DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Love Under The Mistletoe Chapter 4

CHAPTER IV
THE OTHER ROSE


by Tuktuk



Aku masih berdiri di depan kamar kak Riko. Masih penasaran dan masih tak percaya. Aku tertegun dan sejurus kemudian langsung mundur selangkah dari pintu kamar. Hatiku gusar. Ada perasaan yang tak terbantahkan, rasa cemburu. Iya, cemburu.

“Ngapain?” suara kak Wildan tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“A…Aku…” hampir-hampir tak bersuara ku karena terkejut mendengar teguran kak Wildan.
“Sudah, ga baek nguping…Udah makan malem?”
“Belum…”
“Yok! Ke Kantin Hasanah…”

Aku mengangguk. Perlahan aku meninggalkan ruang tengah. Meninggalkan kost. Berjalan bersama kak Wildan. Apa kak Wildan sudah sedari tadi melihatku ya? Apa ia tau aku diam-diam memperhatikan kak Riko? Arghh, makin runyam saja. Stay cool dulu saja Danny!

“Dan, kamu mau makan apa?”
“Em.. Nasi Goreng saja kak…”
“Ealah, Nasi Ayam Bakar saja, skalian sama sayurnya…”
“Ga pa pa kak… Lagi pengen makan itu”

Kak Wildan segera menuliskan pesananku dan memberikannya ke pelayan di kantin itu. Aku masih memikirkan hal-hal tadi. Kak Wildan yang memergoki ku… Kak Riko dengan Laura di kamar… Ah, bodohnya Danny! Kenapa kau harus terjebak dengan situasi seperti ini? Dalam sepekan, UTS segera dimulai. Fokus saja ke UTS, Dan!

“Di kamar Riko tadi ada siapa?”
“La..Laura…”
“Ohh, si Laura…”
“Kakak kenal?”
“Ga terlalu sih, Cuma Laura anaknya asik… mudah akrab sama orang… Tumben dia baru nongol sekarang, biasanya hampir setiap hari main ke kost..”
“Hah? Setiap hari???”
“Iya, setiap hari…”
“Pake acara kunci kamar?”
“Lah, emang kenapa Dan?”

Aku tercekat. Apa aku yang terlalu lugu? Atau aku sedang gundah karena kak Riko adalah orang yang aku sukai saat ini?

“Sudah, habiskan makan malam mu… Diluar mendung…. Takutnya hujan lagi…”
“Aku ga takut kehujanan sekarang.”
“Oh ya? Ga kayak kemarin?”
“Iya, kemarin main hujan sama kak Riko soalnya…”

Kak Wildan mengernyitkan dahinya. Ia nampak keheranan.

“Sama… sama Riko? Main hujan?”
“Iya kak… emang kenapa?”
“Aneh. Ga biasanya tuh monyet… Kamu hutang ke aku Dan!“
“Hutang apa? Perasaan ga pernah utang sama kamu deh kak..”
“Hutang main hujan sama aku! Riko aja pernah, masa aku nggak?”

Aku tergelak mendengarnya. Kenapa kata-kata seperti itu bisa terlontar dari kak Wildan? Aku hanya tersenyum tipis.

“Ogah….” Ledekku
“Heh, pokoknya utang!”

Aku menengok keluar. Langit memang sudah lebih gelap, angin dengan kencangnya berhembus menerobos lamunanku. Dengan cepat kulahap makan malamku.

“Kakak yang bayar ya, Dan”
“Loh, ga usah kak… Aku bayar sendiri…”
“Halahhh, ga usah… itung-itung bayar jasa kopi hariannya…”
Aku tertawa kecil.
“Tunggu sebentar ya, jangan langsung pulang…”
“Nanti hujan?”
“Bagus dong…Haaha”

Jujur, kak Wildan jika dipandang lebih dekat tampak jauh lebih menarik. Lengan nya yang kokoh dan terpahat karena sering fitness, dadanya yang bidang menyembul dari kaos ketatnya. Kulit cokelatnya, membuat kata-kata seksi pantas ia sandang. Hah, aku menghembuskan nafas. Kupandang dari luar pintu kantin, menunggu kak Wildan yang masih berurusan dengan kasir.

“Wah, sudah rintik-rintik..” tegur kak Wildan.
“Iya makanya harus buruan….”
“Nanti, tanggung… Tunggu sampai agak deras…”
Ini kak Wildan kayaknya maksa amat untuk main hujan-hujanan?
“Nah… Sekarang!”

