DISCLAIMER:

This story is a work of fiction. Any resemblance to any person, place, or written works are purely coincidental. The author retains all rights to the work, and requests that in any use of this material that my rights are respected. Please do not copy or use this story in any manner without author's permission.

The story contains male to male love and some male to male sex scenes. You've found this blog like the rest of the readers so the assumption is that material of this nature does not offend you. If it does, or it is illegal for you to view this content for whatever the reason, please leave the page or continue your blog walking or blog passing or whatever it is called.



Kisah Serpihan Hidupku Page 5

Page 5
by Feffendy

Jeruju part.1

Kala itu tahun 1985, gw masih tinggal di pinggiran kota Pontianak, di satu daerah yang dikenal dengan nama Jeruju, dengan mayoritas orang Melayu.

“Hong, ayo pulang!” teriak mamaku dari dalam rumah.
“Bentar, Mam!” sahutku dengan sekenanya karena gw masih asyik bermain.
“Dah malam nih!” teriak Mama lagi.
“Ntar waa, Mam!” (Bentar lagi, Mam !)

Tak terdengar lagi teriakan Mama. Gw pun asyik kembali bermain dengan teman-temanku yang tersisa 3 orang. Memang hari sudah malam, tapi teman-temanku masih ingin melanjutkan game terakhir kejar-kejaran.

Gw pikir tak masalah juga kalau pulang malam sedikit, karena rumahku persis di samping gang, yang dijadikan sebagai tempat bermain bagi anak-anak setiap sore hari. Mulai dari kejar-kejaran, lompat tali, lompat tinggi, sampai kelereng dan judi kecil-kecilan dengan kartu. Dan gw sendiri amat sangat menikmati semua permainan yang ada, maklumlah, namanya juga anak-anak. Kadang saking asyiknya main gw sampai lupa bikin pe-er, karena kuanggap cetek (gampang). Kadang juga saking asyiknya main gw tak perduli lagi dengan luka-luka di lutut dan siku akibat sering jatuh.

“Udah ah, dah gelap, esok jak kite maen agik!” (Sudah malam, besok saja kita main lagi) kata Kundil yang anak Melayu.
Teman-teman pada bubaran, gw pun akhirnya terpaksa pulang. Gw baru tersadar juga Mam pasti marah besar dari tadi gw cuekin panggilannya.

“Tok tok tok!” dengan perlahan gw mengetuk pintu belakang rumah, yang bisa langsung akses ke gang. Beberapa kali gw ketok, pintu tak dibuka.
“Mam, khui meng a! Wa teng lou!” (Mam, buka pintu, saya sudah pulang !) akhirnya gw coba manggil lebih keras, takutnya Mam tak dengar.

Tiba-tiba pintu terbuka. Dengan tenangnya gw melangkah masuk. Tanpa terkira tanpa disangka tiba-tiba, “DAR! DAR! DAR!”

Jeruju part.2

Haruskah kuceritakan,
Kelamnya sang kenangan,
Yang tiada bisa terbuang,
Walau sang kala telah melihatku berjuang.

Ah, kenangan tetaplah kenangan!
Walau bagiku sangat menyakitkan,
Tapi kuharap janganlah terulang,
Kisah ini cukuplah terjadi padaku seorang... 


Jeruju part.3

Mam muncul dari balik pintu sambil melecut rotannya.
“Ampun . . .!” DAR!
“Mam ! Ampun . . . ! ” DAR! DAR! DAR!
“Rasakan nih!” DAR!
“Dari tadi dipanggil tak mau pulang. . . “ DAR!
“Makan nih rotan!”

“Hu hu hu . . . ,” tangisku sambil berusaha menutupi tubuhku dengan tangan. Kusambar majalah Bobo kesayangan gw sebagai tameng. Tapi semua usahaku sia-sia, Boboku sobek-sobek tak karuan, tanganku penuh dengan garis-garis merah kehitaman dan darah keluar dari beberapa bagian kulit yang sudah sobek, akibat pukulan rotan berkali-kali.

“Hu hu hu... ku ku em ka, Mam!” (Lain kali tak berani lagi, Mam!)
“Rasakan ! Rasakan !” DAR! DAR! DAR!
Pukulan masih bersarang di tubuhku sampai akhirnya Mam sendiri mulai kelelahan dan berhenti. Sambil terengah-engah Mam memandangku sedih.

Diriku meringkuk di sudut dapur seperti tikus ketakutan yang tak berkutik. Badanku seperti zebra yang terluka, namun garis-garis badannya berwarna merah darah yang tidak beraturan arah dan alurnya.

“Sudah berapa kali Mam panggil le, kenapa le tak mau pulang? Mam sedih melihat le begitu membangkang, nanti adik-adik meniru le gimana? Le kan Dage (abang tertua), dah seharusnya patuh ama pe bou (orang tua). Udah, ga boleh nangis lagi! Hapus air matanya! Pria sejati pantang meneteskan air mata, sesulit dan sesusah apa pun kondisinya mesti tegar!”

Gw tak menjawab. Gw tak bisa bangun, badanku terasa sakit semua. Hidungku meneteskan ingus basah. Air mataku telah kering. Gw memang tak bisa menangis lagi.

Kenapa Dikau begitu keras, Mam?
Perlukah anak laki-lakimu dididik sekeras ini?
Apakah jadi anak tertua mesti diperlakukan seperti ini?
Mengapa ada orang jahat yang telah tega memberikan rotan kepadamu Mam, yang digunakan untuk memukul diriku?


Badanku memang terluka, tapi hatiku jauh lebih terluka dan terus meneteskan air mata. Berkali-kali terus dipukul seperti ini membuat air mata hatiku terasa dingin, sedingin es, membuat hatiku menjadi istana beku bagi wanita!

Jeruju part.4

Hingga dewasa gw baru menyadari kenapa Mam begitu keras. Waktu masih kecil, Mam dah jadi pengungsi karena kerusuhan etnis di Kalbar, diusir dari pedalaman Kalbar dan harus menjalani hidup dengan susah dan keras di Pontianak.

Kini gw mencoba untuk mengobati luka batinku, membuka lembaran baru dalam hidupku dan tetap mencintai Mam yang telah melahirkan dan susah payah membesarkanku. Gw akan selalu mencoba membuat hidupnya bahagia. Dengan seperti ini, langkahku ke depan akan terasa lebih ringan dan segala kepahitan dan kesedihan akan pudar seiring jalannya sang waktu...

Liwei part.1

Sesuai dengan janjinya sehabis pulang ke Pontianak sekitar November 2004, Ade ngajak kita fitnes bareng Sabtu pagi. Yang ikutan Tono, Muis dan gw. Ternyata gw enjoy banget, apalagi pas acara sauna, selain badan terasa segar karena keringatan, mata juga terasa segar karena ‘dicuci’ he3...

Bagai buah segar nan ranum
Basah mengkilat membangkitkan selera
Mulut ini rasanya pengen mengulum
Buah menonjol di balik wadah yang belum terbuka


Walaupun semua bertelanjang dada dan masih pakai celana, tapi celana masing-masing sudah basah dan nampak tonjolannya. Susah payah kukendalikan ‘adikku’ agar tetap bersikap manis dan pasrah. Kuhibur dia agar beristirahat saja setelah semalam kerja keras memuntahkan sejuta kecebong mikro.

“Udahan yuk, kita pulang!” Ade keluar duluan. Kita segera menyusulnya dan berganti pakaian. Saat itulah saya terkejut membaca sebuah sms :
~Dage, libur Natal wa mau plg, dah rindu nih ma Dage. Cup cup cup, syg Dage.

Gw kehilangan selera seketika, tak minat lagi menonton orang berganti pakaian. Sms itu dari Liwei, adik gw yang paling galak dan ganas, yang kalo marah teriak-teriak yang suaranya terdengar hingga ke 10 rumah, yang pernah mengaudit laptop gw dan menghapus semua gambar ehem-ehem yang kusimpan di sana, yang pernah membuang semua VCD Belami yang gw punya, dan kini akan pulang dari Amerika!

Liwei part.2

Jam dinding berdetak
Tiada semangat, rasanya hambar
Jantungku ikut berdetak
Terdiam memandang
'my precious' yang terhampar

Tampaknya nasib barang-barang tersebut bukan lagi ditentukan olehku. Sebentar lagi mereka bakal terlempar ke tong sampah, dan membikin terkaget-kaget pemulung yang menemukannya (atau berteriak kegirangan ala barbar kalau pemulungnya juga gay). Gw sebenarnya juga sudah pasrah. Barang-barang tersebut memang harus dipaksa terpisah dariku, karena gw semakin merasa terikat dan hari-hariku semakin dikuasai barang-barang tersebut. Cuma kok rasanya sayang :

sayang duit yang sudah kukeluarkan untuk membelinya...
sayang usaha yang sudah kukeluarkan untuk mendapatkannya...
sayang waktu yang sudah kukeluarkan untuk menyembunyikannya...
sayang moment-moment menegangkan saat gw menikmatinya...


Tetapi, tunggu ! Gw masih bisa melakukan sesuatu. Kenapa gw tidak mencoba untuk menyalurkannya? Alasannya bisa aja dicari-cari, misalnya :
Pertama, semangat berbagi kepada sesama
Kedua, tidak langsung lenyap begitu saja, bisa saja statusnya 'titipan sementara'
Ketiga, kamar gw menjadi steril dan gw tak perlu cemas lagi memikirkan kapan akhirnya mereka ditemukan.

Gw jadi bersemangat kembali. Barang-barang tersebut segera kusimpan kembali, kubuka laptopku, masuk ke milis undercover dan siap untuk mengetik imel. Gw mau mengetik penawaran kepada para anggota, tapi kemudian gw berpikir, pasti banyak imel yang masuk sehingga gw kewalahan melakukan pembagian secara adil. Akhirnya daripada melempar langsung cacingnya, tampaknya gw harus mencoba menggunakan kail dulu.

Peristiwa setahun lalu terbayang kembali, kata-kataku mengalir bebas menceritakan perjuanganku di Hongkong dalam mendapatkan salah satu barang tersebut. Gw tidak menawarkan barang tersebut, tapi berharap ada yang tertarik dan memintanya dariku. Sengaja kuceritakan kelebihan-kelebihan yang ada agar semakin menggoda. Dan akhirnya memang ada 2 imel yang masuk, yang makan kail tanpa umpannya, yang mula-mula ajak kenalan, tapi ujung-ujungnya meminta barangnya...
Liwei part.3

Gw tak berpikir panjang lagi. Yang penting sekarang bisa segera bertemu dan menyampaikan barangku kepadanya, padahal biasanya gw selalu ingin mengenal latar belakang seseorang dulu sebelum memutuskan untuk bertemu. Tempat dan waktu sudah ditentukan, Restoran Ayam Ulakan, Sabtu siang.

Gw tiba duluan, sambil menunggu gw memesan minuman es lemon tea kesukaanku. Gw masih menimang-nimang segepok barang yang ingin kulepaskan.

Sekian menit gw menunggu, akhirnya ada panggilan masuk, “Hong, lu sudah datang?”
“Gw sudah ada di dalam, lu langsung masuk aja, gw pake baju kaos garis2 hitam merah.”

Tampak sesosok remaja 20-an masuk sambil noleh kanan kiri dan akhirnya noleh ke gw sambil tersenyum. Dia memang putih, namun tampangnya standar aja, tidak seheboh yang dia sendiri promosikan di imel. Gw persilakan dia duduk dan pesan makanan, akhirnya kita makan dulu sambil ngobrol hal-hal biasa dulu, dilanjutkan dengan ngobrol mengenai dunia kita. Banyak hal yang dia sembunyikan dariku, terutama mengenai pekerjaan, tentu saja gw memahami hal tersebut karena gw sendiri juga tak bisa begitu terbuka dengannya.

“Jadi mana barang yang mau lu titipkan? Kenapa lu mau titipkan?”
“Ini gw mau titip DVD drama dan hardcore. Adik gw yang ganas mau pulang dari Amrik, dan semua ini bisa dibuangnya,” kataku sambil menyerahkan setumpuk DVD, termasuk Latter Days favoritku dan serial Queer as Folk versi Amerika.

“Ha ha ha, lu lucu banget, kok takut sama adik lu? Lu kan abangnya, harusnya dia menghormati lu donk,” sambil terbahak-bahak dia hendak mengeluarkan DVD2 itu untuk dilihat.
“Jangan dikeluarkan! Nanti lu lihat aja di rumah. Bukannya gw takut, tapi gw ga mau bertengkar dengannya, gw sayang banget ama semua adik gw, dan apa pun maunya mereka, biasanya gw selalu penuhi.”

