waduh gawat, pake alasan apa lagi nih???

“Jadi aku nunggu dimana?” tanya Jun pelan setelah aku diam cukup lama.

“Huh?”

“Katamu aku belum boleh masuk .. sebelum aku boleh masuk aku harus nunggu dimana?”

“Oh,” mataku memandang liar halaman depan yang penuh dengan tanaman hias lalu menunjuk ke sebuah bangku taman, “Duduk disitu saja.”

Jun melangkah santai ke bangku itu lalu duduk. Aku mengikutinya. Dia tampak kedinginan, jelas saja, dia cuman memakai kaos tipis berlengan panjang, udara Jogja di malam hari kan dingin banget.

“Nih pakai aja,” aku melepas jaket hitamku dan menyerahannya ke Jun.

Jun menerimanya tanpa banyak pertanyaan.

“Oh .. Makasih ..” gumam Jun sebelum memakai jaketku dan memandang kosong kedepan dengan agak melamun.

Kami berdua duduk tanpa bersuara, hening. Aku bingung memikirkan apa yang harus kubicarakan dengan Jun, sedangkan Jun .. entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang, dia kelihatan santai, santai tapi bosan. Lalu kesunyian dibuyarkan oleh teriakan keras dari dalam asrama ..

“MALINGGGGG ..”

Aku langsung berdiri. Ada apa ini? Apa Sam dan Kaka ketahuan?

Tak lama kemudian terdengar bunyi siulan panjang. Gawat .. itu kodenya .. entah Sam atau Kaka .. mereka sedang dalam masalah. Tanpa basa-basi lagi aku langsung berlari menuju pintu asrama Wisma Indah Lima. Aku sama sekali lupa kalau masih ada Jun yang duduk diam di bangku taman.

-----------------


to be continued... 


1 comments:

Ela Pitriani said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

lol
ih somplak banget ya
awas tu kepala bocor kena vas bunga

Post a Comment