Aku tersentak. Tangan kak Wildan meraih tanganku dan langsung dibawa berlari. Aku terkejut, hujan yang mulai deras mengguyur tubuhku. Rasanya seperti disiram air berember-ember. Kak Wildan tertawa.
“Ih, masih takut hujan itu namanya!”teriak kak Wildan
“Siapa juga yang maksa main-main hujan gini!” balasku.
“Ya udah sini!”kak Wildan setengah membungkukkan badannya.
“Naik?”
“Iya sini aku gendong… Naik dipunggung! Danny emangnya seberat apa sih…”
“Sialan!” jawabku.

Aku memeluk erat tubuh kak Wildan dari belakang. Punggung kak Wildan yang hangat, lehernya yang kokoh, semuanya. Kak Wildan berjalan agak cepat. Ah… Andai ini kak Riko batinku. Andai orang yang kupeluk sekarang kak Riko….
Walaupun kantin Hasanah dan kost kami tidak jauh, perjalanan tadi terasa sehari semalam.
“Nyet! Bukain nyet!” teriak kak Wildan dari depan kost.

Dengan sedikit tergopoh-gopoh kak Riko membukakan pintu.

“Kalian darimana? Gue nyariin lo pada… Kamu ikut dia Dan?”
“Aku mengangguk sambil menggigil…”
“Lo gimana sih nyet! Itu si Danny diajak basah-basahan! Kalo dia sakit gimana?” ujar kak Riko.
“Halah udah diem, sana masakin teh panas kek… berisik, lo juga kemarenan main hujan kan sama dia?”
Kak Riko terdiam. Ia menoleh ke arahku, melihatku memeluk kedua lenganku didada.
“Dan, mandi gih… Aku buatin cokelat panas lagi…”

Aku mengangguk, perlahan berjalan meninggalkan mereka. Samar-samar masih kudengar percakapan mereka.
“Laura mana?” ujar kak Wildan.
“Udah pulang pas tau diluar mendung…Gue cari lo sama Danny ga ada… “
“Oh, kirain nginep…”

Ku coba untuk menghangatkan diri ini setelah mandi. Kak Wildan bergantian menggunakan kamar mandi, aku masih berbalut handuk tebal. Tok..Tok…
“Ya kak?”
“Dan, ini coklatnya…” jawab kak Riko.
“Makasih kak… maaf ngerepotin…”
“Nggak kok, itu Cuma buat kamu ya… si monyet itu biarin ga usah..”
Aku tertawa.
“Laura mana kak?”
“Laura pulang tadi. Eh, dia nitip salam buat kamu..”

Aku tersenyum.

“Istirahat ya… Nanti aku yang hajar si Wildan kalo sampe kamu sakit…”
“Hahaha… Ini juga aku yang salah kak…mau aja diajakin hujan-hujanan”
“Ya udah, tidur ya…”
“Ok”

Klek. Ku kunci pintu kamar. God! I love him so much! His smile, his eyes, his chocolate … Ku seruput gelas cokelat itu. Ku nikmati tiap tegukannya. Berharap ada keajaiban daun mistletoe antara aku dan Kak Riko, keajaiban yang mempersatukan kami. Bodoh… Apa bisa itu terjadi? Apa sanggup aku berterus terang?

Tok.. Tok… Ku dengar suara pintu diketuk sekali lagi. Ah! Kak Riko semoga ia yang berdiri didepan kamarku!

“Belum tidur?” ternyata kak Wildan yang mengetuk. Tubuh atletisnya hanya berbalut handuk di bagian pinggang ke bawah.
“Belum kak…”
“Hehe, maaf ya udah nyusahin kamu…”
“Nggak kok kak…Istirahat saja kak, nanti sama-sama sakit…”
“Iya, btw… Makasih ya, Dan… Aku seneng buat yang tadi…”
“Yang tadi?”
“Iya… Yang hujan-hujanan tadi…”

Aku tersenyum. Ku tutup pintu kamar. Andai yang mengatakan itu kak Riko… Andai yang kupeluk tadi kak Riko…. Andai…

“Cinta itu harusnya terang. Cinta itu harusnya hangat. Andai cinta ini memilih orang yang salah, lantas kenapa semua terasa begitu terang, semua terasa begitu hangat? Mengapa dia yang dipilih cinta tak mampu merasakan hal yang sama?”


to be continued... 


1 comments:

Bryan Cho said... Best Blogger Tips[Reply to comment]Best Blogger Templates

sama Wildan aja deh kayaknya ada lampu ijo tuh

Post a Comment