“Jadi dia tahu lu gay?”
“Tampaknya sih iya. Pernah sekali sehabis dia hapus semua file gambar gw dan buang VCD gw, dia diamin gw hampir sehari penuh. Gw baru sadar dia marah saat kulihat folder gambar gw diganti namanya menjadi ‘semoga bertobat’ dan isinya kosong melompong. Biasanya kalo marah dia bakal berteriak meledak-ledak, tapi entah kenapa dia diam saja. Hari-hari berikutnya dia bersikap biasa lagi dan gw juga ga berani menyinggung barang gw yang dibuangnya sampai akhirnya dia pulang ke Amerika. Tapi gw yakin dia sadar gw gay. Makanya sekarang gw ga mau kejadian yang sama terulang lagi dan gw yakin dia bakal meledak sekali ini kalo menemukan barang dan gambar gay.”

“Ya, udah, gw simpanin deh. Jadi, kapan lagi kita ketemuan lagi?”
Aduh, gw mah mau menjauhkan diri sementara dari dunia gay, ini malah ngajak ketemuan lagi. “Maafkan gw, Di, tapi gw ga bisa ketemu lagi. Lu kan tahu adik gw mau pulang, jadi untuk sementara ini gw ga bisa ketemuan.”

“Kalau gitu gw duluan yach. Bye”

Dia langsung meninggalkan gw, tampaknya agak kesal dengan jawaban gw. Gw memang merasa ga enak jadinya, tapi lebih baik gw terus terang daripada dia menaruh harapan. Segera kubayar bon yang ada dan gw harus mengurus barang berikutnya.

Liwei part.4

Bungkusan tebal telah terbungkus rapi, tinggal dikirim saja ke Pekanbaru. Betapa beruntungnya dikau yang mendapatkan barang ini, batinku. Semoga dikau menikmatinya...

Gw mendatangi kantor Tiki terdekat, menjelaskan isinya hanya buku, membayar dan segera mengirim sms.

~Ko Gilbert, brgnya dah gw krm, konf kl dah nyampe ya.
~Apa? Lu krm burung? Nanti gmn donk lu kencing? Ha.

Gaya ko Gilbert tertawa di sms sungguh aneh, hanya satu kata ‘ha’.
~Met enjoy d burungnya eh barangnya, ha juga.
Gw balas sekenanya karena gw ga begitu pinter bercanda.

Saat pulang ke rumah, gw merasa sangat lega. Kupandang kembali lemari bukuku yang masih tetap penuh sesak dengan buku, tapi siapa sangka di belakang buku-buku tersebut yang dulunya juga penuh sesak kini telah kosong melompong. 6 buku ‘berbahaya’ telah terbang menyeberangi lautan ke Pulau Sumatra, 3 majalah dari Hongkong, ‘Lelaki Terindah’ yang begitu indah ceritanya namun berakhir dengan tragis, ‘Kaubunuh Aku dengan Cinta’ tentang haru biru kisah kehidupan gay dan ‘Kehidupan Gay di Jakarta’ (gw ga ingat pasti judulnya, kira2 seperti itu) tentang sudut pandang orang luar terhadap kehidupan liar kaum gay di Jakarta.

Lega yang terasa bukan hanya karena gw ga perlu konflik ama adik gw, tapi juga karena ternyata gw akhirnya bisa melepaskan diri dari keterikatan dengan barang-barang tersebut.

Rasa lega masih terus terasa Minggu esoknya ketika gw misa di gereja, ketika gw makan bakmi kepiting ‘oukie’ nan lezat tiada tara, dan ketika gw menjemput Liwei di bandara...




Liwei part.5

“Dage, Dage, rindu banget ma Dage!” Liwei sudah berseru dari balik pintu kedatangan dan kemudian memelukku erat-erat. Diciumnya gw di kening dan pipi, kubalas ciumannya di kening, sambil disaksikan sebagian orang yang terheran-heran menyaksikan ‘kebebasan ekspresi’ seperti itu, tapi kemudian mereka sibuk kembali dengan urusan masing-masing ketika menyadari itu adegan sesama saudara yang sudah lama tak jumpa.

“Gimana perjalanannya? Cape?” tanyaku sambil membantu mendorong troli yang berisi koper gedenya.
“Ya cape donk, Dage. Houston ke LA, trus ke Hongkong, lanjut ke KL, terbang ke Kuching, dan akhirnya tiba di Khuntien. Lho, kok hanya Dage seorang yang datang?”
“Itu Lixiong lagi ngambil mobil di parkiran, kita tunggu di sini saja.”

Gw menjemput Liwei (adikku yang ketiga) bersama Lixiong, adikku yang kedua. Dia yang nyetir mobil, karena gw pernah gagal saat belajar nyetir, terkait dengan diriku yang kidal. Instrukturnya sampe stres ngajarin diriku, di saat dia bilang rem, dengan tenang gw malah nginjak gas, di saat dia minta belok kanan, gw otomatis belok ke kiri. Semakin dia sibuk teriak kanan kiri, semakin pusing gw mengontrol arah. Kursus mengemudi berakhir dengan pemberian sertifikat dan SIM ke gw, tapi gw-nya tetap bingung ketika nyetir.

“Dage sayang, wa ada beliin Dage perangko saat ke Washington, Ayi di HK juga ada nitip satu album lagi buatmu.”
“Siiiip lah, Didi. Kamsia ya. Dage bisa seharian nih nikmati perangko-perangko tersebut.”
“Oh, ya, Dage, wa ga bawa laptop, nanti pulang wa pinjam laptop buat kirim imel ya.”

Apa? Pinjam laptop? Ga salah denger nih? Mati gw. Gw baru sadar gw sibuk nyelamatin barang-barang yang lain seperti buku, majalah, DVD, tapi lupa menghapus gambar-gambar yang sudah menumpuk di kompie-ku...


Liwei part.6

Sedari tadi gw bimbang untuk masuk ke dalam kamar, padahal itu adalah kamar gw sendiri. Liwei tampaknya sudah memakai kompie-ku untuk mengirim imel (gw yakin dia sekalian audit isi laptopku), tapi setelah itu dia tak keluar lagi, sampai lampu kamar dipadamkan. Itu berarti Liwei sudah mau tidur dan malam ini dia tidur di kamarku, katanya sudah rindu tidur bareng denganku.

Dengan perlahan kubuka pintu kamar dan beringsut pelan gw naik ke tempat tidurku yang berukuran queen size. Kulihat Liwei berbaring menghadap ke dinding, kudengar nafas pelan teratur, tampaknya Liwei sudah tertidur.

“Dage, wa kecewa banget ma Dage, tapi..,” tiba-tiba Liwei berbisik pelan sambil membalikkan badannya ke arahku dan matanya menatapku, tentu saja gw jadi terkejut.

“A-awei, Dage sama sekali ga ada maksud bikin le kecewa, tapi kenyataannya Dage memang menyukai gambar-gambar tersebut, karena Dage... karena Dage... gay,” gw menelan ludah bentar, sulit banget rasanya mau coming out ke adik sendiri, tapi nasi sudah menjadi bubur, lebih baik dia tahu kenyataan yang sebenarnya.

“Dage, sebenarnya wa sejak tahun lalu sudah menduga hal tersebut, tapi wa berharap semua itu tidak benar, wa berharap Dage hanya berfantasi saja dengan lelaki. Wa pengen punya Aso (kakak ipar) dan ponakan mungil dari Dage,” kata-kata Liwei sungguh lembut, tampak banget dia semakin dewasa setelah merantau di negeri orang.

“Awei sayang, Dage juga pengen banget hiao wu bou kia (bisa punya istri dan anak), namun kenyataannya Dage ga tertarik ama wanita...,” gw menelan ludah lagi, baru melanjutkan.

“Menjadi gay juga bukan jalan yang gampang bagi Dage. Bertahun-tahun lamanya Dage kesepian, tiada tempat curhat, dan susah payah mengendalikan nafsu gay yang membara. Iri rasanya ketika melihat teman lain berpacaran dan menikah. Namun semua ini tidak membuat Dage menyerah begitu saja. Dage mengalihkan gairah yang bergelora ke hal-hal yang positif, Dage fokus ke belajar dan kerja. Dage juga berusaha untuk tidak mengumbar nafsu sembarangan. Menjadi gay bukan berarti ga bisa menjalani hidup ini dengan benar kan?”

“Cup! Sayang Dage,” Liwei menciumku dan memelukku. “Tadi wa mau mengatakan walau wa sempat kecewa, tapi wa bisa menerima Dage apa adanya. Bahkan wa selalu ingat Dage-ku is the best. Kalo Dage ga kerja keras demi biaya kuliah wa di UGM dan Sanata Dharma, mungkin sampai sekarang wa ga mungkin bisa kerja di Amerika. Wa akan selalu berdoa buat Dage, semoga Dage tabah menjalani cobaan ini...”

Terharu rasanya melihat adikku begitu memahami dan mendukungku, kelenjar air mata perlahan-lahan mengeluarkan air yang menggenangi pelupuk mataku.

“Didi, Dage selalu ingat bahwa ada Tuhan yang membimbing jalanku. Di saat Dage susah, ada Tuhan yang menggendongku, dan Tuhan tak akan memberi kita cobaan yang tak mampu kita tanggung. Segala sesuatu ada hikmahnya dan semua akan indah pada waktunya,” gw mengucapkan kata-kata penghiburan yang selalu menyertaiku selama ini. Liwei tersenyum dan menciumku sekali lagi.

“Cup! Dage sayang kamu juga. Sekarang tidur ya, esok Dage harus bangun pagi-pagi untuk kerja.”

“Oh,ya, Dage, tadi gambar-gambar Dage dah wa hapus semuanya, Dage ga marah kan?”

Gw tersenyum saja sambil membelai poninya. Mau marah gimana, toh gambarnya dah terhapus. Lagian adikku jauh lebih berharga dibanding gambar yang dihapusnya dan gw ga mau hubungan kakak-adik rusak hanya gara-gara gambar. Btw, gambar kan bisa dicari lagi di inet (tersenyum binal mode on), ya nggak? he3...


Laoshi, ni hao? Part.1
(Pak Guru, pakabar?)

Senang rasanya di keluargaku sudah ada yang bisa memahamiku. Sambil tersenyum sendiri, gw memacu motorku menuju Matahari Mall, di sana Jack sudah menungguku, dia pengen ngobrol setelah sekian lama tak ketemu. Hujan gerimis tak kugubris, demi berjumpa teman lama yang pernah menjauhiku.

***

Teringat kembali peristiwa dua tahun lalu, tepatnya tahun 2002, saat Jack menghubungiku sambil menggebu-gebu.

“Ayolah, lu bantu gw 4 kelas, gw benar-benar ga mampu ngajar 8 kelas!”
“Ta-tapi, gw belum pernah ngajar di depan sekian banyak murid. Gw bisa grogi.”
“Alah, lama-lama lu juga terbiasa kok, gw yakin lu pasti bisa. Nanti gw bagi lu satu kelas sekretaris yang isinya ce semua, lu bisa cari gandengan di sana.”

Gw tersenyum kecut. Ngajar? Cari gandengan? Kedengarannya asyik juga nih, tapi pengennya sih dapat brondonk aja he3...

“Ok, gw bantu lu, jadi kapan bisa mulai?”
“Mingtian (besok)!”
“BESOK? Gile lu, gw belum ada persiapan apa-apa, bahannya aja lu belum ngasih.”
“Tenang, hari pertama lu kenalin diri dan ajak mereka kenalkan diri satu2. Habis deh waktu 1 jam pelajaran he3... Besok gw akan kasih lu bahan pelajarannya, tahap awal lu ngajarin Hanyu pinyin, bihua dan bishun.”

Hanyu pinyin 汉语拼音 adalah cara mengeja huruf-huruf Han 汉字 (huruf Mandarin) dengan menggunakan romanisasi alias huruf-huruf Latin, dengan keunikan cara baca, misalnya b dibaca p, p dibaca ph, d dibaca t, t dibaca th, g dibaca k dan k dibaca kh. Contohnya : Dage 大哥 dibaca take. Bihua 笔画 adalah jenis-jenis goresan yang akan digunakan dalam membentuk sebuah huruf Han. Bishun 笔顺 adalah aturan goresan, ada urut-urutan yang harus diikuti dalam menulis huruf Han.

Esok harinya sehabis kerja di bank, gw cepat-cepat pulang makan, dan ngebut ke kampus, gw ga mau terlambat di hari pertama ngajar. Untunglah jarak kantor ke rumah ke kampus tidak terlalu jauh, masing-masing hanya memakan waktu 10 menit. Kelas pertama gw adalah kelas Akuntansi. Ketika gw berjalan menuju kelas tersebut, dari jauh tampak para mahasiswa-i masih sibuk ngerumpi di depan kelas.

“Eh, itu dosennya kah?”
“Ga mungkin deh, mungkin dosen sebelah. Laoshi (baca : laoshe = guru) kan biasanya peot-peot he3...”
“Dosennya keren lho, sayang kalo ga ngajar kita. Hi hi hi...”
“Lho, lho, lho, dia berjalan ke arah kita.”
“Ayo cepat masuk!”

Gw menjadi orang terakhir yang masuk ke kelas mengikuti mereka semua dan setelah menarik nafas panjang untuk mencegah grogi, gw menyapa mereka dengan dwibahasa.

“Wan an, dajia hao. Selamat malam, apa kabar semuanya?”
“Haooooo..... (Baik).”
“Laoshi, ni hao?” tiba-tiba seorang mahasiswa berteriak dengan nada dibikin-bikin dan tampang ngeremehin...
to be continued
next page

Kisah Serpihan Hidupku Page 4

Page 4
by Feffendy

Maman part.4

September 2004, cuaca panas dan gerah

Hatiku juga lagi sama panas dan gerahnya. Akhirnya gw memutuskan untuk pindah kerja. Setelah dimutasi ke bagian marketing sebagai Account Officer selama hampir 1 tahun, gw memang kelabakan mengejar target yang seabreg, mulai dari funding, kredit komersial, kredit konsumer, kartu kredit hingga kerjaan public relation seperti ngadain lomba mewarnai buat anak-anak. Belum lagi gw harus menghadapi bos gw yang sok tahu, sok pinter, sok penting, sok mengatur, sok perintah dan segala macam sok lainnya yang benar-benar nyebelin dan nyusahin hati...

“Man, gw mau beritahu rahasia nih. Tapi lu jangan cerita ke mana-mana dulu ya!”
“Mmm, rahasia apa Hong?” tanyanya sambil mengunyah baksonya.

“Gw mau pindah ke bank lain, Man!”
“Apaaa? Lu serius? Kenapa?” matanya membelalak, hampir saja dia tersedak.
Gw juga ga nyangka reaksinya seperti itu.

“Serius donk, gw dah terima offering letter-nya. Lu orang pertama yang gw beritahu. Alasannya ga perlu kuceritakan lagi, lu kan dah tahu semuanya.”

Dia langsung berhenti makan bakso. Dengan suara tertahan dan mata kemerahan menahan air mata, dia berkata, ”Hong, lu jangan tinggalkan gw donk. Jangan pindah yah... demi gw!”

Aduuh, kok reaksi dia jadi seperti ini? Gw ga nyangka dia bisa memohon seperti itu. Gw tak tahu apa yang ada di dalam hatinya sehingga dia berkata seperti itu, tapi gw tersentuh dan terharu banget. Hampir saja gw mau mengiyakan dia, tapi kemudian dengan berat hati gw berkata, ”Man, gw sudah tanda tangan offering letter-nya. Komitmen yang sudah kubuat tak mungkin kubatalkan. Sori yah, Man.”

“Nanti gw gimana... “
“Kau tetap orang yang paling kusayang di sini. Janji yg pernah kubuat takkan pernah kulupakan. Kalo gw punya mobil, lu orang pertama yg gw ajak muter2 pake mobil itu. Gw juga akan tetap kontek lu, jauh di mata tetapi tetap dekat di hati, gimana?” hiburku dengan membelai-belai bulu-bulu di tangannya. Tumben aja dia mau-maunya membiarkan gw berbuat begitu. Tak ada orang lain yang melihat, karena yang makan siang di dapur tinggal gw dan Maman.

“Man, gini aja, gimana kalo lu ikutan pindah juga? Gw kan pegang jabatan juga di sana, nanti gw akan perjuangin lu untuk bisa bergabung. Lagian boss-nya baik orangnya, gw yakin kita betah bersamanya.”

“Status kita nanti gimana, langsung karyawan tetap?”
“Ya, nggak lah, Man, status kita karyawan percobaan dulu selama 6 bulan, setelah itu baru bisa jadi karyawan tetap. Tapi 6 bulan ga bakalan terasa kok, karena kita nanti ada masa training dan persiapan kantor baru.”

“Kalo sampe ga diangkat, gimana donk?”
“Selama kita kerja dengan benar, gw yakin kita bakal diangkat.”

“Gw sih mikirnya kalo anak sakit kita ga dapat tunjangan kesehatan karena masih masa percobaan.”
“Yah, kadang memang ada hal yg perlu kita korbankan untuk suatu pilihan. Seperti gw mesti merelakan THR yang bentar lagi bakalan kita dapat. Tapi sebagai penggantinya gw dapat gaji yang lebih gede dan suasana kerja baru.”

“Ok, lah, Hong, gw akan coba pikirkan!”

Maman part.5

Gw tahu Maman akan memilih untuk tetap tinggal, karena pilihannya pasti kondisi yang save untuk keluarganya. Cuman gw penasaran dengan reaksi dia yang terakhir, apakah dia merasa kehilangan gw sebagai teman atau sebagai kekasih hati. Selama ini gw tak pernah mengungkapkan perasaan gw terhadapnya. Gw hanya berani menyayanginya diam-diam.

Namun kini tak ada salahnya kucari tahu apa isi hatinya, dengan cara mengungkapkan isi hatiku. Bila dia menyukaiku juga, cihui, alangkah indahnya dunia, cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Bila dia marah dan menjauhiku, gw tahu gw akan kecewa. Tapi gw tidak bagai pungguk merindukan bulan lagi. Gw juga tak perlu merasa tak enak bakalan berjumpa terus dengannya, toh gw dah pindah kerja ke tempat lain.

Gw tak berani ngomong langsung dengannya, karena gw pemalu dan mukaku akan merah. Malam sebelum perpisahan, gw hanya berani mengirim sebuah sms ke hape-nya :

~Maman sayang, wajahmu menawan hatiku, sinar matamu membius diriku, suaramu menggetarkan jiwaku, kaulah pria pujaan hatiku...

Maman part.6

Ah, serasa indah banget kalimat di sms yang kubikin. Agak-agak gombal, tapi gw merasa itulah cerminan perasaanku. Kubaca dan kubaca ulang beberapa kali dan hati gw merasa bahagia banget...

***
Acara kebersamaan sekaligus acara perpisahan buat gw diadakan di Restoran Kakap Garden, daerah muara sungai Kapuas, sekitar ½ jam dari Pontianak. Semalaman gw menunggu sms balasan dari Maman. Hatiku berdebar-debar dan penasaran membayangkan bagaimana reaksinya, namun tak kunjung gw mendapatkan jawaban.

Dengan masih menahan kantuk gw segera naik motor ke kantor dan nongkrong di depan kantor. Saat melihat dia muncul, gw langsung menghampirinya dan tersenyum kepadanya, tapi senyumku tak dibalas dan dia langsung menghindar dariku. Dia tak mau semobil denganku, walau sudah kusediakan tempat buatnya di sampingku. Dia bergabung dengan rekan-rekan di mobil lainnya. Sampai di Kakap, dia juga duduk menjauh dariku. Gw hanya bisa memandang dia dari jauh, merasa pedih diabaikan seperti itu.

Jelas sudah semuanya. Ini berarti sms-ku tak bakalan mendapat balasan. Cintaku telah bertepuk sebelah tangan. Gw tak enjoy lagi sepanjang acara perpisahan...

Oh, hatiku sedih...
Makan bakso seorang diri...
Tiada lagi tempat buat berbagi...
Biar ku tlah siap, namun tetap terasa pedih...
Cintaku harus berakhir seperti ini...
Kinshin part.1

Dinginnya Bandung mulai terasa di malam pertama. Semua peserta training untuk pembukaan cabang baru masih kecapean perjalanan jauh sejak pagi naik pesawat dari Pontianak – Jakarta dilanjutkan dengan naik bis dari Jakarta – Bandung. Waktu itu belum ada jalan tol ke Bandung, jadi perjalanan ke Bandung masih melewati Puncak, putaran-putaran jalannya cukup memusingkan kami semua yang dari Pontianak.

Akhirnya sore hari kami tiba di training center yang memang lebih mirip tempat kos-kosan. Satu kamar sempit diisi dengan 2 tempat tidur bertingkat, 1 lemari pakaian, 1 meja kecil dan 1 tempat jemuran handuk. Berhubung tak ada kipas angin, kita putuskan sekamar diisi bertiga saja, karena kalau berempat pasti pengap. Seprei tempat tidur dan sarung bantal harus kita pasang sendiri.

Kamar mandi ada di luar kamar tidur dan berhubung hanya ada 8 kamar mandi yang sempit, sedangkan yang mau mandi ada 20-30 orang peserta training, maka kita harus sabar menunggu giliran.

“Lifeng, ni xian xizhao ba!” (Lie Hong, lu mandi dulu lah!) kata Kinshin sambil memasang seprei tempat tidurnya. Gw sekamar dengan dia dan Iwan.
“Hao ba!” (Baiklah!) jawabku dalam Mandarin juga. Kita komunikasi dalam Mandarin karena dia berbahasa Hakka Singkawang, sedangkan gw berbahasa Tiociu, jadi nyambungnya pakai Mandarin.

Gw mencari handuk di koper, sambil membelakangi Kinshin gw membuka baju, kaos dalam, celana dan tinggal cd doang. Kemudian gw menutupnya dengan handuk. Ketika berbalik hendak ke kamar mandi, gw terkejut karena Kinshin sedang mengamati tubuhku, matanya naik turun seakan mau menelanjangi diriku. Ternyata ketika gw membuka baju, dia berhenti masang seprei dan asyik memandang bodiku!
  
Kinshin part.2

“Badanmu kok putih dan mulus ya?” tampang dia seperti terpesona, matanya tak berkedip.

“Ah, lu, kayak ga pernah lihat tubuh cowok saja!” kataku sambil melewatinya menuju kamar mandi. Dalam hati gw bertanya-tanya, mungkinkah dia gay? Rasa-rasanya tak mungkin karena dia sudah punya anak istri. Atau jangan-jangan dia bi? Ah, sudahlah! Tak baik berprasangka yang nggak-nggak terhadap orang lain.

Air shower kadang cepat kadang lambat. Kadang panas kadang mendingin kembali. Kondisi seperti ini membuat mandiku tak nyaman. Gw berhenti mandi dan keluar cari ember dan gayung. Lebih baik tampung airnya di ember saja dan mandi dengan gayung. Saat kutemukan ember, kulihat Kinshin sudah siap-siap untuk mandi juga. Badannya agak kurus, dengan bercak-bercak putih seperti panuan di sekitar pusarnya. Pusar ke bawah tertutup handuk. Dia masuk ke kamar mandi di sebelahku, matanya masih sempat memandangku nakal.

Suara air dari keran cukup keras dan sesaat kemudian emberku telah terisi penuh air. Kubawa ember masuk kembali ke kamar mandi dan gw meneruskan mandiku. Mula-mula gw tak begitu memperhatikan ada suara lain yang sayup-sayup terdengar. Makin lama suaranya agak mengeras sehingga gw berhenti bentar buat pasang telinga, sambil pura-pura menyanyi kecil lagu Mandarin.

Ya, tak salah lagi, itu suara nafas memburu diselingi suara mendesah dari mulut yang sengaja dikeras-kerasin. Gw berkesimpulan Kinshin sedang coli. Entah siapa yang sedang dibayangin saat dia coli, tapi terdengar banget dia menikmati di sela-sela desahannya. Atau... jangan-jangan dia sedang membayangkan gw ? Ampun dah he3...

Gw tak begitu tertarik atau pun terangsang karena saat itu gw dah cape. Gw cepat-cepat selesaikan mandinya dan kembali ke kamar. Udara yang dingin membuatku cepat-cepat berpakaian. Iwan sedang membereskan barangnya dan dia tampaknya sudah selesai mandi juga.

“Hong, lu tadi ada denger suara desahan ga? Itu si Loreng lagi BBS he3... “
“Ha? Suara apa? Siapa si Loreng? Apa itu BBS ?”
“Alah, lu suka pura-pura bloon ya. BBS tuh buang-buang sperma. Nanti lu bisa lihat si Loreng muncul !”

Gw sudah bisa menebak yang dimaksud si Loreng itu pasti Kinshin. Dugaanku dia dijuluki loreng sama si Iwan karena bercak-bercak putih di sekitar pusarnya. Tapi ternyata dugaanku salah.

Hampir 20 menit kemudian Kinshin muncul kembali di kamar (Gile juga ya, nih anak, colinya lama banget). Mukanya tampak agak lemas, dia membuang handuk yang melilit di pinggangnya ke atas tempat tidurnya.

“Itu toh lorengnya !” kataku sambil menunjuk CD-nya. Tak kusangka juga CD-nya bermotif loreng-loreng hijau ala baju tentara. Gw jadi teringat film hardcore gay yang kubeli di Glodok yang para pemainnya memakai baju loreng-loreng juga. Tapi bedanya mereka kekar-kekar, yang ini kutilang (kurus – tinggi – langsing) he3...

“Ha ha ha, lu ga nyangka kan?” Iwan terbahak-bahak sendiri.
“Gw kira yang loreng tuh di pusarnya,” kataku sambil ketawa juga.
“Itu bukan loreng, tapi panuan ha ha ha,” Iwan makin ngakak.
“Enak aja, gw ga panuan, ini tanda lahir, tahu!” kata Kinshin sambil menjitak Iwan. Iwan juga menjitaknya kembali.
“Udah, udah, cepat berpakaian, nanti lu masuk angin !” aku melerai mereka berdua yang sudah beradu di atas tempat tidur.

Tak lama kemudian kita sudah menikmati makan malam dengan sup untuk menghangatkan badan.
Kinshin part.3

Gw tidak begitu konsen terhadap pelajaran yang diajarkan. Gw masih terus memikirkan Maman dan perasaanku sedih kembali. Walau gw pernah mengatakan bahwa jarak bisa membuat kita melupakan seseorang, ternyata kali ini gw baru merasakan bahwa jarak membuatku semakin merindukannya.

Tiba-tiba satu kelas tertawa semuanya. Gw segera tersadar dari lamunan dan melihat apa yang mereka tertawakan.

Instrukturnya sedang memandang Kinshin, sedangkan Kinshin dengan cuek memandang instrukturnya juga. Keduanya saling beradu pandang, diam-diaman, dan membuat satu kelas ricuh sesaat. Akhirnya instrukturnya buka mulut juga.

“Shin, tolong pandangannya ke depan ya. Dari tadi saya perhatikan kamu terus memandang ke Lie Hong. Ada apa dengan dia?” tanya instrukturnya.
“Dia mukanya polos dan alim gitu, pakaiannya juga kalem, enak gila buat dipandang,” jawabnya lagi dengan cuek. Seisi kelas tertawanya makin keras, instrukturnya juga ikutan tertawa. Mukaku ya jadi merah, bagaimana pun gw berusaha menahannya, tetap saja aliran darah serasa cepat mengalir ke kuping dan pipi.

Tak kusangka Kinshin bisa menjawab secuek dan sejujur itu. Omongannya seperti sanjungan, tapi sekaligus memalukan karena gw dipandangin terus oleh seorang cowok, bukan cewek. Gw tak tahu bagaimana pandangan teman-teman yang lain terhadap Kinshin, tapi untunglah mereka menganggapnya hanya sekedar guyon, karena suasana pelajaran di kelas memang agak membosankan.

Saat break, tiba-tiba gw menerima sebuah sms dari Maman.
Kinshin part.4

Ternyata cerita tentang Maman belumlah berakhir. Rasanya ketiban durian runtuh menerima sms darinya, secara beberapa sms dariku tak pernah dibalasnya, mulai dari sms untuk menanyakan kabarnya, sms gw mau pamitan ke Bandung, hingga sms cerita gw training di Bandung.

Isi sms yang gw terima seperti ini :
~Hong, surat2 apa yg diperlukan bl ada nsbh ninggal dunia?

Rupanya sms tentang kerjaan. Tapi gw senangnya bukan main, gw cepat-cepat kirim balasan,”Dear Maman, bla bla bla...” yang menguraikan informasi yang dibutuhkannya. Dia sudah mau kirim sms kepadaku, berarti dia tidak marah denganku lagi, berarti dia mau berkomunikasi denganku lagi, berarti dia menganggapku teman kembali, dan berarti-berarti lainnya yang sengaja kuciptakan untuk membikin hatiku senang. Biar gw tak mendapatkan cintanya (cinta tak harus memiliki kan?), asalkan dia tidak menjauhiku dan tetap menganggapku sebagai teman, itu sudah cukup membuatku bahagia.

Mengikuti sesi-sesi training berikutnya terasa lebih menyenangkan. Gw sering tersenyum-senyum sendiri. Saat kulirik si Kinshin, dia masih tetap aja memandangiku. Gila juga nih anak, apa tak merasa risih mandang-mandang orang seperti itu, gw yang dipandangin aja merasa sangat risih. Mungkin kalau dia gay, dia juga tak akan malu-malu untuk mengumumkannya ke seluruh dunia, tidak seperti gw yang selalu dikalahkan oleh rasa malu.

Pelajaran berakhir lebih cepat dan kita ikutan mobil instrukturnya turun ke Bandung buat jalan-jalan. Kita minta diturunkan di Ciwalk dan langsung berkeliling di mall yang masih baru tersebut. Masih banyak tempat yang kosong dan belum ada tenant-nya. Kinshin sempat menarikku untuk nonton, namun gw menolaknya karena tidak ada film yang menarik bagiku. Teman-teman yang lain juga tak berminat untuk nonton.

Dia mengikutiku jalan di sepanjang Cihampelas sambil memilih pakaian buat anaknya. Gw sendiri membeli sajadah buat Maman karena saat kita pulang ke Pontianak sudah hampir lebaran. Setelah cape jalan, kita isi perut, ngopi bentar dan kembali ke training center dengan naik angkot jurusan Ledeng. Duduk di sampingku, tangan Kinshin tiba-tiba membelai lenganku lembut sekali, membuatku merasa merinding...
Kinshin part.5

Perlahan-lahan kupindahkan tangannya kembali ke pangkuannya, tapi lagi-lagi dia membelai lenganku. Memang mula-mula gw merasa merinding, tapi lama-kelamaan ada perasaan enak dan nyaman juga... Untunglah teman-teman yang lain sibuk ngobrol dan kondisi di dalam angkot juga gelap, jadi kejadian tersebut tidak terlihat oleh siapa pun. Untunglah juga kejadian tersebut berakhir saat kami tiba di terminal Ledeng dan melanjutkan perjalanan dengan ojek.

Sehabis mandi, gw sudah merasa cape dan langsung tidur, sebab besok pagi kita masih ada kelas. Mataku tertutup, tapi gw belum tertidur sepenuhnya, karena masih teringat kejadian di angkot tadi.

Tiba-tiba ada tangan yang membelai pahaku. Rabaannya naik turun membuat gw merinding lagi, tapi sekaligus merasakan sensasi enak dan nyaman yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gw membiarkan tangan itu terus membelai pahaku, pindah dari paha yang satu ke paha yang lain. Sambil membelai kudengar suara pelan memanggil namaku, “Hong... Hong...” Suara si Kinshin, rupanya dia ingin memastikan apakah gw tidak terbangun akibat ulahnya. Tentu saja gw berpura-pura tidak terbangun karena menikmati sensasinya. Sambil berharap-harap cemas, gw menebak-nebak ke arah mana lagi elusan tangannya menuju. Ah, ah, betapa nikmatnya...

“Hei, apa yang lu lakukan !” tiba-tiba Iwan masuk ke kamar.
“He he he, gw cuman mau ganggu si Lie Hong. Tidur hanya pake celana pendek gitu, pahanya mulus putih lagi, jadi gw elus dia aja he3... Tapi dia asyik tidur aja tuh, dasar tukang tidur !”
“Tak baik lu ganggu orang tidur ! Cepat tidur sana !” hardik si Iwan.
“Ya deh bos !”

Terdengar suara hempasan badan di ranjang sebelah. Kinshin sudah kembali ke ranjangnya dan malam itu gw benar-benar susah tidur memikirkan nikmatnya sensasi yang baru saja kurasakan...
Kinshin part.6

Hari libur kita tak ada kelas. Ada teman yang berkunjung ke rumah keluarganya di Bandung, ada juga yang pergi berbelanja di factory outlet yang banyak tersebar di Bandung. Hanya beberapa orang yang tertinggal, termasuk gw dan Kinshin, dan kita merencanakan untuk wisata alam saja. Kita akan mengunjungi Ciater, Tangkuban Perahu dan Rumah Strawberry.

Gw sangat enjoy dengan pemandangan alam sepanjang perjalanan menuju Ciater dan enaknya merendam kaki di sumber air panas sambil berfoto-foto dengan aneka ragam gaya. Ini juga kali pertama gw merasakan tegangnya naik kuda walau jalannya perlahan-lahan. Muis berteriak-teriak histeris saat kudanya melaju dengan kencang karena pantat kudanya ditepuk oleh pemandunya. Kita tertawa terbahak-bahak melihat paniknya si Muis, padahal pemandunya masih berlari-lari di sampingnya. Kinshin yang vegetarian tak mau menunggang kuda, katanya kasihan, itu menyiksa binatang. Iwan selalu mengolok-ngolok dia dengan perkataan, ”Dasar lu, ga berani makan daging matang, tapi doyan daging mentah.” Mungkin ini karena Iwan melihat dia beberapa kali suka menyentuhku. Iwan juga pernah mengingatkan gw, ”Hong, hati-hati lu ama si Kinshin, dia tampaknya AC-DC.”

Ha ha ha, Iwan tak tahu bahwa gw juga mulai menyukai sentuhan-sentuhan si Kinshin, tapi gw kurang tertarik dengannya karena hatiku masih tertambat di Maman.

Dari atas kuda gw melihat Kinshin asyik ngobrol dengan Susan, janda muda dengan satu anak yang bakalan pegang posisi teller. Sambil ngobrol, tangannya juga tetap beraksi sana sini dan gw melihat Susan juga membiarkan Kinshin melakukannya. Mulai dari rangkulan di bahu, gandengan tangan sampai rangkulan di pinggang. Mereka berbelok ke arah lain sehingga tak tampak lagi. Gw jadi semakin yakin bahwa Kinshin memang AC-DC alias bi.

Bau belerang keras tercium saat kami menuju ke Tangkuban Perahu. Kini Kinshin duduk di sebelah Susan, di bangku belakang. Mereka asyik berhaha-hihi seakan dunia hanya milik mereka berdua. Teman yang lain juga asyik ngobrol. Gw sendiri lebih senang duduk di depan sambil membuka jendela mobil. Kita tidak berlama-lama di sana karena cuaca cukup panas. Setelah berfoto di dekat kawah dan membeli barang-barang souvenir, kita lanjutkan perjalanan ke Rumah Strawberry.

Di sini Kinshin benar-benar berpuasa. Saking antinya dengan daging dan segala hal yang terkait, dia memutuskan untuk tak mau makan setelah dia meragukan bahwa telur yang dipesannya digoreng dengan minyak yang ‘tak bersih’. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan di kebun strawberry saja, Susan buru-buru makan dan segera menyusulnya. Gw menikmati jus strawberry yang benar-benar segar dan gw menikmati enaknya jalan-jalan di Bandung...
Ade part.1

Dari Bandung ke Surabaya
Semua tampang kembali ceria
Pipi-pipi bersemu merah
Oh, nikmatnya panas sang surya


Sudah semalaman kita naik kereta dari Bandung ke Surabaya. Training kelas di Bandung akan dilanjutkan dengan on the job di Surabaya. Cuaca Surabaya yang panas membuat kita serasa berada di Pontianak, berbeda dengan Bandung yang dingin dan makanan yang kurang cocok yang membuat kita semua panas dalam, bibir pecah-pecah dan mencret. Muka-muka yang tadinya pucat paci menjadi ceria kembali bersemu merah. Di Surabaya ini juga bakalan bergabung lagi dua orang marketing, satu funding (Vero) dan satu lending (Ade), yang bergabung belakangan sehingga tak sempat ikutan training di Bandung.

Kita dijemput mobil dari Hotel Garden dan langsung diantarkan ke hotel. Gw tak perlu check in lagi karena gw sekamar dengan Ade, yang telah check in duluan. Saat melewati counter, gw sempat melihat kericuhan kecil.

“Gimana sih, Mbak? Masak gw sekamar dengan Carol?” mata Kinshin mendelik ke petugas hotelnya.
“Maaf, Pak Kinshin, kita membagi kamar berdasarkan daftar pesanan kamar yang dikirimkan pihak bank.“

“Masak gw dikira cewek, gw ga bisa terima. Nanti gw mau protes ke bank juga. Trus apa solusi dari kalian?” suara Kinshin masih terdengar dengan keras.
“Maaf atas ketidaknyamanannya, Pak Kinshin. Karena Pak Adi masih sendiri, bagaimana kalau Bapak sekamar dengannya?”
“Ok, cepetan ya Mbak, kita masih harus masuk kantor nih!”

Gw dan beberapa teman lain berlalu duluan ke lift sambil terkikik-kikik. Memang nama Kinshin cukup unik, dan susah ditebak jenis kelaminnya he3...

Ketika gw sampai di pintu kamar, gw membunyikan bel dan tak lama pintu dibukakan. Terkejut gw melihat pemandangan indah di depan mata !
Ade part.2

“Kenalkan, wa (saya) Lie Hong,” kataku sambil mengulurkan tangan, sambil masih melirik-lirik sikit bodinya yang bikin ngiler...
“Wa Lin Laide, tapi biasa dipanggil Ade (baca : Ate, te seperti pada kata tenang). Baru tiba ya dari Bandung?”
“Ya nih, panas ya di sini seperti di Khuntien (nama Pontianak dalam bahasa Tiociu). Gw jadi gerah, mau mandi dulu,” kataku sambil membuka bajuku dan kaos oblongku yang sudah basah.
“Ya, panas sekali, tadi gw abis keluar beli sarapan, langsung keringatan, makanya gw buka pakaian,” dia menunjuk bajunya yang juga basah di atas kursi.
“Lu biasa fitnes ya? Badanmu keren amat!”
“Gw biasa fitnes di AQ. Lu biasa olahraga apa?”
“Gw tiap pagi bersepeda. Tampaknya enak juga ya fitnes. Nanti pulang Khuntien, ajak gw juga ya kalo lu mau pergi fitnes.”
“Ok, kalo Sabtu agak sepi, jadi tak banyak saingan. Di sana abis fitnes kita juga bisa sauna.”
“Sip lah, gw mandi dulu ya!”

Sambil mandi, gw membayangkan badan Ade yang memang perfect, atletis. Badannya tidak tinggi, wajahnya imut dengan kaca mata yang trendy. Gaya bicaranya pede, cocok banget jadi marketing.

Saat gw keluar dari kamar mandi, Ade telah berpakaian rapi.

“Cepat berpakaian, Hong. Kita harus segera masuk kantor! Jangan sampai kita terlambat!”
“Wah, gw ga sempat sarapan donk!”
“Nanti lu beli roti aja di jalan. Sini gw bantu,” dia langsung bantu gw kancingin baju dan masang dasi. Gw jadi tertawa sendiri, terbayang adegan di sinetron, saat sang suami hendak pergi kantor, sang istri bantu masangin dasi. Rasanya senang juga ada yang ngasih ‘perhatian kecil’, walau itu hanya masang dasi.

“Nah, sudah ganteng kan!”
“Kamsia ya, De. Lu baik banget, seperti adik sendiri. Boleh ya gw manggil lu Didi (adik cowok)?”
“Boleh, ko! Sekarang ayo kita turun! Yang lain pasti sudah nunggu di bawah!”
Ade part.3

Hari-hari selanjutnya, perhatian gw lebih tercurah ke Ade karena kita sekamar. Beli apa pun selalu gw beli 2 buah, mulai dari susu, kue sampai donut.

Perjumpaan dengan Kinshin semakin jarang karena beberapa alasan.
Pertama, dia kini sekamar dengan Adi yang letak kamarnya agak jauh.
Kedua, di kantor cabang tempat kita on the job, dia belajar di bagian Credit Analyst yang berbeda bagian dengan gw.
Ketiga, dia jarang makan bareng kita karena mencari menu vegetarian (Dengar-dengar, dia bahkan sering pulang ke hotel untuk masak mie vegetarian yang dibawanya dari Pontianak karena takut ‘tercemar’ dengan makanan lain).
Keempat, dia dapat tempelan baru. Hani (customer service) yang baru pisah dengan cowoknya di Bandung menjadi sasaran rayuannya, Susan sudah dicuekin dia, padahal baik Hani maupun Susan sama manisnya.

Sore itu, gw merasa cape. Sehabis makan malam di Delta, gw pulang duluan ke hotel, sedangkan Ade bersama teman-teman lainnya masih ingin jalan-jalan dulu. Sampai di kamar hotel, gw dah keringatan lagi sehingga langsung kubuka bajuku, tapi masih pakai celana panjang. Tiba-tiba terdengar bunyi bel, saat kuintip si Kinshin lagi celingak-celinguk di depan kamar. Gw segera membuka pintunya.

“Shenme shir, Jingsheng?” (Ada apa, Kinshin?)
“Wo yao zhao Ade, ta zai ma?” (Gw mau cari Ade, dia ada?)

“Ta bu zai, hai zai Delta war. You shenme zhaodai?” (Dia ga ada, masih jalan-jalan di Delta, ada pesan apa?)
“Mei guanxi. Wo keyi jin ma?” (Gpp, boleh gw masuk?)

Gw sebenarnya malas diganggu karena cape, tapi mana enak ngusir orang. “Jin lai ba!” (Masuklah!) kuberi jalan dia lewat.

Dengan tenang dia nyetel teve dan duduk di atas ranjang gw sambil nonton. Berhubung kulihat dia buka salah satu channel kesukaanku, Animal Planet, gw segera bergabung untuk ikutan nonton.

Ketika gw terbahak-bahak melihat gaya possum berpura-pura mati ketika ada bahaya, tiba-tiba tangan Kinshin membelai punggungku. Terasa geli, tapi kubiarkan saja dan tetap kupusatkan perhatian pada tontonan di teve.

Dia makin berani, tangannya berpindah ke depan, menyentuh puting susuku.
“Apa maksud kau?” gw mengibaskan tangannya, pura-pura ja-im.
“Gpp, pengen have fun aja!”
“Ga mau, pergi sana!” (padahal dalam hati : lagi donk, lagi donk he3) Gw hanya pengen melihat reaksinya, apakah makin agresif kalau mendapat perlawanan.
“Sini kutindih lu!” dia langsung mendorongku terlentang dan menindihku.
“Lepaskan gw!” gw masih mencoba berontak, tapi gw kemudian tak kuasa melawannya karena dia terus menggelitik di pinggang, ketiak dan puting susuku. Rasa geli membuatku tertawa terus, sementara Kinshin semakin menggila.

“Ting tong ting tong!” tiba-tiba bel berbunyi, mengganggu adegan yang sedang terjadi...
Ade part.4

Kinshin terhenti bentar oleh suara bel. “Biarin aja, tak usah dibukain, paling juga dikira ga ada orang!” katanya sambil berusaha menangkap tanganku yang melawan.

“HEI!!! Apa-apaan ini?” Ade berdiri di depan ranjang. Dia masuk menggunakan kuncinya sendiri karena tak dibukain pintu. Posisi yang terlihat oleh dia sungguh tidak elok. Kinshin masih menindihku dengan pakaian lengkap, sedangkan gw yang telanjang dada seakan tak berdaya di bawah tindihan Kinshin.

Kinshin melepaskan posisinya sambil berbohong, “Gw hanya ngasih pelajaran dia, soalnya tadi guraunya keterlaluan. Udah ah, gw kembali ke kamar aja, dadah!” terdengar pintu kamar tertutup kembali.

“Ko Hong, lu gpp kan?”
“Gpp, Didi. Tadi memang gurauan gw keterlaluan sehingga dia kesal dan jadi menggila seperti itu,” gw juga ikutan berbohong seperti Kinshin.
“Lu mesti hati-hati, Ko. Dia juga pernah pegang-pegang puting susu gw saat gw lagi ga pakai baju. Gw piting tangannya sampe dia mohon ampun ga berani berbuat gitu lagi.”
“Lho, mungkin dia hanya mau bergurau dengan lu. Tega juga lu piting tangannya he3...”
“Dia bukan gurau, dia maniak seks, mungkin biseks, mungkin juga gay. Gw kan bukan gay, gw ga mau digituin ama dia...”
Ade part.5

“Hong, fotoin gw donk,“ Kinshin akhirnya memberanikan diri juga berfoto bareng anak harimau. Sebelumnya dia agak ketakutan membopong anak harimau, tapi begitu melihat kita satu per satu foto bersama tanpa ada masalah, akhirnya dia mau juga.

Jepret! Dia segera berlari ke tempatku, melihat layar LCD di kamera digital.
“Ulangi lagi, donk, gw belum tersenyum, lu dah jepret!”
“Oke, gw ulang lagi, say cheese, yi, er, san!”

Jepret ! Dia lari lagi ke tempatku, melihat layar LCD lagi.
“Ulangi lagi, tanganku belum membelai bokongnya!”

“Ah, gatel lu, yuk Ko Hong, kita foto bareng burung aja!” Ade datang menarikku ke area burung-burung nuri dan kakaktua yang bebas bertengger di pohon-pohon, meninggalkan Kinshin yang terbengong-bengong sendiri.

Gw memang ditarik ke sana sini untuk fotoin karena satu-satunya orang yang membawa kamera digital hanya gw. Akhir minggu terakhir di Surabaya kita manfaatkan buat jalan-jalan di Taman Safari dan Selekta di Batu, Malang.

“Hany, tolong fotoin kita !” Ade menyapa Hany yang baru lewat.
“Lu ada lihat Kinshin ga?”
“Fotoin kita dulu deh, nanti gw kasih tahu di mana Kinshin,” kata Ade sambil melingkarkan tangannya di pinggangku. Gw serahkan kamera ke Hany.
“Ha ha, mesra banget, senyum ya!” kata Hany.

Jepret !
“Kamsia, ya, Hany, tuh, Kinshinnya ada di kandang anak harimau.”
“Ko Hong, ayo kita lanjutin ke jembatan buaya!”
“Lho, kok ada jembatan yang namanya buaya?”
“Itu jembatan gantung, di bawahnya banyak buaya. Yuk, cepetan!” lagi-lagi Ade menarik tanganku.

Ade tampaknya merasa dekat denganku dan tanpa sungkan-sungkan berakrab ria denganku. Tapi gw tahu dia hanya menganggap aku sebagai abang. Semenjak perkataan dia bahwa dia bukan gay malam itu, gw pun hanya menganggapnya sebagai adik. Gw menyayangi dia sebagai adik, seperti gw menyayangi 4 orang adikku. Rasa sayang tanpa disertai nafsu untuk menggauli, rasanya jauh lebih tulus.

Kinshin sendiri masih sibuk dengan Hany, sekilas gw dengar mereka janjian karaoke bareng di Happy Puppy sebelum pulang ke Pontianak.

Hariku berakhir dengan menyenangkan. Saat kubayangkan kembali mangkok bakso malang yang bergetar saat kereta lewat (kita makan siang di warung samping rel kereta), indahnya taman bunga aneka warna di lembah (kita foto sepuas-puasnya di Selekta) dan permintaan untuk fotoin yang tiada habisnya (ternyata berakhir juga saat cadangan baterai lithium yang kubawa habis terpakai), gw tersenyum sendiri membayangkan wajah-wajah yang kecewa karena belum puas difotoin.

Gw cepat-cepat menghabiskan ruiak cingur di Delta dan membawa pulang bungkusan kain sarung untuk Maman yang kubeli di Tunjungan Plaza. Khuntien, gw segera pulang nih....
to be continued
next page

Kisah Serpihan Hidupku Page 3

Page 3
by Feffendy

Ichall part.4

~Hi, lg ngapain? Kok ga nelpon?

Sms dari nomor tak dikenal masuk ke hp-ku. Semula gw cuekin saja karena lagi sibuk menghitung uang di khasanah. Proses akhir hari mengharuskan gw dan seorang rekan lagi memeriksa semua fisik uang sebelum khasanah ditutup. Sebentar lagi kita akan pulang kalau duitnya sudah klop. Saat lagi menghitung uang logam, masuk sms lagi dari nomor yang sama.

~Sombong ya ga mau balas!

Kalau sudah bunyinya begini, gw jadi merasa ga enak. Gw paling ga bisa dianggap sombong. Akhirnya gw berhenti bentar dan balas sms-nya.

~Ini siapa ya? Maaf gw lagi sibuk kerja.
~Ini Ichall, ktnya mo telp, kok ditunggu2 ga telp.

~Ok, nanti jam 6 gw telp. Ke no ini? No ini siapa py?
~Ini no tmn, jgn ke no ini, telp ke rmh aja, nanti gw tunggu.

~Ok

Gw segera selesaikan hitungan logam terakhir dan klop semua. Khasanah ditutup, sistem di-close dan gw sudah bisa pulang. Gw tak langsung pulang ke rumah, tapi singgah di wartel.

Sebenarnya gw kurang sreg untuk telpon Ichall lagi, apalagi kalau temanya ‘seks via telpon’ lagi, namun karena sudah terlanjur berjanji dan janji adalah hutang, maka gw bell ke rumahnya.

“Halo . . . ini Ichall?”
“Iya, gw dah tunggu telp lu sebelum jam 6.”

“Gimana kabarnya?”
“Baik aja. Mau lanjutin lagi nih yang kemaren he he . . . “

“Ga ah! Gw ga suka, bahas yang lain aja deh.”
“Lho kok ga suka? Kan asyik punya!”

Asyik di elu, tapi tak asyik di gw!

“Udahan ah kalo hanya mau ngebahas itu!”
“Eh, eh, tunggu dulu! Kalo gitu, gimana kalo kita langsung action aja ?”

Langsung action ? Nah, ini menarik nih, secara gw belum pernah in action he3 . . .

“Nggg, maksud lu gimana ya?”


Ichall part.5

Ichall mulai membahas dan menawarkan satapan duniawi yang belum pernah kurasakan nikmatnya. Santapan yang menimbulkan rasa penasaran, mengundang rasa ingin mencoba, walau jenis menunya belum kutahu seperti apa. Gw benar-benar tergiur dan meneteskan air liur....

“Oke, jadi hari Minggu di Wisma Rahayu ya. Kutunggu lu di sana jam satu siang. Jangan telat ya !”

Kuiyakan begitu saja.
Perkataan keluar tanpa melalui pikiran.
Tawaran menggiurkan kuembat saja.
Nafsu telah melampaui jernihnya pikiran.
Ichall part.6

Tidurku tidak tenang. Bait-bait pertanyaan dari nurani dan jiwa terus berkumandang di telinga.

Benarkah aku ingin mencobanya?
Mengapa tak kuperiksa isi hatiku sebelumnya?
Sudah kenalkah aku dengannya?
Apakah gay begini adanya?
Haruskah nafsu yang menguasai dunia?


Ah, gw kok jadi ga yakin ya pengen mencobanya. Tidak semestinya gw seperti ini. Tidak seharusnya gw semudah ini, emangnya gw pria gampangan? Gw terbangun, tengah malam kuketik sms :

~Bu, tolong sampaikan pesan ini kepada Ichall ya. Gw mau minta maaf, ga sempat ketemu di Minggu nanti. Salam dari Ahong.

Kukirim pesan ini ke nomor ibunya, sebab tak ada lagi nomor lain yang kupunya.
  

Ichall part.7

Hari-hariku berikutnya tidak lagi indah. Ichall marah besar. Gw tahu gw telah bersalah dengannya, gw telah melanggar janji yang asal kuucapkan. Gw kena batunya. Sms2 darinya bagaikan teror di siang bolong.

~Kenapa lu batalkan janji lu? Gw ga bisa terima itu!
~Kita harus ketemu, kamarnya telah di-booking. Lu harus ganti kerugianku!
~Lu homo gila. Gw tak akan lepaskan lu!
~Serahkan tubuhmu, setelah itu akan kulepaskan dirimu!

Ya, gw homo gila. Gw benar2 menjadi gila karena terus menerus terima sms darinya. Tapi yang membuat gw lebih gila adalah sms berikutnya :

~Kita harus ketemu! Pamanku polisi, dia telah melacak nomor motormu. Kini gw tahu alamat kantor dan rumahmu. Gw akan sebarin bahwa lu homo ke rumah dan kantormu! Lu berani2nya menyepelekan keinginanku, kini gw akan menghancurkan hidupmu!

Kubaca sms ini berulang-ulang, mau mati rasanya setiap kali kubaca.
Kupikir sebentar lagi tamatlah riwayat Lie Hong di dunia!
Ichall part.8

Betapa galaunya hatiku
Menyesali akibat keteledoranku
Membayangkan malunya aku di hadapan keluargaku
Membayangkan diriku diusir dari pekerjaanku
Menunggu saat2 hancurnya kehidupanku
Oh Tuhan, tolonglah aku...


Kutunggu terus dengan cemas munculnya si ‘mimpi buruk’ di kantor atau di rumahku, tapi ternyata dia tak menampakkan batang hidungnya juga. Sms-sms dari dia yang nadanya sama masih terus muncul di hape-ku, intinya dia ingin ketemu dan ancaman akan menyebarluaskan ke-gay-anku.

Gw pernah sms dia untuk meminta maaf dan bersedia mengganti kerugiannya menyewa kamar hotel, tapi dia tak pernah mau memberikan nomor rekening banknya dan maunya hanya gw bertemu dan melayani keinginannya.

Lama kelamaan gw jadi ragu apakah benar dia punya paman polisi. Gw juga ragu apakah dia pernah memperhatikan nomor Honda Star-ku, secara dia meninggalkan warnet duluan sebelum aku. Jangan-jangan dia hanya gertak sambal supaya gw mau muncul di hadapannya. Akhirnya gw memutuskan untuk mengakhiri semua ini dan mengirimkan sms terakhir dariku :

~Ichall, gw mt maaf utk terakhir x-nya. Gw ga bisa jumpa dgnmu. Gw tahu lu org yg baik, jd tlg maafkan gw n jgn ganggu gw lg. Bye.

Dengan berat hati kukeluarkan SIM card dari hape-ku dan kubuang ke tong sampah. Nomor utama yang telah menemaniku sekian lama harus kurelakan demi putus hubungan dengan Ichall ! Dan ternyata mimpi burukku tak pernah menjadi kenyataan, memang benar dugaanku dia hanya gertak sambal. Gw juga ga pernah mengunjungi warnet itu lagi, takut berjumpa Ichall lagi di sana.

Seiring berjalannya waktu, kenangan buruk akan Ichall telah terbang bersama angin...

Oh Tuhanku,
Terima kasih atas perlindunganMu
Janganlah masukkan kami ke dalam cobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
Amin

Maman part.1

Ah, bagiku nama ini sungguh indah. Orangnya tampan tiada tara. Dengan alis tebal dan bulu mata yang indah, hidung mancung, senyum yang menawan hati dan suara yang macho, membuat diriku benar-benar mabuk kepayang. Kalau boleh dibandingkan, dia bagaikan perpaduan antara Shahrukh Khan dan Syahrul Gunawan. Tapi bagiku dialah yang paling tampan! Dialah sang pujaan hatiku!

Yang dipuji-puja dari tadi masih sibuk memeriksa laporan. Mejaku tak terlalu jauh sehingga gw bisa sepanjang hari memandangnya sepuas hatiku. Baru minggu lalu dia kutarik kembali ke cabang utama sebagai penyelia back office untuk mendukungku. Sebelumnya dia berada di cabang pembantu, tapi tak mampu meningkatkan sales di cabangnya sehingga ada alasan bagiku untuk menariknya kembali ke bagian back office yang memang tak ada target penjualan.

Kudekati dia pelan-pelan dan kusentuh tengkuknya sehingga dia kegelian dan tersenyum, aduh manisnya! Kita semakin akrab semenjak gw terus membantunya menyesuaikan diri dan belajar di back office.

“Hong, laporan ini perlu dikirim ke kantor pusat juga?” tanyanya sambil menyodorkan kertas laporannya.

“Tak perlu, kalo udah klop, lu langsung approve aja di sistem. Eh, Man, nanti malam makan bakso bareng yuk. Gw yang traktir deh,” kataku dengan penuh harap sambil terus menatap wajahnya.

“Sori nih, Hong. Bini gw dah masak dan gw ga enak kalo ga pulang makan bareng.”

Muka gw sengaja dibikin2 supaya tampak kecewa banget mengarah ke sedih.

“Jangan seperti gitu ah, gw jadi ga enak. Gimana kalo besok aja kita makan? Tapi tetap lu yang traktir ya, he3...”

Asyiiiiiik, bakalan makan bersama cowok pujaan benar-benar momen yang menggembirakan...

Hatiku berdesir...
Hatiku merekah...
Hatiku berbunga-bunga...
Ah, dunia terasa sungguh indah....
  

Maman part.2

Hari terakhir kerja, besok adalah hari Natal. Cihui, rasanya senang sekali! Malam ini gw bakalan menghadiri misa Natal sekeluarga. Bakalan berdoa dan mengucap syukur atas kehadiran Tuhan di dunia. Bakalan menyanyikan lagu-lagu Natal nan syahdu...

Tralala, trilili, gw bernyanyi,
Laporan kuperiksa, sistem kututupi,
Nota direkap, uang kusimpani,
Semua beres, khasanah dijeruji.


Alangkah senangnya semuanya berjalan lancar. Tinggal langkah terakhir log off user id. Kulompat-lompat kegirangan ke counter teller karena komputernya ada di ruang depan. Memang agak sinting dan tak sepantasnya gw lakukan sebagai seorang supervisor, tetapi gelora semangat muda dan penuh gairah membuatku kadang sulit mengendalikan diri untuk tetap jaim. Saking happy-nya gw tidak menyadari bahwa ada palang pintu yang menghalang, saat gw meloncat lagi, tiba-tiba...

Duk! Kepalaku terantuk palang pintu, gw terpeleset, terhempas ke arah depan dengan pantat jatuh duluan. Darah segar mengalir deras dari pelipisku dan kepalaku menjadi pening. Pantatku serasa remuk dan gw tak bisa bangkit berdiri.

Selanjutnya, pandanganku berkunang-kunang dan pipit-pipit kecil mengelilingi kepalaku sambil bercicit seperti di film kartun. Cicitan burung itu bercampur dengan suara orang-orang yang kebingungan di sekelilingku dan mereka terus memanggilku. Sayup-sayup masih kudengar pembicaraan mereka.

“Iiiiih, darahnya banyak banget!”
“Tenang! Tenang! Tidurin! Kepalanya jangan diangkat! Nanti darahnya mengalir deras!”
“Tisunya mana? Mana tisunya?”
“Ga bisa! Ini harus kita bawa ke rumah sakit!”
“Man, kamu angkat kakinya, saya angkat kepalanya!”
“Aduh, kepalanya juga berat, ayo yang lain bantuin angkat badannya!”

Gw setengah pingsan dan merasa badanku mulai melayang. Ternyata gw diangkat dan tak lama gw mendengar suara hempasan pintu mobil dan deru mobil dijalankan.

“Man, gimana kondisinya?”
“Tampaknya dia masih pingsan, tapi darahnya sudah mulai berhenti mengalir.”
“Jaga posisi kepalanya, Man! Usahakan nyaman di pangkuanmu!”

Kepalaku di pangkuan Maman? Ah, betapa bahagianya. Cowok pujaan rupanya salah satu penyelamatku. Dia terus menerus menyeka pelipisku. Rasanya ringan dan hangat, serasa terbang ke langit ke tujuh...

Bahagia, betapa bahagia, gw sungguh bahagia....

Aduh! Sakit dari benda tajam yang menusuk di wajahku melemparkan kembali gw ke dunia nyata... Rasa sakit juga kurasakan kembali di pelipis dan pantatku. Rupanya lukaku sedang dijahit. Suara pipit masih bercicit-cicit, pening di kepalaku membuatku serasa terbang kembali...

Tak tahu berapa lama gw berada di tanah impian. Pertama kali kubuka mata, senyuman yang hangat menyambutku, cowok pujaan ada di depan mataku. Kubalas senyumannya semampuku...

“Hong, syukurlah lu dah sadar. Tadi lu pingsan dan sekarang ada di rumah sakit, lukamu sudah dijahit.”

“Kamsia, ya, Man, telah menyelamatkanku,” kataku dengan suara lemah.

“Bukan gw sendiri aja Hong yang tadi menggotongmu, teman-teman juga ikut, Mami (kepala cabang) aja sampe ngos-ngosan angkat pantatmu he3... Kata teman-teman lu berat banget, untung gw kebagian yang ringan, yaitu angkat kepalamu he3...”

“Man, ngggg, rasanya gw mau kencing.”
“Gw panggilin suster ya buat bantuin lu.”

“Jangan, Man, gw malu, lu yang bantuin gw aja boleh ya?”
“Ok deh. Sini gw pegangin infusnya.”

Perlahan-lahan kucoba untuk bangkit dan duduk dahulu. Pakaianku tampak semrawut dengan noda-noda darah dari kepalaku. Dasiku entah ke mana. Kancing bajuku sudah hampir terbuka semuanya. Ikat pinggangku juga dikendorkan, mungkin tadi mereka takut gw tak bisa bernafas. Sepatuku dan kaos kakiku juga lenyap ga berbekas. Nanti saja kutanyakan siapa yang telah mengamankan semua harta bendaku.

Ketika kucoba berdiri, pantatkulah yang terasa paling sakit. Tapi apalah rasa sakit dibandingkan rasa senang karena cowok pujaan hati berada di samping, menuntunku ke toilet sambil membawakan infusku.

Kupandang sekilas ke cowok pujaan ketika gw hendak kencing, berharap-harap dia ikut melihat, tapi dia melihat ke arah lain. Ya sudah, kubuka ritsleting dan perkututku siap menyemprot. Tapi ternyata air seninya tak mau keluar, rupanya perkututku masih trauma he3...

“Perkututku tak mau nyemprot nih, Man!”

“Pelan-pelan aja, tarik nafas dulu trus coba semprot!” katanya, masih melihat ke arah lain. Sebel juga ya, kok melihat ke arah lain terus. Kucoba sarannya dan akhirnya air mulai keluar, mengalir pelan, tak sederas biasanya dan akhirnya isi kantong kemih sudah terkuras semuanya.

Gw kembali ke tempat tidur, masih dengan cowok pujaan di sampingku, menuntunku dan membawakan infusku. Tiba-tiba hp-nya berdering.

"Halo, say!"
”........”
“Ya, gw segera pulang!” Hp segera ditutupnya.

“Sori ya Hong, dah dicari orang rumah nih! Lu dah gapapa kan? Gw pulang dulu ya...”

“Oh, gapapa, lu pulang aja, kasihan istrimu dah nunggu lama di rumah.” (Bohong banget lah pokoknya, karena dalam hatiku gw masih mengharapkan dia menemaniku malam ini, senyumnya bisa menguraikan semua rasa sakit yang semakin lama semakin terasa seiring pulihnya kesadaranku...)

Ruangan menjadi dingin dan sepi, gw hanya seorang diri. Sayup-sayup terdengar suara merdu koor dari kapel di belakang Rumah Sakit Santo Antonius, menyanyikan lagu-lagu Natal. Gw mencoba untuk bangkit berdiri lagi, terpincang-pincang berjalan ke arah jendela, membukanya dan memandang ke langit yang cerah tiada berawan, penuh dengan bintang-bintang yang berkelap-kelip...

Di kamar ini malam Natal harus kulewatkan
Kemalangan yang harusnya kurasakan
Tiada terasakan karena di dalam hati telah tersimpan
Hangatnya senyuman dari sang pria pujaan...
Maman part.3

Semula gw tak ada perasaan apa-apa terhadap Maman. Saat gw baru pulang dari Jakarta tahun 1999, gw hanya menganggap dia rekan kerja biasa. Seiring berjalannya waktu, tampangnya yang tampan dan sifatnya yang ramah mulai membuatku jatuh hati. Gw selalu berusaha mendukung pekerjaannya. Kesalahannya kumaafkan semua – gw ga tega memarahinya – bahkan gw berusaha mencari cara dan jalan keluar agar kesalahannya bisa diperbaiki.

Tentang orientasinya, jelas dia straight. Anaknya baru satu, gendut dan tidak begitu cantik, ketampanannya jelas tidak menurun pada anak ceweknya. Walaupun dia selalu taat dalam beribadah, tapi dia mengaku suka nonton bokep, favoritnya bokep nusantara, makanya setiap kali gw ke Jakarta, gw akan bela-belain cari film favoritnya di Glodok. Tentu saja mukaku merah saat hendak membeli VCD bokep, tapi demi sang pujaan hati gw rela menahan malu. Toh penjualnya juga tak merasa malu pajangin sederetan film porno tersebut.

Saat sedang berduaan saja di dalam khasanah memeriksa duit, gw sering menanyakan selera seksnya. Semula dia agak malu-malu kucing, setelah dipancing beberapa kali, jadi malu-maluin. Dia ngaku pengen di-karaoke, cuma istrinya merasa jijik dan tak mau karaoke-in. Gw sambil bercanda sambil nawarin gimana kalau gw yang karaoke-in, dia dengan senyum menjawab bahwa dia tak tertarik sama laki-laki, terus lanjutin pekerjaannya.

***
Siang ini transaksi agak sepi. Kliring sudah selesai diperiksa semua, tinggal tunggu nasabah yang kurang saldonya setor duitnya. Gw menguap bentar, pikiran mulai melayang, merindukan saat-saat gw berasyik-masyuk di warnet menikmati gambar-gambar yang indah....

“Hei! Melamun terus!”
“He he he, bukan melamun, tapi ngantuk nih Man.”

“Pokoknya nanti malam kita harus menang yach!”
“Ok deh!”

Gw tak mengerti kenapa hasil undian memasangkan gw dengan dia untuk pertandingan bulu tangkis dalam rangka perayaan Agustusan di kantorku. Dia lumayan mahir, sedangkan aku, lumayan memalukan. Nilai olahragaku selalu jelek sejak SMA, angka 5 membuatku raporku tak lagi indah, warna hitam bernoda merah.

Malam hari, pertandingan pun dimulai. Gw berusaha semampuku, tapi memang gw selalu salah langkah dan tidak bisa mengembalikan smes yang diarahkan kepadaku. Pasangan kita akhirnya kalah.

“Sori ya, Man. Gw dah usaha semampuku! Jangan kecewa ya!”
“Gpp, Hong, ini kan cuman permainan, anggap aja olah raga he3. Yuk ganti baju!”

Glek! Gw menelan liurku. Di hadapanku dia membuka bajunya. Mataku terbelalak dan jantungku langsung berdetak kencang. Baru sekali inilah gw melihat Maman bertelanjang dada. Bulu-bulu menghiasi puting susunya, jalur dadanya, trus ke pusarnya dan semakin banyak bulu menuju ke bawah, tertutup oleh celana pendeknya. Kulit coklat dan puting susu kehitaman membuat gw horni dan salah tingkah. Walau badannya tidak seideal peragawan seksi berotot, walau perutnya agak buncit dan tubuhnya agak pendek, tapi bagiku dia lelaki terindah, cowok pujaan hati yang paling sempurna dan paling tampan sedunia...

Gw ga bisa menahan diri lagi dan mencoba menyentuh pusarnya yang berbulu lebat, tapi dia mengelak dan cepat-cepat memakai baju kaos yang kering. Selesai sudah pemandangan indahnya.

“Usil ya lu!”
“Biar, gw suka aja...”
“He3... Ayo kita pulang!”

to be continued
next page

Kisah Serpihan Hidupku Page 2

This summary is not available. Please click here to view the post.

Kisah Serpihan Hidupku Page 1

Page 1
by Feffendy

Xianggang part.1

September 2003, hujan gerimis.

Gw memandang stand penjual majalah dengan jantung berdegup kencang. Benar-benar tak disangka! Majalah ini tak mungkin bisa kutemukan di Indonesia. Kudekati stand tersebut untuk melihat lebih jelas.

Ya, memang gw tak salah lihat! Gila, mataku memang hebat, batinku. Di sela-sela berbagai majalah lifestyle dan hobi, terseliplah majalah itu dengan covernya yang menantang. Gw pura-pura melihat majalah tentang memancing, tapi sebenarnya mataku tak pernah lepas dari majalah tersebut.

“Hong oi, cepat wa, bisnya sudah menunggu le!” (Hong, cepatlah, bisnya sudah menunggu nih!)
Ayi(tante)ku mengagetkan gw. Tanpa menunggu jawabanku Ayi dah masuk duluan ke dalam bis. Gw dengan agak sedikit kecewa buru-buru menyusul masuk ke dalam bis. Kutempelkan dompetku ke mesin pembaca, terdengar bunyi ‘tuut’, secara otomatis ongkos bis dipotong dari kartu prabayar yang tersimpan di dalam dompetku. Terpampang sisa saldo HKD 52. Lumayan, masih bisa buat beberapa kali naik bis atau MTR.

Saat itu kita akan pulang kembali ke apartemen Ayi di Kowloon (arti : Sembilan Naga), setelah gw temenin Ayi kebaktian di gereja. Gw masih bingung dengan suasana kebaktian di sana karena menggunakan dwibahasa, Bahasa Kanton dan Mandarin saling bersahut-sahutan. Sementara gw di Indonesia terbiasa dengan suasana gereja Katolik yang tenang dan khusuk.

“Ayi, wa naik ke atas ha!” (Ayi, aku naik ke atas ya!)
“Ho ho, ya Hong!” (Hati2 ya Hong!)

“Ho, Ayi!” (Ok, Ayi)
Gw segera naik ke lantai 2 bis, karena pemandangan dari sana lebih lapang dan enak. Bis di Hong Kong rata-rata memang bertingkat 2, dan gw sangat enjoy naik bis seperti ini. Mata gw masih sibuk jelalatan, browsing semua lapak majalah di pinggir jalan yang memang lebih gampang dilihat dari atas bis. Sebenarnya, gw bukan mencari judul majalah itu lagi, tapi gw mencari judul lainnya yang sejenis! Siapa tahu dengan mataku yang tajam ini gw bisa scan semua judul di sana, he3. Ayo, jia you (semangat), Lie Hong! Jantungku berdegup semakin kencang, sekencang laju bis yang sedang berjalan.


Xianggang part.2

“Hong oi, ciak peng lou!” (Hong, ayo makan!)
Ayiku dari tadi memanggil terus.
“Cek hue ge, Ayi!” (Bentar lagi, Ayi!)

Gwnya masih asyik konsen dengan kompie. Kesannya sih ngerjain sesuatu yang serius, ga tahunya lagi browsing situs ehem-ehem di inet he3... Banyak banget kejutan-kejutan yang gw dapatkan di HK. Inet di sini sangat cepat, ga seperti telkomnet instan yang lelet kayak siput. Jadi gw puas2in browsing situs favorit gw di kompie sepupu gw yang sudah pake layar flat. Setiap gambar di layar membuat tubuhku menegang seperti kucing kampung yang bulunya tegang siap menyerang. Mataku yang sipit bisa-bisanya jadi bulat membesar seperti ikan mas loreng. Tanpa terasa tes tes, liurku menetes (jijay banget lah pokoknya he3...).

“Fung, nyi co mai mang sit fan?” (Hong, ngapain lu belum makan?)
Hong sebenarnya nama gw dalam dialek Tiociu, ikut dialek papa, sedangkan pho2 yang orang Hakka memanggilku ‘Fung’.

Tiba-tiba aja pho2 (nenek) dah di samping gw. Gw langsung kalang kabut matiin layar kompie. Entah sudah berapa lama pho2 masuk ke kamar yang pintunya memang terbuka dan entah apa aja gambar di layar yang sempat dilihat pho2. Muka gw benar2 merah padam saking malunya.

Sambil natap muka pho2, gw nyahut,”Eh, ngai mang tuki a, Pho.” (Gw belum laper, Nek.) Gw perhatiin baik2 memang ada sesuatu yang aneh di wajah pho2, dia mengangguk dan berlalu begitu aja.

Fiuh, ternyata pho2 lupa pake kaca matanya, makanya tampangnya jadi aneh he3... Kesimpulannya pho2 ga sempat ngelihat apa2. Aman, aman he3...

Kulihat keluar jendela apartemen tuayi, hujan deras masih mengguyur kawasan Kowloon sehingga gw ga bisa ke mana2. Untung sepupuku yang kerja seharian memberikan akses kompie-nya kepadaku dan tentu saja rejeki nomplok jangan disia-siakan. Kuketik lagi : Go.to/tguy. Isinya cowok-cowok Thailand yang muda, ganteng dan atletis nan menggiurkan. Lanjut maaaang...


Xianggang part.3

Semilir angin malam berhembus dengan tenang. Suara air beriak dihembus angin bercampur dengan segarnya bau air laut. Cuaca malam itu sangat cerah. Gedung-gedung bertingkat yang tampak di seberang berhiaskan lampu dengan latar belakang pegunungan nan kelam membuat romantisnya suasana. Dari jauh tampak gedung Bank of China HK yang unik, tampak jauh lebih indah dibanding gambar di bank notes HKD.

Gw sedang berada di kapal ferry, menyeberangi selat antara Semenanjung Kowloon dengan Pulau Hongkong. Walau bisa menyeberang dengan bis atau MTR di terowongan bawah tanah, rasanya tetap beda kalau menyeberang dengan ferry, suasana romantis lebih terasa. Malam ini pun gw sampai bolak-balik menyeberangi selat hanya karena tak rela kehilangan suasana yang romantis tersebut.

Sambil memandang ikan-ikan yang sesekali muncul ke permukaan air, gw memikirkan kembali majalah yang gw lihat di lapak beberapa hari lalu. Gw bukan hanya browsing, tapi gw berhasil melihat 3 majalah sejenis yang diterbitkan lokal.

Gw jadi penasaran, pengen tahu isinya seperti apa. Kalo majalah terbitan Amrik, itu mah sudah biasa, hasil scan-nya mudah ditemukan di inet, gratis lagi. Jadi tak beli pun gw dah tahu isinya apa. Nah, kalo majalah lokal, isinya misterius, karena jarang ada yang scan dan nge-post di inet. Berhari-hari gw browsing di kompie sepupu gw juga tak berhasil, bahkan gw dah bela2in ketik pake huruf Han tradisional yang masih digunakan di HK, tapi tetap tak ketemu juga. Untunglah “aktivitas”ku tak ketahuan siapa-siapa, termasuk pho2 yang sempat masuk ke dalam kamar, tapi lupa memakai kaca mata. Termasuk juga si empunya kompie, yang tiap hari pulang malam dan esok pagi-pagi dah berangkat kerja lagi.

Permasalahannya adalah, gw tinggal di rumah Ayi, tentu tak mudah bawa-bawa majalah pulang. Kalo ditanya, “Bawa apa, Hong?”, tak mungkin kan kalo gw dengan polosnya menjawab, “Bawa majalah gay, Ayi.” Bisa-bisa gw diusir, tak boleh tinggal di situ lagi.

Ruang gerak gw juga terbatas. Ke mana-mana gw selalu diikutin Ayi, pho2, mam, atau sepupu. Jarang sekali gw bisa bernafas lega karena bisa sendirian. Beli majalah yang privat kan juga butuh privasi.

Akhirnya kuhabiskan malam itu sambil duduk-duduk di dekat Menara Jam Kereta Kowloon – Canton yang sekarang hanya menjadi landmark HK, khususnya area Tsim Sha Tsui di Semenanjung Kowloon. Di seberangnya, Pulau Hongkong semakin malam tampak semakin menawan dengan paduan langit yang kelam, siluet gunung yang kekar dan deretan gedung dengan lampunya yang gemerlap. Pikiranku menjadi tenang, beban hidup seakan terlupakan, momen yang damai ini seakan tak mau kulepaskan...

Xianggang part.4

Gw harus memilikinya! Ya, benar, gw HARUS memilikinya! Mesti kucari cara untuk mendapatkannya, daripada gw menyia-nyiakan kesempatan selama di HK (emang setiap hari gw bisa ke HK?) dan mati penasaran (sebenarnya ya tak sampai se-ekstrim ini sih he3). Tahu lah gimana rasanya penasaran itu. Kepikiran terus, terbayang terus, jantung berdegup kencang, otak dan mulut ga connect, kadang juga disertai gangguan pencernaan sampe mencret2 dan susah tidur!

Namun akhirnya memang pepatah ”Di mana ada kemauan, di situ ada jalan” bisa menjadi kenyataan. Saat itu dah sore, cuaca adem, kita baru pulang dari belanja di supermarket.

”Ayi, wa mau melepas penat bentar ya di Taman Wah Fung!”
Taman Wah Fung itu pas di belakang apartemen Ayi. Tiap kompleks apartemen di HK memiliki tamannya sendiri, dan Taman Wah Fung ini termasuk taman yang luas dan apik. Di sana ditanam bunga aneka warna, beberapa buah paviliun tempat bersantai di bawah dan di atas bukit yang dilengkapi dengan kursi dan meja batu yang telah dipahat dengan papan catur cina, serta kolam luas yang ada ikan dan penyu. Pohon-pohon willow berayun santai ditiup angin semilir menciptakan suasana yang tenang dan damai.

”Okay, Hong ! Le tahu kan nomor kode pintunya? Kalo sampe lupa, pake intercom aja bel ke atas ya.” Untung tentengan Ayi tak banyak, makanya gw tak menemani sampai ke atas lagi. Lagian apartemen Ayi terletak di lantai 5.

”Oya, bawa nih payungnya!” Ayi serahin payungnya ke gw. Gw sempat menatap sebentar model dan warna payung itu dan wajahku jadi cemberut. Rasanya beraaat banget mau mengambilnya! Masak gw bawa payung berumbai-rumbai, pinky lagi, idiiih, norak banget. Tetapi, sudahlah, akhirnya gw ambil juga, karena cuaca memang tak menentu, hujan bisa turun setiap saat. Payung rumbai-rumbai pun tetap lah payung, yang bisa melindungi gw dari tetesan hujan. Lagian orang HK juga cuek bebek, masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri, tak ada yg bakalan usil menertawakan cowok centil yang menenteng payung rumbai2 he3...

Gw berpura2 menuju gerbang taman sambil sesekali mengintip ke belakang. Setelah Ayi lenyap dari pandangan, cihui, gw langsung berputar arah, berkelana menuju lapak majalah. Perjalanannya tak gampang, gw mesti nyebrang, naik turun tangga dan bukit, melewati kompleks apartemen dan taman lainnya. Sempat ngos-ngosan? Tidak juga. Beberapa hari di HK telah membuat gw terbiasa berjalan kaki naik turun bukit sambil mengatur nafas. Namun yang namanya keringat ya tetap aja mengucur kalau badan mulai terasa panas. Gw berjalan dengan cepat, adu cepat dengan orang-orang HK yang jalannya sangat cepat. Sapu tanganku hampir basah karena sudah beberapa kali kukeluarkan untuk mengelap muka. Degup jantungku semakin cepat, secepat laju taksi yang hampir menyerempetku saat menyeberang jalan!


Xianggang part.5

Hampir copot jantungku ketika nyaris terserempat tadi. Salah gw sendiri, tak perhatikan jalan. Untung gw refleks meloncat ke tepi dan tak terluka sedikit pun. Untung juga ada bangku yang bersih di tepi jalan sehingga gw bisa duduk dan mengatur nafas sebentar di sana. Tapi gw ga boleh berlama2. Rasa penasaran memicuku untuk bangkit berdiri dan melanjutkan perjalanan lagi.

Akhirnya sampailah gw di lapak pertama. Keringat yang bercucuran dipadukan dengan rasa nervous yang berlebihan menghasilkan bau yang lumayan aduhai. Tapi bau tersebut sudah tak tercium lagi saking gembiranya gw bisa sampai juga ke lapak ini. Cepat-cepat kulap keringat lagi agar tak tambah gerah.

Gw celingak-celinguk dan pura-pura melihat-lihat majalah yang ada, padahal lirikan mata ke majalah Playgirl. Inilah majalah yang pertama kali gw lihat kemarin, covernya pria bule macho yang nyaris telanjang. Isinya sudah gw lihat habis di inet. Jadi lirikan beralih ke deretan majalah ’17 tahun ke atas’. Terseliplah majalah Lan Kwai Fong di antara majalah tersebut dengan cover pria tampan bermata sipit setengah bugil. Tak diragukan lagi ini pasti majalah gay lokal!

Tiba-tiba “TING!”, gw merasa malu sendiri. Mukaku menjadi merah. Setiap kali rasa malu tak terbendung, mukaku akan seperti kepiting rebus. Rasanya panas, terutama di kuping. Inilah kali pertama gw mau membeli majalah gay, sesuatu yang sama sekali belum pernah gw pegang dan lihat walau gw dah 28 tahun!

Gw berbalik arah dan ingin kembali saja. Tapi baru berjalan beberapa langkah, langkahku terhenti.


Xianggang part.6

Hatiku kembali bimbang, sudah jauh-jauh dan cape-cape nyampe ke tempat tujuan, masakan sekarang mau menyerah begitu saja!

Glek, gw menelan ludah, mengatur nafas buat nurunin panas di muka sambil tebal-tebalin muka laksana badak supaya berani membeli majalah itu. Hatiku berkata toh tak ada yang kenal gw di sini, jadi ngapain mesti malu. Andaikan penjualnya mau tertawain atau melecehkan, gw jg ga usah peduli, kan tak bakalan jumpa dia lagi. Akhirnya kumantapkan hati, puter badan kembali ke tempat tersebut.

Mengingat gw lagi di HK dan mayoritas penduduknya menggunakan dialek Kanton, sedangkan gw tak bisa bahasa tersebut, jadi gw hanya nunjuk majalah itu, letaknya agak tinggi sehingga jariku ga nyampe. Nah, kan! Yang kukhawatirkan terjadi juga. Penjualnya manggut-manggut, tampaknya tak mengerti dan memandang gw dengan heran. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang apakah cowok yang berdiri di hadapannya memang bener mau membeli majalah itu dan sorotan matanya seakan ga yakin bhw gw adalah gay.

Makanya untuk memastikan, dia mengambil majalah untuk pria straight di sampingnya dan menyodorkannya kepadaku, gw langsung menggeleng dan menunjuk dengan payung rumbai-rumbai itu langsung ke Lan Kwai Fong supaya dia tak salah ambil lagi. Dia malah tertawa terkekeh-kekeh sambil melirik2 payung tersebut dan raut mukanya jadi yakin sekarang bahwa gw menginginkan majalah gay. Sambil tertawa nakal dia mengambilkan Lan Kwai Fong.

“Duoshao qian?” (Berapa harganya?) tanyaku dalam Mandarin.
Dia tak menjawab, rupanya tak bisa ngomong Mandarin, namun dia menunjuk harga di cover, berarti ngerti maksud pertanyaanku. HKD 60. Gw segera bayar ke dia.
“Qing gei wo heidai!” (Tolong beri saya kantong hitam!) Gw ga mau sepanjang jalan diperhatikan orang gara-gara nenteng majalah gay!

Dia langsung memasukkan majalahnya ke kantong hitam dan menyerahkannya ke gw, masih aja tersenyum nakal. Dasar! Tapi gw ga peduli, perjuanganku belum selesai. Gw meneruskan perjalanan ke lapak berikutnya lagi karena tidak semua lapak memiliki koleksi majalah gay yang lengkap. Dan perjuanganku tidak sia-sia, karena singkat cerita, gw dapat tambahan 2 majalah lagi : Xiongfeng dan Yiling. Berbeda dengan kondisi awal, sekarang gw makin cuek aja, seperti orang yang dah pengalaman banget, ga pake muka merah dan ga pake malu, langsung tunjuk, bayar dan minta kantong hitam.

Senangnya tidak ketulungan lah ya. Perjalanan pulang terasa lebih ringan, sambil gw menyanyikan lagu Doraemon dengan sikit modifikasi :

Gw beli yang ini, gw beli yang itu
Beli beli beli beli banyak sekali
Semua semua semua dapat disembunyikan
Dapat disembunyikan dalam kantong hitam

Gw bagai terbang bebas di angkasa
Hei.... baling-baling bambu
La la la, gw tak tahan lagi, pengennya coli... ha3....
Xianggang part.7

Stallion muda gagah perkasa,
tenaga besar nafsu membara,
tiada lawan mampu menghadang,
koboi ditendang, palang diterjang.

Mungkin kondisiku saat ini sama persis seperti si stallion muda alias horni banget! Ada 3 majalah masih terbungkus plastik yang bikin gw penasaran setengah mati. Tempat manakah yang aman untuk menikmatinya?

“TING! TING! TING! Toilet mall!” bola lampu pijar muncul di atas kepala seperti kartun Lang Ling Lung di album Donal Bebek.Gw ga jadi pulang ke apartemen Ayi. Gw ingat ada satu mall di puncak bukit sehingga gw buru-buru menuju ke sana. Mall-nya luas dan lega, aneka ragam toko dengan barang-barang menarik bertaburan di sana, tapi yang gw cari sekarang hanya toiletnya. Dan dalam hitungan detik gw berhasil menemukan toiletnya yang bersih dan dah berada di dalamnya.

Kantong plastik kuremas-remas...
Kertas kubolak-balik dengan keras hampir terlepas...
Kunikmati semua keindahan postur maskulin hingga puas...
Tangan, batang dan gairah berpadu menghasilkan tembakan bebas...
Muncratan terakhir membuatku tergolek lemas, mas, maaaaas.....
Xianggang part.8

Sekujur badanku keringatan dan gw baru merasa cape dan lemes, tapi lemesnya puas karena hasrat yg sudah lama tertahan sudah tersalurkan. Kubasuh wajahku dan kurapikan rambutku dengan air wastafel yg dingin-dingin segar, agar bekas-bekas mesum barusan ga kelihatan lagi. Kemudian kuselipkan ketiga majalah tersebut di belakang punggungku. Cukup menyolok, karena majalahnya tebal dan berat.

“Kriuk, kriuk, kriuk,” perutku sudah menuntut pemenuhan nafsu yang lain, yaitu nafsu makan. Dengan cepat gw berjalan pulang ke apartemen yang sudah tak jauh lagi, lagian kali ini jalannya menurun sehingga langkah gw bisa lebih cepat lagi, melewati rombongan pelajar sekolah menengah yg baru pulang yang berjalan gontai dengan kaca mata mereka yg tebal-tebal dan wajah yg tegang kusut. Kasihan, sesore ini mereka baru pulang dan tampang mereka jelas-jelas tampang yang stres, untunglah gw ga sekolah di HK....

Tiba di apartemen Ayi, hari sudah gelap. Matahari telah kembali ke peraduannya, sinarnya digantikan oleh cahaya sang rembulan yang indah menawan, menghiasi kota HK yang bertaburan gedung-gedung tinggi dengan cahaya lampu yang keluar dari sekujur tubuhnya. Gw melewati sang penjaga apartemen yang membukakan pintu sambil bilang to cie (makasih), tersenyum bentar, kmdn langsung naik ke atas.

“Ayi, wa teng lou!” (Ayi, saya sudah pulang!)
“Hong a, co hok ku to hue hng, toukhun bwe?” (Hong, dah lama duduk di taman, dah lapar belon?)

He3, kasihan si Ayi, dia ga tahu bahwa gw sebenarnya sama sekali ga pernah sampai ke taman, palagi duduk2 di sana. Ayi muncul dari dapur dengan senyum nan ramah. Gw senang banget lho lihat tampang Ayi, kadang gw merasa gw lebih mirip Ayi dibanding mama, terutama gigi kelincinya mirip banget dengan gigi gw, eh terbalek, harusnya gw yang mirip dengan Ayi.

Makanan sudah disiapkan di meja dan Ayi memasak sup haisim (teripang) kesukaan gw. Selain itu ada sayur muda yang direbus. Selain itu ada ikan bawal kukus yang ditaburi sayur asin cah daging kecap di atasnya. Selain itu, waduh, pokoknya banyak makanan yang tersedia, bikin gw makin ngiler aja...

“Ai-ya, lapar banget, Ayi!”
“Yuk, kita makan bareng!” kata Ayi sambil menepuk-nepuk punggungku dan ups, majalahku tertepuk. Ayi sempat merengut, tahu gw menyembunyikan sesuatu, tapi kmdn dia tersenyum kembali, seolah-olah tak menepuk apa-apa. Segera diulurkannya sumpit dan semangkok nasi kepadaku. Gw berdoa mengucap syukur kepada Tuhan atas rejeki yang telah diberikan. Selesai doa, Ayi menatapku, seakan-akan pengen membuka pembicaraan mengenai hal tadi, namun gw cepat2 menyela sebelum Ayi sempat berkata-kata.

“Haisim-nya enak banget, Ayi, gurih, jamurnya juga tebal2 dan kuahnya nikmat banget. Pokoknya masakan Ayi paling top dah. Kamsia ya Ayi, dah bikinkan masakan yang nikmat begini !”
“He he he . . . Kalo gitu ciak pui-pui ya, Hong!” (Makan hingga gendut ya, Hong).

Begitu selesai makan, gw mandi dan masuk kamar sepupuku. Majalahnya kuletakkan di meja dan gw berbaring sebentar di kasurnya. Empuk dan harum, harum maskulin. Kupeluk gulingnya, empuk dan harum maskulin juga, kucium2 bantalnya, eh harumnya makin memabukkan, lama-lama gw jadi ngantuk, mata tinggal 5 watt, dan akhirnya zzzzzzzzz....................
to be continued
next page